Karena terus diteror ibunya supaya tidak lama-lama menganggur, Aditi nekad terima tawaran tetangganya, Baskara, untuk jadi guru ABK. Padahal ilmunya, NOL besar.
Baskara adalah cinta monyet Aditi, seorang duda beranak satu bernama Malini. Dari awal, naksir tipis-tipis sama Aditi, tapi jadi baper berat setelah Malini nempel seperti perangko pada Aditi. Pokoknya Aditi harus jadi ibu sambung Malini, pikir Baskara.
Murid pertama dan satu-satunya Aditi bernama Kavi. Penyandang autis yang cuma responsif pada Aditi. Membuat ayahnya, Sagara, bucin berat. Bagi Sagara, Aditi adalah kunci harapan untuk hidup Kavi dan dirinya.
Jadilah Baskara dan Sagara bersaing untuk mendapatkan perhatian dan cinta Aditi.
Masalahnya, Baskara dan Sagara bersahabat.
Apakah Aditi berhasil menjadi guru ABK?
Bagaimana nasib persahabatan Baskara dan Sagara?
Siapa yang Aditi pilih, sang duda cerai, Baskara atau sang duda mati, Sagara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Bekerja
Aditi mengetuk-ngetuk dahi dengan kepalan tangan kanannya. Ia berdecak.
"Bisa-bisanya gue ngomong ABK itu anak buah kapal. Efek kebanyakan ngisi TTS gini nih jadinya. Turun deh derajat kesempurnaan gue depan Mas Bas."
Kesal terhadap diri sendiri membuat Aditi berbicara sendiri. Tak masalah baginya. Bukan suatu bentuk keanehan.
"Aduh, kenapa juga mesti jadi guru ABK?! Nggak yakin deh gue, ck! Mana tadi Ibu matanya udah mau keluar.
Kalo gue nolak, bisa-bisa diusir ama Ibu. Atau dihukum, nggak boleh nambah kalo makan. Jahat!"
Aditi meraih ponsel di sampingnya. Ia buka aplikasi pemutar video, Y*utube. Ia ketik pendidik anak berkebutuhan khusus di kolom pencarian.
Netra Aditi merekam gambar yang terpampang di layarnya. Matanya kadang mengerut, kadang menyipit. Ia mengangguk-anggukkan kepala.
"Bismillah, bisa lah! Huhuhu... Gini amat nyari duit?! Gue mau jadi bocah lagi ajaa!!" Aditi menutup wajahnya dengan bantal.
Satu hal yang menghibur Aditi adalah besaran gaji yang dapat ia terima. Baskara sudah memberi informasi saat makan malam.
Nominalnya jauh lebih besar daripada gaji Aditi sebelumnya di Bina Ananda. Wajar, tantangannya jauh lebih besar. Pasarnya pun tersegmentasi. Kalangan menengah ke atas.
Satu hal lain yang menjadi beban pikiran Aditi adalah caranya bisa masuk kerja di lembaga milik Baskara. Dulu ia adalah penghujat para guru atau karyawan yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Ibnu, anak sang pemilik yayasan.
Menurut Aditi, mereka adalah penganut memanfaatkan ordal alias orang dalam. Nepotisme!
Tapi, kini lihatlah diri Aditi. Ia bisa kerja di lembaga bergengsi khusus anak berkebutuhan khusus, juga karena kekuatan orang dalam.
Tak tanggung-tanggung, pemiliknya langsung. Kurang nepotisme apa coba?
Kapok sudah Aditi menjadi penghujat. Ternyata bisa jadi suatu saat kita berada di posisi orang yang kita hujat.
Bip. Satu pesan masuk, dari Baskara. Mereka sempat bertukar nomor sebelum Baskara pulang. Sontak Aditi langsung duduk, membaca pesan apa yang dikirim oleh sang tetangga.
[Besok berangkatnya bareng aku ya, Diti. Jam 7 udah stand by ya depan rumah, tunanganku, hahaha... Canda Diti. See u.]
"Ini kalo dia ngomongnya jaman gue SMP, udah kejang-kejang gue. Untung sekarang gue nggak gampang baper orangnya. Eh... baper sih dikit, hahaha...
Udahlah tidur aja. Biar besok seger, ketemu tunangan abal-abal gue, hahaha..."
*
*
Kamis ceriwis menjadi hari pertama Aditi kembali tercatat sebagai pekerja. Ternyata masa menganggurnya hanya dua hari saja. Pilihannya untuk tidak banyak melawan Indri, berbuah manis.
Aditi mematut diri di depan cermin. Hari ini ia memilih menggunakan kerudung segi empat berwarna merah muda dengan kemeja berwarna senada.
Alasannya agar Aditi terlihat lebih lemah lembut. Harapannya begitu.
Aditi melengkapi penampilannya dengan rok plisket berwarna abu-abu. Ia mencangklong tas bahu berwarna hitam, berukuran sedang. Wajahnya diberi riasan tipis.
"Lumayan, setara lah ama Nikita Willy..."
Melihat jam dinding, membuat Aditi bergegas keluar kamar. Ia perlu sarapan sebelum beraktivitas.
Di meja makan, telah tersedia nasi goreng. Asap mengepul dari wadah berwarna putih. Indri dan Januar sudah menanti Aditi.
"Cantiknya anak Ayah. Semoga dimudahin hari ini ya, nak." Januar tersenyum pada sang putri bungsu.
"Ayo, makan dulu. Kerjaan kamu nggak gampang, butuh banyak tenaga." Indri juga tersenyum pada Aditi.
Senyum kedua orang tua Aditi membuat semangatnya berkobar. Ia berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Ia menyuap sarapannya dengan anggun namun tetap berkecepatan tinggi.
"Jangan lupa cuci piring bekas makannya." Bibir Indri tersenyum manis tapi kata yang keluar darinya pahit.
"Iya Bu." Aditi menambah kecepatan makannya. Langsung membawa alat makannya ke tempat cuci piring dan ia bersihkan.
Pukul 7 kurang 5 menit, Aditi keluar dari rumahnya. Sudah berpamitan pada orang tua tercinta.
Terdengar suara mobil dipanaskan dari rumah Baskara. Aditi memilih untuk menghampiri.
Baskara keluar dari pintu kediamannya bersama dengan sang ibu, Aisyah. Wajah Baskara terlihat segar seperti tanaman habis disiram hujan semalaman.
"Eh Diti, mau berangkat bareng Babas ya?" Aisyah mendahului menyapa Aditi.
Aditi tersenyum dan mencium tangan perempuan yang mulai memasuki usia lansia namun tetap terlihat cantik itu.
"Iya Bu Aisyah, dipaksa Mas Bas. Diti bisa apa?" Aisyah terkekeh. Baskara tergelak.
"Bu Aisyah, sehat?" tanya Aditi.
"Sehat sayang, alhamdulillah. Semoga kamu betah ya kerja di tempat Babas. Kalau dia galak, lapor aja ama Ibu."
Aduh, baper dikit ah! Berasa calon mantu beneran, ahai, hahaha...
"Kayaknya nanti malah Mas Bas yang laporan ama Ibu, pusing ngadepin Diti."
Tawa mereka bertiga berderai. Pagi-pagi Aditi sudah membuat gaduh rumah tetangganya.
"Yuk berangkat, Diti," ajak Baskara.
Baskara mencium tangan sang ibunda. Aditi mengikuti jejaknya. Sepasang manusia bukan pasangan itu masuk ke dalam mobil berwarna putih milik Baskara.
Suasana awal perjalanan hening. Aditi sibuk memindai keadaan di dalam mobil bos barunya. Wangi khas Baskara dari parfum mahalnya bercampur aroma teh hijau dari pewangi mobil, membuat Aditi merasa rileks.
"Kok diem aja? Tegang ya?" tanya Baskara. Ia menoleh sekilas pada Aditi. Matanya kembali fokus ke jalanan.
"Hehehe, iya Mas. Antara tegang campur ngantuk. Mau merem takut nggak sopan."
Baskara tersenyum. "Kayaknya dulu kamu nggak selucu ini, Diti?"
"Masa sih, Mas? Perasaan aku gini-gini aja dari dulu. Dulu nggak keliatan aja kali sama Mas Bas." Aditi meringis.
Baskara menipiskan bibir. "Keliatan kok..." Baskara menoleh dan tersenyum pada Aditi yang juga menoleh.
Ibuu, beneran berat kerjaan Diti. Belum nyampe kantor udah cape nahan hati, huhuhu...
"Mas Bas, aku... mau minta maaf karena nggak tau soal kabar Mas Bas. Malah bilang Mas pindah rame-rame ke rumah Bu Aisyah."
Baskara kembali tersenyum, kali ini senyum tipis. "Iya, nggak apa-apa. Malah bagus. Artinya kamu bukan tipe perempuan tukang gosip."
"Iya Mas. Semangat ya Mas Bas. Semoga dimudahkan apa pun yang Mas lewatin."
Aditi menoleh dan tersenyum pada Baskara. Ia menggenggam sabuk pengaman yang melintang di bagian depan tubuhnya.
"Terima kasih Diti. Kamu mode serius gini malah tambah lucu jadinya." Baskara terkekeh.
"Ya Allah Mas, emang aku Warkop DKI, dibilang lucu mulu dari tadi. Curiga selera humor Mas Bas rendahan deh." Aditi memicingkan mata namun kemudian tersenyum simpul.
Baskara kembali terkekeh. Ia menggelengkan kepala. "Aku udah lama nggak ketawa kayak gini lho, Diti. Karna kamu, aku jadi ketawa terus. Jadi tenang."
Baskara menginjak rem. Lampu merah. Ia kembali menoleh ke arah Aditi. Kali ini agak lama.
Dih, si Mas Bas apaan deh?! Bahaya deh buat kesehatan jantung gue!
Aditi hanya menganggukkan kepala. Takut salah menanggapi.
"Mas, besok aku berangkat sendiri aja ya. Jadi nggak ngerepotin."
"Ngerepotin apaan sih Diti? Orang rumah kita depan-depanan."
"Ya, kan Mas Bas bisa aja mau meeting keluar kantor, nggak balik ke kantor. Terus aku gimana?"
"Kayak orang baru keluar dari gua aja deh kamu. Kalau kita nggak bisa pulang bareng, tinggal order ojol atau taksol aja."
Baskara kembali melajukan mobilnya. Aditi memiringkan bibirnya.
"Bumi udah berat ama polusi, Diti. Mobil aku terlalu luas kalau cuma aku yang pake. Rumah kita deket, tujuan kita sama. Apa salahnya barengan?" Baskara kembali menoleh.
"Iya deh. Masa belum sehari kerja, aku udah ngelawan bos. Takut ah dipotong gaji." Baskara tertawa mendengar gurauan Aditi.
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil Baskara dapat menghentikan lajunya. Mereka tiba di kawasan BSD, tempat lembaga Baskara berada.
Aditi turun dan melihat nama lembaga Baskara yang terpampang nyata di depan fasad bangunan kantor. Ararya Inclusive Center (AIC).
Narsis juga si Mas Bas, pake nama dia sendiri buat sekolahnya, heu...
Mata Aditi memindai bangunan yang bernuansa modern dan minimalis. Nampak asri karena ada banyak tanaman hijau.
Tak membuang banyak waktu, Baskara mengadakan briefing pagi bersama timnya. Aditi diperkenalkan sekilas pada calon rekan-rekan kerjanya itu.
Ada Dara, manajer operasional, tangan kanan Baskara dalam menjalankan lembaganya. Nama lain yang diingat Aditi adalah Suci sebagai Head of Clinical. Supervisor bagi seluruh terapis di lembaga itu.
Terapis spesialis terbagi menjadi beberapa bagian yaitu terapis perilaku berjumlah 4 orang, terapis wicara sebanyak 2 orang, 2 orang terapis okupasi dan seorang spesialis sensorik integrasi.
Tenaga pendukung lainnya adalah seorang resepsionis, seorang tenaga administrasi serta 2 orang pramukantor atau OB.
Aditi akan tergabung dalam tim terapis perilaku. Dengan demikian, jumlah tim Baskara adalah 17 orang, termasuk Aditi dan sang pemilik lembaga.
Aditi belum hafal semua nama anggota tim. Sambil berjalan waktu, ia yakin dapat menghafal nama-nama mereka dan bekerja sama dengan baik.
Baskara mengajak Aditi mengikuti kelas yang diajar oleh seorang terapis senior. Seingat Aditi, namanya Renata. Mereka melihat dari jarak yang tidak disadari oleh anak ABK yang dibimbing Renata.
Wanita berkamata itu tampak sedang berbicara lembut dengan seorang anak yang nampak enggan menyusun balok warna-warni. Renata menarik lembut tangan anak itu untuk menyentuh balok, dan membimbing sang anak agar menyusun balok-balok di depannya.
"Itu namanya teknik physical prompting. Kalau anak nggak mau dengar instruksi verbal kita, kasih physical prompt. Arahkan dengan lembut, jangan ditarik."
Aditi mencatat penjelasan Baskara dalam buku catatan miliknya. Ia juga merekam hal itu dalam otak mungilnya.
Pengamatan Aditi berlanjut. Terlihat anak yang dibimbing Renata tantrum. Aditi mengamati cara Renata menanganinya. Ia mengangguk-anggukkan kepala.
Setelah dirasa cukup, pengamatan Aditi disudahi. Baskara mengajak Aditi ke ruangannya.
Ruangan itu sangat Baskara sekali. Tenang, rapi dan wangi. Aditi kembali merasa rileks.
"Diti, karena ini hari pertama, kamu simulasi sama aku aja ya." Aditi mengangguk.
Baskara membuka casual blazer dan sepatunya. Badan kekar Baskara makin jelas terlihat dalam tampilan hanya kaos berwarna biru dongker.
Eh, napa Mas Bas pake buka-bukaan segala? Waduh, emang mesti gini ya?
Baskara mengambil semacam matras berukuran sedang yang ia hamparkan di atas lantai. Ia kemudian duduk bersila. Di depannya terlihat cincin donat warna-warni yang bertebaran.
"Ayo Diti, anggep aku subyek kamu. Praktekin yang tadi udah kamu amatin."
Eh gimana? Ini Mas Bas, ceritanya jadi anak ABK-nya? Aduh, nggak ada model yang laen apa?
"Ayo Diti, copot sepatu kamu. Cepet ke sini." Suara berat Baskara menggelitik telinga Aditi.