NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Reuni

Setelah hampir satu tahun menghirup udara kering Dubai dan bergulat dengan manifes kargo internasional, akhirnya waktu yang dinanti Bagas tiba. Ia mendapatkan cuti dua minggu untuk pulang ke Jakarta.

Namun, kepulangannya kali ini bukan sekadar pulang untuk makan sayur lodeh buatan Ibu, melainkan untuk menjalankan misi suci yang selama ini menjadi bahan bakarnya bekerja lembur Menemani Ibu dan Bapak berangkat ke Tanah Suci.

Di dalam pesawat Emirates yang membawanya pulang, Bagas duduk di kelas ekonomi premium sebuah upgrade kecil yang ia berikan untuk dirinya sendiri sebagai hadiah atas integritasnya melawan Marco.

 Ia menatap ke luar jendela, melihat hamparan gurun yang perlahan berganti menjadi birunya samudera. Di dalam tasnya, tersimpan amplop berisi sisa uang saku dalam kurs Dollar dan Dirham, serta beberapa suvenir emas kecil untuk Ibu.

"Jakarta, aku pulang," bisiknya pelan.

Mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Bagas merasa udara lembap dan aroma khas Jakarta langsung menyergapnya. Ia tidak lagi menumpang ojek pangkalan dengan map cokelat yang lecek. Ia keluar dari pintu kedatangan dengan koper yang kokoh dan pakaian yang rapi. Namun, hatinya tetaplah Bagas yang dulu; hatinya tetap berdebar saat melihat Ibu dan Bapak melambai di kejauhan dengan wajah yang berseri-seri.

"Gas! Anakku!" Ibu langsung memeluknya erat, mencium aroma tubuh anaknya yang kini tercium seperti parfum pria dewasa, bukan lagi aroma keringat dan asap knalpot.

"Alhamdulillah, kamu sehat, Gas. Kamu kelihatan lebih gagah," ujar Bapak sambil menepuk-nepuk bahu Bagas. Ada rasa bangga yang tak terlukiskan di mata bapaknya yang kini sudah lebih jernih setelah operasi katarak yang biayanya dikirim Bagas beberapa bulan lalu.

Dua hari kemudian, tibalah hari keberangkatan umroh. Bagas sudah memesan paket umroh terbaik, lengkap dengan fasilitas hotel yang dekat dengan masjid agar Ibu tidak terlalu lelah berjalan. Mereka sampai di terminal keberangkatan internasional lebih awal.

Saat Bagas sedang mengurus administrasi bagasi di konter maskapai, ia melihat sesosok pria paruh baya yang tampak sedang berdebat dengan petugas bandara di barisan sebelah.

Pria itu memakai kemeja safari yang rapi, namun wajahnya tampak panik dan penuh amarah. Suaranya yang menggelegar sangat familiar di telinga Bagas.

"SAYA INI MANAJER DI PT GLOBAL! MASA MASALAH PASPOR BEGINI SAJA TIDAK BISA DIBANTU?! SAYA ADA MEETING PENTING DI SINGAPURA!" teriak pria itu.

Bagas menoleh perlahan. Benar saja. Itu adalah Pak Baron, sang "Naga Sudirman" yang dulu pernah menyobek laporannya dan memakinya di depan semua orang.

Bagas sempat terdiam. Ingatan tentang bentakan dan rasa terhina selama 1,5 tahun di bawah telunjuk pria itu kembali muncul. Namun, Bagas tidak lagi merasa takut. Ia tidak lagi merasa kecil. Ia hanya merasa iba melihat pria yang dulu dianggapnya tuhan di kantor, kini tampak begitu rapuh dan kehilangan kendali hanya karena masalah administrasi. Bagas menyelesaikan urusannya, lalu berjalan perlahan menghampiri Pak Baron. "Ada masalah, Pak Baron?" tanya Bagas dengan nada yang sangat tenang dan sopan.

Pak Baron menoleh dengan wajah merah padam, siap untuk menyemprot siapa pun yang berani ikut campur. Namun, saat ia melihat Bagas, ia terpaku. Ia menatap Bagas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan Bagas yang bersih, jam tangan yang elegan, dan aura kepercayaan diri yang terpancar membuat Pak Baron sempat kehilangan kata-kata.

"Kamu... Bagas? Yang dulu di bagian operasional?" tanya Pak Baron, suaranya turun dua oktav secara mendadak.

"Benar, Pak. Saya Bagas," jawab Bagas sambil tersenyum tipis.

"Kamu... kamu kerja di mana sekarang? Penampilanmu berubah drastis," tanya Pak Baron lagi, sementara petugas di depannya masih sibuk memeriksa dokumennya yang bermasalah.

"Saya sekarang di Dubai, Pak. Di Logistics Hub sebagai Regional Analyst. Hari ini saya cuma sedang mengantar orang tua saya berangkat umroh," jawab Bagas santai. Mendengar kata "Dubai" dan "Regional Analyst", wajah Pak Baron berubah. Ada rasa malu yang tersirat di matanya. Ia teringat bagaimana ia dulu menyebut Bagas sebagai "lulusan SMK yang tidak punya masa depan".

"Oh... begitu ya. Hebat kamu," gumam Pak Baron sambil membuang muka, mencoba kembali fokus pada petugas bandara.

Bagas melihat petugas itu menggeleng. "Maaf Pak, paspor Bapak ada sedikit sobekan di halaman depan, sistem kami tidak bisa menerima. Bapak harus urus dulu ke kantor imigrasi pusat." Pak Baron tampak lemas. Semua amarahnya tadi tidak berguna di depan sistem yang kaku. Bagas melihat Bapak dan Ibunya sudah melambai dari kejauhan, memanggilnya untuk masuk ke dalam.

"Pak Baron," panggil Bagas.

Pria itu menoleh.

"Dulu Bapak bilang saya tidak akan jadi apa-apa karena saya sering melakukan kesalahan kecil. Tapi di tempat saya bekerja sekarang, saya belajar bahwa setiap orang bisa diperbaiki, asal kita memberi mereka ruang untuk bernapas, bukan hanya bentakan. Semoga urusan paspor Bapak cepat selesai."

Bagas mengulurkan tangan. Pak Baron menyambutnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Bagas menjabatnya dengan mantap, lalu berbalik tanpa beban. Tidak ada dendam yang tersisa. Bagas menyadari bahwa kesuksesan terbesarnya bukan hanya gajinya yang besar atau posisinya di Dubai, tapi kemampuannya untuk memaafkan orang yang pernah merendahkannya. Ia berjalan menghampiri Ibu dan Bapaknya. "Ayo, Bu, Pak. Pesawatnya sudah siap."

"Tadi siapa, Gas? Teman kamu?" tanya Ibu.

"Bukan, Bu. Cuma kenalan lama yang sedang kehilangan 'jalur orang dalam'-nya," jawab Bagas sambil tertawa kecil.

Sambil melangkah masuk ke area imigrasi, Bagas merasa sangat ringan. Ia melihat ke arah langit dari jendela kaca bandara. Perjalanannya dari seorang remaja yang dihina karena ijazah SMK, hingga menjadi pria yang bisa membahagiakan orang tuanya, terasa sangat ajaib.

Ia tahu, setelah umroh ini, ia harus kembali ke Dubai dan menghadapi tantangan yang mungkin lebih berat. Tapi satu hal yang pasti: Bagas tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun merusak harga dirinya. Karena baginya, ijazah hanyalah selembar kertas, tapi kerja keras dan bakti kepada orang tua adalah tiket menuju surga yang sesungguhnya.

Di dalam pesawat, saat melihat Ibu dan Bapaknya duduk nyaman di kursi empuk dan menikmati hidangan yang disediakan, Bagas memejamkan mata. Ia membayangkan Menara Eiffel, kapal pesiar, dan tempat-tempat indah lainnya yang akan ia kunjungi bersama mereka nanti.

"Mimpi kita satu per satu jadi nyata, ya Gas?" bisik Ibu sambil menggenggam tangan Bagas.

"Baru permulaan, Bu. Baru permulaan."

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!