NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SADAR TUK BERTAHAN

“Kakak pinter banget sih aktingnya,” kata Dea sambil duduk di kursi penumpang, menyandarkan punggung, lalu melipat tangan di dada. Nada suaranya terdengar santai, tapi ada seloroh tipis yang disengaja.

Vhirel melirik sekilas tanpa menoleh penuh, bibirnya tertarik ke sudut senyum yang malas. “Siapa dulu, dong...” balasnya ringan, sedangkan tangannya tetap fokus pada setir.

Mobil kemudian melaju membelah jalanan kota yang mulai padat. Suasana di dalam kabin terasa kontras dengan sisa-sisa adrenalin yang belum sepenuhnya surut.

"Hmmmm...." Deham Vhirel memecah keheningan. "Kayaknya aku ambil cuti aja deh buat hari ini...."

Dea menoleh ke arah Vhirel. "Lho, bukannya Kak Vhirel tadi bilang jadwal hari ini di kantor padat?"

Vhirel melirik ke arah Dea selintas. "Enggak juga, si. Kayaknya akan lebih padat nemenin kamu deh seharian ini."

Mendengar itu, jantung Dea mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Rasa kantuk atau sisa ketegangan dari kejadian tadi menguap begitu saja, digantikan oleh sengatan hangat yang menjalar ke pipinya.

​Ia terdiam sesaat, mencoba mencerna kalimat Vhirel. Bagi orang lain, itu mungkin hanya ucapan kakak yang protektif, tapi bagi Dea yang menyimpan perasaan lebih dari sekadar adik—kalimat itu terdengar seperti musik paling indah.

​"Serius, Kak?" Dea bertanya pelan, suaranya sedikit serak karena berusaha menutupi kegembiraan yang meluap. Ia tidak bisa menahan senyum lebar yang terukir di bibirnya, meski ia berusaha keras memalingkan wajah ke arah jendela agar Vhirel tidak melihat rona merah di wajahnya.

​"Serius. Kenapa? Kamu keberatan ada pengganggu hari ini?" Goda Vhirel, meliriknya lagi dengan sudut mata yang jenaka.

​"Ya... ya enggak lah! Siapa juga yang keberatan ditemenin Kak Vhirel," sahut Dea cepat, terlalu cepat sampai ia harus berdeham untuk menetralkan suaranya.

Ia kembali bersandar, tapi kali ini dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Tangannya yang tadi terlipat kaku di dada kini mulai memainkan ujung bajunya dengan gugup namun bahagia.

Keheningan di dalam mobil itu mendadak terasa lebih pekat, namun bukan karena ketegangan, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih mendebarkan bagi Dea.

​Vhirel kemudian melepas satu tangannya dari kemudi saat mobil berhenti sejenak di lampu merah. Tanpa menoleh, seolah itu adalah hal paling alami di dunia, ia meraih punggung jemari Dea yang tadi sibuk meremas ujung baju.

​Sentuhan itu hangat, luas, dan sedikit kasar karena kapalan tipis di telapak tangannya, namun Vhirel menggenggamnya dengan kelembutan yang kontras dengan aksinya beberapa saat lalu. Jempolnya mengusap perlahan punggung tangan Dea, sebuah gerakan kecil yang sanggup membuat napas Dea tertahan di tenggorokan.

Hingga lampu berubah hijau, Vhirel tidak melepaskan genggamannya. Ia kembali menjalankan mobil hanya dengan satu tangan di setir, sementara tangan lainnya tetap mendekap jemari Dea, seolah ingin memastikan bahwa gadis di sampingnya itu benar-benar aman dan tetap berada di jangkauannya.

"Kak," Kata Dea kemudian.

"Hm?" Tanggap Vhirel dengan nada rendah yang bergetar halus, seolah suara itu berasal langsung dari dadanya. Ia tidak menoleh, namun tekanan lembut pada genggaman tangannya di jemari Dea terasa semakin mantap, seakan memberikan ruang penuh bagi apa pun yang ingin gadis itu katakan.

"Kak Vhirel tahu gak? Ini adalah... kali pertama seorang pria menggenggam tanganku lembut seperti ini."

Vhirel mendesis, "Oh, ya?" Sebuah respons singkat yang terdengar seperti gumaman tak percaya, namun ada nada protektif yang tiba-tiba mengeras di sana.​ "Berarti aku yang pertama, ya?" Tanya Vhirel pelan. Suaranya kini lebih berat, mengalun rendah di sela deru AC mobil. "Bagus dong kalau gitu. Karena aku nggak suka berbagi, apalagi kalau itu soal kamu."

​Dea merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak menipis. Pengakuan Vhirel—meski dibalut dengan nada santai khasnya—terasa begitu posesif. Gadis itu hanya bisa menatap tautan tangan mereka, merasakan kehangatan yang menjalar dari kulit Vhirel ke jantungnya.

​Vhirel kemudian membawa punggung tangan Dea sedikit naik, mendekatkannya ke arah bibirnya tanpa benar-benar menyentuhnya, hanya membiarkan hembusan napas hangatnya menyapu kulit halus gadis itu.

Dan, hal itu membuat sesuatu menjalar hebat di sekujur tubuh Dea—seperti aliran listrik statis yang bermuara tepat di ulu hatinya. Hembusan napas Vhirel yang hangat dan beraturan di atas kulit punggung tangannya terasa jauh lebih intim daripada sebuah ciuman sekalipun.

​Dea menahan napas, matanya tak berkedip menatap profil samping Vhirel yang kini tampak begitu serius. "Kak Vhirel bukan orang pertama yang pegang tangan aku sehangat ini..." katanya kemudian. "... tapi Kakak adalah orang yang pertama buat aku memahami bahwa mencintai itu adalah hal yang terindah, meski aku tahu dan sadar... kalau apa yang aku lakukan ini salah."

Vhirel mendesis, sebuah suara tajam yang seolah membuang sisa napas yang tertahan di paru-parunya. Ia mengangguk perlahan, sebuah gerakan kecil yang sarat akan beban rahasia yang selama ini mereka pikul bersama. Matanya tetap lurus menatap aspal di depan, namun jemarinya yang menggenggam tangan Dea kini meremas lembut, seolah ingin menyalurkan kekuatan—atau mungkin, mencari pegangan agar ia sendiri tidak jatuh lebih dalam.

​"Salah, ya?" Ulang Vhirel dengan suara rendah yang parau. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum getir yang hanya bertahan sesaat.

​Ia kembali mengangguk, kali ini lebih tegas, seolah sedang mengakui dosa yang paling manis dalam hidupnya. "Dunia mungkin bilang begitu, De. Garis yang kita injak ini memang tajam. Salah langkah sedikit saja, kita bisa hancur."

​Vhirel menarik napas panjang, lalu perlahan ia membawa punggung tangan Dea tepat ke bibirnya. Kali ini bukan sekadar embusan napas, melainkan sebuah kecupan lembut dan lama yang mendarat di sana. Sebuah tindakan yang melanggar segala logika yang selama ini mereka bangun sebagai kakak beradik.

​"Tapi kalau mencintai kamu adalah sebuah kesalahan yang paling indah..." Vhirel berbisik tepat di atas kulit tangan Dea, matanya kini terpejam sejenak seolah sedang meresapi detak jantung adiknya yang merambat melalui nadi, "... maka aku adalah orang pertama yang nggak keberatan untuk terus-terusan berbuat salah."

​Ia melepaskan kecupan itu, namun tetap menempelkan tangan Dea di pipinya, membiarkan Dea merasakan panas wajahnya dan detak rahangnya yang mengeras.

"Kak Vhirel..."

​"Jangan pernah minta maaf soal perasaan itu, De." Potong Vhirel cepat. " ... karena di sini..." Vhirel menuntun tangan Dea untuk menyentuh dadanya sendiri, tepat di mana jantungnya berdegup kencang tak beraturan, "... aku juga sedang melakukan kesalahan yang sama. Dan aku nggak punya niat buat memperbaikinya."

Dea tertegun. Binar bola matanya seketika berkaca, memantulkan cahaya lampu jalanan yang masuk menembus kaca mobil, namun kali ini bukan karena kesedihan. Ada binar kelegaan yang luar biasa, bercampur dengan debar ketakutan yang manis.

"Kak Vhirel adalah cinta pertama aku." Jelas Dea akhirnya, lirih namun penuh penekanan. "Aku memang pernah mengagumi seseorang, namun rasa itu tak terbalas. Tapi bersama Kak Vhirel... semua itu bukan seperti mimpi."

Vhirel terdiam, seolah kata-kata Dea adalah sebuah pukulan telak yang menghentikan kerja logikanya sejenak. Kalimat "Cinta pertama" itu menggema di kabin mobil yang mendadak terasa hampa udara. Ia menatap Dea lekat-lekat, mencari kebohongan atau keraguan di mata adiknya, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang begitu murni hingga nyaris menyakitkan.

Entah sudah berapa lama wanita yang begitu ia cintai itu memanggul hampa dan kesepian sendirian—sementara ia sibuk berjalan di jalannya sendiri, merasa cukup dengan asumsi bahwa semuanya baik-baik saja. Ada rasa bersalah yang menyelinap pelan, menggigit tanpa suara. Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena ia terlambat menyadari bahwa ada ruang kosong yang tak pernah ia isi, ada sunyi yang tak sempat ia dengarkan.

Vhirel menelan ludah, lalu mengalihkan pandang ke jalan. Dadanya terasa berat oleh satu kesadaran sederhana—bahwa kedekatan tak selalu berarti kehadiran.

"Mulai detik ini..." lirih Vhirel lembut. "... cinta pertama yang kamu dapatkan saat ini akan selalu bersamamu. Pertama... dan terakhir untuk selamanya."

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!