Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam
Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.
Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.
Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biang Gosip
Pukul 11.00, kantin Dewa duduk bersama Roby melaporkan kejadian tadi pagi
"Lo, Ibu Dian mau melawan pak Dekan?" Roby melongo. "Sendirian?"
"Iya. Gue khawatir, By."
Roby menghela napas. "Bro, Ibu Dian itu bukan cewek sembarangan. Dia bisa menjaga diri sendiri, pa lagi dia sudah berumur."
"Gak ada hubungannya dengan perawan tua, Roby,"Dewa naik darah setiap kali namanya disebut gadis tua.
" Lha ? Emang benar kan, Bu Dian memasuki umur 40 tahun, nah Lo ? pipis aja sering muncrat ke dinding." Roby tertawa ngakak matanya berair.
" Gak lucu, bangke."Dewa manyun menendang pantat nya.
" Ia, sorry sorry, gue becanda, terus apa masalah Lo?"
"Bu Dian menentang atasannya, ini gak lucu, Roby.
"Lo lupa? DR Dian Wulandari udah 15 tahun bertahan di kampus ini pasti dia tahu cara menangkis serangan dari jejaka tua kaya' Pak Hadi."
Dewa diam tapi dia tetap khawatir.
"Pa yang Lo bawa ?" Roby menunjuk kotak merah. "Apa isinya?"
Dewa membuka kotak pelan, di dalamnya kue kering bentuknya agak gosong di pinggir, tidak rapi tapi jelas buatan sendiri.
Roby mengambil satu, matanya membelalak.
"Bro... ini kue?"
"Iya, emangnya mercon."
"Ini... ini enak banget!" Roby mengunyah. "Lo tahu artinya apa? dia masak buat lo! Cewek masak buat cowok itu—"
"By, ini Ibu DR Dian Wulandari, MSi, seorang dosen statistik bukan cewek tukang masak katering, Lo ngada ngada wae."
"Ya, terus? ada yang salah ? tetep aja dia masak buat lo." Roby menatapnya lamat. "Itu sinyal, bro, sinyal bahwa dia emang suka ma lo."
Dewa hanya diam, menatap nya lamat," Otak Lo mesti di sterilkan, gue hanya ingin meminta cincin gue balik."
"Tapi sebenarnya Lo suka kan? Paling gue akan membuat gosip baru, dewa mahasiswa unyu suka dengan dosen Pertu ( perawan tua )
Roby tertawa ngakak berlari menghindar dilempar pakai sendal
Pukul 13.00, ruang dekan.
Dian duduk tegap di kursi tamu. Prof Hadi di belakang meja, berusaha terlihat kalem seolah tidak bersalah, tapi tangannya agak gemetar.
"Ada perlu apa, Ibu Dian?"
Dian menatapnya langsung tidak takut.
"Pak Dekan, saya mau bicara soal asisten saya."
Prof Hadi tersenyum. "Oh, Dewa? Anak tengil itu, saya baru saja ngobrol dengannya."
"Saya tahu." Nada bicara Dian dingin sedingin hembusan angin Antartika. "Dan saya tahu apa yang Bapak bicarakan."
Prof Hadi diam senyumnya kaku bak seringai The Joker film Batman.
"Pak Dekan, saya menghargai semua perhatian Bapak kepada saya . Tapi... tetap ada batasannya."
"Batasan apa?"
"Iya, saya mohon asisten saya... jangan diganggu."
Prof Hadi tertawa yang dipaksakan. "Ibu Dian, saya tidak mengganggu. Saya cuma—"
"Saya tahu maksud Bapak." Dian memotong pelan. "Dan saya sudah 15 tahun di kampus ini tahu cara kerja sistem pendidikan tinggi aturan patut apa tidak nya dan ... hak saya."
Prof Hadi diam wajahnya mulai memerah.
"Jadi, sekali lagi dengan hormat... saya minta Bapak tidak melibatkan asisten saya dalam urusan pribadi Bapak. Kalau Bapak ingin bicara dengan saya, bicara langsung. Jangan lewat ancaman ke dia."
Hening. Prof Hadi menatapnya tajam, antara kagum, marah, bercampur aduk.
"Ibu Dian... kamu hebat."
Dian tidak menjawab.
"Tapi justru itu yang bikin aku semakin... suka."
"Selamat siang, Pak Dekan."
Ia pergi meninggalkan Prof Hadi dengan perasaan ulekan gado panas dan pedas
Pukul 17.00, parkiran.
Dewa menunggu dengan khawatir. Tapi begitu ia keluar dari dalam ruangannya, wajahnya kembali tenang
"Bu? Gimana?"
Ia naik motor seperti tidak peduli, memasang helmnya "Sudah beres, Dewa."
"Serius, Bu?"
"Pak Dekan... untuk sementara akan diam."
Dewa menarik napas lega, tapi ada sesuatu yang mengganjal.
"Bu... Ibu bilang apa?"
Ia menoleh tersenyum tipis.
"Saya cuma bilang... jangan ganggu asistenku."
Laki laki itu hatinya menghangat, wajahnya tersipu "Terimakasih banyak, ya, Bu."
Ia menepuk helmnya. "Ayo pulang, saya laper."
Motor melaju. Sore Jakarta yang cerah. Tapi di belakang mereka, di jendela lantai 3, Prof Hadi menatap matanya menyipit.
Ponselnya bergetar pesan dari nomor tidak dikenal.
"Saya bisa bantu, Pak."
Prof Hadi membaca tersenyum.
"Siapa ini?"
"Teman yang juga punya urusan dengan Dewa."
---
Hari kedua puluh, pukul 09.00 pagi.
Dewa melangkah masuk ke gedung perkuliahan dengan perasaan biasa—tapi suasana di dalam tidak biasa sama sekali.
Semua orang menatapnya seperti maling jemuran, bukan tatapan biasa tapi campuran antara: penasaran, iri, heran, dan "lo mahasiswa jual bubur ayam kok bisa sih deketin ibu dosen?"
Dewa berjalan menuju ruang kuliah. Setiap langkah diikuti bisik-bisik tetangga.
"Itu dia..."
"Iya, itu asistennya..."
"Gila, lo liat muka dia? Biasa aja tuh...,mirip tukang daging di pasar."
" Emang dia jualan bubur di pasar kok."
" Ha?
" Tapi kata Rina dia baik..."
"Lo mau jadi asisten juga? Sana daftar..."
Dewa mengabaikan biang gosip mencoba fokus ke depan. Tapi di dalam kelas, suasana lebih parah.
----
GRUP WA "EKONOMI 21- TANPA DOSEN"
(20 menit sebelumnya)
Rina: [08.45] Genting, SAS
Budi: [08.45] Lo kenapa, Rin? Kebanyakan minum kopi dingin Lo ?
Rina: [08.46]Gue baru saja melihat pemandangan yang tidak terlaporkan
Joko: [08.46] Apaan sih ?Paling Bu Dian atau Prof Hadi, dua makhluk yang meresahkan di kampus ekonomi.
Rina: [08.47]Lebih dari itu.
Budi: [08.47]Cepet! Jangan bikin penasaran!
Rina: [08.48]Gue liat Ibu Dian turun dari motor, terus ..senyum kearah Dewa
Joko: [08.48 ]...
Budi: [08.48]...
Rina: [08.49]Kalian pada diem kenapa?
Joko: [08.49]Orang senyum aja Lo meriang kenapa sih Lo ?"
Rina: lo tahu nggak? seingat gue Ibu Dian terakhir kali tersenyum pada abad pertengahan Romawi
Budi: [08.50]Wkwkwkw
Rina [08.51]: Ibu Dian terkenal dengan julukan "The Ice Queen" sejak 2010. Sumber Wikipedia.
Ia mengirim foto buram perempuan cantik itu sedang memegang helm. Wajahnya... iya, setengah tersenyum dan di sampingnya Dewa, lagi nyalain motor.
Joko: [08.52] : Photo gitu aja Lo rese'
Budi: [08.52] : Ya biarin aja.
Rina: [08.53] : Asli gue photo di balik pohon sengon!
Sari: [08.54] :Lo ngapain di balik pohon pagi-pagi, Rin, ntar Lo digigit semut.
Rina [08.54] Ini untuk data buletin
Budi: [08.55] : Jangan sembarangan Lo, itu sama dengan menyebar aib
Joko: [08.56] : Hipotesis gue: Ibu Dian udah luluh. Tapi sama siapa? Dewa? Atau... ada faktor X?
Budi: [08.57] Faktor X: Pak Dekan yang tiap pagi kasih mawar.
Sari: [08.58] Oh iya! Si Dekan genit!
Joko: [08.59] : Stress Lo pada.
Budi: [09.00] : Old and New, kriting vs Bald men —
Joko: [09.01] Wkwkwk
makanya jujur aja deh Wa, jangan cm dipendam tok gimana bu Dian tau kalo kamu cm diem aja