Beberapa hari menjelang pernikahan, Yumna mengetahui perselingkuhan Desta, tunangannya, dengan Cindy, atasan mereka sekaligus adik angkat dari CEO kejam, Evander Sky Moreno.
...
Kecewa lalu mabuk, Yumna melabrak sang CEO di sebuah bar.
"Gara-gara adikmu, aku batal nikah! Aku bakal jadi bahan ejekan tetangga! Kamu harus tanggung jawab, Bos Brengsek!" teriak Yumna sambil menarik kerah kemeja mahal Evander.
Evander menatapnya dingin, lalu berbisik di telinga Yumna, "Jika posisi mempelai pria kosong, biar aku yang mengisinya."
...
Kini, Yumna datang ke gedung pernikahan bukan sebagai pengantin yang terbuang, melainkan sebagai istri dari pria yang paling ditakuti Desta dan Cindy.
"Desta, perkenalkan... ini suamiku. Mulai sekarang, panggil aku Kakak Ipar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom_cgs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
"Mas, aku boleh ke ruangan lamaku sebentar? Aku mau ketemu seseorang, ya temanku gitu," pinta Yumna saat mereka baru saja berdiri di depan lift khusus yang akan membawa mereka langsung ke lantai teratas, singgasana sang CEO.
Evander tidak langsung menjawab. Ia menatap Yumna cukup lama dengan tatapan menyelidiki yang membuat Yumna salah tingkah. Sejak kejadian di dapur tadi, atmosfer di antara mereka memang terasa lebih "bermuatan listrik". Evander seolah sedang menimbang apakah melepaskan istrinya berkeliaran di lantai bawah adalah ide yang bagus.
"Teman cewek, Mas. Suer! Aku nggak macam-macam," jelas Yumna cepat, seakan bisa membaca keraguan di balik rahang tegas suaminya. Ia tahu Evander mungkin khawatir dia akan berpapasan dengan "cecurut" masa lalunya.
Mendengar penekanan kata "cewek", Evander akhirnya mengangguk pelan. "Lima belas menit. Jika lebih dari itu, saya yang akan menjemputmu ke bawah."
Yumna menganggap itu sebagai lampu hijau yang sah. Ia pun meluncur ke lantai divisi marketing, tempat di mana dulu ia menghabiskan waktu dengan tumpukan dokumen dan omelan manajer. Namun, baru saja menginjakkan kaki di ruangan itu, Yumna langsung merasa menyesal.
Di pojok ruangan, di meja yang dulu begitu ia benci, sedang ada pemandangan yang merusak pemandangan pagi. Desta berdiri di samping Cindy yang duduk di kursi staf biasa. Rupanya, Cindy benar-benar sudah turun pangkat dan kini mereka berdua bekerja dalam satu ruangan sebagai staf.
Desta dan Cindy serentak menoleh. Tatapan mereka sangat kontras. Cindy menatap dengan kebencian yang terang-terangan karena melihat penampilan Yumna yang kini sangat berkelas, sementara Desta menatapnya dengan pandangan penuh ambisi dan kerinduan yang membuat Yumna risih.
Yumna segera membuang muka. Fokusnya beralih pada sosok gadis berkacamata yang sedang sibuk mengetik. "Arini!"
Yumna langsung menyeret Arini keluar dari ruangan itu sebelum para "antagonis" itu sempat membuka suara.
"Mau kemana sih, Yum? Aku bentar lagi mau meeting loh, kamu tahu kan? Kalau hari ini divisi kita kedatangan manajer baru yang gantiin Bu Cindy. Dan gosip-gosipnya, yang jadi manajer ini adalah teman kecil Pak Evander. Karena kakek mereka temenan, dia langsung dapat posisi ini," ujar Arini panjang lebar setelah mereka sampai di koridor yang lebih sepi.
Yumna mengernyitkan dahi. "Oh ya? Kok aku baru tahu?"
"Lah, Bu Yumna kan istrinya Pak Bos, masa nggak tahu?" Arini menggoda sambil menyenggol bahu Yumna.
"Sialan! Jangan panggil aku formal gitu dong, Ar!" seru Yumna sebal.
"Aku takut kalau nggak formal, nanti bakal dipecat sama Pak Bos. Bu Yumna tahu sendiri kan Pak Evander kejamnya seperti apa kalau menyangkut aturan?"
"Hish, nggak akan! Aku yang tanggung jawab. Lagian kita kan temenan. Masa kamu bicara formal sama aku? Kalau di atas sana aku sudah tegang karena Mas Kulkas itu, di sini juga tegang, bisa cepat koit aku, Arini!"
Arini tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi frustrasi Yumna. "Aku masih nggak percaya sampai sekarang kalau kamu nikahnya malah sama Pak CEO kita, Yum. Bukan Desta. Memang sih, Bu Cindy dan Desta itu sudah lama mencurigakan di kantor. Tapi aku nggak mau ngomong aja dulu, nggak enak."
"Sekarang nggak usah bahas cecurut itu lagi deh. Aku cuma mau minta tolong. Kalau kamu melihat sesuatu yang mencurigakan yang mereka lakukan di ruangan itu, kasih tahu aku ya," pinta Yumna dengan wajah serius.
"Tenang aja, Yum. Aku bakal jadi mata-matamu. Tapi ngomong-ngomong soal manajer baru..." Arini merendahkan suaranya, "Namanya Bianca. Katanya dia baru balik dari London. Cantik banget, pintar, dan kayaknya dia punya hubungan spesial di masa lalu sama Pak Evander. Kamu harus hati-hati, Yum. Jangan sampai daster batikmu kalah saing sama dress desainer London."
Yumna terdiam sejenak. Bianca? Teman kecil? Kenapa Evander tidak menceritakan hal ini?
Setelah berpisah dengan Arini, Yumna kembali ke lantai CEO dengan pikiran yang sedikit berkecamuk. Di dalam lift, ia bercermin pada dinding stainless steel. Benar kata Arini, ia harus mulai waspada. Jika benar Bianca itu cantik dan pintar, posisinya sebagai "istri kontrak" bisa terancam jika kakek mereka mulai menjodoh-jodohkan mereka kembali.
Pintu lift terbuka. Yumna melangkah keluar dan mendapati Mahesa sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Evander dengan wajah cemas.
"Ada apa, Mas Mahesa?"
"Itu, Nyonya... Nona Bianca sudah datang. Dia langsung masuk tanpa menunggu izin Tuan Evander," bisik Mahesa.
Yumna tidak membuang waktu. Ia membuka pintu ruangan itu dan benar saja, pemandangan di dalamnya membuat hatinya mencelos. Seorang wanita dengan pakaian sangat modis sedang duduk di kursi tamu, dan ia sedang memegang tangan Evander di atas meja sambil tertawa renyah.
"Evan, kamu nggak berubah ya? Masih aja kaku," ucap wanita itu.
Yumna berdehem keras, membuat keduanya menoleh. Evander langsung menarik tangannya dengan cepat saat melihat Yumna berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sulit ditebak.
"Yumna, kamu sudah kembali?" tanya Evander.
"Iya, Mas. Maaf mengganggu reuni teman kecilnya," sahut Yumna dengan nada bicara yang manis tapi penuh sindiran.
Bianca berdiri, ia menatap Yumna dari atas ke bawah dengan tatapan yang seolah-olah sedang menilai barang diskonan. "Oh, jadi ini... asisten yang jadi istri itu? Hai, aku Bianca. Teman main Evan sejak kecil. Maaf ya, aku langsung masuk tadi, soalnya sudah biasa begitu sama Evan."
Yumna tersenyum lebar—senyum yang paling palsu yang pernah ia buat. "Oh, nggak apa-apa, Mbak Bianca. Di sini memang sering ada tamu yang nggak punya sopan santun dasar, jadi saya sudah terbiasa."
Wajah Bianca memerah, sementara Evander mencoba menahan senyum di balik tangannya.
"Yumna, Bianca akan memimpin divisi marketing. Dia baru saja saya beri arahan," jelas Evander mencoba menengahi.
"Bagus dong, Mas. Berarti dia bakal sering-sering di lantai bawah, kan? Nggak di ruangan ini terus?" tanya Yumna telak.
"Tentu saja," Bianca menyela dengan angkuh. "Tapi aku akan sering naik ke sini untuk laporan pribadi pada Evan. Kami punya banyak hal untuk dibicarakan, termasuk kenangan masa kecil kami."
Yumna mendekati Evander, lalu dengan sengaja merapikan dasi suaminya itu di depan mata Bianca. "Bicara kenangan boleh saja, Mbak. Tapi hati-hati, Mas Evan ini gampang bosan sama hal-hal lama. Dia lebih suka hal-hal baru... yang segar dan orisinal."
Bianca mendengus kesal, lalu pamit keluar dengan hentakan kaki yang keras. Begitu pintu tertutup, Evander langsung menarik pinggang Yumna hingga mereka berhadapan sangat dekat.
"Cemburu?" tanya Evander dengan suara rendah yang menggoda.
"Nggak! Siapa yang cemburu? Aku cuma menjaga aset perusahaan!" bantah Yumna, meski pipinya mulai memerah.
"Aset perusahaan atau suamimu?" Evander semakin mendekatkan wajahnya.
Yumna menahan dada Evander. "Mas, jangan mulai ya! Mas Mahesa ada di depan. Dan ingat, Mas belum buatkan aku kopi yang enak hari ini!"
Evander terkekeh, lalu ia mendekati Yumna lebih dekat dan rapat. "Kopinya nanti, sekarang aku butuh asupan semangat selain kopi, Yumna."