NovelToon NovelToon
TYPO DI ANTARA KITA

TYPO DI ANTARA KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Hotel, Hujan, dan Hati yang Berisik

Lobi hotel bintang empat di kawasan Dago ini kelihatan elegan banget dengan pendar lampu kristal kekuningan, tapi buat gue, tempat ini lebih terasa kayak arena pertarungan. Hujan yang tadi pun cuma rintik-rintik sekarang berubah jadi guyuran deras yang bikin suara gaduh di atas atap.

​Gue turun dari mobil dengan gerakan kikuk. Kaki gue masih kerasa lemas setelah serangan "pengakuan terselubung" Genta di batas kota tadi. Gue baru aja mau melangkah ke bagasi buat ambil koper sendiri, sebagaimana kasta asisten editor pada umumnya, pas sebuah bayangan tinggi mendahului gue.

​Sret.

​Genta sudah lebih dulu menarik gagang koper merah milik gue. Tanpa sepatah kata pun, pria itu menyeretnya masuk menuju lobi. Gue melongo di tempat. Mata gue usap-usap, mastiin apa pria di depan gue ini beneran Genta atau jangan-jangan alien yang lagi nyamar.

​"Pak! Pak Genta! Itu koper saya, bukan paket naskah yang mau Bapak retur!" seru gue sambil mengejar langkah panjangnya.

​Genta nggak berhenti. Dia jalan tegak, wajahnya balik datar kayak jalan tol yang baru dihaluskan, tapi tindakannya bener-bener di luar nalar. Dia terus menyeret koper itu melewati resepsionis sampai berhenti tepat di depan lift.

​Gue berhenti di sampingnya dengan napas agak tersengal. Gue menatap Genta dari bawah dengan tatapan penuh selidik. "Bapak... Bapak beneran sehat? Apa jangan-jangan Bapak habis kesambet setan Gunung Tangkuban Perahu pas lewat tadi? Kok mendadak jadi... begini?"

​Genta nggak menoleh. Dia menekan tombol up dengan jari telunjuknya yang ramping, terus membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya sudah sangat presisi.

​"Jangan berlebihan, Aruna," suara Genta terdengar berat, bergema di lorong lift yang sepi. "Anggap saja ini kompensasi karena saya nyetir terlalu cepat tadi. Saya nggak mau asisten saya pingsan atau encok sebelum seminar besok gara-gara angkat beban berat. Itu nggak efisien buat kinerja perusahaan."

​Gue mencibir dalam hati. Efisien ndasmu, Pak! Alasan efisiensi itu sudah basi banget. Gue tahu betul, koper merah gue ini isinya cuma baju tipis dan satu pasang sepatu kets, beratnya nggak seberapa dibanding beban hidup gue menghadapi revisi dari dia tiap hari.

​"Kompensasi atau... Bapak lagi dapet bisikan dari Kaka's?" sindir gue pelan, nyaris berbisik.

​Tepat saat itu, pintu lift berdenting terbuka. Genta sempat mematung selama satu detik, sebuah jeda yang mencurigakan banget, sebelum akhirnya mendorong koper gue masuk ke dalam lift.

​"Masuk," perintahnya singkat.

​Gue masuk dengan perasaan campur aduk. Di dalam lift yang sempit dan berdinding cermin itu, suasananya makin nggak karuan. Gue sengaja ambil posisi paling pojok, jaga jarak aman seolah Genta adalah reaktor nuklir yang siap meledak. Gue sibuk merapikan rambut yang agak lepek karena hujan lewat pantulan cermin, sementara Genta berdiri mematung di depan pintu lift dengan punggung tegak.

​Anehnya, setiap kali gue melirik lewat cermin, gue menangkap basah mata Genta yang lagi merhatiin gue. Tapi pas pandangan kami ketemu, dia langsung buang muka ke arah angka lantai yang bergerak naik. Cih, gengsinya selangit!

​Setelah proses check-in yang penuh kecanggungan, gue akhirnya sampai di kamar. Begitu pintu tertutup dan terkunci, gue langsung menjatuhkan diri ke atas kasur empuk yang wangi laundry.

​"Gila! Gila! Gila!"

teriak gue teredam bantal.

​Otak gue memutar ulang semua kejadian hari ini. Dari kopi Caramel Macchiato yang takarannya pas banget, sampai kalimat Genta yang bilang kalau dia "lebih kenal lewat tulisan".

​"Dia beneran Kaka's. Nggak salah lagi. Tapi kok bisa sih? Kaka's yang di aplikasi itu manisnya kayak sirup leci, tapi aslinya... aslinya kayak empedu!" Gue bangkit duduk dengan rambut berantakan.

​Rasa kesal dan gemas ini sudah di ubun-ubun. Gue ngerasa dikerjain. Gue berasa kayak tikus laboratorium yang lagi diamati sama ilmuwan dingin bernama Genta. Gue butuh pelampiasan. Gue butuh balas dendam puitis.

​Gue meraih HP, buka aplikasi NovelToon, dan masuk ke akun Senja_Sastra. Jemari gue menari dengan cepat di atas layar.

​Judul Bab Baru: Sang Robot yang Terkunci Mulutnya

​Di sebuah pulau terpencil, hiduplah seorang pria yang badannya terbuat dari kuningan dan jantungnya dari mesin jam tua. Dia tampan, tapi sayang, mulutnya nggak bisa terbuka karena dia terlalu sombong buat bicara sama manusia.

​Suatu hari, sang robot terjebak badai besar. Dia mau minta tolong, tapi yang keluar dari mulutnya cuma suara 'klik-klik' dan bau oli mesin. Dia pikir dia hebat dengan logikanya, padahal di depan badai, dia cuma seonggok rongsokan kaku yang nggak tahu cara bilang 'terima kasih' tanpa alasan efisiensi.

​Tuhan menghukumnya dengan menghilangkan kemampuan bicaranya selamanya, supaya dia tahu rasanya punya hati tapi nggak bisa mengungkapkannya. Biar dia membusuk bareng kacamata dan ego tingginya!

​"Hah! Rasain itu, Pak Monster!" gumam gue puas setelah menekan tombol publish.

​Gue membayangkan Genta lagi duduk di kamarnya yang mewah, baca bab terbaru ini, dan ngerasa tertampar bolak-balik. Gue tersenyum menang. Gue bayangin mukanya memerah menahan marah tapi nggak bisa protes karena itu artinya dia mengaku sebagai pembaca setia Senja.

​Tapi, baru berselang lima menit, sebuah notifikasi masuk.

​Kaka’s baru saja mengomentari bab Anda:

"Plotnya menarik, Senja. Tapi robot itu punya alasan kenapa dia memilih diam. Kadang, suara 'klik-klik' itu adalah caranya menyembunyikan detak mesinnya yang terlalu kencang saat berada dekat dengan orang yang dia kagumi. Mungkin penulisnya terlalu kejam, atau mungkin... dia hanya belum paham bahasa mesin."

​Jantung gue mendadak berhenti berdetak. Gue baca komentar itu berulang kali.

​"Detak mesin yang terlalu kencang? Maksudnya... detak jantung?"

​Gue melempar HP ke ujung kasur seolah benda itu baru saja mengeluarkan api. Gue menutup wajah dengan kedua tangan yang mendadak dingin. Di luar, hujan Bandung makin menggila, tapi di dalam dada gue, ada keributan yang jauh lebih besar.

​"Sialan! Genta bener-bener mau main perang urat saraf ya!" teriak gue frustrasi.

​Malam itu, di kamar hotel yang dingin, gue sadar kalau musuh gue bukan lagi seorang bos yang menyebalkan, melainkan seorang penulis yang tahu persis di mana letak titik lemah pertahanan gue. Dan yang paling menyebalkan? Gue mulai menikmati peperangan ini.

1
-Thiea-
apa nih? cinta diam-diam kah.
Kaka's: 🤭🤭.. 🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
-Thiea-
jangan-jangan mereka orang yg sama 🤔
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
awal yang menarik 👍
Kaka's: mkasih kak
total 1 replies
Serena Khanza
wah genta udah tau senja ya 🤭
Hunk
hahah ternyata malah chatan sama orang yg di sebelah.🤣
Hunk
Berawal dari benci. Malah jadi suka🤣
Hunk
Jodoh nih🤣
Sean Sensei
cieee... saling lirik melirik nih 🤭
Hunk
Tsundere kah ni si genta?
Kaka's: yah sedikit kaku sih alias professional.. tapi bakal terjawab semua di salah satu bab nantinya🤭
total 1 replies
Serena Khanza
puitis banget tp keren kata katanya🤭
Sean Sensei
/Hey/ promosikan noveltoon /Ok/
Kaka's: 🤣🤣🤣🤣 pusing masa apk F🤭
total 1 replies
APRILAH
kehangatan di dalam kegelapan
Serena Khanza
yaah ketahuan deh gegara mati lampu 🤭 coba ada lagu nassar thor 🤣
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
SarSari_
Kak, aku mau kasih sedikit masukan yaa 🙏 Karena ini pakai sudut pandang orang pertama (gue), mungkin bagian “ada rasa kagum yang selama ini dia tutup rapat-rapat” bisa dibuat lebih seperti dugaan si tokoh, bukan kepastian. Soalnya di POV orang pertama kan kita cuma tahu apa yang dia lihat dan rasakan.
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.

Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻
Kaka's: menarik.. terima kasih masukannya kaks
total 1 replies
Sean Sensei
/Sweat/ : punya dendam kayaknya tuh
Hunk
Masih mening pak dari pada sianida.🤣
Hunk
kenapa ga biji kopi dari luwak nya langsung🤣
®Astam
Nah kan... betul🤭
®Astam: Okay bang😆
total 4 replies
®Astam
Bagus👍, kadang-kadang bikin penasaran dengan bab selanjutnya.
Kaka's: makasih kaks🤭
total 1 replies
®Astam
Kayaknya si genta, adakah kaka's deh🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!