Demi warisan ibunya, Zelia nekat menikahi tukang parkir bernama Arelion—pria asing yang pernah menyelamatkannya.
Malam sebelum pernikahan impiannya, ia memergoki tunangannya selingkuh dengan adik tirinya, dan ayahnya ternyata ikut merencanakan perebutan perusahaan.
Pernikahan kontrak ini adalah balas dendam sekaligus pelindung terakhirnya.
Tapi di balik sikap dingin dan penampilan sederhana Arelion, tersimpan rahasia besar yang akan mengubah segalanya... termasuk hati Zelia yang sudah hancur..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Bukti yang Mengubah Arah
Hakim mengetuk palu.
“Bukti diterima untuk dipertimbangkan. Sidang diskors 30 menit untuk musyawarah majelis. Putusan akan dibacakan setelah jeda.”
Tok.
Zelia duduk di tempatnya dengan napasnya stabil. Di dalam matanya hanya ada ketenangan seseorang yang sudah melewati badai terburuk.
Di seberang, Fero merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kehilangan kendali.
Are kembali berdiri di belakangnya. Diam. Namun kini semua orang di ruangan tahu…
Pria itu bukan sekadar bayangan, ia adalah alasan Zelia tidak pernah goyah.
***
Tiga puluh menit terasa seperti tiga jam. Ruang sidang kembali dibuka. Semua berdiri ketika majelis hakim masuk.
Hakim duduk. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun. “Sidang dilanjutkan.”
Suasana hening.
“Majelis menerima rekaman video sebagai alat bukti yang sah untuk dipertimbangkan lebih lanjut.”
Seketika udara terasa lebih berat.
Wajah Fero memucat.
“Majelis juga menilai terdapat indikasi pelanggaran prinsip itikad baik dalam hubungan para pihak.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk mengubah arah permainan.
“Sidang perkara ini akan dilanjutkan pada agenda pemeriksaan lanjutan.”
Tok!
Palu diketuk.
Bukan akhir, tapi bukan lagi posisi yang sama.
Zelia tidak tersenyum, ia hanya berdiri, menatap lurus ke depan.
***
Di dalam mobil, layar tablet di tangan Are memperlihatkan grafik yang bergerak liar. Bukan runtuh, tapi jelas goyah.
Perusahaan milik Fero mulai kehilangan pijakan. Angkanya turun perlahan… lalu sedikit lebih cepat… seolah kepercayaan publik ditarik satu per satu.
Zelia hanya melihat sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengguncang meja permainan.
“Pasar tidak suka ketidakpastian,” kata Zelia pelan.
Are tersenyum tipis. “Pasar hanya mengikuti rasa takut.”
Di sisi lain kota, media sosial mulai ramai. Potongan video lama beredar kembali. Komentar bermunculan tanpa henti. Ada yang terkejut, ada yang marah, ada yang menghujat, ada pula yang merasa semuanya akhirnya masuk akal.
“Dia dendam karena dipermalukan dengan pembatalan nikah, tapi malah lebih malu saat balas dendam.”
“Bukannya mendapat keuntungan, mungkin jatuh makin dalam.”
“Karma pengkhianat.”
“Sok menggali lubang untuk orang lai, awas terkubur sendiri.”
Nama Fero mulai terdengar seperti risiko, dirujak netizen. Sedangkan nama Zelia... perlahan berubah dari terdakwa menjadi seseorang yang bertahan.
“Kasian Zelia. Udah dikhianati malah masih ingin dijatuhkan.”
“Untung dia cerdas.”
“Kebenaran gak bisa dikubur.”
Mobil melaju meninggalkan gedung pengadilan, dan di balik kaca yang gelap, Zelia menutup mata sebentar.
“Lelah?” tanya Are tanpa menoleh, tetap fokus mengemudi.
“Bukan.” Zelia membuka matanya. “Hanya saja… aku tahu pasti permainan ini baru saja benar-benar dimulai.”
Are tersenyum tipis. “Tenang saja. Akan kupastikan kendali di tanganmu.”
Zelia menghela napas kasar lalu memeluk lengan Are. Lagi dan lagi, Are tak mampu menolaknya.
Zelia menyandarkan kepalanya di bahu Are, seolah itu adalah tempat ternyaman di dunia.
Dia makin berani, gumam Are dalam hati.
***
Fero telah tiba di kantornya. Ia berdiri di depan layar besar dengan rahang mengeras. Para direktur saling bertukar pandang. Suasana ruang rapat terasa sesak oleh kegelisahan yang tidak diucapkan.
“Gugatan itu malah merugikan kita.”
“Siapa tahu gadis kecil itu bisa membalikkan keadaan?”
“Kita terlalu meremehkan dia.”
Satu berita lagi muncul.
“Analis Menilai Gugatan Bisa Berbalik Risiko bagi Pihak Penggugat”
Remote di tangan Fero tertekan terlalu keras hingga terdengar retak kecil.
“Sial!” Fero mengusap wajahnya kasar.
Semua orang di ruangan itu tahu, sejak gugatan diajukan… narasi tidak lagi sepenuhnya ada di tangan Fero.
***
Atyasa pulang dengan wajah kaku. Rahangnya mengeras, langkahnya berat seperti membawa beban yang tak terlihat.
Dian dan Desti langsung menyambut.
“Pa… sekarang namaku makin hancur. Dan ini semua karena Zelia,” ujar Desti, tangannya terkepal erat.
Atyasa menatap putrinya tajam. Tatapan yang membuat Desti refleks menelan ludah. “Ini semua karena kecerobohan kalian.”
Suasana langsung membeku.
“Padahal sudah tinggal satu langkah lagi Zelia menikah dengan Fero… tapi kalian berdua…” gigi Atyasa gemeretuk menahan amarah. “Rencana yang Papa susun bertahun-tahun gagal hanya karena kalian tak bisa menahan diri.”
“Sudah, Pa… jangan marah lagi. Gak baik buat darah tinggi Papa,” ujar Dian pelan, mencoba menenangkan.
Atyasa akhirnya duduk di sofa, memijat pelipisnya dengan napas berat.
“Dulu Zelia mudah dibohongi… kenapa dia jadi secerdas itu…” gumam Desti kesal sambil memukul sofa.
Atyasa mengangkat kepala pelan. “Ini semua karena pria bernama Are itu. Sejak bersamanya, Zelia berubah. Lebih pintar, lebih tenang, lebih percaya diri, dan sulit diprediksi.”
Ruangan kembali sunyi.
“Apa… gak ada yang bisa kita lakukan, Pa?” tanya Dian hati-hati.
Atyasa terdiam cukup lama. Tatapannya kosong, tapi jelas otaknya bekerja.
“Sejak menikah… dia belum pernah pulang,” gumamnya akhirnya.
Desti langsung menoleh. “Maksud Papa?”
Sudut bibir Atyasa terangkat tipis. Bukan senyum hangat, lebih seperti bayangan rencana.
“Kadang… orang yang merasa sudah menang… jadi lengah.”
Dian mengerutkan kening. “Papa mau apa?”
Atyasa berdiri perlahan, merapikan jasnya.
“Kita tunggu saja… sampai dia pulang.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Dan justru itu yang paling menakutkan.
***
Telepon Zelia bergetar di atas meja. Nama Atyasa muncul di layar. Ia mengernyit, lalu mengangkatnya.
“Dokumen warisan mamamu belum lengkap. Kamu harus pulang,” suara Atyasa terdengar datar, terlalu datar untuk sesuatu yang penting.
Zelia terdiam sejenak. Nalurinya langsung berdesir. “Baik. Aku datang.”
Begitu telepon ditutup, Are yang sedang duduk di seberangnya menyipitkan mata. “Ada apa?”
Zelia mengangkat bahu, mencoba terdengar santai meski matanya tak bisa berbohong. “Katanya dokumen warisan Mama belum lengkap. Aku disuruh pulang.”
Are tak langsung berkomentar. Tatapannya berubah, lebih tajam, lebih waspada.
“Aku ikut.”
Zelia tersenyum lebar seketika, sisi kekanakannya muncul tanpa ia sadari. “Serius?”
Are hanya mengangguk singkat. “Aku gak suka firasatnya.”
Zelia malah tampak senang. Ia berdiri dan otomatis meraih lengan Are, seperti itu hal paling natural di dunia.
"Ayo, berangkat," ucapnya ringan. "Kebetulan ada beberapa barangku yang ingin kuambil."
Dan Are? Seperti biasa, membiarkannya.
—
Are melajukan mobil sesuai arahan Zelia, hingga mereka memasuki halaman rumah megah dua lantai.
Saat mereka turun dari mobil, udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Dian menyambut dengan senyum lembut yang terlalu sempurna. “Sayang, kamu pulang.”
Namun matanya tak bisa menyembunyikan kilatan saat melihat Are.
"Kakak akhirnya pulang," ucap Desti lembut, berdiri tak jauh dari Dian. Seolah tak pernah mengkhianati Zelia.
Zelia tersenyum tipis, sinis, nyaris tak terlihat. "Dulu aku begitu percaya dengan sandiwara kalian," batinnya. "Sekarang... jangan harap."
Desti menatap Are dengan kagum yang terlalu jelas. Tatapan itu membuat Zelia refleks merapatkan pelukannya di lengan Are, sedikit posesif.
Are tidak bereaksi, tapi sikap dinginnya membuat Desti salah tingkah.
"Ayo masuk," ucap Dian dengan senyum manis yang Zelia tahu hanya sandiwara. Ia memandu mereka menuju ruang tengah.
"Duduk dulu. Mama buatkan minuman." Dian buru-buru ke dapur, pura-pura sibuk menyiapkan minuman, tapi sesekali melirik diam-diam ke arah Are.
“Zelia, ikut Papa ke ruang kerja,” kata Atyasa muncul dari arah tangga.
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang membuat bulu kuduk meremang.
Zelia melirik Are sebelum beranjak dari duduknya. Are hanya mengangguk pelan.
—
...✨“Pengadilan bisa memutus perkara, tapi keluarga… memutus kewaspadaan.”✨...
.
To be continued
Percaya diri seperti kalian yang mudah di jatuhkan
Dan....
apa ya kira²?
author yang tahu