Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.
Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.
Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Siang Bersama Vino
Raisa berlari meninggalkan ruang rapat seolah-olah iblis sendiri sedang mengejarnya. Di koridor yang sunyi itu, suara langkah sepatunya yang beradu dengan lantai granit terdengar seperti detak jantungnya yang sedang memompa adrenalin dalam kecepatan gila. Wajahnya terasa terbakar, semburat merah padam menjalar hingga ke leher dan telinganya.
Apa yang baru saja kulakukan? jerit Raisa dalam hati. Ia meremas tali tasnya dengan jemari yang gemetar. Ciuman nekat itu—meski hanya menyentuh sudut bibir Arash—terasa seperti ledakan yang menghancurkan seluruh kewarasannya.
"Raisa?"
Suara itu datang dari arah samping, tepat di depan mesin kopi. Raisa tersentak hebat, tubuhnya hampir terhuyung ke depan jika ia tidak segera mencengkeram dinding koridor. Di sana, berdiri Vino yang sedang menyandarkan bahunya pada dinding, menatapnya dengan kening berkerut namun ada binar geli di matanya.
"Kamu ... kenapa?" Vino melangkah mendekat, memperhatikan wajah Raisa yang masih merah membara. "Habis dikejar hantu atau baru saja melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat di dalam sana?"
Raisa menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya di balik helaian rambutnya yang sedikit berantakan. "T-tidak, Pak Vino. Saya ... saya hanya terburu-buru karena masih ada pekerjaan yang tertinggal."
Vino terkekeh pelan, sebuah suara yang hangat dan santai. Ia memperhatikan bagaimana Raisa tidak berani menatap matanya. "Wajahmu tidak bisa bohong, Raisa. Merah sekali. Jangan bilang Pak Arash kembali memarahimu setelah semua orang keluar? Padahal presentasimu tadi sangat sempurna."
Vino sempat ingin menggoda lebih jauh, kata-kata seperti 'Atau jangan-jangan Pak Arash baru saja menyatakan cinta padamu?' hampir saja lolos dari bibirnya. Namun, melihat betapa rapuhnya Raisa saat ini, ia menahannya. Vino adalah pria yang peka, ia tahu ada garis tipis antara candaan dan intimidasi, dan ia tidak ingin membuat Raisa semakin tidak nyaman.
"Sudahlah," ujar Vino sembari melirik jam di pergelangan tangannya. "Ini sudah jam makan siang. Sepertinya kamu butuh asupan oksigen dan makanan yang enak untuk mendinginkan kepalamu itu."
Raisa mendongak, sedikit ragu. "Makan siang?"
"Ya," Vino mengangguk mantap. Ia menegakkan tubuhnya, merapikan jas abu-abunya dengan gerakan yang elegan. "Sebagai tanda keberhasilanmu atas rapat tadi. Kamu sudah menyelamatkan muka divisi administrasi, dan saya rasa itu layak dirayakan. Anggap saja ini traktiran kecil dari senior untuk junior yang hebat."
Seketika, kata-kata Arash semalam berputar di kepala Raisa seperti kaset rusak, 'Di kantor, kau dilarang makan bersamaku atau staf level manajerial lainnya tanpa undangan resmi. Jangan pernah muncul di kafetaria saat jam makan siang bersamaku.'
Raisa terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Arash melarangnya makan dengan siapa pun kecuali "undangan resmi". Bukankah ajakan Vino sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan rapat bisa dikategorikan sebagai "makan siang perayaan resmi"? Lagipula, Arash tadi pagi menghinanya, memaksanya memberikan kembali bekalnya, dan memperlakukannya seperti pajangan. Kenapa ia harus selalu patuh pada pria yang baru saja ia cium dengan perasaan benci sekaligus bingung itu?
"Baiklah, Pak Vino," sahut Raisa dengan nada yang lebih berani. "Saya rasa ... ini adalah perayaan resmi atas laporan tadi, bukan? Jadi saya terima ajakannya."
Vino tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Nah, begitu dong. Ayo, kita ke restoran di seberang gedung saja. Di sana udaranya lebih segar daripada kafetaria kantor yang penuh gosip."
Mereka berjalan menuju lift karyawan. Saat pintu lift terbuka, Raisa berdoa dalam hati agar tidak bertemu Arash. Namun, keberuntungan sedang tidak berpihak padanya.
Di dalam lift pribadi yang pintunya kebetulan terbuka di saat bersamaan di lobi, Arash berdiri dengan tangan terselip di saku celana. Ia baru saja turun, mungkin hendak menuju mobilnya. Matanya yang tajam seperti elang langsung menangkap sosok Raisa yang berjalan berdampingan dengan Vino.
Vino, yang tidak menyadari ketegangan antara pasangan kontrak itu, membungkuk hormat. "Siang, Pak Arash."
Arash tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju pada Raisa—sebuah tatapan yang dingin, menusuk, dan sarat akan ancaman. Ia memperhatikan bagaimana Raisa mencoba membuang muka, menghindari kontak mata setelah kejadian di ruang rapat.
"Mau ke mana, Vino?" tanya Arash, suaranya rendah dan bergetar, memberikan tekanan yang membuat suasana lobi yang luas itu mendadak terasa sempit.
"Oh, ini Pak. Saya mau mengajak Raisa makan siang untuk merayakan suksesnya rapat tadi. Dia hebat sekali hari ini," jawab Vino dengan jujur tanpa beban.
Rahang Arash mengeras. Ia melirik Raisa, mencari tanda-tanda penolakan di wajah istrinya, namun yang ia temukan hanyalah ketegaran yang dipaksakan. Arash teringat aturan yang ia buat sendiri, hanya boleh makan bersama jika ada undangan resmi.
"Apakah ada memo resmi untuk makan siang perayaan ini yang sampai ke mejaku, Vino?" tanya Arash dengan nada sarkas yang mematikan.
Vino sedikit tertegun, tawa kecilnya menghilang. "Eh, tidak ada Pak. Ini hanya inisiatif pribadi saya sebagai apresiasi ...."
"Jika tidak ada memo resmi, maka ini bukan urusan kantor," potong Arash kasar. Ia melangkah mendekat, aroma parfumnya yang dominan seolah mengklaim wilayah di sekitar Raisa. Ia menatap Raisa tepat di matanya. "Bukankah begitu, Nona Raisa? Kau tahu aturannya, bukan?"
Gorden lobi kantor yang menjulang tinggi seolah membiaskan cahaya matahari yang panas, namun bagi Raisa, suhu di sekitarnya mendadak anjlok hingga ke titik beku saat mata elang Arash mengunci pergerakannya. Raisa merasa oksigen di paru-parunya menipis. Setiap inci kulitnya masih meremang, sisa dari nekatnya ia mencium sudut bibir pria itu di ruang rapat tadi.
Vino, yang tetap berdiri dengan sikap santai namun sopan, kembali memecah keheningan yang menyesakkan itu. "Hanya makan siang sebentar, Pak Arash. Tidak jauh, hanya di seberang jalan. Saya rasa Raisa butuh sedikit udara segar setelah presentasi yang cukup menguras energi tadi."
Arash tidak segera menjawab. Ia berdiri mematung, satu tangannya masih terbenam di saku celana bahan yang disetrika sempurna. Matanya tidak beralih dari wajah Raisa yang menunduk. Di balik wajahnya yang datar, Arash sedang berperang dengan emosi yang sangat asing baginya. Rasa panas di sudut bibirnya belum hilang, dan melihat wanita yang baru saja melakukan itu padanya sekarang hendak pergi dengan pria lain—yang ia tahu memiliki ketertarikan pada Raisa—membuat darahnya mendidih.
"Udara segar?" Arash mengulang kata-kata Vino dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan predator. "Sejak kapan divisi administrasi memiliki kebijakan untuk memberikan 'udara segar' di tengah jam kerja yang masih padat?"
"Ini bukan kebijakan perusahaan, Pak," Vino mencoba membela, suaranya tetap tenang meski ia bisa merasakan aura permusuhan yang terpancar dari bosnya. "Ini murni apresiasi saya. Raisa sudah bekerja sangat keras untuk laporan itu. Bahkan saya dengar dia lembur semalam."
Mendengar kata 'lembur', rahang Arash mengeras. Lembur denganku, bukan denganmu, batinnya geram. Arash melangkah maju satu tahap, mendekati Raisa hingga ia bisa mencium aroma lembut parfum wanita itu yang bercampur dengan aroma keringat dingin karena gugup.
"Nona Raisa," panggil Arash, menekankan setiap suku kata nama itu seolah itu adalah sebuah peringatan. "Bukankah aku sudah menetapkan protokol mengenai interaksi antardivisi selama jam operasional? Makan siang perayaan tanpa disposisi dariku adalah pelanggaran disiplin."