NovelToon NovelToon
Setelah Kepergianmu

Setelah Kepergianmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: naisa strong

Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.

"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.

Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.

Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Armand dan pak Hanung bertengkar

"Mengapa harus di halaman parkir rumah sakit sih, pah?" Tanya Armand setelahnya sampai di hadapan pak Hanung. "Kita kan bisa bicara di.." Belum sampai selesai bicara Armand langsung mendapatkan tamparan keras dari pak Hanung.

Armand terkejut bukan main. "Pah." Sembari memegangi pipi kirinya yang memerah akibat tamparan papa mertuanya.

"Papa kecewa sama kamu, Armand!" Kemarahan pak Hanung semakin bertambah.

"Pah, tolong jelasin pah! Maksud papa apa? Kenapa papa tampar, Armand?" Armand yang protes mengapa datang-datang, papa mertuanya menampar nya.

Pak Hanung geleng-geleng kepala kecil dengan wajah kecewanya terhadap Armand. "Kamu pikir apa putri aku, Armand?" Sinis pak Hanung.

Armand semakin bingung dengan papa mertuanya karena tak kunjung menjelaskan.

"Alma semalam berjuang kesakitan melahirkan anak dan baru saja anak kamu lahir, papa lihat kamu mengajukan tes DNA terhadap anak kamu sendiri." Pak Hanung dengan kemarahan sekaligus kecewa terhadap Armand.

Armand begitu terkejut mendengarnya. Tidak menyangka jika papa mertuanya mengetahui tindakan nya.

"Kenapa kamu diam?!" Pak Hanung mencecar Armand supaya menjelaskan.

Armand semakin bingung menjelaskan. "Maafkan Armand, pah. Armand terpaksa melakukan ini." Armand dengan penyesalan nya. Armand kemudian menjelaskan jika Alma menyembunyikan sesuatu darinya. Armand juga membicarakan terkait semua kenangan pria yang ada dalam ruangan rahasia Alma. Armand juga memberitahu kepada papa nya jika tes DNA ini dia lakukan semata untuk lebih meyakinkan jika putra nya benar-benar darah daging nya.

Plak. Suara tamparan pak Hanung kembali kepada Armand. "Jadi maksud kamu Alma berkhianat, begitu Armand?!" Teriaknya di depan wajah Armand. "Papa berani bersaksi, jika selama kamu di Amerika, sekalipun Alma tidak pernah berkhianat pada mu, Armand." Lanjut pak Hanung menekankan kepada Armand.

Armand hanya bisa tertunduk lesu. Sudah berusaha menjelaskan kepada papa mertuanya, namun sepertinya pak Hanung tidak sedikitpun mengerti perasaan nya. Ya, pak Hanung pasti akan membela Alma. Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah tindakannya sepenuhnya salah?

"Dengan kamu tes DNA anak kamu, itu penghinaan bagi papa, Armand!" Semakin tidak terima pak Hanung. "Papa tidak sangka, di depan Alma kamu begitu pintar bersandiwara. Tapi di belakang Alma, kamu bahkan meragukan anak kamu sendiri, Armand."

Air mata Armand mengambang. "Tolong papa jangan cerita ke Alma." Pinta Armand kepada papa mertua nya.

"Kamu sangat mengecewakan papa, Armand." Sedihnya pak Hanung ketika putrinya dituding berselingkuh dengan pria lain oleh menantunya.

"Harapan ku, hasilnya positif pah. Harapan ku anak itu darah daging ku, pah. Kalau papah tahu perasaanku, aku juga sedih harus melakukan ini. Inginku, aku tidak melakukan ini kepada Alma. Tapi sekali lagi mohon maaf, pah. Alma bahkan tidak memberi tahuku terkait kehamilannya sejak awal. Alma terkesan menyembunyikan nya dariku. Itulah sebabnya, aku mengajukan tes DNA ini." Armand berusaha membuat pak Hanung mengerti.

"Aku yakin, Alma tidak berkhianat padamu, Armand." Pak Hanung yang menepuk pundak Armand lalu pergi. Jujur perasaan nya hancur mengapa Armand tega mencurigai putrinya. Terkait semua penjelasan Armand, baginya semua omong kosong karena pak Hanung sangat mengenal putri nya.

Armand yang masih bergeming. Hampir tidak percaya jika tindakannya bisa dengan cepat diketahui oleh papa mertuanya.

Alma yang sudah bangun dari tidurnya pasca operasi tengah menimang putranya dengan penuh bahagia. Begitu juga dengan pak Hanung dan ibu Olivia, dapat merasakan kebahagiaan Alma. "Mas Armand, kemana ma?" Tanya Alma yang tidak mendapati Armand di ruangan itu.

"Mama juga nggak tahu kemana Armand. Tadi di kantin juga baksonya belum sampai dimakan, Armand sudah buru-buru pergi."

Pak Hanung yang mendengar nama Armand seketika berubah diam.

Armand yang kemudian membuka pintu ruangan Alma. Menatap semuanya tapi tidak dengan pak Hanung yang mendadak mengajak ibu Olivia pulang dimana Armand baru saja datang.

"Lho, kok pulang sih, pah. Papah kan belum tahu nama anak aku." Protes Alma meminta papa nya untuk tetap tinggal.

"Iya, nggak tahu tuh papa kamu." Ibu Olivia heran.

"Kamu dari mana, mas?" Tanya Alma yang memperhatikan wajah Armand sedikit lebam-lebam. "Ini kenapa? Kok biru-biru begini." Alma betul-betul memperhatikan wajah suaminya. "Kamu habis berantem sama siapa, mas?" Alma semakin panik. Sementara Arman tertunduk tanpa sepatah kata.

Berbeda dengan pak Hanung yang berusaha tidak terjadi apa-apa antara dirinya dengan Armand. "Jangan bilang kamu terpeleset, Mand pas di toilet. Licin soalnya tadi lantai toilet." Pah Hanung menambahkan.

"Masak sih, pah? Kok bisa?" Alma yang tidak berhenti memperhatikan Armand dari ujung bawah sampai ke atas.

"Sudah, sudah, Al. Aku nggak apa-apa kok. Ada sedikit salah paham aja tadi." Armand berusaha menenangkan kan Alma.

"Salah paham sama siapa?" Alma masih mencecar suaminya.

"Al, aku nggak apa-apa. Oh, ya katanya kamu mau memberi tahu mama dan papa terkait nama anak kita. Siapa namanya?" Armand berusaha mengalihkan pembicaraan Alma.

Alma kemudian tersenyum. "Namanya, Arkana Aryasatya Samudera. Bagaimana menurut kalian?" Alma yang meminta persetujuan mama dan papa.

"Nama yang bagus. Mama panggil Arkan aja ya." Jawab ibu Olivia sembari menimang-nimang cucunya.

Sementara pak Hanung yang berusaha mengeja nama cucunya. Mengulang-ngulangnya sampai dia hafal betul dan memanggilnya dengan panggilan Arkan.

Untuk sementara pak Hanung dan Armand menyembunyikan perang dinginnya di depan Alma. Tampak tidak terjadi apa-apa dimana Armand sedikit canggung dengan papa mertuanya, pak Hanung yang menyimpan marah dan kecewa terhadap Armand. Di depan Alma dan ibu Olivia, semuanya tampak baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, Zahrin, Akhyar, Arsyad dan Arsyla datang menjenguk Alma. Alma tampak bahagia memeluk Zahrin. Mengatakan rasa tidak percaya nya kalau sekarang dia sudah memiliki anak dan sebentar lagi akan dipanggil mama.

Akhyar yang mendengarnya ikut tertawa. Mengingat Alma gadis manja yang dulunya suka hura-hura. Hampir tidak percaya jika perempuan dihadapannya sudah melahirkan anak. "Semoga kamu bisa mengurus nya ya Al." Celetuk Akhyar yang bercanda dimana dibalas juga dengan Alma yang tertawa.

"Apa an sih, mas. Ya, kalau pun aku belum bisa, kan ada mama. Ya, kan ma?" Alma menoleh ke ibu Olivia yang disambut dengan tawa kecil dari mama nya.

Sementara Arsyad dan Arsyla, yang memanggil-manggil adek Arkan dengan gemas. Keduanya bahkan menangis kala adek Arkan diminta perawat untuk kembali ke ruangan bayi.

Akhyar dan Zahrin yang berusaha menenangkan Arsyad dan Arsyla. Mereka akhirnya memutuskan untuk berpamitan dan sebaiknya pulang. Begitu juga dengan ibu Olivia dan pak Hanung, mengingat hari sudah malam, keduanya juga sebaiknya beristirahat di rumah.

Tertinggal Armand dan Alma di ruangan. Alma yang masih penasaran dengan lebam-lebam di pipinya suaminya, Alma mengulang pertanyaan nya kembali. "Salah paham sama siapa sih?" Tanya Alma yang mengelus-elus pipi Armand sembari memperhatikan luka lebam nya.

"Udah lah, jangan dibahas lagi. Nggak penting, Al. Yang terpenting sekarang, kamu dan Arkan sehat-sehat semua." Armand meminta Alma untuk melupakan luka lebamnya.

Keesokan harinya.

Armand yang dipanggil dokter Vanya terkait tes DNA yang diajukan nya. Pak Hanung yang melihatnya, berhenti dan meminta ibu Olivia untuk melanjutkan ke ruangan Alma.

Armand yang sudah selesai berbincang dengan dokter Vanya. Terkejut bukan main, ternyata papa mertuanya sudah berdiri di sampingnya.

"Kapan hasilnya, Mand?" Tanya pak Hanung

Bersambung

1
Vanni Sr
semua novel ny saling berkaitan , jd hrus baca semua ny. g seru. hrus ny stop pke crta baru tp ini saling berkaitan yg di wjibkn baca judul sblm nya biar ngerti hadeeeuh
naisa strong: 😄😄😄trik marketing kak🤣🤣 supaya kakak juga baca yang sebelumnya dan semakin banyak novel penulis yang terbaca oleh pembaca yang alhasil kalau banyak yang koment suka dan baca penulis dapat cuan kak....hehehhehe🤣🤣😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!