NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.7M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Kembali Bersandiwara

Begitu tiba di dapur kering, aroma bawang putih dan daun bawang yang baru diiris langsung menyambut Raisa. Ruangan itu terang oleh lampu gantung sederhana, dengan meja panjang di tengah yang dipenuhi sayuran, potongan daging, dan beberapa mangkuk stainless.

Di sana, Bu Rika berdiri di sisi meja, tangannya cekatan menyiangi sayur. Di sebelahnya, Bik Sum tengah memotong daging ayam untuk dimasak makan malam.

“Mak,” sapa Raisa dengan senyuman cerah, keranjang kecil berisi pakaian kotor Ezio masih berada di tangannya.

Bu Rika mendongak. Keningnya berkerut sesaat, lalu melebar karena terkejut. “Lho, kapan kamu datang, kok Mak baru lihat?”

“Sudah sejam yang lalu, Mak. Tadi langsung ketemu sama Bu Lita,” jawab Raisa riang. “Alhamdulillah, aku dikasih kerjaan sama Bu Lita, buat ngurus dede.”

“Alhamdulillah,” sahut Bu Rika dan Bik Sum hampir bersamaan, wajah keduanya ikut berbinar.

Bu Rika meletakkan pisau kecilnya sebentar, lalu menatap anak gadisnya penuh makna. “Ingat, kerjanya yang benar ya. Jangan aneh-aneh tingkahnya. Jangan cari masalah dan bikin ribut," pintanya, maklum Bu Rika sangat mengenal anaknya yang terlalu terus terang. Hatinya berharap Raisa bisa mengontrol emosinya.

Raisa terkekeh kecil. “Siap, Mak.”

Ia melangkah lebih dekat, meletakkan keranjang pakaian di dekat wastafel.

“Tapi, Bu Lita minta aku menginap di sini. Nggak pa-pa kan, Mak?” tanyanya hati-hati.

Bu Rika tersenyum lembut. “Nggak pa-pa. Mak kan sudah lama kerja di sini, sejak kamu kecil. Sudah kenal betul keluarga Bu Lita. Mereka orang baik. Tapi tetap, kalau kerja yang benar. Jangan main-main, Nak. Cari kerja itu susah ... kamu sendiri kan susah ngerasain."

“Siap, Mak!” jawab Raisa mantap.

Bik Sum tersenyum sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang basah. “Terus kamu ke sini mau ngapain?”

“Mau siapin bubur buat Ezio, sama mau cuci baju kotornya Ezio.”

Bu Rika langsung mengulurkan tangan. “Sini kain kotornya. Kamu siapin aja bubur buat Ezio. Bahan-bahannya ada di kulkas."

Raisa menyerahkan keranjang itu tanpa ragu.

“Tapi,” lanjut Bik Sum, berhenti memotong daging. Ia memiringkan kepala, mencoba memastikan suara yang samar terdengar dari arah lorong. “Kok kayaknya Ezio nangis …?”

Semua terdiam.

Detik berikutnya, tangisan itu terdengar jelas. Bukan sekadar rengekan pelan. Tangisan nyaring, memecah keheningan rumah.

Raisa membeku sesaat.

“Ya Allah,” gumamnya.

Bik Sum cepat-cepat mendorong bahunya pelan. “Mending kamu ke sana dulu. Coba dicek. Takutnya kenapa-napa."

Raisa tak menunggu perintah kedua. Ia langsung berbalik dan berlari kecil keluar dapur, langkahnya cepat menyusuri lorong menuju kamar tamu.

Tangisan Ezio makin keras.

Di ruang kerja, Krisna yang sedang berbicara melalui telepon dengan salah satu rekan sejawatnya—membahas alat medis yang baru saja dikirim ke kliniknya—mendadak berhenti bicara.

Tangisan itu terdengar jelas sampai ke sana.

Ia mengernyit.

“Sebentar,” ucapnya singkat pada lawan bicara di telepon sebelum memutus sambungan.

“Kenapa anakku menangis seperti itu? Bukannya udah anteng sama Raisa,” gumamnya pelan, keningnya berkerut.

Dengan langkah lebar, ia keluar dari ruang kerja dan bergegas menuju kamar tamu.

Sementara itu, di dalam kamar tamu, suasana terasa panas.

Lena berdiri sambil menggendong Ezio yang terus menangis keras. Wajahnya terlihat kesal. Bayi itu menggeliat dalam gendongannya, wajahnya memerah karena menangis terlalu lama.

“Sudah, diam! Jadi bayi kok rewel banget. Emangnya ada apa sih sama Raisa,” bisik Lena dengan nada yang tidak sabar. Tangannya menepuk-nepuk punggung Ezio, tapi gerakannya kaku dan tidak ritmis.

Tangisan justru semakin kencang.

“Eh ... eh kok nangisnya makin kencang?” gumam Lena jengkel, rahangnya mengeras.

Ia melirik ke arah pintu, memastikan Raisa belum kembali. Dalam hatinya, ada percikan emosi yang tidak sehat—rasa ingin membuktikan bahwa tanpa Raisa pun ia bisa.

Namun kenyataannya, Ezio tidak berhenti. Tangisan itu menggema di seluruh kamar.

Pintu terbuka mendadak.

Krisna berdiri di ambang pintu, wajahnya tegang.

“Apa yang terjadi?” tanyanya cepat.

Lena tersentak, lalu seketika wajahnya berubah. Kesal yang tadi terpancar kini berganti panik dan sedih.

“Pak … saya sudah berusaha mendiamkannya,” katanya terbata, air mata mulai menggenang lagi seolah siap jatuh kapan saja. “Tiba-tiba dia menangis keras seperti ini.”

Krisna melangkah mendekat, matanya menatap tajam pada anaknya yang terisak dalam gendongan Lena.

“Kenapa bisa sampai menangis sekencang ini? Mana Raisa? Kenapa tidak ada di sini?" suaranya meninggi sedikit.

Lena menunduk, menggigit bibirnya. “Saya ... saya juga bingung, Pak. Tadi Raisa yang menjaganya, waktu saya ke kamar mandi sebentar. Lalu dia pergi begitu aja ... katanya dia capek, mau istirahat. Saya pikir Ezio sudah benar-benar tidur.”

Nada suaranya pelan, tapi setiap kata diucapkan dengan penuh penekanan.

“Sepertinya Raisa tipe orang yang tidak bertanggung jawab dalam bekerja,” lanjutnya lirih. “Saya tidak tahu kenapa dia meninggalkan anak Bapak yang sedang demam sendirian. Mungkin Bapak bisa berpikir ulang untuk menerimanya menjaga anak Bapak." Lena menambahkan bumbu penyedap dalam ucapannya. Aji mumpung pikirnya.

Krisna mengangkat wajahnya perlahan. Rahangnya mengeras.

“Dia meninggalkan? Mau istirahat?” ulangnya.

Lena mengangguk pelan, air matanya kini benar-benar jatuh. “Saya kira dia hanya sebentar, ternyata lumayan lama. Dan tiba-tiba Ezio menangis seperti ini. Mungkin tadi sudah tidak nyaman, tapi tidak diperhatikan.”

Tangisan Ezio masih pecah di antara kalimat-kalimat itu.

Krisna merasa dadanya panas. Anak itu sedang demam. Tidak seharusnya dibiarkan terlalu lama menangis seperti ini.

“Berikan ke saya,” ucapnya tegas.

Lena segera menyerahkan Ezio ke dalam pelukan ayahnya.

Begitu berada di dada Krisna, tangisan Ezio masih keras, namun perlahan mulai teredam. Krisna mengusap punggung anaknya dengan lembut, menempelkan pipinya ke rambut halus bayi itu.

“Sudah ... sudah, Nak,” bisiknya, suaranya jauh lebih tenang dibanding raut wajahnya yang kesal.

Langkah kaki tergesa terdengar dari lorong. Raisa muncul di pintu kamar, napasnya sedikit terengah karena berlari.

“Mas, Dede kenapa?” tanyanya cemas begitu melihat Ezio menangis dalam gendongan Krisna.

Krisna menoleh padanya. Tatapannya tidak setajam tadi, tapi jelas menyimpan kekecewaan.

“Kenapa kamu meninggalkan Ezio sendirian?” tanyanya langsung.

Raisa terdiam sesaat. “Saya ke dapur sebentar, Mas. Mau menyiapkan bubur dede, sekalian cuci baju kotornya.”

“Dalam keadaan dia demam?” suara Krisna terdengar berat.

Raisa mengerjap. “Saya titip ke Mbak Lena. Tadi dia bilang dia yang jaga.”

Lena langsung menyela dengan suara lirih, “Saya baru masuk ke kamar, tidak tahu kalau Raisa tidak ada, Pak. Tapi saya menjaganya kok, dan ya ... Ezio tiba-tiba menangis. Saya udah cek popok dan yang lainnya."

Raisa menatap Lena. Tatapan itu tenang, tapi ada sesuatu yang berubah—kesadaran.

Fitnah itu kembali.

"Dasar manusia jadi-jadian. Terusin aja aktingnya Mbak, cari masalah melulu. Kalau nggak inget kata Mak, udah tak ngraus tuh wajahnya! Ini juga yang dokter ... bisa-bisanya percaya sama omongan si Janda, dasar dokter oneng, nyebelin!" batin Raisa ngedumel.

Bersambung ... ✍️

1
Tamirah
Ya... namanya aja gadis desa dan dari keluarga yg sangat sederhana, untuk kata kata spt yg diucapkan dokter duda ya bukan gak nyambung tapi Raisa' beranggapan gak mungkilah seorang dokter kota anaknya Pak Kades ada hati sama dirinya yg hanya anak seorang pembantu.Makanya ia selalu bersikap bar bar agar tidak diremehkan.
Tamirah
Ha. ha. ....mulai cemburu.. Krisna...! Gak memberikan kesempatan pada Raisa dan Fahri untuk bersama dgn alasan ibu Lita butuh bantuan alias Raisa dibawa pulang lagi kerumah Bu Lita...modus.
Tamirah
Dengan bergabungnya dua wanita ular untuk menyingkir Raisa maka Krisna akan semakin melindungi Raisa demi kenyamanan anaknya.Hanya Raisa lah yg bisa mengatasi anak sang dokter..itu tdk diragukan lagi.
Tamirah
Kuakui Thor novel mu emang keren habis, pingin baca karya mu yg lain.👍👍👍👍
Tamirah
Wik ....wik..sang janda mulai mengatur strategi untuk memfinah Raisa agar dialah yg jadi pengasuh nya, apa lagi diberi wkt 1 bulan untuk bersaing dgn Raisa tentu banyak rencana jahatnya untuk menjebak Raisa .. lanjut Thor.
Tamirah
Wajar kalau Lena gak terima Raisa jadi pengasuh Ezio,janda itu sangat membutuhkan pekerjaan utk kelangsungan hidup bersama anaknya nya,yg gak ituu karena punya misi untuk mendekati dokter obsesinya berharap dijadikan ibu sambung Enzo, mimpi' kali.... mbak Lena . ....!
Tamirah
Makan ituu gengsi gak peka banget kalau anaknya sdh nyaman dgn Raisa.
Seorang bayi sangat lah peka terhadap orang yg tulus menyayangi nya,begitu ia dijauhkan otomatis tubuhnya merespon yg akhir nya bayi jadi rewel....!
Tamirah
Ternyata Lena gak selugu yg kita duga ia punya tujuan lain, selain dia bekerja sebagai pengasuh Ia juga punya niat untuk mendekati dr Krisna wik wik janda gatal....perlu waspada pada hey..hey Dokter Krisna.Tentu para readers lebih senang Krisna berjodoh dgn anak pembantu dibandingkan dgn janda gatal....!!!!!
Tamirah
Gak usah fikir fikir lagi langsung aja gantikan ibumu bekerja lagi dirumah pak dokter kan lumayan di gaji buat tabungan. sebagai anak pembantu mendapatkan uang dgn hasil keringat sendiri itu sangatlah berarti.
Tamirah
Modus Krisna untuk menjadikan Raisa jadi pengasuh anaknya dgn alasan kaca mobil yg retak 😄😄😄
Tamirah
Suka banget dgn visualnya. ... keren...!!
Tamirah
Mungkinkah Raisa akan bekerja di Klinik Krisna, karena klinik perlu tenaga admin utk proses data pasien.
Tamirah
Sudah biasa laki laki kaya meremehkan orang yg ekonomi nya dibawah standar alias miskin, walau pun tidak semua laki laki punya sikap spt itu.Toh bisa di tebak walau nnt banyak drama antara sang Dokter desa dgn anak pembantu Ahir nya yg bucin ya sang dokter itu sendiri.
Tamirah
Visual dari alur cerita nya keren, awal dari perkenalan yg gak sengaja' tapi akan berlanjut menjadi drama yg mengasyikkan... lanjut Thor.
Maria Ulfah
Syafakillah mama ghina ..dan keluarga
Maria Ulfah
gemezz sin😁😁😁
Pujierde
gak mungkin dok klo lena ngajak makan siang bukan belain lena ya dok tapi lena juga sadar diri dok gak mungkin lgsg ngajakin makan siang
Pujierde
terlalu berani raisa padahal ada bu lita, pak wijaya jadi jangab salahin lena juga klo dia marah karena belum apa" sudah ngajak perang klo memang raisa orang yang masa bodo tentu gak akan nyidir" lena semua orang tau kok klo lena berlebihan dandanannya
Pujierde
jadi seorang ayah itu harus punya hati plus logika bukan hanya punya gengsi jadi tau mana yang tulus dan mana yang gak tulus heran seorang dokter kok hati dan logika gak jalan
Pujierde
iya emang cocoknya namanya dokter oneng bukan dokter krisna 😄😄 laki" gak punya hati yang dia punya tuh gengsi klo dia punya hati harus bisa liat bagaimana anaknya lebih nyaman sama raisa dacal doktel oon klo kata bodel mah 😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!