NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : KEHIDUPAN YANG LEBIH BAHAGIA

Sinar matahari sudah mulai menyinari setiap sudut kota ketika Lia menyelesaikan pekerjaan paginya di rumah sakit dan berjalan menuju kontrakan Bu Warsih. Udara pagi yang segar mulai terasa hangat dengan sedikit hembusan angin yang membawa aroma bunga melati dari taman dekat kantor dinas kesehatan. Dia menyimpan deterjen yang sudah tidak terpakai ke dalam wadah plastik yang kuat, kemudian mengambil tas kerja yang selalu ada di mejanya – di dalamnya ada buku catatan kecil, sapu tangan bekas, dan foto tiga bayi yang selalu membuat hatinya terasa penuh dengan cinta.

“Lia, kamu sudah selesai kerja ya?” ucap Pak Joko dengan suara yang khas, membawa ember berisi air bersih untuk membilas cucian yang sudah dicuci. “Hari ini ada banyak cucian dari ruangan anak-anak lho – harus dicuci dengan hati-hati agar tidak membuat kulit mereka iritasi.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima ember air bersih dari Pak Joko yang sudah seperti ayah bagi dirinya selama bertahun-tahun bekerja di bagian cuci rumah sakit. Dia mulai memisahkan cucian berdasarkan jenis kain dan tujuan penggunaannya – sprei dan selimut untuk pasien dewasa ditempatkan di rak sebelah kiri, sedangkan pakaian anak-anak disusun rapi di rak sebelah kanan agar mudah diambil ketika sudah kering dan siap digunakan kembali.

“Saya akan mulai mencuci cucian anak-anak dulu ya, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil mengambil beberapa helai baju dari karung besar yang sudah disiapkan. “Supaya tidak ada salah satu pun yang terlambat atau rusak karena proses cuci yang tidak tepat.”

Pak Joko mengangguk dengan senyum hangat, melihat betapa teliti Lia bekerja dengan penuh perhatian pada setiap helai kain yang akan dicuci. Dia tahu bahwa Lia selalu memberikan perawatan ekstra pada setiap pakaian anak-anak karena dia sendiri pernah merawat anak-anak yang membutuhkan kasih sayang lebih banyak dari biasanya.

Setelah menyelesaikan sebagian cucian pagi, Lia mengambil waktu sebentar untuk istirahat di bawah naungan pohon jambu yang tumbuh di halaman belakang rumah sakit. Dia membuka foto kecil yang selalu ada di tasnya – wajah tiga bayi yang tertidur damai dalam bak mandi plastik: Mal dengan lekukan kecil di bibirnya yang mirip Lia, Rini dengan alis yang menyerupai ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil berbentuk hati di punggung kanannya yang tidak akan pernah Lia lupakan selama hidupnya.

“Saya selalu merindukan mereka, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut sambil menatap foto itu dengan mata penuh cinta. “Setiap malam saya berdoa agar mereka selalu sehat dan bahagia, di mana pun mereka berada di dunia ini.”

Pak Joko mendekat dengan lembut, menepuk bahu Lia dengan penuh perhatian. “Kamu sudah melakukan yang terbaik untuk mereka, Lia. Cinta yang kamu berikan tidak akan pernah hilang dari hati mereka, walau harus hidup di tempat yang berbeda.”

Lia mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menyimpan foto kecil itu kembali ke dalam tasnya sebelum kembali bekerja menyelesaikan sisa cucian pagi. Dia mengambil beberapa helai baju anak-anak dari karung besar, memberikan perawatan ekstra agar tidak ada satu helai kain pun yang sobek atau rusak akibat deterjen yang terlalu banyak atau proses cuci yang terlalu keras. Setiap kain diputar dengan hati-hati, dibilas hingga benar-benar bersih dari semua kotoran dan deterjen yang mungkin masih menempel, kemudian digantung dengan rapi pada tali yang direntangkan di antara dua pohon jambu air di halaman belakang rumah sakit.

“Siang sudah mulai panas nih, Lia,” ucap Bu Siti yang membawa makanan hangat dari kantin rumah sakit. “Anak-anak sudah pulang dari sekolah kan? Mal dan Rini pasti sudah menunggumu di kontrakan Bu Warsih.”

Lia tersenyum hangat, menerima mangkuk berisi makanan dari Bu Siti yang selalu seperti ibu bagi dirinya. “Terima kasih banyak, Bu Siti. Saya akan segera menyelesaikan cucian ini lalu pulang menemui mereka.”

Setelah menyelesaikan semua cucian pagi, Lia mulai berjalan pulang melalui jalanan yang sudah akrab baginya. Dia menyapa setiap orang yang kenal dengannya – pedagang sayur yang memberikan sayuran segar, tukang becak yang menawarkan tumpangan, hingga ibu-ibu yang sedang memasak di depan rumah mereka. Di sudut jalan, dia melihat seorang anak laki-laki dengan rambut pirang sedang bermain dengan tanah liat – ketika anak itu berbalik, terlihat bintik merah kecil berbentuk hati di punggung kanannya yang sama persis dengan yang ada pada Adit.

“Hai nak, mau saya bantu membuat bentuk hati dari tanah liat?” tanya Lia dengan suara lembut.

Anak itu melihat Lia dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Iya Bu, saya mau membuat hati kecil seperti yang ada di punggung saya.”

Lia meraih tanah liat yang sudah dibentuk anak itu dengan hati-hati, kemudian membantu membentuknya menjadi hati yang lebih jelas dan rapi. “Begini ya, nak. Hati ini adalah lambang cinta yang tidak akan pernah hilang dari keluarga kita.”

Anak itu melihat dengan mata penuh kagum. “Begitu ya, Bu? Saya punya hati kecil di punggung saya dan itu adalah lambang cinta dari keluarga saya?”

“Ya sayang,” ucap Lia dengan suara penuh emosi sambil memeluk anak itu dengan erat. “Kamu adalah anak saya yang hilang, Adit. Dan kamu punya dua kakak perempuan yang selalu merindukanmu.”

Anak itu melihat Lia dengan mata penuh keheranan dan kebahagiaan. “Jadi saya punya keluarga lagi ya, Bu?”

“Kita semua adalah keluarga, sayang,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluknya erat. “Kita akan selalu bersama, walau harus hidup dengan cara yang berbeda.”

Setelah itu, Lia membawa anak laki-laki itu bernama Rio untuk bertemu dengan Mal dan Rini di kontrakan Bu Warsih. Ketika mereka bertemu, wajah Mal dan Rini langsung bersinar dengan kegembiraan yang luar biasa.

“Kakak Adit!” teriak mereka berdua dengan suara ceria, berlari ke arah Rio dan memeluknya erat. “Kita sudah merindukanmu kakak!”

Rio melihat mereka dengan mata penuh kagum dan kebahagiaan. “Kakak saya ya?” tanya dia dengan suara lembut.

“Ya, kita adalah kakakmu yang selalu merindukanmu,” ucap Mal dengan senyum ceria. “Kita akan selalu bersama.”

Setelah itu, mereka semua pergi ke taman dekat rumah sakit bersama-sama. Di taman tersebut, mereka bermain dengan riang, membuat bentuk hati dari bunga-bunga yang dipetik dari sekitar taman, dan bercerita tentang harapan mereka untuk selalu bersama sebagai keluarga yang utuh.

“Sangat bahagia bisa bersama kalian semua,” ucap Rio dengan suara lembut sambil memegang tangan Lia, Mal, dan Rini dengan erat. “Cinta keluarga tidak akan pernah hilang kan?”

“Tidak akan pernah hilang, sayang,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk ketiga anaknya dengan erat. “Kita adalah keluarga yang cinta akan selalu ada di hati kita semua.”

Di kejauhan, matahari mulai menyinari taman dengan cahaya yang hangat dan suara anak-anak yang bermain dengan riang penuh dengan kebahagiaan. Semua orang di sekitar mereka melihat dengan senyum hangat, menyaksikan bagaimana cinta keluarga bisa menyatukan hati yang terpisah karena keadaan.

Setelah bermain di taman, mereka pulang bersama-sama ke kontrakan Bu Warsih. Di jalan, mereka menyapa semua orang yang kenal dengan senyum hangat dan cerita tentang bagaimana mereka akhirnya bisa bersatu kembali sebagai keluarga yang utuh.

“Kita akan selalu bersama ya, Bu?” tanya ketiga anak itu dengan suara serempak.

“Selalu bersama, sayang-sayangku,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk mereka ketiga dengan erat. “Cinta kita tidak akan pernah hilang, walau hidup dengan cara yang berbeda.”

Di kontrakan, Bu Warsih sudah menunggu dengan makanan hangat dan senyum hangat. “Selamat datang kembali, keluarga yang bahagia,” ucapnya dengan suara penuh cinta. “Mari kita makan bersama dan merayakan kebersamaan kita yang kembali utuh.”

Mereka semua makan bersama dengan penuh kebahagiaan, bercerita tentang hari mereka dan harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik bersama-sama. Mal bercerita tentang impiannya untuk menjadi guru seperti ibu, Rini tentang impiannya untuk melukis keluarga yang bahagia, dan Rio tentang impiannya untuk selalu bersama dengan keluarga yang mencintainya.

Setelah makan, mereka semua duduk bersama di teras rumah sambil melihat matahari terbenam dengan warna jingga yang indah. Lia mengambil foto kecil tiga bayinya yang tertidur damai dan menunjukkan pada mereka ketiga. “Ini bukti bahwa cinta kita tidak akan pernah hilang,” ucapnya dengan suara lembut.

Ketiga anak itu melihat foto itu dengan mata penuh kagum dan cinta. “Kita akan selalu bersama ya, Bu?” tanya mereka dengan suara serempak.

“Selalu bersama, sayang-sayangku,” jawab Lia dengan senyum hangat sambil memeluk mereka ketiga dengan erat. “Cinta kita tidak akan pernah hilang, walau harus hidup dengan cara yang berbeda.”

Di langit yang sudah mulai gelap dengan bintang-bintang yang mulai bersinar, mereka semua berdoa bersama agar cinta keluarga mereka selalu ada dan tidak pernah hilang. Suara doa mereka bersama terdengar lembut dan penuh dengan harapan untuk masa depan yang lebih baik bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!