NovelToon NovelToon
Cinta Di Tengah Perang Abadi

Cinta Di Tengah Perang Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Kultivasi Modern / Perperangan / Sci-Fi / Action / Cinta Murni
Popularitas:773
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.

Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Gudang Karat

Lantai logam yang berkarat itu mengerang di bawah pijakan bot militer Li Wei. Uap panas yang membubung dari tungku-tungku peleburan tua di hadapan mereka menciptakan tirai fatamorgana yang mengaburkan pandangan. Setelah baru saja meloloskan diri dari bisingnya Pasar Neon dan kepungan polisi pasar, keheningan di dalam gudang raksasa ini terasa jauh lebih mengancam. Bau besi berkarat dan debu industri yang kering mencekat kerongkongan, memaksa Xiao Hu untuk menutupi hidungnya dengan kain kusam.

"Tempat ini terasa seperti kuburan," bisik Xiao Hu. Genggamannya pada tas peralatan mekaniknya mengencang, jemarinya yang masih kecil bergetar pelan.

Chen Xi melangkah di samping Li Wei, matanya yang tajam menyapu setiap sudut langit-langit gudang yang dipenuhi kabel-kabel menjuntai. "Memang kuburan. Gudang Karat adalah wilayah di mana hukum Kekaisaran dianggap sampah, tapi jangan berharap ada kebebasan di sini. Tempat ini milik Feng Mian."

Li Wei tidak menyahut. Punggungnya terasa panas; komponen penstabil saraf militer seri-X yang baru saja dipasang oleh Xiao Hu di lorong sebelumnya kini sedang berdenyut, menyatu dengan sumsum tulang belakangnya. Ia bisa merasakan frekuensi energinya jauh lebih stabil sekarang, sebuah ketajaman yang berbahaya mulai merayap kembali ke dalam indranya.

"Kau merasakannya, Li Wei?" tanya Chen Xi, suaranya berubah menjadi nada taktis yang dingin.

"Tiga orang di lantai atas, dua di balik tumpukan kontainer sebelah kiri," jawab Li Wei tanpa menghentikan langkah. "Dan satu orang dengan tanda energi yang lebih besar tepat di depan kita."

Pilar cahaya matahari yang menembus celah atap seng menerangi bagian tengah gudang. Di sana, seorang pria dengan zirah berat berwarna hitam kusam berdiri dengan tangan bersedekap. Di bahunya tertempel lambang korporasi Naga Laut yang telah dimodifikasi—sebuah tanda bahwa ia adalah tentara bayaran yang tidak lagi terikat protokol.

"Selamat datang di istanaku, Sang Pedang Dingin," suara berat itu menggema, memantul di dinding-dinding besi. "Atau haruskah aku memanggilmu buronan nomor satu sekarang?"

Kapten Feng melangkah maju. Matanya kecil dan penuh kelicikan, menatap wajah Li Wei yang kini terpampang jelas tanpa tudung. Di sampingnya, sebuah drone pemantau berbentuk bola mata logam melayang perlahan, lensanya yang merah berkedip-kedip seolah sedang mengirimkan data ke suatu tempat yang jauh.

"Feng," Li Wei menyebut nama itu dengan nada yang menghina. "Aku tidak punya waktu untuk urusan pasar gelapmu. Beri kami jalan ke wilayah pinggiran, atau aku akan merobek gerbang ini dengan kepalamu."

Feng tertawa kasar, sebuah bunyi yang terdengar seperti logam beradu. "Dulu, mungkin aku akan gemetar mendengar ancamanmu, Perwira. Tapi sekarang? Kau hanyalah aset kedaluwarsa yang tidak punya rumah. Kekaisaran ingin kepalamu, dan Naga Laut menginginkan chip di dalam kepalamu. Bayangkan berapa banyak emas yang akan aku dapatkan malam ini."

"Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang berada di kasta rendah," sela Chen Xi, matanya berkilat saat ia mulai memindai lingkungan sekitar melalui sensor di pergelangan tangannya.

"Dan kau, si tikus penipu dari Naga Laut," Feng menoleh ke arah Chen Xi. "Aku sudah mendengar kekacauan yang kau buat di Pasar Neon. Geng Naga Merah sedang mencari kalian karena chip rusak itu. Tapi jangan khawatir, mereka tidak akan menemukan kalian. Karena hanya mayat kalian yang akan keluar dari sini."

Feng menjentikkan jarinya. Tiba-tiba, mesin-mesin tua di dalam gudang menderu hidup. Di atas mereka, pipa-pipa besar terbuka dan menyemburkan serbuk putih masif yang segera memenuhi udara seperti kabut tebal.

"Debu terigu?" Xiao Hu terbatuk, matanya mulai berair.

"Bukan sembarang debu," desis Li Wei, menarik Xiao Hu ke belakang punggungnya. "Ini taktik ledakan debu. Satu percikan saja, dan seluruh tempat ini akan meledak secara termobarik."

"Pintar," Feng berseru dari balik kabut debu yang pekat. "Di sini, kecepatan Neuro-Sync mu tidak berguna jika kau tidak bisa melihat. Sensor drone-ku menggunakan termal inframerah yang disinkronkan dengan sistem faksi. Sedangkan kalian? Kalian buta."

Desing peluru pulsa tiba-tiba membelah kabut. Li Wei bergerak dengan refleks yang luar biasa, menarik pedang Bailong-Jian miliknya. Denting logam terdengar saat ia menangkis peluru dalam kegelapan, percikan apinya menerangi wajahnya yang kini terlihat dingin dan tanpa emosi.

"Xiao Hu, tiarap!" instruksi Li Wei singkat namun penuh wibawa.

"Chen Xi, koordinat!" teriak Li Wei lagi.

"Dua belas meter di depanmu, bergerak ke kanan!" Chen Xi menjawab, suaranya terdengar dari arah yang berbeda. "Dia menggunakan magnetik untuk menggeser posisi drone. Jangan gunakan serangan energi besar, atau debu ini akan memanggang kita semua!"

Li Wei memejamkan mata. Ia berhenti mengandalkan penglihatannya. Melalui komponen saraf baru yang terpasang di punggungnya, ia mulai merasakan getaran di udara. Setiap butiran debu yang bergeser karena pergerakan musuh terasa di kulitnya seperti denyutan listrik. Ini adalah Dragon Heart yang mulai bangkit—kemampuan untuk merasakan kehidupan melalui aliran energi murni.

"Ketemu kau," bisik Li Wei.

Ia menerjang ke depan. Langkahnya tidak lagi menimbulkan suara. Di tengah kabut putih, ia seperti hantu yang meluncur. Kapten Feng melepaskan rentetan tembakan dari senapan beratnya, namun Li Wei meliuk di antara pilar-pilar besi dengan gerakan yang tidak masuk akal bagi manusia biasa.

"Bagaimana kau bisa melihatku?!" Feng berteriak frustasi, suaranya kini terdengar lebih dekat.

Li Wei tidak menjawab. Ia muncul tepat di samping Feng, pedangnya mengayun horizontal. Feng berhasil menahan serangan itu dengan lengan bajanya, namun kekuatan dorongan Li Wei membuatnya terpental menabrak tumpukan kontainer.

"Kau meremehkan apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang sudah kehilangan segalanya, Feng," ucap Li Wei, suaranya muncul dari balik kabut di belakang Feng.

"Aku belum selesai!" Feng berteriak. Ia menekan tombol pada sabuknya. Drone di atas mereka mulai menembakkan sinar laser merah yang menyapu lantai, mencari tanda panas tubuh mereka secara agresif.

"Li Wei, drone itu mengirimkan sinyal pindaian biometrikmu!" Chen Xi memperingatkan dari kejauhan. "Jika pindaian matamu selesai seratus persen, Zhao Kun akan tahu koordinat kita secara instan!"

Li Wei melirik ke arah Xiao Hu yang meringkuk di bawah meja besi, wajahnya penuh ketakutan. Anak itu adalah pengingat terakhir bagi Li Wei bahwa ia masih memiliki jiwa. Jika ia membiarkan pindaian itu selesai, ia tidak hanya mengkhianati dirinya sendiri, tapi ia juga menghancurkan satu-satunya kesempatan Xiao Hu untuk hidup bebas.

"Aku akan menghancurkan drone itu," kata Li Wei dalam batinnya.

"Jangan bodoh! Jika kau menghancurkannya dengan tebasan energi, debu ini akan meledak!" Chen Xi berteriak seolah bisa membaca pikirannya.

"Siapa bilang aku akan menggunakan energi?" Li Wei menanggapi dengan nada pedas yang khas.

Ia merogoh saku zirahnya, mengambil dua buah baut besar yang sebelumnya ia simpan saat berada di bengkel Xiao Hu. Dengan perhitungan saraf yang dipercepat oleh Neural Overclock, ia melemparkan baut itu ke arah yang berlawanan dengan posisi drone.

Ting! Ting!

Suara logam yang beradu menarik perhatian sensor drone. Lensa merah itu berputar ke arah suara, memberikan celah satu detik bagi Li Wei. Dalam sekejap, Li Wei sudah berada di udara, kaki kirinya menumpu pada dinding besi, dan tangannya meraih kabel menjuntai untuk mengayun.

"Opsi ketiga," bisik Li Wei.

Li Wei melenting di udara, memanfaatkan momentum ayunan kabel untuk meluncur tepat di atas drone pemantau tersebut. Tanpa menggunakan bilah pedangnya yang bisa memicu percikan api statis, ia menggunakan sarung pedang Bailong-Jian yang terbuat dari komposit polimer anti-konduksi. Dengan satu hantaman presisi, ia menghancurkan lensa sensor drone itu hingga hancur berkeping-keping.

Pendar merah pindaian itu padam seketika. Namun, Kapten Feng tidak tinggal diam. Melihat aset berharganya hancur, ia meraung murka dan mengaktifkan mode Berserk pada zirah Level 3 miliknya. Uap panas menyembur dari katup bahunya saat ia menerjang maju dengan gada magnetik yang berderit.

"Mati kau, pengkhianat!" Feng menghantamkan gadanya.

Li Wei tidak menghindar. Ia menggunakan strategi "Area Buta" yang baru saja ia ciptakan dalam hitungan detik. Ia menendang tumpukan karung terigu di dekatnya hingga pecah, menambah densitas debu di udara hingga jarak pandang menjadi nol. Di tengah kepulan putih yang menyesakkan, Li Wei menghilang dari jangkauan sensor termal Feng yang sudah rusak sebagian.

"Di mana kau?! Keluar dan lawan aku seperti laki-laki!" Feng berteriak kalap, mengayunkan gadanya secara membabi buta ke segala arah.

"Kau bicara tentang kehormatan laki-laki," suara Li Wei terdengar dingin, tepat di belakang telinga Feng. "Padahal kau hanyalah anjing yang memanen emosi rakyat jelata demi koin emas."

Feng berputar, namun hanya udara kosong yang ia temui. Tiba-tiba, sebuah tebasan melintang menghantam sendi lutut zirahnya dari arah bawah. Besi pelindung itu robek seperti kertas. Feng terjatuh bertumpu pada satu lutut, merintih saat sistem hidroliknya mengalami kebocoran oli.

"Li Wei, cukup! Jangan gunakan serangan panas!" Chen Xi memperingatkan dari balik pilar. "Kadar oksigen di sini menurun, jika kau memicu ledakan sekarang, kita semua akan terjebak dalam vakum api!"

Li Wei berdiri tegak di depan Feng yang terengah-engah. Matanya berkilat dengan cahaya biru tipis—tanda bahwa Dragon Heart sedang bekerja pada kapasitas maksimal. Ia menatap Feng bukan lagi sebagai lawan, melainkan sebagai hama yang harus dibersihkan. Sisi "Algojo" dalam dirinya mendidih, menuntut penyelesaian yang absolut.

"Tolong... jangan..." Feng tergagap, tangannya yang gemetar mencoba meraih senjata cadangan di pinggangnya.

Li Wei melihat pergerakan itu. Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang, ia menginjak tangan Feng hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Xiao Hu, yang mengintip dari balik meja, memalingkan wajahnya sambil terisak pelan.

"Jangan melihat, Xiao Hu," ucap Li Wei tanpa menoleh.

Suaranya sangat lembut, kontras dengan kakinya yang masih menekan tangan Feng. Li Wei menarik Bailong-Jian. Ia tidak menggunakan energi Qi. Ia hanya menggunakan kekuatan murni lengannya. Dalam satu gerakan vertikal yang bersih, bilah pedang itu menembus celah leher zirah Feng, mematikan saraf pusatnya seketika.

Feng tersedak, tubuhnya mengejang sebentar sebelum akhirnya terkulai kaku. Keheningan kembali menguasai gudang, hanya menyisakan suara desis uap dari pipa yang bocor.

"Semuanya berakhir," gumam Li Wei. Ia menarik pedangnya dan membersihkan sisa darah pada kain lusuh penyamarannya.

Chen Xi muncul dari kegelapan, wajahnya tampak kaku melihat mayat Feng. "Kau membunuhnya dengan cara manual. Efisien, tapi sangat brutal, Li Wei."

"Dia melihat wajah Xiao Hu," jawab Li Wei pendek. "Itu sudah cukup menjadi alasan baginya untuk tidak bernapas lagi."

Chen Xi menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati Xiao Hu dan merangkul bahu gadis kecil itu. "Ayo, kita harus pergi. Ledakan debu tadi tidak terjadi, tapi sinyal drone itu... aku tidak yakin apakah pindaiannya sempat terkirim atau tidak."

Li Wei menatap bangkai drone yang hancur. Di layar kecil yang masih berkedip di sana, terlihat status: "UPLOADING... 99%... ERROR."

"Hampir saja," bisik Li Wei. Ia merasakan denyut di punggungnya mulai mereda, meninggalkan rasa nyeri yang tumpul. Penstabil saraf seri-X itu bekerja dengan baik, namun ia tahu tubuhnya mulai mencapai batas.

"Kita tidak bisa kembali ke jalan utama," kata Chen Xi sambil memeriksa peta digital di pergelangan tangannya. "Sektor industri ini akan segera dikepung. Satu-satunya jalan keluar adalah melalui Hutan Kabel di pinggiran kota. Itu wilayah bio-mekanis yang liar, tak ada patroli yang berani masuk ke sana."

Li Wei mengangguk. Ia berjalan menghampiri Xiao Hu, lalu berjongkok di depannya agar tinggi mereka sejajar. Ia melihat ketakutan yang mendalam di mata anak itu—bukan takut pada musuh, tapi takut pada sosok Li Wei yang baru saja ia saksikan.

"Xiao Hu," Li Wei menyentuh bahu anak itu dengan lembut. "Aku melakukan ini agar kau bisa melihat matahari besok."

Xiao Hu menatap Li Wei lama, lalu perlahan mengangguk, meski air matanya masih mengalir. "Aku tahu, Kak. Tapi... jangan menjadi seperti mereka. Jangan menjadi monster yang tidak punya perasaan."

Kata-kata itu menghantam Li Wei lebih keras daripada gada magnetik Feng. Ia berdiri, mengabaikan luka tembus di bahunya yang mulai berdenyut perih. "Ayo bergerak. Hutan itu tidak akan menunggu kita."

Mereka melangkah keluar melalui pintu belakang gudang yang menuju ke arah lembah penuh kabel merambat. Di belakang mereka, api kecil mulai muncul dari sisa-sisa percikan listrik yang mengenai debu, perlahan membakar Gudang Karat beserta semua rahasia kotor di dalamnya.

Li Wei menatap ke depan, ke arah kegelapan hutan bio-mekanis yang menanti. Dunianya sebagai perwira sudah mati, dan kini ia harus belajar bertahan hidup di dunia yang ia sendiri bantu hancurkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!