NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Nikah Paksa, Tapi Kok Baper

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Nara Amelinda dan Arga Wiratama dipaksa menikah demi janji lama keluarga, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Namun hidup serumah yang penuh pertengkaran konyol justru menumbuhkan perasaan tak terduga—membuat mereka bertanya, apakah pernikahan ini akan tetap sekadar paksaan atau berubah menjadi cinta sungguhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prasmanan Cemburu dan Audit Harga Diri

Malam itu, koridor lantai 12 apartemen The Zenith berubah menjadi medan tempur aromatik. Bau sate kambing dan opor ayam menyeruak dari unit 1208, tempat Raka mengadakan syukuran pindah rumah.

Nara sebenarnya ingin pura-pura pingsan atau mendadak amnesia agar tidak perlu datang, tapi Arga dengan kesadaran ego auditornya yang setinggi gedung Burj Khalifa itu justru bersikeras hadir.

"Kita harus datang, Nara. Secara etika bertetangga, menolak undangan tanpa alasan medis atau keadaan darurat nasional akan menurunkan citra sosial kita di mata penghuni lain," ujar Arga sambil merapikan kerah kemeja navy-nya yang pas di badan.

Nara menatap Arga horor.

"Ga, ini bukan soal citra sosial tapi Ini soal mantan aku yang masih bau-bau mau modus! Kamu nggak lihat tadi siang dia kirim pesan pakai emotikon senyum? Itu kode bahaya!"

Arga berhenti merapikan rambutnya, lalu menoleh ke Nara. Matanya menyipit tajam.

"Dia mengirim emotikon? Secara digital, itu adalah polusi visual. Itulah alasan kenapa kita harus datang. Saya perlu melakukan sinkronisasi data agar dia paham bahwa posisi senyum itu sudah ada pemilik tetapnya."

Nara mendesah pasrah.

"Oke, tapi jangan kaku-kaku banget ya! Nanti orang-orang pikir aku nikah sama patung pameran jas."

Begitu mereka melangkah masuk ke unit Raka, suasana sudah ramai. Ada beberapa teman lama Nara saat kuliah dan beberapa penghuni apartemen lainnya. Raka, yang memakai kaos v-neck yang sengaja memperlihatkan hasil gym-nya, langsung menyambut mereka.

"Wah, pengantin baru kita datang!" seru Raka cukup keras hingga semua orang menoleh.

"Nar, apa kabar? Masih suka telat bangun pagi nggak? Dulu kan aku harus telepon berkali-kali biar kamu nggak telat kelas."

Nara merasa ingin menelan dispenser bebek kuningnya saat itu juga.

"Hahaha... itu kan zaman purba, Ka. Sekarang ada 'alarm' hidup yang kalau aku telat dikit langsung dikasih ceramah tentang efisiensi waktu."

Arga melangkah maju, tangannya dengan posesif merangkul pinggang Nara, menariknya sangat dekat hingga tidak ada celah udara di antara mereka.

"Betul... Dan alarm saya memiliki fitur tambahan untuk memastikan Nara selalu merasa nyaman... di dalam pelukan saya."

Suasana mendadak hening sesaat. Teman-teman Nara bersorak

"Cieee!", sementara wajah Raka sedikit berkedut.

"Silakan makan, Bro Arga. Nar, ini ada sate favorit kamu. Aku masih inget tukang sate langganan kita dulu," ujar Raka sambil menyodorkan sepiring sate.

Arga mengambil piring itu sebelum tangan Nara menyentuhnya. Ia memperhatikan sate tersebut seolah-olah sedang memeriksa laporan keuangan yang mencurigakan.

"Dagingnya terlihat terlalu berminyak," komentar Arga datar.

"Nara memiliki sensitivitas pencernaan terhadap lemak jenuh yang berlebihan. Sebagai suaminya, saya bertanggung jawab atas asupan kalori dan kolesterolnya."

Arga kemudian mengambil satu tusuk sate, lalu menyuapkannya ke mulut Nara dengan gerakan yang sangat intim.

"Buka mulutmu, Sayang. Biar saya pastikan kamu hanya memakan bagian yang paling empuk."

Nara melongo, tapi tetap membuka mulut.

Ya ampun, Arga kalau cemburu kenapa jadi agresif begini sih? Sangat bahaya jika terus seperti ini.

Raka yang melihat itu mulai panas.

"Santai aja, Ga. Dulu Nara sering kok makan dipinggir jalan sama aku, nggak pernah ribet soal kolesterol. Dia itu jiwanya bebas, mungkin sekarang aja dia ngerasa... agak terkekang?"

Arga meletakkan tusuk sate yang sudah kosong ke piring. Ia menatap Raka dengan tatapan Auditor Killer.

"Terkekang adalah istilah untuk mereka yang tidak memiliki arah. Nara tidak terkekang, dia sedang berada dalam manajemen yang tepat," sahut Arga dingin.

"Dan bicara soal masa lalu, itu adalah variabel mati. Dalam bisnis maupun hubungan, kita hanya menghitung current value dan future prospect. Dan di kedua kolom itu, nama Anda tidak terdaftar sama sekali."

Nara hampir saja tepuk tangan.

Gila, suamiku kalau ngomong pedesnya ngalahin seblak level 10! kalimatnya bener-bener ,aku nggak ngerti sama sekali!

Acara berlanjut dengan permainan kecil. Raka sengaja mengatur agar ia satu tim dengan Nara dalam permainan tebak kata.

"Ayo Nar, kita kan dulu chemistry-nya oke banget!" ajak Raka.

Arga tidak berkata apa-apa, tapi tangannya yang memegang gelas jus jeruk terlihat memutih karena genggaman yang terlalu kuat. Saat Raka mencoba memegang pundak Nara untuk mengarahkan posisinya, Arga secara tidak sengaja tersandung karpet dan jus jeruk di tangannya tumpah tepat di kaos Raka.

"Oh, maaf. Terjadi gangguan keseimbangan mendadak," ujar Arga tanpa ekspresi bersalah sedikit pun.

"Waduh! Kaos gue!" Raka panik dan lari ke kamar mandi.

Nara menarik Arga ke sudut ruangan.

"Ga! Kamu sengaja kan?! Aku tahu ya, robot nggak mungkin mendadak hilang keseimbangan kecuali sistemnya rusak!"

Arga menatap Nara, napasnya sedikit memburu.

"Sistem saya memang rusak sejak kita masuk ke sini, Nara. Melihat dia mencoba menyentuhmu membuat saya ingin melakukan audit fisik pada wajahnya."

Nara tertegun. Ia melihat kemarahan dan ketakutan akan kehilangan di sorot mata Arga. Ia menyadari bahwa kekakuan Arga malam ini adalah bentuk pertahanan diri karena ia mulai jatuh hati pada Nara, meski ia belum bisa mengatakannya dengan lancar.

Nara tersenyum manis, ia berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Arga.

"Tenang aja, Pak Audit. Walaupun dia punya otot gym, cuma kamu yang punya akses ke server utama aku. Lagipula otot robot ini lebih keras dan kencang dibanding anomali nggak jelas itu, mau pulang sekarang?"

Mereka tidak pamit secara formal pada Raka yang masih sibuk mengeringkan kaosnya. Arga menarik Nara keluar, berjalan cepat menuju unit 1205. Begitu pintu apartemen mereka tertutup dan terkunci, Arga langsung memojokkan Nara di balik pintu.

Napas Arga terasa panas di wajah Nara.

"Jangan pernah lagi meminta saya untuk bersikap ramah pada variabel masa lalu seperti dia."

"Iya, iya... maaf ya, tapi bukannya kamu tadi yang maksa mau Dateng ya!" ujar Nara pelan, tangannya bermain di kancing kemeja Arga. "Tapi kamu tadi keren banget tahu. Cemburunya... membabi buta tapi tetep estetik."

Arga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mencium Nara dengan sangat intens, seolah ingin menghapus setiap sisa ingatan tentang Raka dari pikiran Nara. Di balik pintu apartemen yang sunyi, Arga membuktikan bahwa meskipun mereka menikah karena paksaan orang tua, cinta yang tumbuh di antara mereka jauh lebih nyata daripada janji mana pun.

"Nara..." bisik Arga di sela ciumannya.

"Ya?"

"Besok, saya akan membeli unit 1208 jika perlu. Agar tidak ada pria lain yang berjarak hanya sepuluh meter dari kamu."

Nara tertawa kencang sambil memeluk suaminya.

"Dasar sultan auditor! Udah ah, mending kita audit isi kulkas aja, aku laper belum makan sate beneran tadi!"

Malam itu, syukuran Raka mungkin kacau, tapi bagi Arga dan Nara, itu adalah perayaan kemenangan atas perasaan mereka yang semakin tak terkendali.

1
icebakar
win win solution🤣/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!