Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Surat Ancaman
Vania sedang sibuk beberes karena hendak pindah ke apartemen yang di belikan oleh Erlangga. Pria itu memotong gaji Vania setiap bulannya, karena Vania tidak ingin memiliki hutang Budi. Saat Vania membuka pintu, alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang berdiri di depannya sekarang.
"P—papa," gumam Vania, hendak menutup kembali pintu itu tetapi ditahan oleh Baskara.
"Dasar anak durhaka! Tidak tahu diri! Beraninya kau kabur sebelum hari pernikahan. Sekarang pulang! Ikut denganku, akan ku beri kau pelajaran." teriak Baskara mendorong pintu sekuat mungkin hingga membuat Vania terjatuh di lantai.
"Apa mau, Papa? Biarkan aku hidup sesuai dengan keinginanku sendiri. Aku tidak mau menikah dengan si tua bangka itu!" teriak Vania tak kalah kencang, wanita itu memegangi perutnya.
Baskara menarik tangan putrinya secara kasar, dia menatap Vania dengan tajam seperti ingin menguliti. "Kau harus pulang!" putusnya.
"Tidak! Lepaskan aku!" Berontak Vania mencoba melepaskan tangan Papanya.
Erlangga yang memang ingin menjemput Vania hari ini heran karena melihat sebuah mobil berwarna putih yang terparkir di halaman rumah Vania. Dia bergegas keluar dari mobilnya ketika melihat Vania diseret paksa oleh pria paruh baya.
"Berhenti!" Teriak Erlangga membuat langkah Baskara terhenti.
Keduanya menoleh ke sumber suara.
"Kau!" Baskara yang mengingat wajah Erlangga merasa geram. "Jadi kau pria yang membawa anakku pergi dari rumah?" tanyanya setelah berada di dekat Erlangga.
Vania pun dengan cepat menggeleng. "Ini semua tidak ada hubungannya dengan Erlangga! Kenapa papa selalu salah paham?" isaknya menangis.
"Kenapa Om berbuat kasar pada anak Om sendiri?"
"Bukan urusanmu! Kau hanya perlu menjauhi putriku. Sepertinya peringatan beberapa tahun yang lalu tidak membuatmu gentar untuk mendapatkan Vania."
Erlangga menarik napas pelan. "Saya mencintai dia, tapi saya tidak pernah memaksanya untuk membalas cinta saya. Apalagi sampai membawa Vania pergi dari rumah tanpa restu orangtuanya." jelasnya, tetapi tak dihiraukan oleh Baskara.
Saat Baskara hendak pergi, Erlangga kembali membuka suara.
"Saya tahu hal apa yang membuat Anda memaksa Vania untuk pulang."
"Kau tau apa, ha? Anak orang rendahan sepertimu tidak perlu ikut campur urusan keluargaku. Vania akan menikah, dan kau jangan ganggu dia lagi! Paham?"
"Tunggu, Om!" Erlangga tidak akan membiarkan Vania hidup menderita. Pria itu melangkah maju dan menatap Baskara dengan tajam. "Saya tahu Anda memaksa Vania untuk menikah dengan seseorang, tapi saya tidak akan membiarkan itu terjadi. Vania adalah orang yang saya cintai dan saya akan melindunginya."
Baskara geram mendengar kata-kata angkuh yang keluar dari mulut Erlangga. "Itulah yang terbaik untuk Vania, demi reputasi keluarga kami."
"Saya akan menjamin reputasi keluarga Om agar tidak di cap buruk, tapi biarkan Vania pergi. Jangan paksa dia untuk menikah dengan pria itu."
Baskara tertawa, tangannya terus mencengkeram lengan Vania. "Seberapa hebat dirimu? Bisa-bisanya bicara seperti itu." ejeknya.
Disaat keduanya masih berdebat sengit, sebuah mobil mewah keluaran terbaru berhenti disana. Mata mereka tertuju ke mobil itu, sepatu mengkilap, kaki jenjang dan tubuh atletis yang berwibawa keluar dari mobil tersebut. Seseorang itu berjalan menghampiri ketiga insan yang masih terpaku menatapnya.
"Selamat pagi." sapanya dengan suara bariton yang khas.
Baskara langsung melepaskan tangan Vania, dia tersenyum menyambut kedatangan pengusaha terkenal dan nomor satu yang ada di depannya saat ini.
"Tuan Abraham, kenapa Anda bisa ada disini?" Tanyanya sopan seperti seorang penj*ilat. Raut wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi baik.
"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda." Gio berjalan menjauh dari Vania, diikuti oleh Baskara.
"Jangan kabur, tetap disini!" peringatan yang Baskara berikan untuk Vania.
Terlihat kedua pria itu sedang membicarakan hal yang sangat pribadi, terbukti dari wajah keduanya begitu serius. Vania menebak-nebak, kira kira apa yang Gio bicarakan pada orangtua Vania, dan bagaimana pria itu bisa tahu tempat tinggalnya? Setiap kali melihat Gio, Vania merasa kesal.
Setelah selesai, keduanya kembali menemui Vania. Baskara menghela napas panjang.
"Papa tidak akan memaksamu untuk pulang, dan kau tidak perlu menikah dengan siapapun. Hiduplah sesukamu, pulanglah jika kau mau." kemudian mata Baskara berpindah pada Erlangga. "Jangan dekati putriku, dia akan hidup bahagia bersama dengan Ayah bayi yang ada di dalam kandungannya."
Vania mengerutkan dahi, merasa heran dan aneh dengan perkataan Papanya. Namun, di satu sisi dirinya lega karena bisa terlepas dari hal buruk yang setiap malam dia pikirkan.
'Pernikahan itu akhirnya dibatalkan, dan aku bisa hidup tanpa bayang-bayang itu lagi. Akhirnya aku bisa tenang, tapi apa yang membuat Papa bisa berubah pikiran secepat ini?' batin Vania bertanya-tanya.
Baskara pergi sesudah berpamitan pada Gio, sekarang tinggallah mereka bertiga disana.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Vania dengan nada ketus.
"Kau tidak ingin mengucapkan terima kasih padaku?" balas Gio tak kalah dingin.
"Untuk apa? Sebaiknya kau pergi! Setiap kali melihatmu aku merasa muak dan ingin muntah. Sana sana! Hush." usir Vania terang-terangan.
"Banyak wanita yang ingin dekat denganku, bahkan menatap dan bicara padaku. Tapi kau—" Gio berdecak kagum. "Harusnya kau bersyukur bisa kenal dan bicara secara pribadi dengan pengusaha terkenal sepertiku."
"Cih, dasar angkuh!" Vania bergegas masuk ke dalam mobil milik Erlangga, dia tidak ingin meladeni ucapan Gio. "Lang! Tolong bawakan barang-barangku, bisa kan?" teriaknya dari dalam mobil dan dijawab anggukan oleh Erlangga.
"Tunggu!" Gio berjalan mendekati Erlangga. "Jangan sentuh dia, dan dekati dia. Mengerti?" ucapnya kemudian berlalu pergi sambil mengibaskan Jasnya. Persis seperti pria angkuh yang ada di drama Korea.
......
Hari demi hari Vania lewati dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan baru. Dia menikmati statusnya sebagai Ibu hamil. Namun, sayangnya dia tidak diperbolehkan kerja berat. Kandungannya sudah menginjak enam bulan, sungguh waktu yang cepat berlalu. Perut Vania semakin membuncit seiringnya perkembangan si janin, dia terus rutin memeriksakan kandungannya di rumah sakit. Vania sudah gagal menjadi seorang anak, dan sekarang dia tidak ingin gagal menjadi seorang Ibu yang baik untuk calon anaknya.
Bel apartemen berbunyi, membuat lamunan Vania buyar. Dia yang tadinya membayangkan masa depan indah bersama anaknya, kini menghilang begitu saja karena suara bel. Seakan bisa menebak, wanita itu beranjak dari tempat duduknya. Dia tersenyum sambil membuka pintu. Seketika senyumnya surut saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya saat ini.
"Kau—" Tunjuk Vania reflek.
"Apa begitu caramu menyambut tamu, Nona?" tanya seseorang yang ada dihadapan Vania.
"Memangnya kenapa? Berhubung tamunya itu kau, jadi aku tidak perlu berbasa-basi. Ayo, cepat pergi!" Usirnya merasa terusik.
Gio tidak peduli, dia menerobos masuk tanpa persetujuan Vania.
"Hei, dasar pria angkuh, tidak sopan!" Gerutunya menyusul Gio yang sudah duduk di sofa. Pria itu melihat ke sekeliling apartemen.
"Aku bisa membelikan rumah yang lebih megah dibandingkan apartemen ini." ucapnya setengah mengejek.
"Dan aku tidak peduli!"
Bukannya menyerah, sekarang Gio malah menaikkan kakinya ke atas meja. Membuat Vania merasa kesal.
"Benar-benar tidak punya sopan santun! Rupamu saja yang berwibawa dan gagah, tapi adabmu tidak ada." ketus Vania.
Gio tidak menggubris perkataan Vania, dia menurunkan kakinya dan berdiri tepat di depan Vania. Manik mata mereka beradu, ada getaran aneh yang menjalar di hati Gio. Dia seperti tidak ingin mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdetak sangat kencang, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Pikir Gio yang tidak pernah merasakan hal seperti itu.
"Sebaiknya kau ikut denganku. Tempat ini tidak aman untukmu." ucapnya tiba-tiba. Tentu saja Vania tertawa mendengarnya.
"Hallo! Apa masalahmu? Jangan sok-sokan peduli padaku, urus saja hidupmu, jangan pikirkan hidupku." cibirnya.
"Kau ini keras kepala sekali ya? Baiklah, aku akan beri penjagaan di luar apartemenmu. Ada banyak orang jahat yang mengincar dirimu. Percaya atau tidak, yang penting aku sudah memperingatkanmu. Kau tahu kan, aku ini pengusaha terkenal. Semua informasi bisa ku dapatkan, sekecil apa pun itu. Jaga dirimu baik-baik." Gio langsung keluar dari sana, sementara Vania merasa khawatir dengan perkataan Gio barusan.
"Apa dia berkata benar? Atau hanya menakut-nakutiku?" gumam Vania was-was.
"Kalian berdua jaga sebelah sana, dan kalian sebelah barat. Ingat! Jangan sampai lengah, siapa pun itu tidak boleh masuk ke sekitar apartemen ini. Mengerti?" perintah dari Gio pada kelima orang suruhannya.
Vania hanya mampu melihat dari jendela, dia heran kenapa Gio begitu peduli padanya. Padahal mereka hanya bertemu beberapa kali.
Malam hari.
Vania terkejut karena suara benda keras jatuh tepat di bawah jendela dan merusak kacanya. Dia bergegas melihat apa yang terjatuh barusan.
"Batu? Siapa yang iseng melempar batu dipagi buta seperti ini?" Vania pun membuka kertas yang dililit batu itu, disana tertuliskan KAU DAN BAYIMU HARUS MA*TI. Sontak Vania melemparkan kertas tersebut, tubuhnya gemetaran dan keringat dingin mulai muncul di dahinya.
Perlahan kakinya melangkah, melewati pecahan kaca yang berserakan di lantai. Dia melongo ke luar jendela, tidak ada siapa pun dibawah sana, bahkan para penjaga juga masih tetap keliling memantau situasi sekitar apartemen.
"Lalu darimana datangnya surat ini?" pikir Vania ketakutan. Dengan cepat dia kembali ke ranjangnya. "Ya Tuhan, jauhkan lah kami dari keburukan." doanya sebelum mencoba untuk tidur.
________
Tepat pukul tiga dini hari.
Erlangga tidak bisa tidur, entah mengapa dia memikirkan Vania. Di memutuskan untuk menghubungi wanita yang dicintainya itu. Panggilan tersambung tetapi tidak dijawab oleh Vania.
"Mungkin dia sudah tidur." pikir Erlangga. Dia pun kembali berusaha memejamkan matanya.
_______________
BERSAMBUNG
HAI SEMUANYA, SELAMA BULAN RAMADHAN INI, OTHOR UP PAGI DAN SIANG YA. DIKARENAKAN MALAM SHOLAT TARAWIH 🤗 SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA UNTUK YANG MELAKSANAKANNYA 🙏