Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.
Sampai Fraya Alexandrea datang.
Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.
Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.
Rindu. Candu. Obsesi.
Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Calling Ovation
Pelajaran Bahasa Jerman bagi Fraya tak ubahnya sebuah labirin tanpa ujung yang dipenuhi kerikil tajam. Meskipun sesi tutor bersama Damian mulai menunjukkan progres meningkat, Fraya belum bisa sepenuhnya bernapas lega. Nilai sempurna yang ia incar-tiket emas menuju Oxford-masih terasa seperti cakrawala; tampak begitu indah namun seolah terus menjauh setiap kali ia mencoba melangkah mendekat.
Jika sebelumnya Fraya sudah mulai menguasai tata bahasa Jerman yang rumitnya bikin sakit kepala, kali ini Fraya harus berhadapan dengan tembok besar bernama Hörverstehen atau metode mendengar dalam test Bahasa Jerman. Bagi Fraya, tahap ini yang masih sulit ia kuasai.
Tahap ini merupakan momok paling sulit untuk Fraya. Setiap kali masuk ke sesi kuis dadakan berbasis audio, ia rasanya lebih ingin menghantamkan kepalanya saja ke tembok daripada harus menghadapi kegagalan lagi. Telinganya seolah kehilangan ketajaman. Kosakata yang ia tangkap lebih sering salah berakhir meleset jauh dari maksud asli yang Fraya tulis di lembar jawaban.
Melihat Fraya yang kewalahan sebenarnya malah jadi hiburan tersendiri buat Damian. Sifat iseng Damian jadi sering muncul disela proses belajar. Intensitas keisengan Damian ini terus muncul disela belajarnya mereka yang bikin Fraya tambah kelihatan nelangsa dan ingin mencekik Damian hidup-hidup.
Dengan kesadaran penuh, Damian gemar sekali menyisipkan kosakata paling rumit-kata-kata yang panjangnya mirip gerbong kereta- sengaja diberinya hanya untuk melihat Fraya mengerutkan kening hingga cewek itu akhirnya kewalahan sendiri karena tersiksa saat mempraktikkannya.
"Damian kamu sengaja kan mau ngerjain aku lagi!?" Fraya melempar protes waktu ia kembali salah mengeja deretan kata rumit yang diucapkan Damian dan akhirnya Fraya melempar kertas ditangannya ke wajah Damian dengan kesal.
"Aku sengaja memberimu kosakata rumit begini biar lidahmu tidak kaku, Ace," kilah Damian dengan senyum simpul yang sulit diartikan, tapi dalam hati Damian lagi-lagi hampir mati karena menekan kuat hasratnya untuk tidak meledak dalam tawa.
Fraya bisa melihat binar jenaka di mata biru itu; Damian jelas sangat menikmati momen-momen di mana Fraya harus berjuang keras mengeja kata demi kata di hadapannya.
Fraya mendesis kesal, memicingkan mata tajam. "Damian, kalau kamu terus-menerus mengerjai ku begini, aku akan cari tutor yang lain saja! Kamu benar-benar menyebalkan sekali, sumpah deh! Kadang aku berpikir mau menyerah saja pada Oxford kalau Bahasa Jerman-ku tidak juga becus karena gurunya tidak waras."
Namun, di balik omelan itu, ada sebuah memori hangat yang terselip. Di salah satu sesi pertemuan mereka, Damian sempat tertegun melihat binar semangat di kedua mata Fraya saat cewek didepannya itu tiba-tiba saja memberitahu rencananya.
"Pokoknya kalau ujian mendengar nanti aku berhasil dalat nilai 80, aku akan traktir kamu makan apa saja yang kamu mau, deh. Tapi jangan yang mahal-mahal, ya! Soalnya uangku pas-pasan, dan kamu mintanya jangan makan di restoran bintang lima."
Damian menahan senyum sambil bertopang dagu, menatap binar mata Fraya yang berkilat penuh semangat-yang entah bagaimana jadi bikin cewek ini terlihat lebih menggemaskan.
"Kata kamu makan apa saja. Kalau aku maunya yang bintang lima, gimana?" Damian menggoda lagi dengan tampang serius kali ini.
Tapi Fraya malah berdecak sambil mengibaskan satu tangan didepan wajah Damian.
"Ya kamu kan tahu aku nggak sekaya kamu. Tapi ya minimal aku sanggup lah membelikan kamu fish and chips paling enak di London. Soalnya kata Papa disini ada fish and chips paling enak yang pasti belum pernah kamu coba." ujar Fraya dengan nada penuh percaya diri sekaligus sok tahu
Melihat kegigihan yang murni itu, Damian hanya mengangguk-angguk kecil sambil menahan tawa. Sesuatu didalam hatinya kembali bermekaran seperti sekuntum bunga yang merekah dalam semalam. Damian benar-benar tidak habis pikir kalau hanya mengobrol soal fish and chips, seseorang bisa dengan mudah membuat Damian jatuh hati sampai untuk bernapas saja rasanya mulai sulit.
Dari gelagat Fraya yang sangat percaya diri mau mentraktir Damian fish and chips, Fraya mungkin juga lupa bahwa cowok berambut pirang di depannya ini sangat mampu membeli ratusan gerai fish and chips didunia ini sekaligus tanpa perlu menunggu Fraya harus lulus tes dulu.
Namun bagi Damian, janji traktiran dari uang saku Fraya itu terasa jauh lebih berharga daripada jamuan mewah di hotel bintang lima atau menu-menu mewah dari koki ternama di rumahnya sendiri. Ada kebahagiaan sederhana yang menyelinap ke hati Damian-sebuah perasaan yang tak bisa dibeli dengan kekayaan Damian Harding sepeser pun.
°°°°
Memasuki pertengahan musim gugur, euforia di Milford Hall mencapai titik didih. Pertandingan akbar melawan Eastwood High tinggal tiga hari lagi. Sesi pertandingan final nanti akan berlangsung selama dua hari berturut-turut.
Damian, sang kapten kebanggaan, telah berhasil memboyong timnya menembus babak penyisihan final yang menyisakan tanding antara tim Milford melawan Easwood High. Namun, dari rentetan jadwal tanding yang selama ini berlangsung, tak sekalipun Fraya menampakkan batang hidungnya di tribun.
Damian awalnya ingin cuek saja. Toh selama ini dia baik-baik saja sebelum kehadiran Fraya. Damian juga tahu kalau cewek itu memang sangat berbeda dari cewek-cewek disekolah yang biasanya, tanpa diperintah, dengan sukarela mereka akan bertengger manis di deretan tribun lapangan untuk menyaksikan pertandingan Lacrosse tim Mildford. Bukan, lebih tepatnya, ingin memberi dukungan sekaligus teriakan gila-gilaan untuk bintang utama Milford dilapangan.
Tapi cueknya Damian ini tidak bisa bertahan lama. Entah karena Damian sudah terlanjur sering menghabiskan waktu bersama cewek berkuncir kuda dan pemilik senyum paling manis yang pernah Damian lihat itu, jadi dirinya mulai terbiasa dengan kehadiran Fraya, atau Damian hanya ingin tribun terbawah tempat biasanya Fraya menunggunya latihan jangan sampai terisi oleh orang lain selain cewek cantik sialan itu. Hal ini bikin fokus pandang Damian jadi sering buyar bahkan ditengah sesi latihan.
Sialan, kenapa aku jadi kelimpungan seperti ini? Damian mendengar hatinya menggerutu sendiri waktu tidak ditemukannya Fraya dimanapun matanya berpendar ke sekeliling lapangan.
Berbeda dengan Fraya yang tidak pernah tertarik dengan olahraga paling bergengsi se antero Inggris raya itu, kedua temannya justru selalu menantikan pertandingan Lacrosse sekolah mereka. Sudah hampir sebulanan ini topik pembahasan mereka hanya berkisar tentang tim mana yang akan unggul nanti di babak penyisihan sampai ke final.
Florence dan Asa bahkan harus menyeret Fraya dengan paksa agar ia mau ikut menonton babak final nanti. Bagi Fraya, duduk di pinggir lapangan setiap Jumat hanya untuk menunggu Damian selesai latihan saja sudah cukup menguras tenaganya. Kadang-kadang malah kupingnya sendiri yang nyaris tuli setiap kali para supporter Damian berteriak melempar dukungan secara gila-gilaan.
Dan belum lagi rasa tidak nyaman Fraya setiap kali Fraya ada di tribun itu, kehadirannya dengan praktis menimbulkan segala desas-desus serta bisik-bisik tidak menyenangkan yang mau tidak mau masuk ke telinga Fraya.
Pernah suatu kali, Fraya benar-benar ingin menghilang saja dari bumi karena rasa malu yang nyaris tidak mampu dia pikul sendiri. Saat itu, Damian akhirnya istirahat dari latihannya dan langsung berlari menghampiri Fraya di tribun paling bawah seperti biasa. Tempat Fraya biasanya duduk menunggu di hari Jumat saat jadwal belajar bahasa Jermannya tiba.
Tapi bukannya duduk di samping Fraya, cowok itu malah berjongkok tepat di depan kaki Fraya, membuat Fraya tertegun seketika.
Tanpa aba-aba, Damian meraih salah satu kaki Fraya dan menaruhnya di atas pahanya sendiri. Damian mulai membetulkan simpul tali sepatu Fraya yang terikat berantakan. Begitu cuek seolah apa yang dilakukannya tidak menimbulkan reaksi dahsyat nan beragam dari orang-orang disekitar mereka.
"Damian, apa-apaan sih!" Fraya berusaha menarik kakinya dengan cepat, namun tangan Damian bergerak lebih cepat untuk menahan kaki Fraya agar tetap di pangkuannya dengan gerakan lembut namun tegas.
"Kamu itu kalau tidak bisa buat simpul yang benar, cukup bilang saja padaku. Kalau diikat asal begini, kamu bisa tersandung dan terjatuh. Dan kalau sudah jatuh terjerembab, yang tidak bisa ditahan itu bukan sakitnya, tapi malunya," ucap Damian dengan nada rendah yang terdengar sangat protektif.
Adegan itu sukses membuat riuh rendah di tribun meledak sekaligus jadi bahan gosip terpanas selama berhari-hari. Dan gosip yang mulai memanas ini langsung menciptakan gunjingan kecemburuan para siswi disekolah. Buat yang beruntung menyaksikan langsung adegan heroik nan romantis mereka berdua kemarin itu, rasa irinya seperti membakar habis mereka satu-satu, seolah perubahan si pentolan sekolah mereka ini masih sulit diterima. Bagaimana tidak? Damian Harding yang biasanya terkenal selalu dengan mudah mencampakkan cewek bahkan sebelum 24 jam berakhir, kini meyaksikan dengan mata kepala mereka, si kapten berparas seperti patung Yunani yang begitu sempurna sekaligus pongah itu sekarang terang-terangan bersedia berlutut hanya untuk mengurus hal sepele seperti tali sepatu seorang Fraya Alexandrea. Murid baru yang kalau diperhatikan sekilas saja seperti tidak ada yang istimewa darinya.
Namun untuk siswa-siswi yang sering kali penasaran dengan manusia yang sudah berhasil merobohkan dinding es si pentolan sekolah mereka ini, mereka memang harus mengakui bahwa Fraya tidak perlu berusaha lebih untuk membuatnya tampak menarik secara fisik. Dengan rambut panjangnya yang hitam legam, tubuh yang memang terlihat molek dibalik seragamnya yang sederhana tanpa barang branded melekat ditubuh Fraya, kulit mulus berwarna gading tak berbintik serta senyumannya yang sehangat matahari pagi menjadikkan Fraya pribadi yang cukup menarik mata.
Tapi untuk beberapa siswa lain yang lebih seringnya jadi dengki dan iri terhadap Fraya, poin poin ini jelas tidak cukup jadi indikasi untuk bikin si tampan pentolan nomor satu disekolah mereka ini sanggup bertekuk lutut untuk seorang Fraya.
"Damian, apa yang kamu lakukan sekarang justru bikin aku malu! Lihat sekitar kamu. Ini kita jadi tontonan banyak orang!" bisik Fraya dengan wajah merah padam.
Damian akhirnya mendongak, menatap Fraya dengan mata yang berkilat lembut. Baginya, perhatian orang lain adalah hal biasa, tapi memberikan perhatian pada Fraya adalah sesuatu yang ia nikmati secara diam-diam.
Seolah ia ingin dunia tahu, bahwa di antara ribuan orang di sana, hanya Fraya yang mampu membuatnya melakukan hal serendah itu.
Kejadian itu langsung membuat gempar seantero sekolah, hingga sampai ke telinga Florence dan Asa di perpustakaan yang langsung menuntut penjelasanan panjang lebar dari Fraya waktu mereka janjian bertemu di perpustakaan seperti biasa.
Florence heboh sekali sepanjang Fraya menceritakan adegan-- yang bagu Florence merupakan paduan heroik sekaligus romantis, tapi bagi Fraya malah jadi bikin Fraya mual setiap kali mengingat momen kemarin itu-- sementara Asa yang duduk di depan kedua cewek itu memilih diam tanpa reaksi.
Fraya langsung sadar dengan Asa yang masih diam seribu bahasa didepan mereka.
"Asa, are you okay?" tanya Fraya khawatir saat melihat temannya itu masih tidak memberi respon juga kontras dengan Florence yang terus-menerus menggodanya.
"He's okay, don't worry about it." Florence yang menjawab sambil diam-diam melempar tatapan "rahasia mu aman padaku" ke Asa sambil mengedikkan kedua alis berbarengan, membuat Asa langsung menjulingkan mata dengan sebal.
Tiba-tiba, ponsel Fraya bergetar didalam tas yang ia letakan diatas meja. Begitu nama 'Damian' muncul di layar. Fraya langsung mendesah.
"Kenapa? Siapa yang menelfon?" Asa akhirnya buka suara waktu Fraya menjatuhkan kepalanya yang terkulai lemas keatas meja. Tanpa mengangkat wajah, Fraya menunjukkan layar ponselnya yang masih berpendar menampilkan nama Damian disana.
Reaksi kedua temannya sungguh berbeda. Florence tersenyum lebih lebar, sementara Asa mengulum senyum kesenangan karena menyaksikan bagaimana Fraya terang-terangan ogah menjawab panggilan Damian.
Akhirnya Fraya memutuskan untuk menolak panggilan tersebut dan langsung mengubah mode ponselnya jadi silent kemudian melempar ponselnya masuk kedalam tas dengan kasar.
Namun, semesta tampaknya tidak membiarkannya bersembunyi berlama-lama. Hanya butuh beberapa menit setelah Fraya menolak panggilan Damian, sosok yang tidak diharapkan Fraya itu malah muncul di koridor perpustakaan.
Matanya Damian menemukan Fraya terlebih dahulu sebelum cewek itu menyadari kehadirannya. Dengan langkahnya yang lebar dan auranya begitu dominan, derap sepatu Damian yang terkenal mahal itu langsung disadari Fraya dan kedua temannya ketika mereka saling menoleh ke sumber suara berbarengan.
Dan sebelum Fraya mampu lari untuk menghindari Damian, cowok itu sudah berhenti tepat di samping Fraya dan mengunci cewek itu dengan tatapannya setajam mata pisau.
Damian merendahkan tubuhnya hingga wajah mereka terkunci dalam jarak yang sangat dekat. Mencoba mengamati wajah cewek didepannya ini yang reflek mundur waktu napas Damian begitu dekat menyapu permukaan wajahnya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Damian tanpa basa-basi. Suaranya begitu menusuk, namun dibalik nada menuntut itu anehnya tidak membuat Fraya marah.
"Kamu mau aku di tonjok ramai-ramai sama pengunjung perpustakaan sekarang ini karena bikin kegaduhan dengan angkat telfon kamu?" kilah Fraya dengan cepat. Jatungnya mulai berpacu tidak normal, bikin Fraya jadi tidak nyaman.
"Berarti kamu memang sengaja menolak panggilanku ya, bukan karena kamu tidak tahu kalau tadi aku telfon kamu?"
Lidah Fraya langsung kelu tidak bisa menjawab. Dibawah tatapan cowok itu, melihat Fraya jadi salah tingkah membuat sudut bibir Damian terangkat membentuk senyuman getir.
"Lagian kamu mau apa sih telfon aku? Ini kan masih hari selasa. Kita tidak ada jadwal belajar apapun di hari selasa, Damian," ujar Fraya lagi dengan kesal.
"Aku menghubungimu karena kamu menghindariku dua hari ini. Aku ingin memastikan kamu tidak lari," Damian menatapnya dalam. "Jumat nanti kamu harus ada di tribun menonton pertandinganku. Beri aku dukungan supaya aku menang."
Fraya langsung buka mulut untuk protes keras, "Damian aku sudah punya rencana lain buat hari Jumat nanti."
Fraya sebenarnya juga tidak tahu Jumat nanti dia ada rencana apa. Yang sejak kemarin ada dikepalanya hanya kemungkinan dia ingin pulang saja lebih awal. Atau Fraya bisa pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku untuk bahan tugas di kelas Oxford Prepatory Class nya minggu depan. Dia masih belum punya buku tahap lanjutan volume 4. Dan kalau Fraya harus beli, harganya lumayan mahal. Karena perpustakaan sekolahnya ini terkenal punya miliaran jenis buku yang ada didunia ini, Fraya niatnya ingin meminjam saja dari perpustakaan.
Tapi Damian jelas saja tidak mau terima alasan Fraya. Sikapnya yang defensif seolah mampu menangkis apapun alasan Fraya yang sudah kentara sekali dibuat-buat.
"Tidak ada alasan, Fraya!" tandas Damian telak, "Kalau kamu tidak datang, aku sendiri yang bakal seret kamu ke tribun nanti. Abis itu kamu akan aku ikat supaya kamu tidak bisa pergi kemana-mana."
Damian mengucapkannya dengan intonasi rendah mengandung makna "jangan mendebatnya lagi", yang efeknya bikin mulut Fraya langsung menganga lebar karena kehabisan kata-kata. Tidak hanya Fraya saja, tapi kedua teman Fraya yang sejak tadi duduk menonton dua orang didepannya ini juga sampai tidak berani berkutik.
Damian melempar senyum puas untuk seraut wajah cemberut yang tidak mampu mendebatnya lagi. Dan sebelum Damian melangkah pergi membawa kemenangan kecilnya, ia mengusap puncak kepala Fraya dengan sayang.
Ketika cowok semena-mena itu akhirnya keluar dari perpustakaan, Fraya masih tertegun dalam perasaan campur aduk, antara kesal dan... berdebar.
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
terima kaaih kak udah upp
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
baca sambil ngabuburit