Genre: Romance Drama
"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."
Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.
Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.
Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Hilang Dan Kembalinya Kenangan
Hujan mulai turun dengan derasnya saat Nara mencoba mencari di setiap sudut kamar kecil yang disiapkan ibunya untuknya. Kasur, lemari, meja kerja – dia sudah mencari berulang kali tapi berkas penting itu tidak ada di mana-mana.
“Tidak bisa… tidak boleh hilang,” bisiknya dengan suara gemetar, tangan menggeliat mencari di tumpukan buku lama di sudut kamar.
Berkas itu bukan cuma sekadar dokumen proyek. Di dalamnya ada catatan pribadinya tentang mengapa proyek desain buku cerita bergambar di Jakarta gagal – bukan karena dia tidak kompeten, tapi karena bosnya yang menjadikannya kambing hitam untuk kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh anak perusahaan pemilik perusahaan.
Jika berkas itu jatuh ke tangan yang salah, tidak hanya karirnya yang akan hancur – reputasi perusahaan yang sudah dia bangun dengan susah payah juga akan ikut terbakar.
“Nara, makan malam sudah siap!” suara Bu Lina terdengar dari luar kamar.
“Sebentar lagi, Bu!” Nara menjawab dengan suara yang dibuat tenang sebisa mungkin. Dia mengambil handuk dan menghapus keringat yang menetes di dahinya meskipun ruangan terasa dingin karena hujan.
Setelah mencuci wajah dan mencoba membuat wajahnya terlihat normal, dia keluar ke ruang makan. Meja makan yang sudah dikenakan alasnya penuh dengan hidangan kesukaannya – ayam bakar, sambal matah, lalapan segar, dan nasi hangat yang masih mengeluarkan uap.
Tapi perutnya terasa penuh dengan rasa cemas sehingga dia tidak bisa makan banyak.
“Kamu tidak makan banyak ya, Nak,” ucap Bu Lina dengan khawatir, menambahkan lauk ke piringnya. “Apakah kamu tidak suka masakan ibu lagi?”
“Tidak begitu, Bu. Masakanmu tetap enak seperti dulu. Aku cuma belum terlalu lapar aja.” Nara mencoba memberikan senyum yang bisa dipercaya. “Nanti aku makan lagi ya kalau sudah lapar.”
Bu Lina mengangguk tapi ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak percaya. “Kamu tahu kan, kamu tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari ibu kan? Jika ada masalah, kita bisa bicara bersama.”
“Aku baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir.”
Setelah makan malam, Nara memutuskan untuk kembali ke tempat di mana dia menabrak Dito tadi sore. Mungkin berkas itu jatuh di sana dan belum ditemukan orang lain. Meskipun hujan masih mengguyur, dia mengambil jas hujan dan keluar rumah dengan berlari.
Taman kota yang tadinya ramai sudah sepi. Cuma ada beberapa orang yang berlalu lalang dengan payung dan lampu jalan yang menerangi jalanan yang basah licin. Nara mulai mencari dengan cermat di setiap sudut tempat dia jatuh tadi – di bawah pohon beringin, di dekat tempat anak-anak duduk menggambar, bahkan di sekitar tempat parkir sepeda.
Tidak ada jejak berkas itu.
“Sudah hilang,” bisiknya dengan rasa kecewa yang mendalam. Dia meraih ranting pohon yang menggantung rendah, merasa seperti dunia sedang runtuh di atasnya. “Sekarang apa yang harus kulakukan?”
“Kamu mencari ini?”
Suara dari belakang membuatnya terkejut. Dia berbalik dan melihat Dito berdiri di sana dengan payung putih di tangannya, dan di tangan satunya ada berkas kertas yang sangat akrab – berkas yang dia cari-cari.
“Dimanamu dapatkan itu?” tanya Nara dengan suara yang sedikit tinggi, segera mendekatinya.
“Saat kamu pergi tadi, aku melihatnya terjatuh di antara rerumputan.” Dito memberikan senyum lembut dan mengulurkan tangannya untuk menyerahkan berkas tersebut. “Aku tidak membukanya, janji. Tapi aku kira ini penting buat kamu karena kamu tampak sangat terburu-buru.”
Nara mengambil berkas dengan cepat dan memeriksanya dengan cermat. Semua halaman masih utuh – tidak ada tanda-tanda bahwa orang lain sudah membacanya.
“Terima kasih banyak,” ucapnya dengan suara penuh rasa syukur. “Ini benar-benar sangat penting bagiku.”
“Tidak apa-apa. Semua orang pasti pernah kehilangan sesuatu yang penting kan?” Dito menggeser payungnya agar menutupi Nara yang mulai basah karena hujan yang menerpa. “Kamu mau aku antar kamu pulang? Hujan nya semakin deras dan jalanan pasti licin.”
Nara ingin menolak, tapi melihat kondisi jalan yang sudah tergenang air dan hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, dia hanya bisa mengangguk.
Selama perjalanan dengan motor Dito, Nara merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa tenang saat berada di dekat pria ini. Meskipun baru saja bertemu, dia merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama.
“Saya tahu tentang proyek kamu di perusahaan Mitra Pustaka,” ucap Dito sambil mengemudi dengan hati-hati melalui jalan yang tergenang. “Reza pernah cerita bahwa kamu selalu ingin membuat buku cerita bergambar untuk anak-anak yang tidak punya akses ke buku-buku baik.”
Nara terdiam sejenak sebelum menjawab. “Ya. Itu impianku sejak dulu. Tapi tidak sesederhana yang aku bayangkan.”
“Tidak ada impian yang mudah untuk diraih kan?” Dito melihat ke belakang sebentar dan memberikan senyum hangat. “Tapi kalau kita benar-benar ingin mencapainya, pasti ada jalan yang bisa ditempuh.”
Saat mereka sampai di depan rumah Nara, hujan mulai reda sedikit. Nara turun dari motor dan melihat ke arah Dito dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
“Kamu kenal Reza dari kuliah ya?”
“Ya, kita sama-sama jurusan pendidikan. Dia selalu cerita tentang kamu dan impian kalian berdua untuk membangun tempat belajar kreatif bagi anak-anak.” Dito menggeleng perlahan. “Saya tahu apa yang terjadi antara kalian berdua lima tahun yang lalu. Reza tidak pernah benar-benar bisa melupakanmu, kamu tahu kan?”
Nara merasa dada nya terasa sesak. “Itu sudah masa lalu. Kita sudah jalan masing-masing.”
“Mungkin saja. Tapi terkadang masa lalu bisa jadi pintu menuju masa depan yang lebih baik.” Dito memberikan senyum lagi. “Saya bekerja sebagai dosen di jurusan pendidikan kreatif di kampus lokal. Jika kamu butuh bantuan untuk proyek kamu di sini, jangan sungkan untuk menghubungi saya ya.”
Setelah Dito pergi, Nara berdiri di depan rumahnya sambil menatap jalan yang sudah sepi. Dia meraih nomor telepon yang Dito tulis di sudut berkas tersebut, merasa ada harapan baru yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Pada hari berikutnya, Nara datang ke kantor cabang Mitra Pustaka yang baru saja dibuka di pusat kota. Ruangan yang masih baru dan bersih terasa dingin dan tidak ramah, membuatnya merasa seperti orang asing di tempat sendiri.
“Kak Nara, ada tamu yang menunggu kamu,” ucap Maya – sekretaris lokal yang baru dipekerjakan – dengan wajah yang sedikit gugup. “Dia bilang sudah kamu undang.”
Nara masuk ke dalam ruang kerja dan melihat seseorang yang tidak dia duga akan bertemu – seorang wanita cantik dengan rambut panjang hitam yang sedang duduk di kursi tamu, sedang melihat foto-foto anak-anak yang terpajang di dinding.
“Lina?” ucap Nara dengan suara penuh kejutan. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Wanita itu berbalik dan memberikan senyum yang dingin. “Hai Nara. Sudah lama tidak bertemu ya? Aku datang karena ingin membantu kamu dengan proyek ini. Atau mungkin kamu sudah lupa bahwa perusahaan ini juga punya bagian aku?”
Nara merasa darahnya membeku. Lina – mantan sahabatnya yang juga dulunya menjadi alasan utama perpecahannya dengan Reza – berdiri dan mendekatinya dengan langkah yang percaya diri.
“Kamu tidak mungkin bekerja di sini,” kata Nara dengan suara yang tegas.
“Sayang, kamu salah besar.” Lina menunjukkan kartu identitas perusahaan yang ada di tangannya. “Saya baru saja diangkat sebagai manajer operasional untuk cabang ini. Dan mulai sekarang, kita akan bekerja bersama-sama untuk menjalankan proyek ini.”
Nara merasa seperti terkena pukulan keras di wajah. Semua rencana yang dia susun dengan hati-hati tiba-tiba terasa hancur. Dan yang paling mengerikan adalah – dia tahu bahwa Lina tidak datang ke sini hanya untuk bekerja sama.
Ada sesuatu yang lebih besar yang direncanakannya.
Saat Lina berjalan keluar dari ruangan dengan senyum puas, dia menyelinapkan sebuah surat kecil ke dalam tas kerja Nara. Saat Nara menemukan surat itu dan membukanya, wajahnya menjadi pucat:
“Ingat apa yang kamu lakukan pada saya lima tahun yang lalu? Sekarang giliran saya untuk membalasnya. Jika kamu tidak ingin semua rahasia tentang proyek gagal di Jakarta terbongkar, maka lakukan apa yang saya katakan. Mulai sekarang, proyek ini adalah milik saya.”
Di bawahnya ada foto kecil – foto Nara dan bosnya yang sudah meninggal dunia dua tahun yang lalu, dalam posisi yang bisa disalahartikan jika dilihat oleh orang yang salah.
Bagaimana Lina bisa mendapatkan foto itu? Dan apa yang sebenarnya dia inginkan?