NovelToon NovelToon
Si Imut Milik Ketua Mafia

Si Imut Milik Ketua Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Diam-Diam Cinta / Kisah cinta masa kecil / Mafia / Cinta Murni / Berbaikan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Elrey

Caca, gadis kecil ceria, berteman dengan Rafi tanpa tahu bahwa dia adalah putra kepala mafia Bara Pratama. Meskipun dunia mafia penuh bahaya dan banyak orang melarangnya, persahabatan mereka tumbuh kuat hingga menjadi cinta. Bersama, mereka berjuang mengubah organisasi mafia menjadi usaha hukum yang bermanfaat bagi masyarakat, menghadapi musuh dan masa lalu kelam untuk membangun masa depan bahagia bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAHAYA YANG MENDEKAT

Hari kedua di Pantai Pasir Putih dimulai dengan suasana yang sangat ceria. Caca bangun lebih awal dari biasanya untuk menyaksikan matahari terbit dari balik lautan – pemandangan yang begitu memukau hingga membuatnya tidak bisa berbicara selama beberapa menit.

“Sudah bangun ya, Caca?” ujar Rafi yang datang menghampirinya dengan membawa dua gelas jus kelapa segar. “Saya tahu kamu pasti ingin melihat matahari terbit di pantai.”

Mereka duduk bersama di tepi pantai, menikmati kehangatan sinar matahari pagi dan suara ombak yang menenangkan.

Setelah itu, mereka membantu Mama Lila dan Bu Siti menyiapkan sarapan pagi – bubur ayam hangat dan telur mata sapi yang lezat.

Setelah sarapan, Pak Bara mengajak beberapa orang untuk pergi memancing ke dermaga kecil yang terletak tidak jauh dari tempat mereka bermalam.

Rafi ingin ikut, tapi akhirnya memutuskan untuk tinggal bersama Caca dan Dika yang ingin belajar membuat kerajinan dari pasir dan kerang yang mereka kumpulkan kemarin sore.

“Saya mau membuat patung buaya dari pasir!” teriak Dika dengan penuh semangat saat mereka mulai bekerja di area pasir yang masih basah karena ombak pagi.

Caca dan Rafi membantu Dika membentuk pasir menjadi bentuk buaya yang cukup mirip, bahkan mereka menambahkan mata dari kerang kecil agar tampak lebih hidup.

Ketika mereka sedang sibuk bekerja, Caca merasakan bahwa ada beberapa orang yang terus menatap mereka dari kejauhan – tiga pria dengan pakaian hitam yang sedang berjalan perlahan menyusuri tepi pantai.

“Rafi, lihat sana,” bisik Caca dengan suara sedikit cemas sambil menunjuk ke arah para pria itu. “Mereka sudah tiga kali lewat dan selalu melihat ke arah kita.”

Rafi segera memperhatikan dan menjadi waspada. Dia menyuruh Dika untuk pergi mencari Mama Lila sementara dia menghadap ke arah para pria itu.

Tiga pria itu akhirnya berhenti beberapa meter dari mereka, dengan wajah yang tidak bisa dikenali karena terkena sinar matahari langsung.

“Kalian adalah keluarga Bara Pratama bukan?” tanya salah satu pria dengan suara yang dalam dan kasar.

“Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan?” jawab Rafi dengan suara tegas, sambil secara perlahan menarik Caca ke belakangnya.

“Kita tidak punya masalah dengan kalian kecil,” ujar pria itu dengan senyum sinis. “Kita hanya ingin berbicara dengan Bara Pratama sendiri. Katakan padanya bahwa keluarga Wijaya belum melupakan apa yang dia lakukan dulu.”

Sebelum Rafi bisa menjawab, mereka melihat Pak Bara dan beberapa orang yang pergi memancing sudah kembali dan sedang mendekat ke arah mereka.

Ketika para pria itu melihat Pak Bara, mereka segera berpaling dan berjalan pergi dengan cepat, menghilang di balik rerumputan yang tumbuh di pinggir pantai.

“Ada apa?” tanya Pak Bara dengan wajah yang serius saat sampai di dekat Rafi dan Caca.

Rafi segera menceritakan apa yang terjadi dan apa yang dikatakan oleh para pria itu. Pak Bara mengerutkan kening dan menghela napas panjang.

“Keluarga Wijaya adalah kelompok lama yang dulu bersaing dengan kita di bisnis yang tidak hukum,” ujar Pak Bara dengan suara yang penuh perhatian. “Saya sudah lama tidak mendengar kabar mereka. Sepertinya mereka masih belum bisa menerima bahwa saya sudah keluar dari dunia itu dan berusaha untuk berubah.”

“Apakah kita dalam bahaya, Pak?” tanya Caca dengan suara sedikit gemetar.

“Jangan khawatir, saya akan menangani ini,” jawab Pak Bara dengan lembut sambil menepuk bahu Caca. “Kita akan tetap di sini sampai hari ini sore seperti yang direncanakan, tapi kita harus lebih berhati-hati. Saya sudah menyuruh dua orang untuk mengawasi sekitar agar tidak ada yang salah terjadi.”

Meskipun suasana menjadi sedikit tegang setelah kejadian itu, mereka berusaha untuk tetap menikmati hari kedua liburan mereka.

Caca mencoba mengalihkan perhatian Dika dengan mengajaknya bermain permainan menyembunyikan barang kecil di pasir, sementara Rafi membantu Pak Bara memantau lingkungan sekitar.

Pada siang hari, ketika sebagian besar orang sedang beristirahat di bawah payung pantai, Caca melihat salah satu pria dari keluarga Wijaya sedang mencoba mendekat ke arah tempat mereka menyimpan barang bawaan.

Dia segera memberi tahu Rafi, yang langsung menghampiri pria itu bersama dua pengawal yang sudah disiapkan Pak Bara.

“Kita sudah bilang kan, jangan mencoba apa-apa di sini,” ujar Rafi dengan suara yang tegas menghadapi pria itu. “Keluarga kita sudah berubah, dan kami tidak ingin masalah lama kembali muncul.”

Pria itu hanya tersenyum sinis dan kemudian berpaling pergi tanpa berkata apa-apa. Setelah itu, Pak Bara memutuskan bahwa mereka akan pulang lebih awal – bukan karena takut, tapi karena dia tidak ingin membahayakan keselamatan keluarga dan teman-teman yang ikut berlibur.

“Saya minta maaf kalau liburan kita harus terganggu seperti ini,” ujar Pak Bara saat mereka sedang menyiapkan barang-barang untuk berangkat pulang. “Saya tidak menyangka mereka akan menemukan kita di sini.”

“Itu tidak masalah, Pak,” jawab Caca dengan lembut. “Kita sudah banyak mendapatkan kebahagiaan dari liburan ini. Yang penting kita semua aman.”

Perjalanan pulang terasa lebih tenang namun penuh dengan pemikiran. Pak Bara menjelaskan bahwa keluarga Wijaya kemungkinan besar akan datang ke kampung untuk membuat masalah, jadi mereka harus lebih waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan.

“Saya tidak akan membiarkan mereka menyakiti kamu atau siapapun yang kita cintai,” janji Rafi kepada Caca saat mereka duduk berdampingan di dalam mobil. “Saya akan belajar untuk melindungi diri sendiri dan melindungi orang-orang terkasih saya.”

Caca memegang tangan Rafi dengan erat. “Kita akan menghadapinya bersama-sama, seperti biasa. Kita tidak akan pernah sendirian lagi.”

Ketika mereka tiba di kampung, langit sudah mulai gelap. Pak Bara segera menghubungi beberapa anggota yang sudah berubah untuk membicarakan langkah-langkah keamanan yang harus diambil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!