Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.
Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.
Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.
Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.
Selamat membaca. Jangan kaget kalau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Magrib di Sekolah
Aku capek. Badan panas, kaki pegal. Tapi tugas nggak berhenti di situ. Rara sudah pulang lebih awal sama pacarnya, jadi semua tanggung jawab jatuh ke aku dan beberapa teman yang masih tinggal. Magrib sudah hampir datang, lampu aula mulai temaram. Suara-suara dari luar mulai redup, tapi di dalam masih ramai anak-anak yang beres-beres. Aku tarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, tapi rasanya semua bikin kepala cenat-cenut.
Aku ngambil tugas muter-muter. Dari awal, aku memang terbiasa ngurus hal-hal yang sepele tapi lama: mengecek perlengkapan, ngangkat barang dari satu sudut ke sudut lain, memastikan semuanya sesuai rencana. Tidak ada yang bilang terima kasih. Itu bukan pertama kalinya, dan bukan terakhir kalinya juga. Tapi malam ini, entah kenapa, rasanya lebih berat dari biasanya.
“Eh, Nay, bagian sini udah dicek belum?” Faris nanya sambil pegang daftar. Aku ngangguk, meskipun dalam hati aku masih ragu. Aku cuma tersenyum tipis. Sebenarnya aku capek, pengin duduk sebentar, tapi nggak bisa. Kalau berhenti, semua bakal kelihatan lambat.
Aku mulai keliling aula, ngecek setiap meja dan lemari. Barang-barang harus dikembalikan ke tempatnya, tenda harus dilipat, dan alat-alat harus dipastikan aman. Setiap langkah bikin lutut berasa kaku. Tangan pegal karena angkat kotak snack dan minuman. Aku sempat ngerasa pengin teriak: “Kenapa semua ini jatuh ke aku?” Tapi suara itu nggak keluar. Aku cuma tarik napas dalam-dalam dan terus jalan.
Tara duduk di pojokan, lagi ngerjain catatan terakhir buat laporan. Dia senyum tipis waktu aku lewat, tapi senyum itu nggak bisa ngeredain rasa capek di dada aku. Aku melangkah ke meja lain, ngecek kotak alat tulis. Ada yang hilang, ada yang nggak di tempatnya. Rasanya pengin banting kotak itu, tapi aku tahan.
“Eh, Nay, itu snack tamu udah dicek?” suara Faris terdengar lagi. Aku nengok, mukanya serius. Aku angguk. Aku sudah ngecek beberapa kali, tapi tetap merasa ada yang kelewatan. Bukan soal salah atau benar, tapi soal rasa tanggung jawab yang bikin kepala cenat-cenut.
Lampu aula mulai redup. Bayangan aku di lantai panjang, kaki rasanya berat. Aku berhenti sebentar, duduk di kursi. Kepala aku pusing. Napas ngos-ngosan. Tanganku pegal. Badan aku capek banget. Tapi semua harus selesai malam ini. Kalau nggak, besok pagi bakal lebih ribet.
Faris duduk di samping aku. Dia nggak banyak ngomong. Aku cuma diam, menatap meja yang belum beres. Suasana mulai sunyi, tapi tetap ada dengungan dari beberapa anak yang masih beres-beres. Aku ngerasa bingung sendiri: kenapa semua ini selalu jatuh ke aku? Kenapa rasanya aku nggak pernah dianggap walaupun aku yang paling banyak kerja? Aku berdiri lagi. Ambil beberapa kotak yang masih belum ditempatkan.
Setiap langkah bikin punggung nyeri. Aku mulai ngecek peralatan tenda yang sudah dipakai sebelumnya. Ada tali yang kusut, patok yang ilang satu. Aku harus muter lagi buat nyari. Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku nggak mau orang lain liat aku lemah.
Magrib udah hampir habis. Suara adzan dari masjid dekat sekolah terdengar samar. Aku menunduk sebentar, tarik napas panjang. Badan capek, tapi kepala nggak bisa berhenti mikir: “Apakah semua ini sebanding?” Aku nggak nanya siapa-siapa. Aku cuma jalan lagi, bawa kotak minuman ke rak.
Tara ngelihat aku, tapi dia nggak banyak komentar. Dia cuma bilang, “Butuh bantuan?” Aku angguk tipis. Bukan karena nggak mau ngomong, tapi karena aku lagi bingung sendiri. Aku capek, tapi aku nggak bisa berhenti. Aku bingung kenapa semua ini terasa berat.
Lampu aula mulai dipadamkan satu per satu. Suara anak-anak makin sepi. Hanya tersisa aku, Tara, dan Faris. Aku terus keliling, memastikan tidak ada yang ketinggalan. Kotak alat tulis, snack, minuman, semua harus sesuai tempat. Kepala aku cenat-cenut. Napas ngos-ngosan. Tanganku pegal. Rasanya pengin rebahan di lantai dan nggak bangun sampai esok pagi.
Faris udah selesai dengan bagiannya, dia duduk sambil minum air. Aku liat dia, tapi nggak bisa ngobrol. Aku terlalu capek. Aku terlalu greget sendiri. Rasanya pengin teriak sama Rara: “Kenapa kamu bisa santai sementara aku yang ngurus semua ini?” Tapi aku cuma nahan. Aku nggak mau ribut malam-malam. Tara selesai lebih cepat. Dia pamit pulang. Aku nengok dia pergi. Sunyi yang ditinggalkan bikin telinga berasa kosong. Aku jalan lagi, ngecek satu per satu barang. Ada kotak snack yang salah tempat. Ada botol minuman yang nggak ditutup rapat. Aku rapihin. Badan capek, tangan pegal. Rasanya pengin nangis.
Aku duduk sebentar di lantai, tarik napas dalam-dalam. Mata mulai panas. Kepala cenat-cenut. Tapi nggak ada yang peduli. Aku sendiri. Hanya aku yang ngerasain capek ini. Semua orang udah santai, beberapa bahkan sudah pulang. Aku? Aku masih di sini, beresin hal-hal yang kelihatan sepele tapi nggak ada yang hargai.
Aku berdiri lagi. Lampu aula tinggal satu yang nyala. Aku ambil kotak terakhir, taruh di rak. Rasanya lega, tapi nggak sepenuhnya. Capek aku nggak hilang, hanya sedikit berkurang. Tubuh pegal, kepala cenat-cenut, perasaan bingung campur greget masih ada. Aku jalan ke luar aula, tarik napas panjang. Angin malam sedikit menenangkan, tapi nggak bisa hilangin semua capek. Aku liat sekeliling. Sekolah sunyi. Lampu aula redup. Hanya ada aku, Faris yang masih duduk di kursi, dan beberapa suara samar dari jauh. Rasanya pengin nangis, tapi aku tahan. Aku cuma tarik napas lagi. Rasanya capek banget. Rasanya bingung. Rasanya greget sendiri.
Malam itu aku pulang dengan badan capek, kepala cenat-cenut, perasaan campur aduk. Aku mikir, besok bakal ada lebih banyak tugas. Tapi aku tahu, aku bakal jalan lagi. Aku bakal tetap jalan meskipun capek, bingung, dan greget sendiri. Karena nggak ada yang bakal ngerjain ini selain aku.
Aku sampai rumah, jatuh di kasur. Mata berat. Kepala cenat-cenut. Tapi aku nggak bisa tidur langsung. Pikiran tentang aula, snack, kotak minuman, tenda, dan semua tugas kecil tapi melelahkan itu masih berputar. Rasanya kayak nggak ada habisnya. Aku capek banget, tapi besok aku harus bangun lagi. Aku menutup mata sebentar. Tapi kepala masih penuh. Rasanya pengin teriak, tapi suara itu terkunci. Aku cuma bisa tarik napas panjang, ngerasain semua capek dan bingung sendiri. Besok bakal sama lagi. Semua tugas, semua barang, semua yang kelihatan sepele tapi bikin kepala cenat-cenut. Aku sadar, mungkin capek ini nggak bakal hilang cepat. Bingung ini nggak bakal langsung selesai. Dan greget ini bakal nempel sampe semua orang ngerasain sendiri. Tapi aku nggak bisa berhenti. Aku nggak mau berhenti. Aku cuma bisa jalan, meskipun capek, meskipun bingung, meskipun greget sendiri.
Besok aku bakal balik lagi ke sekolah. Bawa semua energi yang tersisa. Jalani semua tugas yang kelihatan kecil tapi bikin kepala cenat-cenut. Aku bakal tetap jalan, tetap beresin semua, tetap sendiri di tengah banyak orang. Dan malam itu, aku tidur dengan rasa capek yang berat, kepala cenat-cenut, dan greget yang nggak hilang-hilang. Besok aku bakal bangun lagi, lakukan semuanya lagi, karena nggak ada yang bakal ngerjain selain aku. Aku tetap di sini, berjalan, walaupun capek, bingung, dan greget sendiri masih menempel di dada.
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
semangat trs utk berkarya, yah..
🤭🤭🤭