Dikorbankan kepada dewa di kehidupan sebelumnya, Yun Lan kembali hidup sebelum semuanya hancur. Kali ini, ia punya kekuatan setara sepuluh pria dan satu tujuan: melindungi ayahnya dan menolak takdir.
Untuk mencegah ayahnya kembali ke medan perang, ia menyamar menjadi pria dan mengambil identitas ayahnya sebagai jenderal. Namun di tengah kamp prajurit, ia harus menghadapi panglima Hong Lin—tunangannya sendiri—yang selalu curiga karena ayah Yun Lan tak pernah memiliki putra.
Rebirth. Disguise. Kekuatan misterius. Tunangan yang berbahaya.
Takdir menunggu untuk dibalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.Latihan dan penganti.
Sore turun perlahan di Kamp Perbatasan Timur.
Matahari belum tenggelam, tapi cahayanya sudah berubah warna—dari terik keemasan menjadi jingga berat yang menggantung rendah di atas lapangan latihan.
Angin dari hutan membawa debu tipis yang berputar di udara.
Yun Lan keluar dari barak dengan seragam prajurit yang baru dibagikan siang tadi. Baju perang itu masih kurang besar di tubuh nya, kulitnya belum terbiasa dengan gesekan kain kasar dan pelindung dada dari kulit tebal yang sedikit kebesaran di bahunya.
Di sampingnya, Yun berjalan tenang.
Seragam yang sama tampak… aneh di tubuhnya. Terlalu rapi. Terlalu bersih. Seolah baju perang itu tidak cocok menempel pada seseorang dengan wajah sehalus miliknya.
Tapi terlihat menawan dipakai oleh Yun, semua orang menatap kagum tanpa berkedip kearah wajah Yun.
Beberapa prajurit yang sedang duduk di tepi lapangan berhenti bicara.
Mata mereka mengikuti dua orang baru itu.
Bisik-bisik pelan mulai terdengar lagi.
“Lihat itu.”
“Satunya seperti karung beras dan yang satunya seperti prajurit penghibur.”
Hahaha...
Tawa mereka yang mengema di area latihan.
Yun Lan tidak menoleh.
Ia sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Yang menilai sebelum melihat. Yang meremehkan sebelum menguji.
Di tengah lapangan, Komandan Zhou berdiri dengan tangan di belakang punggung. Di depannya, belasan prajurit sudah berbaris.
Ketika melihat Yun Lan dan Yun mendekat, Zhou mengangguk pendek.
“Tepat waktu.”
Yun Lan dan Yun langsung berdiri di barisan paling belakang.
Xin, Shi, Han, dan Qiao berdiri di barisan depan. Shi melirik ke belakang, menyeringai kecil.
Zhou melangkah maju.
“Sore ini bukan latihan biasa.”
Suara Zhou rendah, tapi cukup keras untuk menembus seluruh lapangan.
“Aku ingin melihat kemampuan dua prajurit baru ini.”
Beberapa kepala menoleh.
Beberapa tersenyum tipis.
Beberapa tampak menunggu hiburan.
“Tidak ada pengecualian,” lanjut Zhou. “Latihan standar prajurit garis depan. Siapa yang tidak sanggup, keluar.”
Matahari menyentuh puncak pohon.
Bayangan mulai memanjang.
“Lari keliling kamp. Sepuluh putaran. Sekarang.”
Beberapa prajurit menghela napas pelan.
Sepuluh putaran bukan main-main. Itu jarak yang biasa ditempuh hanya oleh pasukan inti saat persiapan perang.
Shi menoleh lagi ke belakang, menatap Yun Lan.
“Jangan tumbang sebelum putaran ketiga,” ejeknya.
Zhou mengangkat tangan.
“Mulai!”
Seluruh barisan bergerak.
Debu langsung terangkat dari tanah.
Langkah kaki menghentak bersamaan.
Yun Lan mulai berlari.
Langkahnya stabil.
Tidak cepat.
Tidak lambat.
Napasnya teratur.
Di sampingnya, Yun berlari dengan langkah ringan seperti angin yang mengalir.
Putaran pertama.
Putaran kedua.
Beberapa prajurit mulai mengatur napas.
Putaran ketiga.
Qiao mulai memperlambat langkahnya.
Putaran keempat.
Han mengusap keringat dari wajahnya.
Shi masih di depan, tapi napasnya sudah terdengar berat.
Xin menoleh sekilas ke belakang.
Dan alisnya berkerut.
Yun Lan masih sama.
Langkahnya tidak berubah.
Yun bahkan tidak terlihat berkeringat.
Putaran keenam.
Beberapa prajurit mulai tertinggal.
Putaran ketujuh.
Satu orang keluar barisan, berhenti sambil terengah.
Putaran kedelapan.
Xin mulai menyadari sesuatu.
Dua orang baru itu… tidak melambat.
Putaran kesembilan.
Shi mulai tertinggal.
Putaran kesepuluh.
Yun Lan dan Yun melewati garis akhir bersama-sama.
Tanpa terengah.
Tanpa terhuyung.
Zhou memperhatikan dengan mata tajam.
“Push-up. Seratus.”
Beberapa prajurit mengerang pelan.
Mereka langsung menjatuhkan tubuh ke tanah.
Tangan menahan berat badan.
Hitungan dimulai.
Dua puluh.
Tiga puluh.
Empat puluh.
Napas mulai berat.
Enam puluh.
Beberapa tangan mulai gemetar.
Delapan puluh.
Dua prajurit menyerah.
Sembilan puluh.
Shi menggertakkan gigi.
Seratus.
Zhou belum berhenti.
“Lanjut. Seratus lagi.”
Keluhan kecil terdengar.
Tapi tak ada yang berani protes.
Yun Lan tetap bergerak stabil.
Naik.
Turun.
Naik.
Turun.
Seperti mesin yang tidak mengenal lelah.
Yun di sampingnya bahkan tampak… bosan.
Xin memperhatikan.
Ada sesuatu yang tidak masuk akal.
Tubuh Yun Lan memang besar, tapi gerakannya terlalu efisien.
Tidak ada energi terbuang.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Dua ratus selesai.
“Angkat karung pasir. Lari lima putaran.”
Karung itu berat. Biasanya dipakai untuk melatih prajurit berpengalaman.
Yun Lan mengangkatnya tanpa suara.
Yun melakukan hal yang sama.
Mereka mulai berlari lagi.
Kali ini, beberapa prajurit benar-benar tertinggal jauh.
Shi berhenti di putaran kedua.
Han duduk terengah di tanah.
Qiao bahkan tidak sanggup mengangkat karungnya.
Xin masih bertahan.
Tapi ia kini tidak lagi menoleh dengan ejekan.
Ia menoleh dengan penilaian.
Putaran kelima selesai.
Zhou mengangkat tangan.
“Cukup.”
Sunyi turun di lapangan.
Prajurit-prajurit terduduk di tanah.
Keringat membasahi wajah.
Napas berat terdengar di mana-mana.
Yun Lan meletakkan karungnya pelan.
Yun berdiri di sampingnya.
Masih tegak.
Masih tenang.
Seolah mereka baru saja berjalan santai di taman.
Shi menatap mereka.
Tidak lagi tersenyum.
Han menelan ludah.
Qiao menatap tanah.
Xin berdiri diam, menatap Yun Lan dengan tatapan yang jauh berbeda dari pagi tadi.
Zhou berjalan mendekat.
Berhenti di depan Yun Lan.
“Kalian hebat prajurit baru?”
“Ini seperti latihan pemanasan,komandan,” jawab Yun Lan tenang.
Zhou tersenyum kecil, lalu menoleh ke Yun.
“Kau?”
Yun tersenyum tipis.
“Aku hanya mengikuti tuanku.”
Zhou heran mereka berdua bukan seperti manusia normal, sambil melihat para prajuritnya yang di latih lebih lama dari mereka.
Beberapa prajurit terdiam.
Kalimat itu sekarang terdengar berbeda dari pagi tadi.
Bukan lagi bahan tertawaan.
Zhou mengangguk pelan.
“Kalian tidak malu dengan prajurit baru yang menganggap ini pemanasan, agar kalian tidak malas aku gandakan latihan hari ini dua kali lipat.”
Wajah yang lain tampak tidak sanggup lagi melanjutkan sampai dua kali, tapi Yun lan dan Yun kembali mendahului prajurit yang lain yang masih lemas.
Latihan malam itu terasa intens untuk prajurit lama, berbeda dengan Yun lan dan Yun.
Setelah latihan mereka berjalan kembali, tidak ada lagi tawa kecil.
Tidak ada lagi ejekan.
Hanya tatapan.
Tatapan yang kini… menghitung ulang.
Di tempat lain.
Jauh di utara.
Di perbatasan yang diselimuti angin dingin dan padang rumput luas tanpa ujung.
Sebuah tenda komando berdiri di tengah kamp besar.
Di dalamnya, seorang pria tua dengan rambut memutih berdiri di depan peta besar.
Ia adalah Jenderal Xin.
Tangan tuanya menelusuri garis perbatasan timur.
“Belum ada kabar dari Kamp Perbatasan Timur?” tanyanya.
Seorang ajudan menunduk.
“Belum, Jenderal. Sejak kabar kematian Jenderal Li, posisi itu kosong. Komandan Zhou hanya menjaga sementara.”
Jenderal Xin menghela napas panjang.
“Bodoh.”
“Maaf, Jenderal?”
“Perbatasan itu terlalu penting untuk dibiarkan tanpa pemimpin utama.”
“Aku yakin Li belum meninggal, karena jasadnya tidak ada. ”lanjut jenderal Xin yang emosi.
Ia menatap peta lama.
Matanya melembut sedikit.
“Li… sebenarnya kamu dimana?.”
Sejenak, keheningan menyelimuti tenda.
Lalu ia berbalik.
“Panggil putraku.”
Beberapa saat kemudian, seorang pria tinggi dan gagah masuk dan dia adalah Xin hong li.
Langkahnya tenang.
Matanya tajam.
Wajahnya tegas.
Ia membungkuk hormat.
“Ayah.”
Jenderal Xin menatapnya lama.
“Kau ingat Jenderal Li?”
“Tentu.”
“Sahabatku,sudah lama membiarkan perbatasan timur tanpa pemimpin.”
Ia menunjuk ke peta.
“Tempatnya kosong. Terlalu lama.”
Pria itu menatap peta.
Perbatasan timur.
Wilayah hutan, rawa, dan jalur musuh paling sering menyusup.
“Kau ku tugaskan ambil kepemimpinan perbatasan timur,sampai ada kabar jenderal Li. ”
Pria itu tidak bertanya.
Tidak menolak.
“Sebagai penganti jenderal Li, apa kaisar mengetahui nya?.”
Matanya sedikit berubah.
Bukan karena tugasnya.
Tapi karena nama itu.
Li.
Ia mengangguk.
“Jangan khawatir,aku sudah berunding dengan kaisar.Hanya kaisar yang tahu keberadaan nya,tapi sepertinya ada kendala pada jenderal Li sehingga dirinya tidak segera melaksanakan perintah Kaisar.”
“Besok pagi,aku berangkat jenderal.”
Angin luar tenda berdesir keras.
Dan jauh di timur…
Dua prajurit baru baru saja mulai menapaki jalan yang akan mengubah seluruh kamp itu.