"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Geli dan Janji di Tepian Nil
~•°Satu Atap di Kota Seribu Menara
Jarak yang ribuan mil kini tinggal satu jengkal,
Rindu yang membuncah kini tak lagi dangkal.
Di kamar yang kecil, di bawah lampu yang temaram,
Dua hati bersatu, menghapus segala kelam.
Bukan lagi layar yang memisahkan tatapan,
Hanya ada jemari yang bertaut dalam dekapan.
Tawa pecah saat malu menyelimuti suasana,
Malam ini adalah milik kita, dalam cinta yang sempurna.°•~
Setelah melewati riuhnya sambutan teman-teman asrama, Gus Zidan dan Bungah akhirnya memiliki waktu berdua. Zidan telah menyewa sebuah apartemen kecil yang bersih dan nyaman tidak jauh dari kawasan Al-Azhar untuk mereka tinggali selama Zidan berada di Kairo.
Malam itu, Kairo terasa lebih hangat dari biasanya. Bungah sudah melepaskan cadar dan khimarnya. Ia mengenakan gamis rumahan yang rapi namun tetap menampakkan keanggunannya. Sementara Zidan baru saja selesai membersihkan diri, aroma sabun yang segar menyerbak dari tubuhnya.
Bungah sedang duduk di tepi ranjang, jari-jarinya memainkan ujung sprei karena merasa sangat canggung. Meskipun sudah sering video call, berada dalam satu ruangan yang sama dengan status suami-istri terasa sangat berbeda.
Zidan berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bungah. Ia menatap wajah istrinya dari samping. "Kenapa menunduk terus, Dek? Bukannya tadi di bandara kelihatannya kangen banget sama Mas?" goda Zidan dengan suara rendahnya.
Bungah semakin menunduk, pipinya memerah. "Malu, Mas..."
Zidan tertawa kecil. Ia perlahan meraih tangan kanan Bungah, lalu meletakkan telapak tangannya di atas ubun-ubun istrinya. Ia memejamkan mata dan membacakan doa yang sunnah dibacakan suami kepada istrinya setelah akad.
"Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi..."
Mendengar doa itu, air mata Bungah menetes pelan. Ia merasa sangat dimuliakan. Setelah selesai berdoa, Zidan tidak melepaskan tangannya, melainkan mengusap lembut kepala Bungah hingga turun ke pipinya.
Zidan tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telinga Bungah dan berbisik pelan, "Ternyata aslinya lebih cantik daripada di layar HP yang penuh 'peta' kemarin ya?"
Bungah langsung menoleh dan mencubit pelan lengan Zidan. "Mas Zidan! Masih dibahas saja!"
Zidan tertawa lepas, ia kemudian mulai menjahili Bungah dengan meniup-niup telinga dan leher istrinya secara perlahan. Kulit Bungah yang sensitif langsung bereaksi.
"Mas... Mas ih! Geli!" seru Bungah sambil bergidik dan berusaha menghindar. Ia tertawa sambil menutupi lehernya. "Mas Zidan, berhenti! Geli bangeeet!"
Zidan tidak berhenti, ia justru semakin gencar menggoda dengan menggelitik pinggang Bungah. "Lho, ini kan tugas suami, menghibur istrinya yang lagi stres mau ujian."
"Tapi nggak begini caranya, Mas! Hahaha... geli, Mas!" Bungah terguling di atas kasur sambil tertawa saking gelinya.
Melihat Bungah tertawa lepas, Zidan akhirnya berhenti. Ia ikut berbaring di samping Bungah, menyangga kepalanya dengan tangan sambil menatap wajah istrinya yang masih tersengal karena tertawa. Suasana yang tadinya kaku dan canggung, kini berubah menjadi sangat cair dan hangat.
Zidan mengulurkan tangan, merapikan anak rambut yang menutupi mata Bungah. "Dek, terima kasih ya sudah menjaga diri baik-baik di sini untuk Mas."
Bungah menatap mata Zidan yang teduh. Rasa gelinya berganti dengan rasa haru yang mendalam. Ia mengangguk pelan. "Adek juga terima kasih, Mas sudah mau datang sejauh ini hanya untuk menyusul Adek."
Malam itu, di bawah langit Kairo yang bertabur bintang, mereka menghabiskan waktu dengan bercerita tentang banyak hal—tentang masa kecil, tentang harapan, dan tentang rencana mereka setelah Bungah lulus nanti. Tidak ada lagi layar kaca, hanya ada dua insan yang saling memiliki dalam ikatan halal yang suci.
Suasana kamar yang hangat di jantung kota Kairo itu seketika menjadi hening saat Bungah tiba-tiba menghentikan tawa gelinya. Ia menatap lekat mata Gus Zidan yang berada tepat di hadapannya. Keberanian yang muncul dari rasa haru membuatnya melontarkan pertanyaan yang selama ini tersimpan di sudut hatinya.
"Mas Zidan... Mas beneran cinta sama aku enggak?" bisik Bungah lirih, ada nada keraguan yang tulus dalam suaranya.
Zidan tertegun sejenak. Ia membetulkan posisi duduknya, lalu meraih kedua tangan Bungah dan menggenggamnya erat. Senyumnya melebar, sebuah senyum yang hanya ia simpan khusus untuk perempuan di depannya ini.
"Ya Mas cinta kamu, Sayang. Sangat cinta," jawab Zidan mantap. Suaranya yang bariton terdengar begitu menenangkan, menghapus segala keraguan yang sempat mampir di benak Bungah.
Bungah merona hebat mendengar kata 'Sayang' itu lagi. "Sejak kapan, Mas? Apa karena perjodohan ini Mas baru mulai mencintaiku?"
Zidan tertawa kecil, ia membawa jemari Bungah ke bibirnya, mengecupnya singkat. "Kamu tahu tidak? Mas jatuh cinta sama kamu sudah lama sekali. Jauh sebelum Mas Azam bicara soal perjodohan ini. Mas jatuh cinta sama kamu pas kamu di pantai dulu. Masih ingat?"
Mata Bungah membelalak. Pikirannya langsung meluncur ke masa beberapa tahun silam, ke sebuah malam di pesisir pantai utara Jawa.
"Pantai? Waktu aku baru lulus SMP itu, Mas?"
"Iya," Zidan mengangguk, matanya menerawang seolah melihat kembali kejadian itu. "Waktu itu hati Mas sedang sangat dingin, Dek. Mas sedang bingung memikirkan masa depan pesantren. Lalu tiba-tiba, muncul seorang gadis kecil dengan seragam penuh coretan pilox, nggak pakai jilbab pula, terus dengan polosnya bilang: 'Jangan sedih ya, kan ada aku'."
Bungah menutup wajahnya dengan sebelah tangan, merasa malu sekaligus terharu. "Mas... itu kan aku masih kecil banget, masih bocah ingusan yang habis dicoret-coret temannya."
"Tapi bocah ingusan itu yang pertama kali membuat es di hati Mas retak, Dek," Zidan melanjutkan dengan suara yang semakin lembut. "Mas masih ingat betul gimana Bunda kamu datang bawa ranting pohon terus menjewer telingamu. Kamu lucu sekali waktu itu, tetap bisa melambai dan bilang 'Dadah, orang sedih! Jangan lupa senyum!' padahal lagi diomeli."
Bungah tertawa di balik jemarinya. "Aku nggak tahu kalau 'orang sedih' itu ternyata seorang Gus yang bakal jadi imamku sekarang."
"Itulah takdir Allah," ucap Zidan sambil menarik Bungah ke dalam dekapan hangatnya. "Sejak malam itu, setiap kali Mas memejamkan mata untuk istikharah, wajah polos kamu yang di pantai itu selalu muncul. Mas selalu berdoa, kalau memang kamu 'Mentari' yang Allah siapkan, semoga Allah jaga kamu sampai di Kairo ini."
Bungah menyandarkan kepalanya di dada Zidan, mendengarkan detak jantung suaminya yang berdegup kencang—sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri. Rasa geli karena godaan tadi kini berganti dengan rasa aman yang luar biasa.
"Berarti Mas sudah nunggu aku lama banget ya?"
"Lama sekali, Sayang. Jadi, jangan tanya lagi soal cinta. Sekarang tugasmu cuma satu: selesaikan ujianmu, lalu mari kita pulang ke Jawa untuk membangun 'pantai' kita sendiri di pesantren," bisik Zidan tepat di ubun-ubun Bungah.
Malam itu, Kairo menjadi saksi bahwa cinta yang tumbuh dari sapaan sederhana di pinggir pantai beberapa tahun lalu, kini telah bermuara di pelaminan yang sah. Jarak benua yang sempat memisahkan, nyatanya tak mampu menghapus jejak rindu yang sudah terpatri sejak masa seragam penuh warna itu.