NovelToon NovelToon
Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Mawar Berduri: Tahta Untuk Ratu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonymous MC

"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."

Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.

Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.

Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.

"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Nathan Mengaku

🌹 Puisi untuk Bab 25: Nathan Mengaku

Di antara reruntuhan hati yang kau bangun sendiri,

Ada suara lembut yang berani mengetuk.

Bukan untuk merebut, bukan untuk memiliki,

Tapi untuk berkata: "Aku melihatmu, dan aku tak takut."

Namun mawar yang pernah layu karena duri palsu,

Kini enggan mekar meski datang mentari baru.

Bukan karena ia tak ingin hangat,

Tapi karena takut luka itu kembali bersarang.

Maafkan jika aku masih menggenggam erat luka,

Bukan karena aku tak percaya padamu,

Tapi karena aku baru belajar mencintai diriku.

Dan cinta sejati, kata mereka, tak pernah terburu-buru.

 

Location: Restoran私房 di puncak gedung tertinggi kota, lampu kota berkilauan di bawah sana. Malam itu, angin membawa aroma hujan yang baru reda.

 

Alana menatap hamparan kota dari balik jendela kaca restoran eksklusif itu. Di tangannya, segelas wine merah berputar pelan, menciptakan pusaran kecil yang entah mengapa mengingatkannya pada hidupnya sendiri—berputar-putar, tak pernah benar-benar tenang.

Nathan duduk di seberangnya. Pria itu lebih banyak diam sejak hidangan utama diangkat. Matanya, yang biasanya tajam menganalisis angka dan strategi, kali ini lembut—terlalu lembut untuk seorang ular bisnis seperti yang digambarkan media.

“Kau tahu, ini pertama kalinya kau mengajakku makan malam tanpa membahas laporan keuangan atau akuisisi,” Alana membuka suara, mencoba mencairkan keheningan yang anehnya tidak membuatnya tidak nyaman.

Nathan tersenyum kecil. Senyum yang jarang ia perlihatkan di ruang rapat.

“Mungkin karena malam ini aku tidak ingin bicara bisnis.”

Alana mengangkat alis. “Lalu? Cuaca? Politik? Atau kau akan bilang kau memesan menu yang salah?”

Nathan tertawa pelan. Tawanya dalam, seperti gemuruh jauh yang hanya terdengar saat badai akan reda.

“Aku ingin bicara tentang kamu.”

Kalimat itu mampir di antara mereka seperti tamu tak diundang. Alana tertegun. Bukan karena isinya, tapi karena nada suara Nathan—serius, tanpa tedeng aling-aling, tanpa main-main.

“Tentang aku?” Alana mencoba tersenyum, menutupi debar yang tiba-tiba menyerbu dada. “Aku pikir kau sudah tahu semuanya. Latar belakang keluargaku, perusahaanku, bahkan mungkin warna favoritku.”

“Warna favoritmu merah,” kata Nathan cepat. “Tapi bukan merah biasa. Kau suka merah darah, karena menurutmu itu warna kehidupan sekaligus kematian. Kau suka merah mawar, karena meskipun indah, kau tahu durinya bisa melukai. Dan kau suka merah tua di langit senja, karena itu mengingatkanmu pada janji bahwa setelah gelap, akan ada terang lagi.”

Alana terpaku.

Udara di sekelilingnya terasa menipis. Bukan karena takut, tapi karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, seseorang benar-benar melihatnya. Bukan melihat Alana Wijaya, pewaris kerajaan bisnis, bukan melihat wanita dingin yang membalaskan dendam, tapi melihat Alana kecil yang dulu suka memandangi langit senja dari balkon rumahnya sambil bertanya pada ayah: “Ayah, kalau kita jatuh, apa kita bisa bangkit lagi?”

“Kau... menyelidikiku?” suara Alana keluar setengah berbisik. Bukan tuduhan, hanya keheranan.

Nathan menggeleng pelan. “Aku tidak perlu menyelidiki. Aku cukup memperhatikan.”

Dia menggeser kursinya sedikit, mendekat, tapi masih menjaga jarak yang sopan. Cukup dekat untuk membuat Alana bisa mencium aroma parfumnya—kayu cedar dan sedikit jeruk, hangat dan tenang.

“Aku sudah mengenalmu bahkan sebelum kau tahu aku ada, Alana.” Suaranya kini lebih rendah. “Saat kau masih duduk di kursi roda, saat kau menghadiri pemakaman ayahmu dengan gaun hitam yang terlalu besar untuk tubuhmu. Saat semua orang hanya melihat warisan yang kau tinggalkan, aku melihat gadis kecil yang kehilangan pijakan.”

Kilas balik menyambar Alana begitu cepat. Hari itu. Hujan. Payung-payung hitam. Dan seorang pria asing berdiri di barisan paling belakang, tidak mendekat, tidak ikut bersedih, hanya diam memandang. Ia mengira pria itu kolega ayahnya. Ternyata...

“Kau ada di sana?” bisik Alana.

Nathan mengangguk. “Aku tidak berani mendekat. Aku hanya pemuda lugu yang baru mulai merintis bisnis, dan ayahmu adalah inspirasiku. Aku datang untuk memberi hormat, tapi aku malah terpaku padamu. Kau menangis diam-diam di balik kerudung, tapi saat seseorang mencoba menghiburmu, kau bilang, ‘Tidak apa-apa, aku harus kuat.’”

Alana menunduk. Tangannya gemetar, tapi ia sembunyikan dengan meraih gelas wine.

Nathan melanjutkan, suaranya makin dalam. “Aku mengikuti perjalananmu dari jauh. Saat kau menikah dengan Richard, aku kecewa. Bukan karena cemburu, tapi karena aku tahu dia tidak akan pernah bisa menjagamu. Saat perusahaannya jatuh, aku mulai mendekat, bukan karena ingin merebut, tapi karena aku ingin memastikan kau baik-baik saja.”

“Jadi selama ini... kau sengaja mendekatiku?” Alana menatapnya. Ada luka kecil di matanya. “Ini semua bagian dari rencana?”

“Tidak.” Nathan menjawab cepat, tegas. “Aku mendekatimu karena aku tidak tahan lagi hanya menjadi penonton. Aku ingin berada di sisimu, membantu, meski kau tak pernah tahu. Tapi kemudian aku melihat kekuatanmu, Alana. Dan aku jatuh cinta.”

Jatuh cinta.

Dua kata itu meledak di udara seperti kembang api di tengah malam sunyi. Alana merasa dunianya berhenti sejenak. Ia menatap Nathan, mencari-cari tanda kepalsuan, mencari-cari motif tersembunyi. Tapi yang ia lihat hanya ketulusan yang telanjang.

“Kau tidak mungkin,” Alana berusaha keras mengendalikan suara. “Kau tidak mungkin mencintaiku. Kau bahkan tidak mengenalku.”

“Aku tahu kau suka kopi pahit di pagi hari karena kau bilang itu satu-satunya hal yang jujur dalam hidupmu,” kata Nathan tenang. “Aku tahu kau selalu memegang gelas dengan tangan kiri meskipun kau bukan kidal, karena kau ingin tangan kananmu bebas jika ada bahaya. Aku tahu kau menyimpan buku harian ayahmu di laci meja, dan kau membacanya setiap kali kau merasa sendirian. Aku tahu kau takut tidur dalam gelap, tapi kau tidak pernah mengakui itu pada siapa pun.”

Air mata Alana tumpah.

Bukan sedih, bukan bahagia—tapi sesuatu di antaranya. Perasaan aneh saat seseorang membuka pintu yang selama ini ia kunci rapat-rapat, lalu masuk dengan lembut tanpa merusak apa pun.

“Berhenti,” pintanya hampir tak terdengar.

Nathan menurut. Ia diam, hanya menatap Alana dengan pandangan yang tak pernah ia berikan pada siapa pun—pandangan yang sepenuhnya pasrah.

“Maaf,” ucap Nathan lembut. “Mungkin ini terlalu cepat. Mungkin kau belum siap. Tapi aku tidak bisa terus berpura-pura bahwa kau hanya partner bisnisku. Aku mencintaimu, Alana. Bukan karena perusahaanku, bukan karena posisimu. Tapi karena kau pejuang yang tak pernah menyerah, meski dunia terus menjatuhkanmu. Dan aku ingin... aku ingin menjadi tempatmu beristirahat, bukan medan perangmu.”

Alana menarik napas panjang. Ia menatap Nathan, dan di dalam dadanya, perang saudara berkecamuk. Satu sisi berteriak: Terima! Ini yang selama ini kau rindukan! Tapi sisi lain—sisi yang terluka, sisi yang dikhianati, sisi yang belajar bahwa cinta adalah pedang bermata dua—berteriak lebih keras: Jangan bodoh. Ingat Richard. Ingat Viola. Cinta hanya topeng untuk kehancuran.

“Nathan,” suara Alana serak. “Aku... aku menghargai ini. Sungguh. Tapi aku belum bisa.”

Nathan mengangguk pelan. Tak ada kekecewaan di wajahnya, hanya pengertian yang dalam.

“Aku tahu.”

“Kau tidak tahu,” Alana menyela, nadanya bergetar. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya dicintai lalu dihancurkan oleh orang yang sama. Kau tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dan bertanya-tanya apakah hari ini akan menjadi hari terakhir aku bisa percaya pada siapa pun. Aku bahkan tidak percaya pada diriku sendiri, Nathan.”

Nathan meraih tangannya—perlahan, memberinya waktu untuk menarik diri. Tapi Alana tidak menarik. Mungkin karena lelah, mungkin karena hangatnya terasa... aman.

“Aku tidak minta kau percaya padaku sekarang,” bisik Nathan. “Aku hanya minta satu hal: jangan tutup pintu. Biarkan aku tetap di sini, di sampingmu, sebagai teman, sebagai sekutu, apa pun itu. Dan suatu hari, saat kau siap, aku masih akan di sini.”

Alana menatap tangan mereka yang bertaut. Tangannya yang dingin, dan tangan Nathan yang besar dan hangat. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa perlu melawan.

“Kenapa?” tanyanya lirih. “Kenapa kau mau menunggu seseorang yang bahkan tidak tahu cara mencintai lagi?”

Nathan tersenyum—senyum yang sama seperti saat pertama kali ia melihatnya di pemakaman ayahnya, penuh haru dan diam-diam berjanji.

“Karena cinta sejati tidak pernah bertanya berapa lama. Ia hanya tahu bahwa kau layak untuk ditunggu.”

 

Malam itu, Alana pulang sendiri. Nathan mengantarnya hingga pintu apartemen, lalu pergi tanpa meminta apa pun. Alana berdiri lama di balik pintu yang tertutup, merasakan sesuatu yang aneh di dadanya—bukan luka, tapi seperti benih kecil yang mulai tumbuh di tanah gersang.

Ia ragu. Ia takut. Tapi untuk pertama kalinya, keraguan dan ketakutan itu tidak terasa seperti musuh.

Mungkin, pikirnya sebelum tidur, mungkin cinta tidak selalu berarti luka.

Dan di luar sana, di dalam mobil yang melaju pelan menjauh, Nathan menarik napas panjang. Ia tahu perjalanan ini baru dimulai. Tapi ia juga tahu, untuk Alana, ia rela menempuh jarak sejauh apa pun.

Bersambung...(⁠ノ゚⁠0゚⁠)⁠ノ⁠→

1
gaby
Ayah Alana sama bajingannya seperti Ricard. Istri pertama dia buang sampai depresi & berakhir masuk RSJ. Ada yg percaya jgnlah menjahati org baik, karena karma buruk akan menimpa keturunan kita. Mungkin yg di alami Alana buah karma kebejatan ayahnya. Alana anak kesayangan, jd karma menimpanya agar Wijaya merasakan sakitnya melihat wanita baik2 di khianati. Seperti ibu kandung Alana yg dia buang, bahkan Alana pun ga di kenalkan dgn ibu kandungnya. Seolah2 istri baru ayahnya adalah ibu kandung Alana.
gaby
Jgn2 bapaknya Alana pemain perempuan jg kaya Ricard. Td di bilang istri pertama, kalo ada kata Pertama, artinya ada yg selanjutnya alias bukan istri satu2nya
Zahra Ningtiyas
semakin gregetan
lin sya
sedih klo baca alur Alana, smga Nathan bsa secara perlahan mengobati kekecewaan Krn pengkhianatan suami dan sahabat, alana pntas bahagia cuma gak beruntung aj ktmu org serakah, Nathan tulus orgnya bisa jdi jodoh mski alana tkut buka perasaan lgi👍
Arix Zhufa
mereka ber 2 tidak kah di bui?
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
gaby: Betul ka, tindakan mreka kriminal. Merampok, slingkuh, zinah, & suami Kdrt. Ini negara hukum, masa pelaku kriminal ga di penjara. Walau penjara mungkin cuma sebentar, tp seenggaknya penjara bisa menghancurkan mental, karir, & nama baik mreka. Kalo ga dipenjarakan, minimal di viralkan, biar netizen yg menghukum
total 1 replies
Arix Zhufa
Richard ini aneh...

selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄
gaby: Richad mokondo ka, ga mau modal buat bayar hotel. Kalo drmh mertua kan gratis tuh
total 1 replies
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
weehh kok malah antusias
Nurlaila Syahputri
Ceritanya bagus dikhianati dengan balas dendam Sempurna👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Arix Zhufa
cerita nya seru
Aisyah Suyuti
bagus
Arix Zhufa
aq bacanya sambil nahan nafas
Osie
loh diawal kan udah buat janji dgn nathan kok sekarang spti baru kenal lagi
Osie
laahh alana jgn lama lama action nya..kasihan rumah peninggalan ortu mu dijadikan tempat berzina.
Osie
mampir aku nyaaahh..baca sipnosis sptinya seru..moga sesuai ekspektasiku n moga ini cerita sp end🙏🙏
Arix Zhufa
mampir thor...kayak nya seru
JulinMeow20
novel jiplakan karya orang lain
JulinMeow20
kalau nulis itu hasil pemikiran sendiri kak jangan jiplak hasil karya orang lain 🙏 ada hukumnya loh kayak gitu🙏
Ammarcihuy Muhammad: Kok melepem Lempar batu sembunyi Tangan kucur. Adukan aja kak Anonymous sama Noveltoon biar akun nya ke band selamanya. mengotori cerita KK jadi
total 3 replies
gaby
Kayanya seru. Tp aq liat profil othornya, bny bgt novel barunya. Yakin sanggup nulis update beberapa judul skaligus?? Mudah2an ga hiatus di tengah jalan, karena critanya bagus
Ammarcihuy Muhammad: Eh bagudung buktikan Fitnahan mu. Brani berbuat brani tanggung jawab bulan puasa menghasut orang dan memfitnah
total 3 replies
Anonymous MC
ceritanya terlalu manis tuk dikenang
Roma Biskuit
Jadilah Mawar ,Indah dilihat jika salah orang durinya akan menusuk daging mu. mantaaaap👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!