"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Catur dan Harga Diri
[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 14.15 PM]
[Lokasi: Apartemen Lin Xia, Lantai 12, Shenzhen]
Suasana di dalam ruang tamu apartemen Lin Xia yang kecil terasa sangat sesak. Tuan Lin duduk di kursi kayu jati tua miliknya—yang sengaja ia bawa dari kampung halaman—sambil melipat tangan di dada. Di depannya, Gu Yanran duduk dengan senyum simpul yang tampak sedikit dipaksakan di bawah tatapan mengintimidasi sang pensiunan guru.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang sangat keras dan berwibawa terdengar. Tok! Tok! Tok!
Lin Xia melompat dari kursinya untuk membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka, sosok Gu Jingshen berdiri di sana dengan napas yang sedikit memburu. Setelan jas mahalnya tampak sedikit berantakan, dan rambutnya tidak selicin biasanya. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak keramik berisi teh Pu-erh langka yang harganya setara dengan sewa apartemen Lin Xia selama setahun.
"Tuan Gu? Anda... kenapa Anda di sini?" Lin Xia berbisik dengan wajah pucat.
Tanpa menjawab, Jingshen langsung melangkah masuk. Matanya menyapu ruangan dan langsung terpaku pada Yanran yang sedang duduk manis. Jingshen mendengus dingin, lalu membungkuk sangat rendah di depan orang tua Lin Xia.
"Selamat siang, Paman, Bibi. Saya Gu Jingshen, CEO Gu Corp. Maaf saya terlambat datang untuk menyambut Anda berdua di Shenzhen," ucap Jingshen dengan suara baritonnya yang sangat formal.
Tuan Lin menaikkan satu alisnya. "Satu lagi? Xia, apakah kau membuka penitipan pria berjas di apartemen mu?"
Yanran tertawa kecil melihat kedatangan kakaknya yang tiba-tiba. "Wah, Kak. Kau cepat sekali sampai. Apa kau meninggalkan rapat dewan direksi hanya untuk membawakan teh?"
"Diam kau," desis Jingshen pelan agar tidak terdengar Tuan Lin.
[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 14.30 PM]
[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]
Di luar gedung, Lin Feng mengembuskan napas lega setelah melihat Jingshen berhasil masuk ke dalam. Ia merasa tugas intelijennya sudah selesai dan tingkat stresnya sudah melampaui batas.
"Sudahlah, biarkan dua singa itu bertarung di atas sana. Aku butuh ketenangan," gumam Lin Feng. Ia segera memutar balik mobilnya menuju cafe.
Sampai di cafe, ia disambut oleh tatapan bingung Xiao Li. "Kau lagi? Katanya tadi ada urusan mendadak?"
Lin Feng langsung duduk di bar dan menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Urusan dunia sedang kacau, Xiao Li. Tolong buatkan aku kopi paling pahit. Sepahit melihat dua CEO berebut perhatian guru pensiunan."
Xiao Li hanya menggelengkan kepala. "Kau bicara apa, sih? Aneh-aneh saja."
[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 15.00 PM]
[Lokasi: Ruang Tamu Apartemen Lin Xia, Shenzhen]
Kembali ke lantai 12, Lin Xia berusaha keras mencairkan suasana. "Papa, Mama, ini Jingshen. Dia juga atasan... eh, maksudku rekan kerja Xia yang sangat baik."
"Baik?" Tuan Lin menatap Jingshen dari atas ke bawah. "Sepertinya dia tipe pria yang kalau bicara hanya tentang angka dan saham. Benar begitu, Nak Jingshen?"
Jingshen berdeham, mencoba tetap tenang. "Saya menghargai efisiensi, Paman. Tapi saya juga menghargai integritas."
"Cukup bicaranya," potong Tuan Lin. Ia berdiri dan mengeluarkan sebuah papan catur tua dari bawah meja. "Di keluargaku, karakter seorang pria terlihat dari bagaimana dia menggerakkan bidak catur dan bagaimana dia menahan minumannya. Kalian berdua, kemari."
Lin Xia mulai merasa tidak enak. Ia tahu ayahnya adalah pemain catur yang licik dan sangat suka meminum Baijiu (minuman keras tradisional yang sangat kuat).
"Kita main bergantian. Siapa yang menang melawan saya, boleh lanjut mengobrol dengan Xia," tantang Tuan Lin.
Yanran langsung maju. "Saya duluan, Paman! Saya sangat suka tantangan."
Selama permainan berlangsung, Jingshen hanya duduk kaku di samping Lin Xia. Lin Xia menyikut lengan Jingshen. "Tuan Gu, Anda harus pulang. Ayahku akan mulai mengajak minum setelah ini. Anda tidak bisa minum alkohol, kan? Terakhir kali Anda minum setetes anggur di pesta perusahaan, Anda langsung pingsan di lift!"
Jingshen menatap Lin Xia dengan tatapan yang sangat keras kepala. "Aku tidak akan membiarkan Yanran mengambil hati ayahmu hanya karena dia bisa minum. Aku akan bertahan."
Setelah tiga puluh menit, Yanran kalah telak dalam catur. Tuan Lin tertawa puas. "Bocah, strategimu terlalu banyak tipu daya. Sekarang giliranmu, CEO."
Jingshen duduk dengan tegak. Permainan catur antara Jingshen dan Tuan Lin berlangsung sangat tegang. Jingshen bermain dengan sangat hati-hati, sementara Tuan Lin terus-menerus melontarkan pertanyaan intimidasi.
"Jadi, Nak Jingshen, apa tujuanmu mendekati anakku? Apakah hanya untuk naskah permainannya?" tanya Tuan Lin sambil memakan pion Jingshen.
"Bukan, Paman. Saya ingin memastikan dia memiliki masa depan yang aman," jawab Jingshen mantap.
[Waktu: Senin, 27 April, Pukul 16.30 PM]
[Lokasi: Ruang Makan Apartemen, Shenzhen]
Permainan catur berakhir seri. Tuan Lin tampak mulai menyukai kegigihan Jingshen, meski ia tidak menunjukkannya. "Lumayan. Sekarang, saatnya ujian yang sebenarnya."
Tuan Lin mengeluarkan sebuah botol keramik berisi Baijiu. Aroma alkohol yang tajam langsung menyeruak di ruangan itu. Mama Lin mulai menata gelas-gelas kecil.
Lin Xia panik. Ia menatap Jingshen dan memberikan kode mata yang sangat jelas: "Katakan TIDAK! Anda akan mati kalau minum ini!"
Bahkan Lin Xia mencoba menggerakkan bibirnya tanpa suara, "Jangan berani-berani!"
Jingshen melihat kode dari Lin Xia, tapi kemudian ia melirik Yanran yang sudah siap dengan gelasnya. Harga diri seorang CEO dan seorang pria yang sedang jatuh cinta sedang dipertaruhkan. Jika ia menolak sekarang, ia akan terlihat lemah di depan Tuan Lin.
"Ayo, Nak Jingshen. Pria sejati tidak menolak minuman dari calon... eh, maksudku, dari orang tua temannya," pancing Tuan Lin dengan senyum penuh tantangan.
Jingshen menarik napas panjang, menatap gelas bening yang mematikan itu, lalu menatap Tuan Lin dengan penuh tekad.
"Tentu, Paman. Saya akan merasa terhormat untuk minum bersama Anda," ucap Jingshen tegas.
Lin Xia menepuk dahinya sendiri dan mengembuskan napas panjang. "Habislah kita... Ah Cheng harus menyiapkan ambulans di bawah," gumamnya frustrasi.
Yanran hanya bisa menyeringai. "Semoga beruntung, Kak. Aku akan menyiapkan kamera untuk merekam saat kau mulai bicara pada tembok nanti."
Suasana apartemen itu pun berubah menjadi arena "adu ketahanan" yang akan menentukan siapa yang mendapatkan nilai lebih di mata Tuan Lin. Lin Xia hanya bisa pasrah, menyadari bahwa kedua pria ini benar-benar gila jika sudah menyangkut harga diri.
...****************...