Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta izin keluarga
Tercium bau rokok di tengah ruang kerja, tampak seorang wanita dengan blazer hitam melangkah masuk membawa map di tangannya.
"Perjalanan bisnis besok. Kamu, jadi mengajak Tuan Maxime?"
"Tentu saja..." jawab Ryan menyeringai, menyesap sepuntung rokok di tangannya.
"Sudah kubilang berhenti merokok di sini!" tegur Syla,
Mengambil paksa, menekan mati sisa rokok pada asbak di sampingnya.
Dia menyender, sedikit meletakkan bokong ke atas meja kerja.
"Rubah lah sikapmu! Aku capek kena omel anggota dewan,"
Syla mengernyit kesal, menyayangkan sikap berandalan atasannya.
"Cih! Sok ceramah, padahal dirinya sendiri masih kampungan."
"Siapa yang kamu bilang kampungan, hah?!" sontak Syla tak ragu menarik kerah Ryan,
"Apa kamu ga punya kaca? Lihat saja tingkahmu. Singkirkan bokongmu dari mejaku," tersenyum remeh.
"..." Syla menggertakkan gigi, langsung beranjak turun.
Ryan menghentakkan bahu, membenahi kerahnya lalu kembali duduk dengan raut angkuh.
"Sebenarnya, aku keberatan kalau kamu mengundang Tuan Maxime. Pria itu sangat pintar, kita tidak tahu apa yang dia rencanakan..." ujar Syla merendahkan suara,
"Tuan Maxime...harus banget memanggilnya tuan? Dia itu cuma pengusahawan kecil, tidak sebanding denganku."
"Oh, atau---kamu ketakutan setelah lama tidak bertemu kakakmu?" ejek Ryan menerbitkan lengkung di ujung bibirnya,
"Kalau tidak salah, kamu ingin sekali kan diakui sebagai adik? Tapi apa kamu lihat perbedaan kalian kemarin? Pegang sumpit ga becus. Makanmu saja masih berantakan kayak bebek,"
"Sialan. Jaga bicaramu! Ingat, kamu tidak akan bisa duduk di sini kalau bukan karena bantuanku."
Dengan wajah merah padam, Syla menggertak, mengacungkan jari. Berhasil menutup rapat mulut pria di depannya,
"Hh!" dengus Ryan, membuang muka.
"Jangan bertindak bodoh. Kita harus jaga jarak sebelum mengetahui apa rencananya..."
"Baiklah, aku tahu. lagi pula di acara besok, aku tidak ingin membahas soal bisnis."
"Lalu buat apa?" tanya Syla dibuat penasaran.
"Aku cuma ingin, bermain dengan jalang cilik yang dia bawa."
"Apa kamu malu karena ditertawai tidak bisa makan bakpao?" tanya Syla memasang raut datar, enggan ikut campur.
"Bukankah dia juga menghinamu? Dia bertingkah lemah lembut dan mencuri semua perhatian Max."
"Bahkan dia juga tahu kalau kakakmu alergi bawang putih,"
"..." Syla terdiam, mulai terhasut, tangannya mengepal membayangkan pertemuan lalu.
"Jadi, apa rencanamu?"
...----------------...
...****************...
Terlihat Ana yang sibuk, membantu Fero dalam mencatat dan membuat jadwal.
Sedangkan di sisi lain, tampak Max sedang duduk di depan laptop. Layar itu menampakkan pesan email dari seseorang,
"Fero, jangan lupa siapkan baju buat perjalanan bisnis."
"Lho, saya kan harus menggantikan Bapak menemui klien penting." gumam Fero menoleh,
"Bukannya Ana yang akan ikut? Dia kan asisten Bapak,"
Ana menatap, mengangguk antusias, berharap untuk diikut sertakan.
"Urusan klien, serahkan saja pada orang lain. Lagi pula aku tidak mau menyetir sendiri..." imbuh Max menyesap seteguk kopi yang tersuguhkan untuknya.
"Saya bisa menyetir!" lugas Ana mengangkat tangan,
"Huk...uhuk!" Max tersedak, dibuat kaget oleh pengakuan tadi.
Sulit percaya jika gadis lemah itu bisa mengendarai mobil.
"Kamu beneran bisa?" bisik Fero memastikan,
"Iya, bisa. Tenang saja! Saya sudah punya sim." dusta Ana sambil berbisik,
Sim itu memang pernah dibuat, tapi di kehidpan sebelumnya. Sedangkan tubuh Ana yang asli, tidak punya bahkan tidak pernah belajar mengemudi.
Fero mengangguk paham, tak lagi khawatir. "Kalau begitu saya tidak perlu ikut, kan? Anda juga tidak perlu mengemudi."
"Tunggu. Apa keluargamu mengizinkanmu ikut? Acaranya harus menginap 3 hari 3 malam." cecar Max mengerutkan alis,
"Iya gapapa. Nanti saya tinggal bilang, ada acara kampus--"
"Tidak! Aku tidak mau ada masalah nantinya. Kamu bisa ikut kalau sudah dapat izin dari keluarga," ketus Max bersikukuh.
"Jangan mencoba membohongiku. Atau langsung kulaporkan pada kakakmu!"
GLEK...
Ana menelan saliva, tertekan oleh ancaman tadi. Terhimpit dilema yang menyesakkan dada, sebab keluarganya bahkan belum tahu jika Ana magang di perusahaan.
Setiap hari mereka pikir putrinya berkuliah tenang dan bermain bersama teman.
Sedangkan perjalanan bisnis ini sangat penting bagi Ana. Demi mencari tahu apa yang sedang terjadi dan bagaimana keadaan perusahaan Sidney,
Dia ingin memastikan semuanya sendiri, tanpa curiga kalau ada rencana licik yang tengah menantinya.
Pukul 18.30
Ruangan kamar yang sebelumnya tertata rapi seketika berubah, saat tangan lincah Ana bertindak.
Kaos, mini dress, blazer, celana, rok dan hal lain. Mulai berserakan di segala arah, bahkan Ana belum sempat membersihkan diri sejak pulang dari kantor.
Dia bersemangat menyiapkan barang bawaan, seakan lupa dengan ancaman Max.
"Aduh, pake yang mana ya?" gerutu Ana, menoleh ke sekeliling ruangan.
"Yang ini?"
Menarik blazer merah yang ada di depannya.
"Ngga ah! Udah sering dipake,"
"Atau itu? Aduh, tapi modelnya pasaran."
Menatap sebuah sweater merah muda yang ada di atas ranjang.
"Oh, ini. Tapi terlalu polos!" gerutu Ana, menarik kemeja putih yang ada di bawah kakinya.
"Au dah, capek!"
CEKLEK...
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mamanya masuk dan dikagetkan oleh pemandangan itu,
Melihat sekeliling ruangan yang sangat kacau, puluhan kain berceceran, lalu beralih menatap pelaku yang sibuk bercermin.
"Astaga, sayang. Kamu lagi ngapain?"
"Hh! Mampus." batin Ana membulatkan kedua mata,
"Hehe, maaf. Tapi aku janji, habis ini bakal aku beresin!"
"Iya...emangnya besok ada acara apa? Kok kaya bingung milih baju,"
Citra berjalan mendekat, mengusap punggung putrinya dan berdiri di belakang. Tak sengaja melihat koper miliknya sudah berpindah tempat,
"Itu kan---"
"Anu, Ma..." Ana berbalik, sadar jika ketahuan.
Tak menyangka mamanya datang secepat ini. "Sebenarnya, selama ini aku ga pernah berangkat kuliah."
"APA?" Citra tercengang,
Jeritannya terdengar, mengejutkan Leo yang sedang lewat di depan kamar.
"Kenapa, Ma? Ana, kamu gapapa?" ucapnya risau,
Spontan masuk dan meraih lengan adiknya. Terlambat sadar dengan situasi kamar yang telah kacau,
"Kenapa jadi berantakan begini?"
"Adikmu...dia bilang, tidak pernah berangkat kuliah." jawab Citra terduduk lemas, wajahnya tampak syok.
"Ha? Terus setiap---Aa...jadi kamu maksa berangkat pake motor, karena ini?!" tanya Leo mengernyit,
"Apa ada yang melukaimu? Sekarang juga, biar kakak datengi rektormu!"
"E-eh, jangan!"
Ana langsung menarik kuat lengan kakaknya yang hendak pergi.
"Katakan, siapa yang mengganggumu? Pasti dia yang membuatmu takut masuk kuliah, kan?"