Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Hukum Rimba dan Amplop Tipis
Kipas angin dinding yang berkarat itu berputar dengan suara *crak-crak-crak* yang konstan, seolah menghitung detik-detik kehancuran hidup Alana. Di ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang berfungsi sebagai kantor CV. Bangun Jaya, Alana duduk di hadapan meja kerja Pak Dodi. Asap rokok kretek mengepul tebal, membuat mata Alana sedikit perih, namun ia tidak lagi mengibaskan tangan untuk menghalaunya. Ia sudah terbiasa.
"Ini gaji pertama kamu, Lan," kata Pak Dodi, menyodorkan sebuah amplop cokelat tipis ke atas meja kaca yang retak di bagian sudutnya. "Tiga juta setengah. Ditambah bonus dua ratus ribu karena kamu nyelamatin muka saya di depan Bu Ratna kemarin."
Alana menatap amplop itu. Tiga juta tujuh ratus ribu rupiah.
Dulu, nominal ini bahkan tidak cukup untuk membayar satu kali perawatan wajahnya di klinik estetika langganan Siska. Dulu, ini hanya harga sepasang sepatu *heels* yang ia pakai sekali lalu terlupakan di lemari. Sekarang, ini adalah nyawanya untuk satu bulan ke depan.
"Makasih, Pak," ucap Alana, mengambil amplop itu. Terasa ringan, namun beban yang dibawa uang itu sangat berat.
"Saya tahu kamu lulusan luar negeri, Lan. Tangan kamu itu tangan mahal," ujar Pak Dodi sambil mematikan rokoknya di asbak yang sudah penuh. "Tapi cuma segini yang bisa saya kasih. Proyek lagi sepi. Kalau kamu mau cari tempat yang lebih bonafide, saya nggak akan nahan."
"Saya butuh pekerjaan ini, Pak. Saya nggak akan ke mana-mana," jawab Alana tegas. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa tidak ada firma 'bonafide' yang mau menerima 'pecandu narkoba' seperti rumor yang disebar ayahnya.
Alana keluar dari ruko berlantai dua itu menuju halte TransJakarta. Matahari Jakarta yang terik menyengat kulit lehernya. Ia mendekap tas selempang murahnya erat-erat, takut ada copet yang mengincar gaji pertamanya. Di dalam kepalanya, kalkulator tak kasat mata terus berhitung.
Sewa kontrakan Rini: satu juta (ia berjanji akan menanggung setengah). Makan: satu juta. Transportasi: lima ratus ribu. Sisa satu juta dua ratus.
Ponselnya bergetar. Nama 'Burhan - Pengacara' muncul di layar retaknya. Jantung Alana mencelos. Sisa uang itu bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya konsultasi satu jam di firma hukum ayahnya, apalagi membayar jasa Burhan untuk jangka panjang.
***
Burhan mengajak bertemu di sebuah warung kopi pinggir jalan di daerah Cikini. Pria paruh baya itu tampak lebih kusut dari biasanya. Kemeja batiknya terlihat lecek, dan ada kantung mata tebal di wajahnya.
"Kabar buruk, Mbak Alana," Burhan membuka percakapan tanpa basa-basi begitu Alana duduk dan memesan es teh manis.
Burhan mengeluarkan selembar kertas dari tas kerjanya. Kertas itu memiliki kop surat tebal dengan logo emas yang sangat Alana kenal: *Hadiman & Partners*. Firma hukum paling buas di Jakarta, anjing penjaga setia Wardhana Group.
"Ini somasi," kata Burhan pelan. "Ayahmu... Pak Hendra, melaporkanmu atas dua tuduhan sekaligus. Pertama, pencurian aset keluarga berupa perhiasan mendiang ibumu. Kedua, dan ini yang lebih bahaya, pencurian rahasia dagang perusahaan."
Alana merasakan darahnya surut dari wajah. "Pencurian perhiasan? Itu barang-barang ibu saya! Saya anak tunggalnya!"
"Secara hukum, tanpa surat wasiat yang spesifik, itu harta gono-gini yang dikuasai suami setelah istri meninggal. Faktanya, kamu menjual tas dan gelang itu tanpa izin pemilik aset legal, yaitu Hendra Wardhana," jelas Burhan dengan nada prihatin. "Mereka punya bukti CCTV kamu membawa tas itu keluar rumah, dan bukti transaksi di pasar loak."
Alana mengepalkan tangan di bawah meja. "Dan tuduhan rahasia dagang?"
"Kunci laci dan dokumen yang kamu foto," Burhan menunjuk ponsel Alana. "Mereka tahu kamu menyusup. Jika kamu mencoba menggunakan foto-foto buku kas ilegal itu di pengadilan, mereka akan memutarbalikkan fakta. Mereka akan bilang kamu memalsukan data atau mendapatkannya secara ilegal, yang membuat bukti itu tidak sah di mata hukum. Dan lebih parah lagi, kamu bisa dipenjara maksimal empat tahun."
Suara bising knalpot bajaj yang lewat seolah menulikan telinga Alana sesaat. Ia merasa terhimpit tembok raksasa yang dingin dan licin.
"Jadi saya harus apa? Menyerah?" suara Alana bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang tertahan.
"Kalau kita maju lewat jalur perdata biasa, Mbak Alana akan habis. Uang Mbak tidak akan cukup untuk membiayai persidangan yang akan mereka ulur sampai bertahun-tahun," Burhan menyeruput kopinya yang mulai dingin. "Hendra punya uang, kekuasaan, dan waktu. Kita tidak punya ketiganya."
Alana menatap amplop gaji di dalam tasnya. Tiga juta tujuh ratus ribu rupiah melawan triliunan rupiah.
"Pasti ada celah, Pak Burhan. Bapak bilang bapak benci orang-orang korup seperti ayah saya."
"Memang. Tapi idealisme butuh peluru, Mbak," Burhan menatap tajam ke mata Alana. "Satu-satunya cara untuk melawan raksasa adalah dengan meminjam tangan raksasa lain."
Alana mengerutkan kening. "Maksud Bapak?"
"Cari musuh ayahmu. Cari orang yang dirugikan oleh bisnis kotor Wardhana Group. Orang yang punya uang dan dendam yang sama besarnya," Burhan merendahkan suaranya. "Data yang kamu foto dari buku catatan Hendra... jangan pakai itu untuk lapor polisi. Polisi bisa dibeli. Pakai data itu untuk mencari sekutu."
Alana terdiam. Ia teringat foto-foto halaman buku catatan Hendra yang tersimpan di *folder* tersembunyi ponselnya. Isinya bukan hanya angka suap, tapi daftar proyek dan nama-nama perusahaan.
"Pelajari data itu malam ini, Mbak. Temukan siapa yang sedang 'dimakan' oleh Hendra. Datangi mereka. Tawarkan apa yang kamu punya," saran Burhan sambil membereskan kertas-kertasnya. "Saya akan bantu balas surat somasi ini untuk mengulur waktu. Saya akan bilang klien saya kooperatif tapi butuh waktu untuk mengumpulkan barang bukti. Itu akan memberimu waktu sekitar dua minggu sebelum mereka lapor polisi secara resmi."
Burhan berdiri, menepuk bahu Alana pelan. "Jangan mati konyol, Alana. Jadilah cerdik."
***
Malam itu, hujan deras mengguyur atap seng kontrakan Rini di Petamburan. Suaranya gaduh, menyaingi suara televisi tetangga yang menyetel dangdut dengan volume maksimal. Rini sudah tertidur di kasur busa tipis di pojok ruangan, kelelahan setelah seharian melamar kerja menjadi admin toko *online*.
Alana duduk bersila di lantai, diterangi lampu neon remang-remang. Di hadapannya, layar ponsel menampilkan foto-foto hasil curiannya dari ruang kerja Hendra. Matanya yang lelah memindai setiap baris tulisan tangan ayahnya yang rapi namun mematikan.
*Suap Izin Amdal - Proyek Cikarang - 5M.*
*Pembebasan Lahan Paksa - Kampung Rawa - 2M.*
Semua ini mengerikan, tapi ini adalah korban-korban kecil. Warga kampung tidak punya uang untuk melawan Hendra. Alana butuh hiu, bukan ikan teri.
Jarinya menggeser ke foto berikutnya. Sebuah catatan kaki di halaman terakhir menarik perhatiannya. Tulisannya dilingkari tinta merah, tanda prioritas tinggi.
*Target Akuisisi Lahan Menteng: Sagara Group. Status: ALOT. Blokir akses bank mereka. Hancurkan reputasi Elang.*
"Sagara Group..." gumam Alana. Nama itu terdengar asing di telinganya yang dulu hanya peka terhadap merek *fashion* Eropa.
Ia segera membuka *browser* dan mengetik nama itu. Hasil pencarian muncul dengan lambat karena sinyal yang buruk.
*Sagara Group: Raksasa Properti yang Sedang Goyah.*
*CEO Sagara Group, Elang Pradipta, Menolak Menjual Aset Warisan di Tengah Krisis Utang.*
Alana mengklik salah satu artikel berita bisnis. Muncul foto seorang pria muda, mungkin usianya akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan, sedang dikerumuni wartawan. Wajahnya keras, rahangnya tegas, dan matanya memancarkan aura permusuhan yang dingin terhadap kamera. Judul berita itu: *Elang Pradipta Tantang Balik Sindikat Mafia Properti.*
Alana membaca artikel itu dengan cepat. Sagara Group adalah perusahaan lama yang sedang kesulitan likuiditas karena proyek-proyek mereka dihambat perizinannya secara misterius. Artikel itu berspekulasi ada 'tangan tak terlihat' yang mencoba membangkrutkan Sagara agar bisa membeli aset tanah strategis mereka dengan harga murah.
Tangan tak terlihat itu adalah Hendra Wardhana.
Alana memperbesar foto catatan ayahnya: *"Hancurkan reputasi Elang."*
Dan memperbesar foto pria di artikel berita itu. Elang Pradipta.
Alana merasakan desiran aneh di dadanya. Bukan rasa takut, melainkan adrenalin. Ia menemukan kesamaan nasib. Pria ini, Elang, sedang dipojokkan oleh ayahnya, sama seperti dirinya. Bedanya, Elang punya perusahaan—meski sedang sekarat—dan Alana punya bukti *kenapa* perizinan Sagara selalu dihambat.
Ayahnya menyuap pejabat dinas tata kota untuk menjegal Sagara. Buktinya ada di baris ke-12 foto yang sedang ia lihat: *"Dana pelicin Dinas Tata Kota - Blokir IMB Sagara - 500jt."*
Ini dia. Ini pelurunya.
Alana menatap Rini yang tidur meringkuk kedinginan. Ia menatap amplop gaji tiga juta peraknya. Lalu ia menatap layar ponselnya lagi.
Ia tidak bisa datang ke kantor Elang Pradipta sebagai Alana Wardhana, putri musuhnya. Ia akan diusir sebelum sampai di lobi. Ia juga tidak bisa datang sebagai Alana si drafter miskin. Ia harus datang sebagai seseorang yang membawa nyawa bagi Sagara Group.
"Rin," bisik Alana pelan, meski tahu Rini tak mendengar. "Gue tahu cara kita keluar dari lubang tikus ini."
Alana mengambil buku sketsa kerjanya. Di halaman kosong, ia mulai merancang bukan sebuah bangunan, melainkan sebuah skenario. Ia butuh baju yang pantas—bukan baju drafter lusuh ini. Ia butuh akses. Dan yang paling penting, ia butuh keberanian untuk masuk ke kandang singa yang sedang terluka.
Besok, ia akan izin setengah hari dari Pak Dodi. Ia akan menggunakan sedikit uang gajinya untuk mencetak bukti-bukti ini dan membeli satu kemeja putih yang layak di pasar.
Alana mematikan layar ponselnya. Kegelapan kembali menyelimuti kamar sempit itu, tapi untuk pertama kalinya sejak diusir dari *penthouse*, Alana tidak merasa sendirian dalam kegelapan. Ia telah menemukan targetnya. Elang Pradipta bukan sekadar nama; dia adalah tiket Alana untuk memulai perang.
Di luar, petir menyambar, menerangi wajah Alana yang kini tak lagi menyiratkan kesedihan seorang putri yang terbuang, melainkan dinginnya perhitungan seorang wanita yang siap membakar segalanya.