NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Hidden fangs

Tiga Tahun Setelah Kelahiran Arkano.

Mansion Vincentius sore itu terasa lebih hangat. Di gazebo taman, Kenzhi Ruby Vincentius, yang kini telah berusia 8 tahun, sedang duduk dengan anggun. Rambut panjangnya dikuncir kuda, dan ia mengenakan gaun balet putih setelah latihan paginya. Di depannya, Arkano yang baru berusia 3 tahun sedang sibuk menyusun balok kayu.

"Arka, bukan begitu cara menyusunnya. Kau harus meletakkan dasar yang kuat dulu, baru membangun ke atas. Sama seperti pesan Daddy tentang menjaga wilayah," ucap Kenzhi dengan nada dewasa yang melampaui usianya.

Arkano mendongak, matanya yang bulat namun tajam menatap kakaknya. "Dasar kuat... lalu hancurkan yang lawan?"

Kenzhi terkekeh pelan, mengusap kepala adiknya. Meskipun baru 8 tahun, Kenzhi memiliki ketenangan Jennie dan ketegasan Limario. Ia adalah pelindung pertama Arkano sebelum para pengawal masuk campur.

Insting Sang Ratu: Jaringan "The Rose"

Dari balkon, Jennie mengamati kedua anaknya. Ia tersenyum melihat Kenzhi yang begitu dewasa menjaga adiknya. Namun, senyum itu memudar saat ia melihat Hans mendekat dengan langkah terburu-buru.

"Nyonya, ada laporan dari jaringan The Rose," bisik Hans. "Koin Ouroboros yang Anda temukan kemarin... itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah tanda bahwa Vasco telah aktif kembali."

Jennie mengepalkan tangannya. Di ingatan masa lalunya, Vasco adalah hantu dari masa lalu ayah Limario. "Vasco mengincar siapa, Hans? Limario?"

"Bukan, Nyonya. Laporan intelijen mengatakan dia mengincar 'Pewaris Murni'. Dan yang mereka maksud bukan hanya Arkano, tapi juga Nona Kecil Kenzhi."

Darah Jennie berdesir. Kenzhi baru 8 tahun. Ia tidak akan membiarkan tangan kotor mana pun menyentuh putri sulungnya.

Pesta Ulang Tahun yang Terancam

Malam perayaan ulang tahun Arkano yang ketiga tiba. Ruang aula penuh dengan tawa, namun Jennie dan Limario berdiri seperti sepasang predator yang waspada. Kenzhi tampak cantik dengan gaun pesta merah muda, tangannya tak lepas menggandeng tangan kecil Arkano.

"Kenzhi, Sayang," panggil Limario, berlutut di depan putrinya. "Jika Daddy memberi kode 'Merah', kau tahu harus membawa Arka ke mana?"

Kenzhi mengangguk tegas, matanya yang cerdas menatap sang ayah. "Ke ruang bawah tanah melalui jalur dapur, Daddy. Aku akan mengunci pintunya dari dalam dan tidak akan membukanya kecuali mendengar suara Mummy."

Limario mencium kening putrinya. "Anak pintar."

Tepat saat kue ulang tahun dikeluarkan, lampu aula mendadak mati total. Suara kaca pecah terdengar dari arah langit-langit.

"Kenzhi, SEKARANG!" teriak Limario.

Tanpa bertanya, Kenzhi yang baru berusia 8 tahun itu langsung menggendong Arkano yang bertubuh kecil dan berlari secepat kilat melewati kerumunan tamu yang panik. Ia tidak menangis; ia fokus pada satu misi: melindungi adiknya.

Konfrontasi dengan Vasco

Di tengah kegelapan, sosok pria tua dengan bekas luka bakar di leher muncul—Vasco. Ia berdiri di tengah aula sambil memegang sebuah mawar hitam yang dibungkus kawat berduri.

"Limario... kau membesarkan anak-anakmu dengan sangat baik," suara Vasco serak. "Putrimu itu... dia memiliki insting yang luar biasa untuk anak seusianya. Dia akan menjadi ratu yang hebat jika dia berada di tangan yang tepat."

"Kau tidak akan pernah menyentuhnya, Vasco!" geram Limario sambil melepaskan tembakan peringatan.

Vasco terkekeh. "Aku tidak butuh izinmu. Darah Vincentius adalah milik The Serpent's Hand. Dan Jennie... aku tahu rahasiamu. Aku tahu kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi bisakah kau meramalkan kematian yang disebabkan oleh orang yang paling kau percayai?"

Jennie tersentak. Pengkhianat? Apakah ada pengkhianat di antara pengawal atau bahkan di dalam jaringan The Rose?

Tiba-tiba, ledakan kecil terjadi di jalur pelarian dapur—jalur yang dilewati Kenzhi dan Arkano.

"KENZHI!" teriak Jennie histeris.

Keberanian Putri Kecil

Di jalur dapur yang berasap, Kenzhi terjatuh karena getaran ledakan, namun ia tetap mendekap Arkano di bawah tubuhnya agar adiknya tidak terkena puing. Seorang pria bertopeng mencoba mendekat untuk mengambil Arkano.

Kenzhi melihat sebuah pisau pemotong daging di meja dapur. Dengan keberanian yang luar biasa, bocah 8 tahun itu mengambil pisau tersebut.

"Jangan. Dekati. Adikku!" teriak Kenzhi dengan mata berkilat marah, persis seperti tatapan Limario saat sedang memburu musuh.

Pria bertopeng itu ragu sejenak, terkejut melihat aura membunuh dari seorang anak kecil. Kesempatan itu digunakan oleh Hans yang tiba tepat waktu untuk melumpuhkan penyerang tersebut.

Setelah Hans melumpuhkan penyerang di dapur, suasana di mansion Vincentius berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Limario berhasil mendesak mundur sisa-sisa anak buah Vasco di aula, sementara Jennie berlari secepat kilat menuju jalur dapur dengan jantung yang hampir copot.

Darah di Gaun Putih

Jennie sampai di dapur yang dipenuhi debu reruntuhan. Ia melihat Kenzhi masih terduduk di lantai, mendekap Arkano yang terdiam seribu bahasa. Gaun balet putih Kenzhi kini kotor oleh abu dan noda darah—darah dari goresan puing di lengannya sendiri.

"Kenzhi! Arka!" Jennie langsung memeluk keduanya, tubuhnya gemetar hebat.

"Mummy... Arka aman. Aku tidak membiarkan mereka menyentuhnya," bisik Kenzhi. Suaranya datar, tanpa isakan, namun matanya yang berusia 8 tahun itu tampak berbeda. Ada kilatan dingin yang baru saja lahir di sana.

Limario muncul di ambang pintu, napasnya memburu. Ia melihat putrinya yang terluka dan putra kecilnya yang ketakutan. Amarah yang selama ini ia tekan seolah meledak di dalam dadanya. Ia mendekat, berlutut, dan memeriksa luka di lengan Kenzhi.

"Kenzhi, kau hebat. Kau benar-benar putri Daddy," ucap Limario dengan suara parau. Ia kemudian menatap Hans dengan tatapan yang bisa membunuh. "Hans, bawa mereka ke bunker terdalam. Jangan ada satu pun orang yang masuk kecuali aku atau Jennie. Siapa pun yang mendekat, tembak di tempat."

Interogasi di Tengah Malam

Setelah memastikan anak-anak aman bersama Ny. Maurel di bunker, Limario dan Jennie kembali ke aula yang kini berantakan. Salah satu penyusup berhasil ditangkap hidup-hidup oleh tim elit Limario. Pria itu terikat di kursi, wajahnya tertutup topeng yang sudah dilepas, menampakkan sosok yang sangat familiar bagi mereka.

"Andres?" Jennie menutup mulutnya tak percaya.

Andres adalah salah satu pelayan senior yang sudah bekerja untuk Ny. Maurel selama lima tahun. Dia adalah orang yang sering membuatkan cokelat panas untuk Kenzhi.

"Kenapa, Andres?" tanya Limario, suaranya sangat tenang, namun itu adalah ketenangan sebelum badai. Ia mulai memakai sarung tangan kulit hitamnya.

"Vasco... dia memegang keluargaku, Tuan," rintih Andres. "Dia tahu segalanya. Dia bilang Nyonya Jennie adalah penyihir yang bisa melihat masa depan, dan satu-satunya cara menghentikan kutukan Vincentius adalah dengan mengambil pewarisnya."

Limario melirik Jennie sekilas. Rahasia tentang kemampuan Jennie mulai menyebar ke telinga musuh, dan itu menjadikannya target yang lebih besar dari sebelumnya.

"Vasco tidak akan berhenti, Limario!" teriak Andres gila. "Dia tahu rute pelarian bunker! Dia tahu..."

Belum sempat Andres menyelesaikan kalimatnya, sebuah peluru dari jarak jauh menembus kaca jendela dan bersarang tepat di dahi Andres. Sniper.

"Tiarap!" Limario menarik Jennie jatuh ke lantai tepat saat serangkaian tembakan menghujani dinding aula.

Keputusan Sang Ratu

Di bawah perlindungan meja jati yang tebal, Jennie menatap suaminya. Ia menyadari satu hal: pertahanan mereka telah ditembus dari dalam.

"Lim, kita tidak bisa terus bersembunyi di mansion ini," ucap Jennie tegas. "Mereka tahu setiap jengkal rumah ini. Vasco menggunakan ingatan lamanya tentang ayahmu untuk menghancurkan kita."

"Lalu apa rencanamu?" tanya Limario sambil mengisi ulang pelurunya.

"Kita gunakan aku sebagai umpan," jawab Jennie. "Vasco menginginkanku karena dia pikir aku tahu masa depan. Jika aku keluar dari mansion ini, dia akan mengalihkan seluruh pasukannya padaku, dan kau bisa membawa anak-anak keluar dari kota ini ke tempat yang bahkan tidak diketahui oleh sejarah ayahmu."

Limario menggeleng keras. "Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkanmu menjadi umpan!"

"Ini bukan tentang aku, Lim! Ini tentang Kenzhi dan Arkano!" Jennie mencengkeram kerah kemeja Limario. "Kenzhi baru saja memegang pisau untuk melindungi adiknya. Dia baru 8 tahun! Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi monster sepertiku di kehidupan lalu. Kita harus mengakhiri Vasco malam ini juga."

Limario menatap mata istrinya yang penuh tekad. Ia tahu Jennie benar. Jika mereka tetap di sini, mereka akan terkepung.

"Baiklah," bisik Limario, mencium kening Jennie dengan penuh kepedihan. "Tapi jika terjadi sesuatu padamu, aku akan membakar seluruh dunia ini, Jennie. Aku bersumpah."

Langkah Pertama: Pelatihan Kenzhi

Malam itu, di dalam bunker yang dingin, Limario menemui Kenzhi. Ia memberikan sebuah pisau kecil yang elegan dengan gagang berlapis perak kepada putrinya.

"Kenzhi, mulai besok, kau tidak akan hanya belajar balet," ucap Limario serius. "Kau akan belajar bagaimana cara agar tidak ada lagi orang yang bisa membuatmu jatuh di lantai dapur. Kau mengerti?"

Kenzhi menerima pisau itu, jemarinya yang kecil mengusap bilahnya yang tajam. Ia menatap ayahnya, lalu menatap Arkano yang tertidur di sampingnya. "Ya, Daddy. Aku akan melindungi Arka. Aku akan menjadi seperti Mummy."

Jennie yang melihat dari pintu merasa hatinya perih. Ia telah berhasil mengubah takdir kematian mereka, namun ia gagal menjauhkan anak-anaknya dari dunia hitam yang selalu ia benci.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!