NovelToon NovelToon
SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

SANDIWARAS: Satu Kursi Tersedia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Romansa
Popularitas:251
Nilai: 5
Nama Author: Hayra Masandra

Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.

"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira

"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara

"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Padam

Senin pagi datang dengan mendung yang menggantung rendah, seolah langit ikut berduka atas apa yang terjadi pada Pak Mulyono. Namun bagi Aira, mendung itu adalah jubah pelindung. Ia berangkat lebih pagi dari biasanya, bukan karena rajin, tapi karena ia ingin menghindari kemungkinan bertemu dengan motor sport hitam milik Kara di gerbang sekolah.

Aira kembali ke "orbit" lamanya.

Ia duduk di kursinya, tidak lagi membuka buku paket Fisika dengan semangat, melainkan hanya menatap kosong ke meja kayu yang penuh coretan. Rini, teman sebangkunya, mencoba menyapa dengan nada riang yang dipaksakan.

"Syai, lo dengar kabar terbaru soal Pak Muly—"

"Aku mau baca, Rin. Tolong ya," potong Aira dingin tanpa menoleh.

Rini tertegun, lalu menghela napas panjang dan berbalik ke teman yang lain. Bisik-bisik mulai terdengar lagi. Kasya kumat lagi. Gadis es sudah kembali. Aira mendengarnya, dan ia menikmatinya. Dingin ini adalah rumahnya. Di dalam kedinginan ini, tidak akan ada yang terbakar, dan tidak akan ada yang terluka.

Di jam istirahat, Aira tidak pergi ke kantin. Ia tetap di kelas, menelungkupkan kepalanya di atas meja. Namun, suara langkah sepatu yang sangat ia kenali terdengar berhenti di samping mejanya. Ritmenya tidak secepat biasanya. Sedikit lebih lambat, seolah sang pemilik langkah sedang menahan rasa pening.

"Aira."

Suara itu. Aira tidak bergerak. Ia tetap menyembunyikan wajahnya di balik lengan seragam.

"Aku bawakan roti. Kamu nggak ke kantin dari pagi," ujar Kara.

Aira tetap diam. Ia bisa merasakan kehadiran Kara yang hangat di sampingnya, sebuah energi yang sangat ingin ia renggut tapi harus ia tolak mati-matian.

"Aira, jangan begini. Kalau kamu marah padaku, marah saja. Tapi jangan hukum dirimu sendiri dengan cara menghilang lagi ke dalam duniamu," suara Kara terdengar sedikit serak.

Aira akhirnya mendongak. Namun, tidak ada binar di matanya. Hanya ada kekosongan yang dalam, sedalam palung Lawana. "Aku tidak sedang menghukum diriku, Kara. Aku sedang kembali ke tempatku yang seharusnya. Dan tempatmu... bukan di sini."

Aira menatap wajah Kara. Ada yang berbeda. Mata Kara yang biasanya tajam dan fokus, kini tampak sedikit kemerahan dan berair. Kara sempat mengucek matanya sebentar, lalu mencoba memfokuskan pandangan pada Aira.

"Aku nggak akan pergi sebelum kamu makan roti ini," ujar Kara dengan sisa-sisa kedisiplinannya.

Aira meraih roti itu, namun bukan untuk dimakan. Ia meletakkannya kembali di ujung meja yang paling jauh dari jangkauannya. "Kamu lihat? Aku sudah menerima pemberianmu. Sekarang, tolong pergi. Aku mau sendiri."

Kara terdiam. Ia menatap Aira seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia memegang pinggiran meja Aira untuk menyeimbangkan tubuhnya yang tiba-tiba merasa sedikit oleng.

"Oke," bisik Kara pelan. "Aku pergi. Tapi buku saku itu... tolong jangan dibuang. Setidaknya biarkan satu hal dariku tetap tinggal bersamamu."

Kara berbalik dan berjalan keluar kelas. Aira memperhatikan punggung itu. Biasanya, punggung Kara terlihat sangat kokoh, seperti tiang yang tidak akan pernah goyah. Tapi hari ini, punggung itu terlihat sedikit goyah, seolah sang Matahari sedang memikul beban yang lebih berat dari jagat raya.

Aira kembali menelungkupkan kepalanya. Ia merasa hatinya seperti diremas. Ia berhasil. Ia berhasil membuat Kara menjauh. Ia berhasil kembali menjadi gadis bayangan yang tak tersentuh.

Namun, di dalam kegelapan yang ia ciptakan sendiri, Aira merasakan dadanya sangat sesak. Ternyata, kembali menjadi "biasa saja" adalah siksaan yang paling kejam setelah sempat mencicipi rasanya "diperhatikan".

Di koridor, Kara bersandar pada tembok kelas yang dingin. Ia memejamkan matanya erat-erat. Pandangannya berbayang. Garis-garis lurus di koridor sekolah tampak melengkung dan buram.

"Hanya kelelahan," gumam Kara pada dirinya sendiri. "Abyasa tidak boleh lemah. Abyasa harus disiplin."

Ia mencoba melangkah lagi, namun dunianya seolah berputar. Di tengah keramaian siswa yang tertawa, sang Matahari mulai menyadari bahwa cahayanya sedang dikhianati oleh tubuhnya sendiri. Dan di ujung koridor yang lain, sang Samudera sedang tenggelam dalam kesedihan yang ia ciptakan untuk menyelamatkan mereka berdua.

...

Aira tetap pada posisinya, mematung di balik meja kelas yang sunyi meski bel masuk telah berbunyi. Di hatinya, ada peperangan yang tak kunjung usai. Ia merasa bangga telah berhasil mengusir Kara, namun di saat yang sama, ia merasa seperti seseorang yang baru saja mematikan satu-satunya pelita di tengah gua yang gelap.

Namun, desas-desus di sekolah tidak pernah membiarkan Aira tenang.

"Eh, kalian lihat si Yasa nggak di kelas tadi?" bisik Rini pada teman di depan kursinya, suaranya sengaja direndahkan namun tetap tertangkap oleh indra pendengaran Aira yang tajam.

"Iya, tadi katanya dia izin ke UKS. Mukanya pucat banget, terus tadi pas kuis Matematika, dia yang biasanya paling cepat selesai malah cuma diam lihatin kertas doang. Katanya sih, dia salah baca angka terus," jawab temannya.

Aira mencengkeram pinggiran mejanya. Salah baca angka? Kara?

Logika Aira mulai berputar liar. Seorang Abyasa yang hidupnya diatur seperti penggaris, yang ketelitiannya sudah diakui seluruh guru, tidak mungkin melakukan kesalahan sesepele itu hanya karena "kelelahan".

"Palingan kecapekan urus OSIS," lanjut Rini. "Tapi serem juga ya, pas dia jalan di koridor tadi, dia kayak nggak fokus. Hampir nabrak pot bunga besar di depan ruang guru. Padahal kan Yasa biasanya sigap banget."

Jantung Aira berdegup kencang. Ia teringat tatapan mata Kara yang berair dan kemerahan saat memberinya roti tadi. Ia teringat bagaimana Kara memegang meja kelasnya seolah sedang mencari pijakan yang stabil.

Jangan, Kara. Jangan sekarang, batin Aira menjerit.

Sore hari, saat sekolah hampir kosong, Aira melihat Kara keluar dari ruang UKS. Laki-laki itu tidak berjalan dengan langkah tegap seperti biasanya. Ia berjalan pelan, satu tangannya meraba dinding koridor seolah sedang memastikan jarak. Saat ia sampai di parkiran, ia tidak langsung menaiki motornya. Ia berdiri di sana cukup lama, menatap kunci motor di tangannya dengan dahi berkerut, seolah-olah benda itu adalah teka-teki yang sulit dipecahkan.

Aira memperhatikan dari kejauhan, tersembunyi di balik pilar lantai dua. Tangannya gemetar.

"Ain..." bisik Aira parau.

Ia teringat betapa seringnya ia menatap Kara secara diam-diam beberapa hari ini. Ia menatap punggungnya, menatap cara bicaranya yang tegas, menatap segala kesempurnaan yang ada pada laki-laki itu dengan rasa kagum yang amat dalam. Dan dalam keyakinan Aira, kekaguman yang terlalu dalam dari orang yang "terkutuk" sepertinya adalah racun yang paling mematikan.

Kara akhirnya berhasil menaiki motornya dan melaju perlahan keluar dari gerbang. Kecepatan motornya jauh di bawah rata-rata.

Aira luruh ke lantai koridor. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Penarikan dirinya ternyata sudah terlambat. Sesuatu di dalam dirinya—entah itu kutukan, entah itu takdir—sudah mulai menyentuh Kara. Sang Matahari tidak lagi menyilaukan; cahayanya mulai meredup, termakan oleh dingin yang dibawa oleh samudera Aira.

Malam itu, Aira tidak bisa tidur. Ia mengambil buku saku cokelat dari laci bawahnya. Ia membukanya, menatap nomor telepon Kara yang tertulis di sana. Ia ingin menelepon, ia ingin bertanya, "Kara, kamu baik-baik saja?" tapi jemarinya membeku di atas layar ponsel.

Ia takut jika suaranya justru akan memperparah keadaan. Ia takut jika rasa pedulinya adalah hembusan angin yang akan memadamkan sisa api di tubuh Kara.

Aira hanya bisa meringkuk di sudut kamarnya, menatap ke arah jendela yang gelap. Tidak ada bintang malam ini. Hanya ada kesunyian yang mencekam dan rasa bersalah yang mulai mengakar, membuktikan bahwa sejauh apa pun ia menjauh, bayang-bayang kesialannya akan selalu bisa menemukan jalan untuk melukai orang yang ia cintai.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!