"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 17: LELAH BERPERANG
Seiring berjalannya waktu, berita tentang Yayasan Arkana Harapan semakin meluas. Media menyoroti kisah perjuangan Arka dan keluarganya bukan sebagai kisah sedih, tapi sebagai simbol harapan. Dana mengalir dari berbagai penjuru. Surat dukungan dari orang tua anak sakit ginjal memenuhi kotak pos mereka.
Tapi bagi keluarga ini, ketenaran adalah pedang bermata dua. Mereka jadi lebih mudah diawasi, tapi juga lebih mudah jadi target.
Aisha akhirnya pindah secara permanen ke rumah Rafa dan Laras. Kamar tamu di lantai bawah diubah menjadi kamar pribadinya sederhana, tapi penuh foto-foto Arka dari bayi hingga sekarang. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, dia punya tempat yang benar-benar "rumah".
Suatu sore, saat Aisha dan Laras sedang menyortir donasi untuk yayasan, telepon rumah berdering. Laras mengangkat.
"Halo, ini dari Lembaga Bantuan Hukum untuk Kesehatan. Kami ingin bekerja sama dengan yayasan kalian untuk advokasi kebijakan transplantasi."
Suara di seberang terdengar profesional, meyakinkan. Tapi Aisha yang duduk di samping, mendengar sesuatu yang familiar dalam intonasinya. Sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Bisa kami tahu nama Anda?" tanya Laras.
"Arini. Arini Wibowo."
Aisha membeku. Arini. Nama yang tidak pernah didengarnya selama sepuluh tahun, tapi masih tersimpan di sudut paling gelap ingatannya. Arini. Saudara perempuan Rangga.
Tanpa berpikir, Aisha mengambil telepon dari tangan Laras. "Arini? Arini yang dulu tinggal di kosan sebelah Rangga?"
Diam di seberang. Lalu: "Aisha. Lama sekali."
Suaranya dingin, datar, tanpa emosi. Berbeda dengan Rangga yang emosional. Arini selalu yang dingin, yang logis, yang berbahaya.
"Kamu ingin apa, Arini?"
"Bekerja sama. Seperti yang saya bilang. Tapi sepertinya kamu masih membekas pada masa lalu."
"Rangga sudah ditangkap karena ancam keluarga kami."
"Saya tahu. Dan saya tidak akan membuat kesalahan yang sama. Saya datang secara legal, melalui jalur yang benar. Saya pengacara kesehatan sekarang. Dan saya ingin membantu."
"Setelah sepuluh tahun tidak ada kabar? Setelah saudaramu mencoba bunuh anakku?"
"Rangga sakit secara emosional. Saya berbeda. Saya percaya pada perubahan sistem, bukan pada balas dendam pribadi."
Laras yang mendengarkan dengan speaker, menatap Aisha. Matanya bertanya: "Bisakah kita percaya?"
"Kami perlu waktu untuk mempertimbangkan," kata Aisha, lalu menutup telepon.
"Kenapa?" tanya Laras.
"Arini... dia lebih berbahaya dari Rangga. Dia pintar. Dia tidak akan datang dengan ancaman kasar. Tapi jika dia punya agenda tersembunyi... kita tidak akan sadar sampai terlambat."
Mereka menyelidiki.
Ternyata Arini memang pengacara kesehatan yang cukup dikenal. Dia aktif mengadvokasi reformasi sistem transplantasi. Tidak ada catatan kriminal. Tapi hubungan darah dengan Rangga tidak bisa diabaikan.
Rafa menghubungi temannya di intelijen. Laporan singkat: "Arini Wibowo dikenal sebagai idealis radikal. Dia percaya sistem transplantasi harus dirombak total termasuk melarang transplantasi donor hidup antar keluarga, karena dianggap 'tidak adil bagi yang tidak punya keluarga donor'."
"Jadi dia punya agenda melawan kasus seperti kita," simpul Rafa.
"Tapi dia datang secara legal," kata Laras. "Kalau kita tolak, dia bisa gunakan media untuk menggambarkan kita sebagai egois yang mau bantu orang lain hanya untuk pencitraan, tapi menolak kerja sama untuk perubahan sistem."
Dilema. Jika mereka terima, mungkin menjebak diri sendiri. Jika mereka tolak, mereka jadi musuh publik.
Mereka memutuskan untuk bertemu.
Di sebuah kafe netral, dengan pengawal tidak mencolok. Aisha dan Rafa mewakili yayasan.
Arini datang tepat waktu. Wanita berusia pertengahan 30-an, rapi dengan setelan blazer, tas kerja mahal. Wajahnya mirip Rangga, tapi matanya tajam, analitis.
"Terima kasih sudah mau bertemu," katanya, berjabat tangan singkat.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, Arini?" tanya Aisha langsung.
"Saya ingin yayasan kalian mendukung RUU yang sedang saya dorong: RUU Keadilan Transplantasi. Intinya: mendorong negara menyediakan donor dari bank organ yang lebih adil, dan membatasi transplantasi donor hidup hanya untuk kasus-kasus ekstrem."
"Kamu ingin melarang kasus seperti Arka?" tanya Rafa.
"Bukan melarang. Tapi... mengatur. Agar tidak ada lagi kesenjangan seperti yang terjadi—seorang anak bisa dapat ginjal ayahnya dalam hitungan minggu, sementara anak lain mati menunggu bertahun-tahun."
"Tapi itu bukan salah kami! Itu salah sistem!"
"Dan sistem harus diubah. Dan untuk mengubahnya, kita perlu menunjukkan contoh kasus yang 'tidak adil' seperti kasus kalian."
Aisha merasa seperti ditampar. Mereka akan dijadikan "contoh buruk" untuk advokasi Arini.
"Kamu ingin menggunakan penderitaan anak kami sebagai alat politikmu?" tanya Aisha, suara bergetar.
"Lebih tepatnya, menggunakan keberuntungannya untuk menyoroti ketidakberuntungan orang lain."
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan.
Tapi Arini tidak menyerah. Dia mulai muncul di media, berbicara tentang "ketidakadilan dalam transplantasi keluarga". Tidak menyebut nama, tapi semua orang tahu yang dia maksud adalah kasus Arka.
Publik mulai terbelah. Ada yang mendukung Arini: "Benar, sistem harus adil untuk semua." Tapi lebih banyak yang mendukung keluarga ini: "Mereka berjuang juga. Jangan jadikan anak mereka tumbal."
Tekanan media mulai terasa. Wawancara permintaan. Pertanyaan yang menjebak. "Apa pendapat Anda tentang anak lain yang mati karena tidak dapat donor seperti Arka?"
Arka sendiri yang suatu hari melihat berita di TV tentang dirinya, bertanya: "Bunda, Arka jahat ya? Karena Arka hidup, teman lain mati?"
"Tidak, sayang. Kamu tidak jahat. Kamu beruntung. Dan sekarang kita gunakan keberuntungan itu untuk bantu mereka."
Tapi keraguan mulai menggerogoti Arka. Anak yang sudah terlalu banyak memikul beban dewasa.
Suatu malam, Arka mengalami mimpi buruk lagi kali ini dia berlari di lorong rumah sakit, diikuti oleh bayangan anak-anak yang menangis, berteriak: "Kenapa kamu dapat ginjal? Kenapa kami tidak?"
Aisha yang menenangkannya sampai pagi, merasa lelah yang dalam. Lelah berperang. Lelah membela diri. Lelah menjadi simbol sesuatu yang tidak mereka minta.
"Kita harus pergi," katanya pada Rafa dan Laras keesokan paginya. "Jauh dari sini. Sementara. Biarkan anak-anak bernapas."
"Tapi yayasan" protes Laras.
"Bisa dijalankan dari jarak jauh. Atau kita berhenti sementara. Kesehatan mental anak-anak kita lebih penting."
Rafa setuju. Mereka memutuskan liburan panjang ke luar negeri tempat yang tidak mengenal mereka, di mana mereka bisa hanya menjadi keluarga biasa.
Tapi sebelum mereka sempat membeli tiket, surat dari pengadilan datang.
Arini menggugat yayasan mereka dengan alasan konflik kepentingan. Klaimnya: yayasan yang didirikan oleh keluarga penerima transplantasi "privilege" tidak mungkin objektif dalam membantu orang lain.
"Gugatan ini hanya formalitas," kata pengacara mereka. "Tapi butuh waktu dan energi. Dan media akan memperbesarnya."
Mereka terjebak. Tidak bisa pergi saat ada proses hukum.
Stres mulai mempengaruhi kesehatan Arka.
Pemeriksaan rutin menunjukkan tekanan darahnya meningkat. Dan kadar obat imunosupresan dalam darah tidak stabil efek stres.
dr. Arman memperingatkan: "Jika ini terus berlanjut, risiko penolakan ginjal meningkat. Stres adalah musuh terbesar pasien transplantasi."
Mereka panik. Setelah segalanya operasi, ancaman, teror akhirnya justru stres yang mungkin membunuh Arka.
Laras yang biasanya kuat, mulai menangis di sudut rumah. "Aku lelah. Aku tidak mau lagi lihat anak-anakku menderita."
Aisha memandanginya, lalu mengambil keputusan. Dia akan menemui Arini sendirian. Tanpa Rafa. Tanpa pengacara.
Rafa melarang. "Itu berbahaya."
"Lebih berbahaya jika Arka sampai sakit lagi. Aku akan bicara dari hati ke hati. Sebagai ibu."
Pertemuan di kantor Arini.
Ruangan minimalis, penuh buku hukum. Arini duduk di belakang meja, seperti hakim.
"Apa yang ingin kamu capai, Arini?" tanya Aisha, duduk di depannya. "Kamu ingin kita menderita? Sudah. Kamu ingin kita merasa bersalah? Kami sudah. Sekarang apa?"
"Saya ingin perubahan."
"Tapi dengan menghancurkan kami? Dengan membuat anak saya stres hingga ginjalnya terancam? Itu namanya pembalasan, bukan perubahan."
Arini diam, menatapnya. "Kakak saya di penjara karena kalian."
"Kakakmu di penjara karena pilihannya sendiri. Dan kamu tahu, dulu aku mengenalmu. Kamu pernah bilang padaku: 'Jangan pernah biarkan orang lain menentukan nilai hidupmu.' Sekarang kamu yang menentukan nilai hidup kami?"
Sesuatu berubah di wajah Arini keretakan kecil di topeng profesionalnya. "Rangga... dia satu-satunya keluarga yang saya punya setelah orang tua kami meninggal."
"Dan saya mengerti sakitnya kehilangan keluarga. Tapi kami juga keluarga. Dan kami hanya ingin hidup damai."
"Apa kalian pernah memikirkan... bahwa mungkin keberuntungan kalian itu memang tidak adil?"
"Mungkin. Tapi apakah itu alasan untuk menyakiti kami? Apakah dengan membuat kami menderita, anak-anak yang mati akan hidup kembali?"
Pertanyaan itu menggantung. Arini menatap tangannya sendiri.
"Aisha," katanya akhirnya, suara lebih lemah. "Saya tidak ingin menyakiti anakmu. Tapi saya melihatnya sebagai simbol, simbol dari segala yang salah dalam sistem ini."
"Tapi dia bukan simbol. Dia anak. Dia Arka. Dia yang suka es krim cokelat, yang takut gelap, yang janji jagain adik-adiknya. Dia manusia. Bukan simbol."
Diam lama. Lalu Arini menghela napas. "Saya akan menarik gugatan."
Aisha terkejut. "Kenapa?"
"Karena kamu benar. Saya jadi seperti yang saya tentang orang yang menggunakan penderitaan orang lain untuk agenda sendiri."
"Jadi kamu akan berhenti?"
"Tidak. Tapi saya akan cari cara lain. Dan... saya minta maaf. Untuk Rangga. Untuk semua yang dia lakukan."
Permintaan maaf yang tidak terduga. Dari musuh yang paling dingin.
Di rumah, Aisha menceritakan pertemuannya. Laras memeluknya pelukan pertama yang spontan, hangat, penuh rasa terima kasih.
"Kamu berani sekali," bisik Laras.
"Untuk anak-anak kita. Untuk keluarga kita."
Rafa melihat mereka, lalu tersenyum, senyum lelah tapi lega. "Mungkin ini akhirnya. Damai."
Tapi Arka yang mendengar percakapan mereka, bertanya: "Jadi kita tidak perlu takut lagi?"
"Kita selalu harus waspada, sayang. Tapi kita tidak perlu takut lagi. Karena kita bersama."
Beberapa hari kemudian, Arini benar-benar menarik gugatan. Dan dia mengirim email pada Aisha:
"Saya akan fokus pada reformasi sistem tanpa menjadikan kasus pribadi sebagai senjata. Tapi tolong, gunakan yayasan kalian dengan baik. Bantu sebanyak mungkin orang. Agar keberuntungan Arka tidak sia-sia."
Aisha membalas: "Kami akan. Dan terima kasih. Untuk mendengarkan."
Mereka akhirnya bisa berlibur.
Ke Bali tempat di mana tidak ada yang mengenali mereka. Mereka menyewa villa kecil dekat pantai. Selama seminggu, mereka hanya menjadi keluarga: berenang, main pasir, makan seafood, tertawa.
Arka menjadi anak lagi bukan pasien, bukan simbol, bukan korban. Nadia ceria lagi. Arkana belajar merangkak di pasir. Dan tiga orang dewasa itu... mereka belajar menjadi keluarga.
Suatu malam di tepi pantai, saat anak-anak sudah tidur, mereka duduk melihat bintang.
"Kita sudah melalui banyak sekali," kata Rafa. "Mungkin lebih dari yang bisa ditanggung sebagian besar orang."
"Tapi kita masih di sini," tambah Laras. "Bersama."
Aisha memandangi laut. "Aku pernah membayangkan... andai aku tidak lari dulu. Andai aku memberi tahu kamu, Rafa. Mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Atau mungkin akan terjadi hal lain," jawab Rafa. "Kita tidak pernah tahu. Tapi yang penting sekarang: kita di sini. Kita selamat. Dan kita memilih untuk bersama."
Mereka diam, ditemani debur ombak. Lelah, tapi tidak hancur. Bersama, meski tidak sempurna.
Tapi di kejauhan, seorang pria dengan kamera telephoto sedang mengamati mereka dari villa seberang. Dia mengambil beberapa foto, lalu mengirim pesan:
"Target sedang liburan. Santai. Tidak waspada. Waktu tepat untuk fase terakhir?"
Balasan cepat: "Tunggu. Biarkan mereka bahagia dulu. Pukulan terbaik datang saat mereka paling lengah."
Pria itu mengangguk, lalu menyimpan kameranya. Perang mungkin berhenti sebentar. Tapi perang belum berakhir.
(Di villa, Arka terbangun karena mimpi aneh mimpi tentang matahari terbenam yang indah, tapi di baliknya ada bayangan seseorang mengamati. Dia berbalik, memandangi jendela. Hanya gelap. Tapi perasaan itu tetap ada: mereka tidak sendirian.)