NovelToon NovelToon
Cinta Ini Belum Usai

Cinta Ini Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Percintaan Konglomerat / Saudara palsu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Baby.Scorpio

Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.

Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.25 Filter kehidupan

Empat puluh jam telah berlalu sejak Alvin meninggalkan bunker Zurich. Di dalam ruangan bawah tanah yang kedap suara itu, waktu terasa seperti substansi kental yang menolak untuk bergerak.

Sekar duduk di samping ranjang Arini, matanya merah karena kurang tidur, wajahnya pucat pasi diterpa cahaya monitor medis yang berkedip-kedip.

Suhu tubuh Arini berhasil ia jaga di angka 34,2 derajat Celsius melalui protokol hipotermia terkendali. Namun, kondisi fisik anak itu mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan sistemik.

Kulit Arini nampak transparan, memperlihatkan pembuluh darah yang berwarna kebiruan gelap—sebuah tanda bahwa serum residu itu sedang aktif melakukan renovasi paksa pada dinding arteri Arini.

"Tahan sebentar lagi, Sayang. Paman Alvin pasti datang," bisik Sekar, suaranya parau.

Ia terus mengganti kantong es di sekitar tubuh Arini dengan gerakan mekanis. Di tangannya, ia memegang selang infus yang mengalirkan cairan penstabil tekanan darah.

Sekar tahu, jika dalam delapan jam ke depan inhibitor itu tidak sampai, pembuluh darah di otak Arini akan pecah, persis seperti sebuah balon yang dipompa terlalu keras.

Di tengah tidurnya yang dipicu oleh sedatif, Arini tidak sedang berada di dalam bunker. Ia berada di sebuah padang rumput yang sangat luas, tempat di mana langitnya berwarna ungu pucat dan anginnya berbau kembang melati.

Di sana, di bawah sebuah pohon besar yang daunnya berwarna perak, duduk seorang anak laki-laki yang mengenakan piyama garis-garis.

Dia sedang memegang bola kaki, namun bola itu nampak berat di tangannya.

"Lukas?" panggil Arini pelan.

Anak laki-laki itu menoleh. Wajahnya identik dengan Arini, namun nampak jauh lebih damai. "Kamu tidak seharusnya di sini, Arini. Tempat ini terlalu sunyi."

"Aku mencarimu, Lu. Ibu mencarimu," Arini melangkah mendekat, namun kakinya terasa berat, seolah terikat oleh akar-akar hitam yang keluar dari tanah. Akar itu nampak seperti urat darah yang menonjol.

"Ibu sedang berjuang di sana," Lukas menunjuk ke arah gumpalan kabut di kejauhan. "Cairan biru itu... dia ingin membawamu ke sini, ke tempat yang sunyi. Tapi Ibu belum siap melepaskanmu."

Lukas berdiri, mendekati Arini, dan menyentuh dadanya. "Aku akan mengambil bagianku kembali, Arini. Cairan biru itu milikku, bukan milikmu. Dia datang dariku saat kita masih berada di perut Ibu. Biarkan aku membawanya pergi."

Arini merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar dari tangan Lukas ke dalam nadinya.

Akar-akar hitam yang mengikat kakinya perlahan memudar, terserap masuk ke dalam tubuh Lukas.

Di dunia nyata, pintu bunker tiba-tiba terbuka dengan dentuman keras. Sekar langsung menyambar pistol yang ditinggalkan Alvin, mengarahkannya ke pintu dengan tangan gemetar.

"Jangan tembak... ini aku," sebuah suara parau terdengar.

Alvin muncul dari kegelapan lorong. Kondisinya mengerikan. Jas mahalnya sudah hilang, kemejanya bersimbah darah, dan wajahnya dipenuhi luka sayatan kaca.

Tetapi di tangan kanannya, ia mencengkeram koper perak milik Dr. Steiner seolah-olah itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya tetap hidup.

"Alvin!" Sekar menjatuhkan senjatanya dan berlari menghampiri pria itu.

Alvin terhuyung, nyaris jatuh jika Sekar tidak segera menopangnya. Ia menyerahkan koper itu ke dada Sekar. "Ambil... inhibitornya. Von Hess... mereka mengejarku, tapi aku berhasil menghilangkan jejak di stasiun."

"Kau terluka parah, Alvin!" Sekar menatap lubang peluru di paha Alvin yang terus mengalirkan darah.

"Urus anak itu dulu, Sekar!" bentak Alvin, meski suaranya lemah. Ia merosot di lantai, bersandar pada pintu bunker yang tertutup rapat. "Aku bisa menunggu. Dia tidak bisa."

Sekar ragu sejenak, namun sorot mata Alvin yang keras memaksanya untuk kembali ke ranjang Arini.

Dengan tangan yang kini dipaksa untuk stabil, Sekar membuka koper itu. Di dalamnya terdapat tiga botol kecil berisi cairan bening kebiruan—penawar yang dikembangkan Steiner dari antibodi murni.

Sekar mulai melakukan prosedur yang paling berisiko dalam karier medisnya. Ia menusukkan jarum besar ke vena femoralis Arini, menghubungkannya ke mesin filtrasi darah darurat yang ada di bunker tersebut.

Darah Arini yang terkontaminasi residu ditarik keluar, disaring melalui membran polimer, dan kemudian dicampur dengan inhibitor sebelum dikembalikan ke tubuhnya.

Bip... Bip... Bip...

Monitor menunjukkan irama jantung Arini yang sempat tidak beraturan saat inhibitor pertama masuk ke sistemnya. "Ayo, Arini... lawan, Sayang," gumam Sekar.

Di sudut ruangan, Alvin memperhatikan dengan napas yang satu-satu. Ia menekan luka di pahanya dengan ikat pinggangnya sendiri untuk menghentikan pendarahan. Dalam rasa sakitnya, Alvin melihat bayangan tipis berdiri di samping Sekar.

Sosok pria dengan baju oranye tahanan, itu Rahman!

Alvin memicingkan mata, mengira itu hanyalah halusinasi karena kehilangan banyak darah. Namun bayangan itu nampak nyata, sedang memegang bahu Sekar, seolah memberikan sisa energinya agar tangan istrinya tidak meleset sedikit pun.

"Kau menang, Rahman," bisik Alvin dalam hati. "Kau punya dia sampai mati, dan aku... aku hanya bodyguard yang belum tentu dibayar dengan perasaannya."

Setelah dua jam proses filtrasi yang menegangkan, warna biru di pembuluh darah Arini perlahan mulai memudar, kembali ke warna merah alami.

Napasnya yang tadi pendek dan cepat kini mulai stabil dan dalam. Suhu tubuhnya perlahan naik tanpa perlu dibantu kantong es lagi.

Arini membuka matanya perlahan. Pupilnya sudah kembali normal.

"Ibu..."

Sekar jatuh terduduk di kursi, menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk kepala Arini, menciumi keningnya berulang kali. "Ibu di sini, Sayang. Kamu selamat. Kamu sudah menang."

Arini menoleh ke arah sisi ranjang yang kosong. "Lukas bilang... dia membawa cairan birunya pergi. Dia bilang dia tidak butuh teman di taman itu sekarang."

Sekar terdiam, lalu menatap Alvin yang kini sudah memejamkan mata di lantai, pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah namun dengan senyum tipis di bibirnya.

Sekar segera berdiri. "Alvin! Bangun, Alvin!"

Ia menyeret tubuh pria itu ke meja operasi darurat. Ia tidak akan membiarkan pelindungnya mati hari ini. Tidak setelah Alvin mempertaruhkan nyawanya menembus Berlin demi seorang anak yang bukan darah dagingnya.

Tiga jam kemudian, Alvin terbangun dengan kaki yang sudah dibalut perban rapi dan infus terpasang di lengannya.

Ia melihat Sekar duduk di sampingnya, sedang membersihkan sisa-sisa darah di wajah Alvin dengan handuk hangat.

"Apa aku sudah di surga?" tanya Alvin, suaranya masih lemah namun nada sarkasnya sudah kembali. "Kalau iya, kenapa bidadarinya nampak galak dan belum mandi?"

Sekar tertawa kecil di antara sisa air matanya. "Kau di bunker, Alvin. Dan kau hampir mati karena kehabisan darah."

"Tapi koper itu sampai, kan?"

"Iya. Arini selamat. Residu itu sudah netral."

Alvin menghela napas panjang, menatap langit-langit bunker. "Baguslah. Jadi tagihanku untuk semua ini akan sangat mahal, Sekar. Kau harus membayar bunga dari setiap tetes darah yang keluar dari paha mahalku ini."

Sekar menggenggam tangan Alvin yang kasar. "Apapun, Alvin. Apapun yang kau minta."

Alvin terdiam, menatap tangan mereka yang bertautan. "Aku hanya minta satu hal. Berhentilah melihat Rahman di mataku. Aku ingin kau melihatku sebagai pria yang berdiri di sini, bukan bayang-bayang pria yang sudah pergi."

Sekar menatap Alvin dalam-dalam. Ia menyadari bahwa selama ini ia menggunakan Alvin sebagai tameng emosional.

Pria ini telah membuktikan bahwa ia adalah lebih dari sekadar penebus rasa bersalah. Ia adalah jangkar yang menjaga Sekar agar tidak hanyut dalam dendam dan duka.

Di luar bunker, matahari Zurich mulai terbit. Von Hess mungkin masih mengintai, dan dunia mungkin masih menganggap mereka buronan. Namun untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, Sekar merasa ia benar-benar memiliki kendali atas hidupnya.

1
lee dave
update....!
Wayan Sucani
Lanjut dong...
EmakKece
Sepertinya menarik 👏
Wayan Sucani
Asli tegang bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!