Fauzan Arfariza hanyalah seorang mahasiswa tingkat awal, hidup sederhana dan nyaris tak terlihat di tengah hiruk-pikuk kota. Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit, ia menelan harga diri dan berjuang mengumpulkan uang pengobatan, satu demi satu, di bawah terik dan hujan tanpa keluhan.
Namun takdir kejam menantinya di sebuah persimpangan. Sebuah mobil melaju ugal-ugalan, dikemudikan oleh seorang wanita yang mengabaikan aturan dan nyawa orang lain.
Dalam sekejap, tubuh Fauzan Arfariza terhempas, darah membasahi aspal, dan dunia seolah runtuh dalam kegelapan. Saat hidup dan mati hanya dipisahkan oleh satu helaan napas, roda nasib berputar.
Di ambang kesadaran, Fauzan Arfariza menerima warisan agung Pengobatan Kuno—sebuah pengetahuan legendaris yang telah tertidur selama ribuan tahun. Kitab suci medis, teknik penyembuhan surgawi, dan seni bela diri kuno menyatu ke dalam jiwanya.
Sejak hari itu, Fauzan Arfariza terlahir kembali.
Jarum peraknya mamp
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon O'Liong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perut Bagong
Karaeng Fatimah terpaku antara keterkejutan dan amarah yang meledak di dadanya. Napasnya tercekat, langkahnya terlambat. Segala perhitungan runtuh dalam satu detik ketika bayangan tangan besar itu meluncur ke arahnya, kasar dan tak tahu malu, membawa niat yang membuat darahnya mendidih.
Detik genting itu seakan membeku.
Saat jemari kasar hampir meraih dadanya, sebuah tangan lain muncul seolah terbit dari kehampaan. Gerakannya tenang, tepat, dan tak memberi ruang keraguan. Pergelangan tangan si botak itu terkunci kuat, seperti dijepit ragum besi yang tak mengenal belas kasihan.
“Apa—!”
Si botak terperanjat. Ia mengerahkan seluruh tenaga, urat di lengannya menegang, namun tangannya tak bergeser sejengkal pun. Keringat dingin merambat di pelipisnya. Ia menoleh, matanya membelalak melihat sosok yang sedari tadi berdiri menyendiri, menyaksikan dengan tatapan teduh namun tajam.
Fauzan Arfariza.
Pemuda yang dianggapnya tak lebih dari bayang-bayang, kini berdiri sebagai dinding yang tak tergoyahkan.
“Bocah!” bentak si botak, suaranya menggeram. “Berani-beraninya kau menyentuhku? Lihatlah kekuatan Kepala Besi!”
Nada suaranya sombong, penuh keyakinan. Meski pergelangan tangannya terkunci, ia sama sekali tak panik. Segala kungfunya bertumpu pada kepala. Dengan raungan rendah, ia menjatuhkan kepala dan melesat ke depan, menghantam ke arah dada Fauzan Arfariza seperti banteng mengamuk.
Dalam pikirannya, ini pasti berhasil. Lawan akan melepas cengkeramannya dan menghindar. Jika tidak, satu hantaman Kepala Besi cukup untuk membuat tulang rusuk remuk dan tubuh terkapar berbulan-bulan.
Ilmu Kepala Besinya telah mencapai tingkat menonjol. Dengan sekali sundulan, batang pohon setebal mangkuk bisa patah. Batu prasasti pun bukan tandingan. Ia tersenyum tipis, yakin pada nasib yang akan menimpa bocah itu.
Namun keyakinan sering kali adalah pintu menuju kehancuran.
Fauzan Arfariza tak mundur. Tak setapak pun.
Tatapannya tenang, seolah ia telah melihat akhir dari serangan itu bahkan sebelum dimulai. Tangan kanannya terangkat, kepalan tinju mengeras, Energi Vital berputar sunyi di meridiannya, menyatu dalam satu titik yang sempurna.
“Kau—!”
Karaeng Fatimah menjerit tanpa sadar, “Jangan! Kepalanya—kepalanya sangat kuat!”
Peringatan itu terlambat meluncur, teredam oleh benturan yang menggelegar.
JGEEERRRR....!!!
Tinju dan kepala beradu dalam suara tumpul yang membuat udara bergetar. Sejenak dunia seakan berhenti berputar. Namun hasilnya bertolak belakang dari semua dugaan.
Fauzan Arfariza berdiri tegak, bahkan tak bergeser setengah langkah.
Sebaliknya, tubuh si botak melayang. Ia terlempar enam hingga tujuh meter, menghantam tanah dengan bunyi keras, debu beterbangan menyambut jatuhnya sang Kepala Besi.
Rasa sakit menyerbu kepalanya seperti dihantam kereta besi. Pandangannya berkunang-kunang, telinganya berdenging. Dengan gemetar ia mengangkat tangan, menyentuh dahinya.
Benjolan besar, seukuran telur, menggelembung di kepala yang selama ini ia banggakan.
“A-apa ini…?”
Sentuhan sekecil apa pun membuat nyeri menusuk hingga ke sumsum. Kepala yang konon mampu meretakkan batu kini berdenyut, seolah akan meledak. Ketakutan merayap, menggerogoti kesombongannya.
“Mustahil…” gumamnya. “Dipukul batu pun tak pernah begini. Tinju bocah itu… lebih keras dari palu besi?”
Fauzan Arfariza tak menjawab. Tatapannya dingin, tanpa emosi. Lawannya tadi menginginkan kakinya—dua kakinya. Maka tak ada lagi alasan untuk bersikap lunak.
Langkahnya maju. Tanah seakan menyusut di bawah kakinya. Dalam sekejap ia telah berdiri di hadapan si botak yang masih limbung.
Tinju terangkat.
Hujan pukulan pun turun.
BUG! BUG! BUG! BUG!
Bunyi tinju menghantam daging bergema bertubi-tubi. Fauzan Arfariza tak mengincar tempat lain. Setiap pukulan mendarat tepat di kepala. Tak ada ampun, tak ada jeda.
Benjolan demi benjolan bermekaran. Darah tak mengalir deras, namun pembengkakan membuat kepala itu tampak ganjil, membulat tak beraturan. Wajah si botak memucat, jeritannya tercekik di tenggorokan, berubah menjadi erangan putus asa.
Menit berlalu, namun bagi si botak terasa seperti keabadian yang menyiksa.
Dalam waktu singkat, kepalanya dipenuhi tonjolan-tonjolan besar. Bentuknya kini menyerupai perut bagong yang hidup—ironis, menyedihkan, dan penuh rasa sakit.
“Cukup… cukup… ampun…!”
Suara itu nyaris tak terdengar.
Di dalam SUV yang terparkir tak jauh, Cobra dan Romy Tampubolon terdiam membatu. Mata mereka terpaku pada pemandangan di luar, tak berkedip seolah takut melewatkan satu detik pun.
“Gila…” gumam Romy Tampubolon, wajahnya pucat. “Saudara Cobra, anak buahmu… dia tidak apa-apa, kan? Cepat, panggil orang lain!”
Cobra menelan ludah. Dadanya sesak, amarah dan ketakutan bercampur menjadi satu.
“Panggil apa?” bentaknya putus asa. “Kepala Besi adalah petarung terbaikku! Siapa lagi yang bisa kupanggil?”
Ia menoleh tajam ke arah Romy Tampubolon. “Bukankah kau bilang bocah itu orang biasa? Kau malah menyeretku berhadapan dengan seorang ahli!”
Tangannya mengepal. “Kalau aku tahu dia sekuat ini, jangankan dua ratus juta Rupiah—bahkan dua miliar pun aku tak akan menyentuh urusan ini!”
Romy Tampubolon tersentak, segera menenangkan diri. “Tenang, Saudara Cobra, jangan marah dulu. Aku sudah menyelidikinya. Dia cuma anak miskin, tak punya latar belakang.”
Ia menarik napas, suaranya menurun penuh perhitungan. “Dia sudah memukul orang. Kita laporkan ke polisi saja. Sepupuku di tim kriminal. Kita lihat apakah dia bisa lolos.”
Cobra menggeleng keras, wajahnya mengeras.
“Tidak bisa.”
Nada suaranya berat. “Anak buahku… tangan mereka kotor. Terutama si botak itu. Dia sudah menghabisi satu nyawa orang. Kalau polisi turun tangan, tamatlah semuanya.”
Di luar, Fauzan Arfariza akhirnya menghentikan tinjunya. Ia berdiri, napasnya teratur, seolah yang barusan terjadi hanyalah latihan ringan.
Ia menatap Karaeng Fatimah. “Kau baik-baik saja?”
Karaeng Fatimah mengangguk, matanya masih dipenuhi keterkejutan. “Aku… aku baik. Terima kasih.”
Tatapan mereka bertemu sejenak. Di balik ketenangan Fauzan Arfariza, ada kedalaman yang tak terukur—terdalam yang tersembunyi—seperti samudra sunyi yang menyimpan badai.
Di tanah, si botak tergeletak, kepalanya penuh benjolan, napasnya terengah. Kesombongan yang dulu menguasai dirinya telah hancur, tersisa hanya rasa sakit dan penyesalan.
Hari itu, di bawah langit yang muram, sebuah pelajaran tertanam dalam-dalam: kekuatan sejati bukan terletak pada kepala sekeras batu, melainkan pada keteguhan hati dan Energi Vital yang mengalir selaras dalam Keseimbangan dan Kestabilan.
Dan bagi mereka yang menyaksikan, nama Fauzan Arfariza tak lagi sekadar bayangan. Ia telah berdiri sebagai kenyataan—kenyataan yang tak bisa diabaikan.
---------------
Bab 17: Menjadikannya Perut Bagong (Lanjutan)
Romy Tampubolon menyipitkan mata, bibirnya melengkung membentuk senyum penuh perhitungan. Dengan suara rendah namun yakin, ia berkata, “Saudara Cobra, jangan khawatir. Sekarang posisi kita adalah korban. Sepupuku yang akan datang memimpin. Mereka pasti tidak akan memeriksa identitas siapa pun secara mendalam. Yang akan mereka lakukan hanyalah satu: menangkap bocah itu.”
Ucapan itu menggantung di udara seperti racun manis.
“Ini…”
Cobra ragu. Nalurinya berteriak bahwa ada sesuatu yang keliru, ada bayangan bahaya yang tak kasatmata. Namun sebelum ia sempat menyusun keberatan, Romy Tampubolon sudah mengangkat ponsel dan menekan nomor dengan gerakan mantap. Sambungan terjalin, dan roda nasib pun mulai berputar ke arah yang tak bisa dihentikan.
Di luar SUV, Fauzan Arfariza akhirnya merasa cukup. Pukulan-pukulannya telah menanamkan rasa takut hingga ke tulang. Ia menjulurkan tangan, mencengkeram kerah baju si botak, lalu mengangkat tubuh besar itu seolah tak berbobot.
“Bukankah kau tadi sangat bangga dengan Ilmu Kepala Besimu?” suaranya tenang, namun menekan. “Masih ingin melatihnya?”
Si botak menggeleng keras. Kepalanya terasa berat, pandangannya berkunang-kunang. Ia harus mengerahkan seluruh kesadarannya hanya untuk melihat wajah pemuda di hadapannya dengan jelas. Bintang-bintang kecil seakan menari liar di depan matanya, dengung lebah berputar-putar di telinganya tanpa henti.
Ia benar-benar tak mengerti. Mengapa tinju pemuda ini begitu mengerikan? Dahulu, ketika ia mengasah Kepala Besi dengan menghantam batu dan kayu, ia tak pernah merasakan penderitaan sedahsyat ini.
“Tidak lagi… tidak lagi…” suaranya gemetar, penuh ketakutan. “Kakak Besar, aku benar-benar menyerah. Aku tunduk sepenuhnya. Tolong… ampuni aku sekali ini.”
Dari lubuk hatinya, ia tahu, jika pukulan itu berlanjut, kepalanya benar-benar akan pecah. Bayangan trauma menancap kuat di benaknya. Sejak hari itu, ia yakin satu hal: Ilmu Kepala Besi yang selama ini ia banggakan takkan pernah lagi ia gunakan.
Fauzan Arfariza melepaskan cengkeramannya, lalu menoleh ke arah Karaeng Fatimah yang masih berdiri terpaku. “Bagaimana? Kau ingin memukulnya beberapa kali untuk melampiaskan Energi Vital-mu?”
Karaeng Fatimah menatap pemuda di hadapannya dengan perasaan yang rumit. Tadi, saat ia hanya berdiri menyaksikan, ia sempat menganggapnya pengecut, lelaki tak berguna yang hanya berani menonton. Namun kenyataan menghantam prasangkanya tanpa ampun. Kemampuan Fauzan Arfariza bukan sekadar hebat—ia meledak, mengguncang logika.
Dengan nada kesal, ia berkata, “Kungfumu setinggi ini, mengapa dari tadi tidak membantuku? Apa kau sengaja menunggu untuk melihatku dipermalukan?”
Fauzan Arfariza menghela napas pelan, ada rasa sebal yang sulit ia sembunyikan. “Kau memukulnya dengan penuh semangat, dan tak pernah memintaku turun tangan. Kakak, bukankah sekarang aku membantumu? Tidakkah seharusnya kau berterima kasih?”
Dalam hatinya, ia benar-benar frustrasi. Dalam kisah-kisah lama, ketika seorang pahlawan menyelamatkan seorang perempuan, akhir ceritanya selalu sama—rasa syukur, bahkan kehangatan. Mengapa ketika giliran dirinya, segalanya terasa terbalik?
“Terima kasih kepala besarmu, setan!” bentak Karaeng Fatimah.
Meski mulutnya tajam, jauh di lubuk hatinya, rasa syukur itu ada. Jika pemuda ini tidak turun tangan, kehormatannya mungkin telah diinjak-injak. Namun entah mengapa, harga dirinya menolak untuk mengakui hal itu secara terang-terangan.
Untuk meluapkan amarah yang tersisa, ia melepas sepatu hak tingginya yang masih utuh. Dengan tangan yang tegas, ia mencengkeram si botak dan menghantamkan sepatu itu berkali-kali.
Kepala si botak yang sudah penuh benjolan kini digores keras oleh hak setinggi sepuluh sentimeter. Rasa sakitnya meledak seketika, membuatnya menjerit seperti babi disembelih.
“Cukup!” Fauzan Arfariza akhirnya bersuara. “Hentikan. Kalau kau teruskan, dia benar-benar bisa mati.”
Karaeng Fatimah menghentikan pukulannya. Napasnya terengah, namun dadanya terasa jauh lebih lega. Amarah yang menekan sejak tadi akhirnya terlampiaskan, dan suasana hatinya membaik.
Pada saat itulah, suara sirene memecah udara malam.
Dari kejauhan, enam atau tujuh mobil polisi melaju kencang, lampu mereka berkilat menusuk gelap. Kendaraan-kendaraan itu berhenti serempak, dan lebih dari selusin polisi melompat turun. Di barisan terdepan berdiri seorang pria paruh baya dengan langkah tegas.
Di dalam SUV, Romy Tampubolon menepuk pahanya dengan keras, matanya berbinar penuh kegembiraan. “Bagus! Sepupuku datang sendiri! Bocah itu tamat!”
Pria paruh baya itu maju beberapa langkah dan berteriak lantang, “Siapa yang mengizinkan kalian berkelahi di sini? Semuanya, berhenti!”
Namanya Wang Qiang, seorang kepala regu di tim kriminal. Saat ia mendekat dan matanya menangkap sosok Karaeng Fatimah, wajahnya berubah drastis. “Kapten Karaeng Fatimah? Mengapa Anda ada di sini?”
Teriakan itu bagaikan petir di siang bolong bagi si botak. Baru saja ia berdiri, namun dunia kembali berputar hebat. Lututnya melemas, dan ia jatuh terkapar dengan bunyi berat.
Dalam kepanikan yang tersisa, satu kesadaran pahit menghantamnya: ucapan perempuan itu tadi benar adanya. Ia bukan sembarang orang. Ia benar-benar seorang polisi—bahkan seorang kapten.
Karaeng Fatimah menunjuk para preman yang tergeletak dan berseru tegas, “Orang-orang ini menyerangku dengan senjata dan merusak mobilku. Bawa mereka semua. Selidiki secara menyeluruh, cari tahu siapa dalang di baliknya.”
Tito Sulistyo terkejut. Berani-beraninya mereka menyerang wakil kaptennya sendiri, anggota keluarga Karaeng yang berpengaruh. Apakah mereka sudah bosan hidup bebas?
“Tangkap semuanya! Bawa ke kantor polisi!”
Ia menjadi yang pertama mengeluarkan borgol, memborgol si botak tanpa ragu. Polisi-polisi lain segera bergerak, menyeret para preman satu per satu ke dalam mobil tahanan.
Di bawah cahaya lampu polisi yang berkedip, malam itu menjadi saksi: kesombongan runtuh, intrik terbuka, dan satu nama—Fauzan Arfariza—mulai terukir bukan hanya sebagai dokter pewaris Leluhur Tua, tetapi juga sebagai kekuatan yang tak bisa diremehkan.
MOTTO : Menghadapi wanita tidak tau diri
KENAL, PIKAT, SIKAT, MINGGAT