NovelToon NovelToon
Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Senja Dimatamu:Misteri Jembatan Taman Itu

Status: tamat
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Action / Anime / Sci-Fi / Cintapertama / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: rexxy_

​"Apakah kamu pernah merindukan seseorang yang bahkan wajahnya saja tidak pernah kamu lihat?"
​Alexian hanyalah seorang perantau yang terjebak dalam rutinitas membosankan sebagai resepsionis Love Hotel di Tokyo. Baginya, cinta sudah lama mati sejak pengkhianatan di masa lalu membuatnya menjadi pria yang tumpul rasa.
​Namun, sebuah mimpi aneh mengubah segalanya. Seorang wanita, jembatan taman, dan guguran sakura yang terasa begitu nyata.
​Mona menyebutnya Yume no Kakehashi.
Jembatan Impian yang Mengambang. Sebuah mitos Jepang tentang dua jiwa yang saling mencari. Alexian menemukan seutas pita berwarna jingga di pagar jembatan itu. Kini, Alexian harus memilih tetap hidup dalam realitasnya yang aman namun sepi, atau mengejar bayangan senja di mata seorang wanita yang mungkin hanya ada dalam mimpinya.
Apakah Alexian bakal bertemu dengan wanita itu atau semua hanya kebetulan dalam mimpi?
Apa arti dari pita yang ia dapat di celah pagar jembatan itu?
Simak kelanjutannya ya! :)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rexxy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Bayangan di Kaca Spion

Mesin mobil peninggalan kakek menderu pelan, membelah kegelapan Jalan Tol Tomei yang sunyi. Kami sudah melewati batas Prefektur Kanagawa dan kini mulai memasuki wilayah Shizuoka.

​Gunung Fuji seharusnya sudah terlihat menjulang di sebelah utara, namun kabut tebal dan langit malam yang gelap banget menyembunyikannya dari pandangan kami. Di dalam mobil, suasana terasa begitu hening, hanya ada suara ban yang bergesekan dengan aspal.

Di samping kananku, Aku liat Sayuri senyum tipis pas tidur. Mungkin ini pertama kalinya dia bisa tidur nyenyak tanpa perlu takut dikejar-kejar makhluk kabut itu lagi.

​Miyuki juga terlelap di samping kakaknya. Overcoat yang ia kenakan saat kami pertama kali bertemu kini menyelimuti seluruh tubuhnya, melindunginya dari hawa dingin malam. Hanya aku, Ken, dan Mona yang masih terjaga, menjaga kewaspadaan di tengah keheningan jalan raya.

​"Sudah dua jam, Lex. Tidak ada tanda-tanda mereka," bisik Mona tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan di depan.

Ia menyetir dengan sangat hati-hati, menjaga kecepatan tetap stabil agar mobil tua ini tidak menarik perhatian patroli jalan raya.

​"Justru ini terlalu mudah," ucap Ken.

Matanya tak lepas dari kaca spion tengah, mengawasi setiap pasang lampu yang muncul di kejauhan belakang kami.

"Mereka tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja. Organisasi sebesar itu pasti punya mata-mata di setiap gerbang tol."

​Perkataan Ken membuat bulu kudukku berdiri. Aku pun merasakan kegelisahan yang sama. "Jembatan" di dalam dadaku seolah bergetar; detak jantung Sayuri yang kini bisa kurasakan seolah menyatu dengan nadiku sendiri, berdenyut lebih cepat sebuah peringatan sunyi akan adanya bahaya yang mendekat.

Tiba-tiba, Ken menegakkan punggungnya.

"Mona, perlambat sedikit."

"Ada apa?" tanya Mona, langsung menuruti perintah Ken.

"Mobil hitam itu," Ken menunjuk ke kaca spion samping.

Sebuah sedan hitam mewah yang tadinya melaju kencang di jalur cepat, kini mulai melambat. Mobil itu mengambil posisi tepat di belakang kami, menjaga jarak konstan yang mencurigakan.

​"Sudah sepuluh menit dia mengekor sejak gerbang tol Oyama," desis Ken. Suaranya tegang, matanya tak lepas dari spion.

​Jantungku berdegup kencang. Aku melirik Sayuri yang masih terlelap. Tidak. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya lagi.

​"Pelat nomornya terlihat jelas," lanjut Ken lagi.

"Bukan pelat lokal Shizuoka. Itu pelat Shinagawa. Sama seperti mobil yang mengejar kita di Shinjuku semalam."

​"Sial," umpatku rendah.

"Jaringan mereka benar-benar luas. Mereka pasti menanam pelacak di mobil ini."

​"Tidak mungkin! Aku sudah memeriksa setiap sudut mobil ini!" protes Mona, suaranya naik satu oktaf karena merasa kemampuannya diragukan.

​"Bukan mobilnya, Mon," aku menoleh ke arah Miyuki yang masih tertidur.

"Mungkin Miyuki yang mereka pasangi pelacak. Entah di pakaian atau barang-barangnya, tanpa dia sadari saat mereka menugaskannya mencariku di hotel dulu."

​Aku segera menepuk lengan Miyuki dengan cepat tanpa ingin mengganggu Sayuri yang masih terlelap di bahuku.

Miyuki pun akhirnya terbangun, dia kaget mendapati wajahku yang tegang tepat di depan matanya.

​"Miyuki, maaf," kataku cepat, tidak memberinya waktu untuk mengumpulkan kesadaran.

"Kurasa kau sedang dipantau. Kita harus menemukan alat pelacak itu sekarang juga!"

​Miyuki yang masih sedikit linglung mulai meraba-raba pakaian dan tas kecilnya. Gerakannya mendadak berhenti. Dari saku overcoat-nya, ia mengeluarkan sebuah kancing hitam kecil yang tampak biasa saja.

Tapi, jika dilihat lebih dekat, kancing itu memiliki lampu indikator merah yang berkedip sangat samar.

​"Hah...kancing apa ini, Jujur, aku belum pernah memiliki ini sebelumnya" bisik Miyuki pucat.

​"Itu dia!" Ken mendesis marah.

"Mereka pasti menyelipkannya saat kau masih di markas sebelum dilepaskan. Mereka menjadikanmu umpan untuk melacak kalian berdua!"

​Aku menyambar kancing itu dari tangan Miyuki. Tanpa pikir panjang, aku menurunkan kaca jendela dan melempar benda terkutuk itu sejauh mungkin ke dalam semak-semak di pinggir jalan tol.

​"Mona, tancap gas! Sekarang!" teriakku.

​Mona tidak perlu diperintah dua kali. Ia menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin mobil tua itu menderu keras, bergetar hebat saat dipaksa menambah kecepatan secara mendadak.

Kami melesat di jalan tol yang sepi, meninggalkan sedan hitam itu yang sempat tampak mengerem mendadak mungkin karena mereka bingung melihat sinyal GPS-nya berhenti di pinggir jalan.

​"Apa yang terjadi?" suara serak Sayuri terdengar. Ia terbangun karena guncangan mobil, menatapku dengan mata yang masih mengantuk namun penuh kecemasan.

​"Tidak apa-apa, Sayuri," jawabku sambil mencoba mengatur napas, meski mataku tetap waspada ke belakang.

"Mereka akan segera sadar sinyalnya menghilang. Mereka pasti akan memacu kecepatan untuk mengejar posisi terakhir kita. Kita harus benar-benar menghilang dari pandangan mereka sebelum itu terjadi."

Aku menatap Ken. "Kita butuh pengalihan, Ken. Sesuatu yang besar."

Ken menyeringai.

"Tenang aja, Lex. Aku punya sesuatu yang bakal membuat mereka menyesal. Lihat aja! "

1
rexxy_
Terima Kasih banyak kak, Saya selaku Author sangat senang atas pujian kakak.
Pantengin terus ya kak... heheh🙏😍
𝓗ᥲᥱᥣִᥱᥲꤪꤨꤪᥒᥲ.𝜗𝜚
karyanya bagus btw mampir yah di novelku 🤭
Roulina Damanik
1. Check-in : Melaporkan kehadiran di suatu tempat (hotel/ bandara).

2. Check-out : Meninggalkan (hotel/ bandara) setelah membayar dan mengembalikan kunci.
rexxy_: Terima kasih atas Saran anda.
Saya selaku penulis meminta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan penulisan saya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!