Alana bukan sekadar penebus hutang judi pamannya; dia adalah obsesi gelap Dante Volkov. Di tangan sang Ice King, Alana harus memilih: menjadi mawar yang indah di dalam penjara emas, atau hancur saat musuh mulai mengincar nyawanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: PENEBUSAN DAN PUNCAK HASRAT
Tiga hari telah berlalu sejak badai yang nyaris merenggut kesadaran Alana. Berkat perawatan obsesif dari Dante yang tidak membiarkan satu orang pun mendekat, warna di pipi Alana perlahan kembali. Tubuhnya tidak lagi membara oleh demam, melainkan menyisakan kehangatan alami yang lembut. Namun, kesembuhan fisik itu membawa kecemasan baru; masa haidnya telah berakhir pagi ini, dan ia tahu betul bahwa Dante telah menghitung setiap detiknya dengan ketabahan seorang predator yang sedang berpuasa.
Pagi itu, Alana baru saja selesai mandi ketika Dante masuk ke kamar. Pria itu tidak lagi mengenakan jas; ia hanya memakai kemeja sutra hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan tato mawar hitam yang seolah ikut mengawasinya.
"Kau terlihat jauh lebih baik, little girl," suara Dante berat, bergetar di udara seperti petir yang jauh.
Alana mencoba menarik jubah mandinya lebih rapat. "Terima kasih sudah merawatku, Tuan."
Dante melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma maskulin yang kini tak lagi bercampur bau darah, melainkan aroma sandalwood yang memabukkan. "Jangan berterima kasih. Kau membuatku membatalkan tiga pertemuan penting dan menghabiskan waktuku hanya untuk memastikan kau tidak mati. Kau tahu itu butuh kompensasi yang besar, bukan?"
Alana menelan ludah, jemarinya meremas kain jubahnya. "Hukuman apa yang Anda inginkan? Apa aku harus membersihkan seluruh mansion lagi?"
Dante terkekeh, suara rendah yang terdengar seperti geraman harimau. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan helai rambut basah Alana ke belakang telinga, lalu jemarinya turun mengusap leher gadis itu dengan gerakan yang sangat lambat. "Membersihkan mansion itu terlalu mudah. Aku ingin hukuman yang membuatmu ingat bahwa kau tidak boleh lagi membahayakan nyawamu sendiri."
Dante menunduk, bibirnya nyaris menyentuh telinga Alana. "Masa haidmu sudah selesai hari ini, bukan? Aku merasakannya dari caramu bergerak. Tidak ada lagi alasan, Alana."
Jantung Alana berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Sebelum ia sempat protes, Dante sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah—kali ini dengan gaya bridal style yang posesif—dan membawanya menuju ranjang kebesaran mereka. Ia membaringkan Alana di atas sprei sutra yang dingin, namun tubuh Dante yang segera menindihnya terasa sangat panas.
"T-Tuan, tolong pelan-pelan..." bisik Alana dengan mata bulat yang berair.
Dante menatapnya dengan intensitas yang sanggup melelehkan baja. "Aku sudah bersabar selama seminggu ini, Alana. Menjagamu, melihatmu sakit, menahan hå§rå†kµ karena tidak ingin menyakitimu yang sedang lemah. Sekarang, aku menuntut hakku."
Dante memulai "hukumannya" dengan ¢ïµmåñ yang sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak ada kekasaran yang melukai; ¢ïµmåñ itu dalam, manis, namun sarat akan tuntutan yang tak terbantahkan. LïÐåhñɏå menjelajahi setiap sudut mulut Alana, memberikan råñg§åñgåñ yang membuat Alana tanpa sadar mêlêñgµh pelan.
Tangan Dante yang besar mulai mêñåñggålkåñ jubah mandi Alana dengan gerakan yang hampir terlihat seperti ritual pemujaan. Saat kµlï† putih mµlµ§ Alana †êrêk§þð§ sepenuhnya di bawah cahaya lampu, Dante tertegun sejenak. "Kau sangat indah... terlalu indah untuk orang sepertiku," gumamnya pelan sebelum membenamkan wajahnya di antara ¢êrµk lêhêr dan bahu Alana.
Dante memberikan tanda-tanda kepemilikan baru—hï¢kêɏ merah keunguan yang kontras di kµlï† pucat Alana. Ia berpindah ke ÐåÐå Alana, mêlµmå† þµñ¢åk kembarannya dengan lembut namun penuh gåïråh, membuat Alana melengkungkan tubuhnya dan meremas rambut hitam Dante.
"Ah... Dante... hnggh..." Ðê§åhåñ pertama Alana yang menyebut namanya tanpa embel-embel "Tuan" membuat Dante semakin kehilangan kendali.
"Katakan lagi, Alana. Sebut namaku saat aku memilikimu," desis Dante.
Dante mulai mêñjêlåjåhï bagian bawah †µßµh Alana. Jarinya bermain dengan sangat lihai di ïñ†ï kêwåñï†ååñ Alana yang kini sudah bersih dan siap. Ia memberikan råñg§åñgåñ yang membuat Alana banjir oleh gåïråhñɏå sendiri. Saat ia merasa Alana sudah cukup siap, Dante memposisikan dirinya di antara þåhå Alana yang †êrßµkå lebar.
Ia menatap mata Alana, memastikan gadis itu menatapnya balik. "Ini akan sedikit sakit, tapi setelah ini, kau akan menjadi milikku selamanya. Jiwa dan ragamu."
Dengan satu dorongan yang mantap dan perlahan, Dante mêmå§µkï Alana sepenuhnya. Alana memekik kecil, air mata mengalir di sudut matanya saat ia merasakan sesuatu yang besar merobek kê§µ¢ïåññɏå. Ia mêñ¢êñgkêråm bahu Dante, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu.
Dante berhenti sejenak, membiarkan Alana terbiasa dengan keberadaannya di dalam sana. Ia menciumi kening Alana, menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya. "Ssh... tenanglah. Rasa sakitnya akan segera hilang."
Begitu Alana mulai rileks, Dante mulai bergerak. Ritmenya awalnya lambat dan penuh perasaan, namun lama-kelamaan menjadi semakin cepat dan bertenaga. Ruangan itu hanya dipenuhi oleh suara napas yang memburu, Ðêrï† ranjang, dan Ðê§åhåñ-Ðê§åhåñ gåïråh yang keluar dari bibir Alana.
"Dante... ahh! Lebih... hnggh... ssshh!" Alana sudah kehilangan åkål sehatnya. Ia hanya bisa merasakan gelombang kêñïkmå†åñ yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Dante memacu dirinya menuju puncak, otot-otot di punggungnya menegang hebat saat ia merasakan Alana mêñjêþï†ñɏå dengan sangat kê†å† di dalam sana. Dengan satu raungan rendah, Dante menanamkan ßêñïhñɏå jauh di dalam råhïm Alana, mengklaim gadis itu sepenuhnya, bukan hanya sebagai istri secara hukum, tapi sebagai wanita yang kini telah ia tandai hingga ke bagian terdalam.
Mereka berdua †êrêñgåh-êñgåh dalam peluh yang mêñɏ况. Dante tidak langsung menjauh; ia tetap berada di dalam Alana, memeluknya erat seolah takut jika ia melepaskannya, Alana akan menghilang.
"Hukuman selesai," bisik Dante dengan suara serak yang penuh kêþµå§åñ. Ia mêñ¢ïµm bibir Alana yang bengkak dengan lembut. "Sekarang, bahkan jika kau lari ke ujung dunia sekalipun, kau akan selalu membawa jejakku di dalam dirimu."
Alana yang kelelahan hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada Dante yang bidang. Di balik rasa sakit dan rasa malu, ada sesuatu yang asing yang mulai tumbuh di hatinya—sesuatu yang ia takutkan adalah benih perasaan untuk sang monster yang baru saja menjadikannya wanita seutuhnya.
***
Pagi setelah malam yang panjang itu, suasana di kamar utama tak lagi mêñ¢êkåm. Alana terbangun dengan rasa pegal yang menjalar di sekujur tubuhnya, namun ia merasakan kehangatan yang berbeda. Dante tidak langsung pergi; pria itu bersandar di kepala ranjang sambil memperhatikan Alana yang masih bergelung di balik selimut.
"Jangan mencoba bersembunyi, Alana. Aku sudah melihat setiap inci †µßµhmµ semalam," goda Dante dengan suara serak khas bangun tidur, membuat wajah Alana kembali memerah padam.
Sejak malam itu, Dante tidak lagi memperlakukan Alana seperti tawanan atau pelayan. Meskipun tetap posesif dan dominan, ada sisi protektif yang lebih halus. Dante mulai memanjakan Alana dengan gaun-gaun sutra terbaik dan perhiasan yang harganya mampu membeli sebuah kota kecil. Namun, Alana tahu kemewahan ini memiliki harga: ia harus berdiri di samping Dante, menghadap dunia yang selama ini hanya ia lihat di dokumen rahasia itu.
Dua minggu kemudian, sebuah undangan berlapis emas tiba. Pertemuan besar klan-klan mafia terkuat.
"Malam ini, kau akan ikut denganku," ucap Dante sambil mengancingkan jam tangan mewahnya. "Aku tidak ingin dunia terus bertanya-tanya siapa wanita yang telah menaklukkan Dante Volkov. Kau akan diperkenalkan sebagai istriku—The Queen of Volkov."
Alana menatap pantulan dirinya di cermin. Ia mengenakan gaun emerald green berbahan beludru yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, dengan potongan leher yang memperlihatkan sedikit jejak kemerahan yang sengaja ditinggalkan Dante di tulang selangkangnya.
"Aku takut, Dante. Mereka semua adalah... orang-orang sepertimu," bisik Alana jujur.
Dante berjalan mendekat, berdiri di belakang Alana dan meletakkan tangannya di bahu gadis itu. Matanya menatap tajam melalui cermin. "Mereka bukan sepertiku. Mereka berada di bawahku. Dan selama kau berada di sampingku, tidak ada satu pun serigala di sana yang berani menatap matamu tanpa izinku. Cukup angkat kepalamu, little girl."
Mobil Rolls-Royce hitam membawa mereka menuju sebuah ballroom rahasia di bawah hotel mewah. Begitu pintu terbuka, kebisingan percakapan mendadak senyap. Ratusan pasang mata—pria-pria berpakaian mahal dengan senjata tersembunyi dan wanita-wanita yang berlumuran berlian—menoleh serempak.
Dante melangkah masuk dengan sangat angkuh, tangannya menggenggam erat jemari Alana, posesif dan kuat. Alana bisa merasakan aura kekuasaan yang terpancar dari suaminya, membuat orang-orang di sana secara otomatis memberikan jalan dan menundukkan kepala saat mereka lewat.
"Tuan Volkov," sapa seorang pria tua dengan bekas luka di wajahnya, pemimpin klan dari Utara. "Kami tidak menyangka Anda akan membawa... bunga secantik ini ke sarang singa."
Dante menyeringai tipis, namun matanya tetap sedingin es. "Dia bukan sekadar bunga, Moretti. Dia adalah Alana Volkov. Istriku. Dan aku menyarankanmu untuk menjaga ucapanmu jika tidak ingin lidahmu menjadi hidangan pembuka malam ini."
Ancaman itu diucapkan dengan nada santai, namun membuat pria tua itu pucat dan segera meminta maaf. Dante kemudian membawa Alana ke singgasana di tengah ruangan. Ia duduk, lalu menarik Alana untuk duduk di pangkuannya di hadapan semua pemimpin mafia tersebut.
"Dante... ini memalukan," bisik Alana dengan pipi memerah, mencoba turun dari pangkuan suaminya.
Dante justru melingkarkan lengannya di pinggang Alana lebih erat, memastikan semua orang melihat bahwa Alana adalah miliknya secara mutlak. "Biarkan mereka melihat, Alana. Aku ingin mereka tahu bahwa kau adalah satu-satunya kelemahanku yang paling mematikan. Siapa pun yang menyentuhmu, berarti mereka memesan tiket satu arah menuju neraka."
Malam itu, Alana menyadari perubahan besar dalam hidupnya. Ia bukan lagi gadis yatim piatu yang malang. Di dunia yang penuh darah dan pengkhianatan ini, ia telah dinobatkan sebagai ratu. Meski hatinya masih sering bergetar melihat kekejaman Dante, namun ada rasa aman yang aneh saat ia berada dalam dekapan pria itu.
Saat dansa dimulai, Dante menarik Alana ke tengah lantai dansa. Di bawah lampu kristal, di tengah bisik-bisik para mafia yang iri dan takut, Dante mencium kening Alana dengan lembut.
"Kau melakukannya dengan baik, My Queen," gumam Dante.
Alana menatap mata biru itu, mulai melihat bahwa di balik sosok monster yang ditakuti dunia, ada seorang pria yang akan membakar seluruh dunia hanya untuk menjaganya tetap aman.
lanjut thor👍😄
ayo thor bikin alana jd bucin dong😄
lanjut thor yg banyak dong😄😄😄