NovelToon NovelToon
Handsome Ghost

Handsome Ghost

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Beda Dunia / Romantis / Hantu / Mata Batin / Komedi
Popularitas:962
Nilai: 5
Nama Author: Queena lu

Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Tertangkap Basah

Malam sudah jauh larut ketika motor Aditya akhirnya berhenti di depan rumah. Suara mesin yang tadi meraung pelan kini mati, menyisakan keheningan yang justru terasa… Mencurigakan.

Lampu teras rumah mati. Pintu tertutup rapat. Halaman terlihat sepi. Terlalu sepi.

Kiara turun dari motor dengan gerakan pelan, tubuhnya masih terasa berat setelah perjalanan ghaib yang baru saja ia lalui. Meski secara fisik ia sudah kembali, tapi lelah itu seperti menempel sampai ke tulang. Sky melayang santai di sampingnya, kedua tangannya dimasukkan ke saku hoodie, matanya mengamati rumah itu dengan ekspresi santai.

“Wah… Suasananya damai banget,” katanya ringan.

“Biasanya kalau terlalu damai gini… Artinya badai mau datang.”

Kiara menatap lurus ke arah pintu rumah.

“Jangan ngomong gitu.”

Aditya ikut turun dari motor, melepas helm, lalu menghela napas panjang. Ia menatap rumah itu cukup lama, seolah sedang menilai situasi seperti agen rahasia yang akan melakukan misi berbahaya.

“Kita… Aman gak ya?” gumamnya pelan.

Kiara meliriknya datar. Lalu melihat jam tangannya.

“Kita pulang jam segini.”

Aditya terdiam.

“Dan kita bilangnya cuma ‘Pergi bentar’,” lanjut Kiara tanpa ekspresi.

Aditya kembali terdiam.

Sky menahan tawa.

“Oh… Kalian kali ini mati bukan karena makhluk astral… Tapi karena ibu sendiri.”

Kiara menghela napas pelan. Ia benar-benar merasakan itu. Entah kenapa, menghadapi ibunya sekarang terasa lebih menegangkan daripada menghadapi Bara tadi.

“Kak…”

“Hm?”

“Kakak punya ide?”

Aditya menatap pintu rumah itu lagi, lalu matanya menyipit, seperti sedang memikirkan strategi yang sangat penting.

“Gimana kalau…” katanya pelan, lalu mendekat sedikit ke Kiara,

“kita manjat tembok?”

Kiara langsung menoleh. Tatapannya datar. Sangat datar.

Sunyi beberapa detik.

“Kalo kakak mau mati… Jangan ngajak-ngajak aku,” balas Kiara tanpa ragu.

Sky langsung menutup mulut, menahan tawa.

“Eh, serius! Itu strategi stealth!” bela Aditya pelan.

“Itu strategi bunuh diri,” jawab Kiara singkat.

“Ya kan kita masuk dari samping-”

“Terus jatuh, terus ketahuan, terus dimarahin dua kali lipat.”

Aditya terdiam lagi.

“…”

Sky akhirnya tidak tahan. “Wah, ini bukan tim… Ini roasting session.”

Aditya menghela napas panjang, lalu menyilangkan tangan.

“Oke… Kita pakai cara normal aja.”

Kiara menatapnya, sedikit curiga.

“Cara normal?”

“Kita masuk lewat pintu depan.”

Kiara langsung menatapnya seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

“Terus?”

“Kalau nanti Tante Rina marah…” Aditya menepuk dadanya bangga.

“Aku yang maju.”

Kiara menaikkan satu alis.

“Aku tinggal ngebujuk Tante aja.”

Kiara menyipitkan mata. “Kakak yakin itu bakal berhasil?”

“Udah pasti!” jawab Aditya dengan penuh percaya diri.

“Aku kan ponakan kesayangan Tante. Dan biasanya cara itu berhasil ke mantan-mantanku.”

Sunyi.

Kiara menatapnya tanpa ekspresi.

“Dih…” katanya datar. “Dasar playboy jamet.”

“Eh!”

Sky langsung tertawa terbahak-bahak. “Kena mental!”

Aditya menunjuk Kiara.

"Sok banget! Nanti juga kamu yang ngumpet di belakang aku!”

Kiara memalingkan wajah.

“Mending aku kabur daripada ikut strategi kakak.”

“Yaudah! Sana kabur!”

“Ogah.”

“Lah?”

Kiara menghela napas panjang.

“Capek.”

Aditya menatapnya, lalu mengangguk.

“Oke, valid.”

Akhirnya, setelah berdebat cukup lama dengan suara pelan, yang sebenarnya lebih mirip saling sindir daripada diskusi, mereka berdua sepakat untuk masuk lewat pintu belakang.

“Ini final ya,” kata Aditya sambil berjalan pelan ke samping rumah.

“Operasi: Masuk Tanpa Ketahuan.”

Kiara hanya mengangguk malas.

Sky ikut melayang di belakang mereka, terlihat sangat menikmati situasi.

“Seru juga ya… Kayak mau maling,” komentarnya santai.

“Kita bukan maling,” balas Kiara pelan.

“Bedanya?”

“Kalau maling ketahuan… Tinggal kabur.”

“Kalau kalian?”

Kiara berhenti sejenak.

“Pasrah.”

Sky tertawa lagi.

Mereka sampai di pintu belakang. Aditya pelan-pelan membuka gagangnya.

Klik.

Tidak terkunci.

Keduanya saling pandang.

“Aman,” bisik Aditya.

Mereka masuk perlahan. Dapur gelap. Tidak ada suara. Hanya bunyi kipas angin dari ruang tengah yang berputar pelan. Aditya mengangkat tangan, memberi isyarat seperti di film aksi.

“Pelan-pelan,” bisiknya dramatis.

Kiara menatapnya.

“Kita bukan di film.”

“Iya, tapi biar keren.”

Mereka berjalan pelan melewati dapur. Masuk ke ruang makan. Lalu ke ruang tamu. Masih aman.

Aditya tersenyum bangga. “Lihat? Strategi aku berhasil.”

Kiara tidak menjawab. Ia sudah terlalu sering melihat hal seperti ini berakhir buruk.

Dan benar saja.

Baru saja kaki mereka menginjak anak tangga pertama-

Klik.

Lampu ruang tamu menyala terang. Keduanya langsung membeku. Perlahan ... Mereka menoleh.

Dan di tengah ruang tamu-

Sudah berdiri Bu Rina. Dengan tangan berkacak pinggang. Tatapannya tajam. Auranya… Mengerikan.

Kiara bahkan merasa aura ibunya jauh lebih menekan daripada makhluk ghaib yang tadi ia lawan. Sky yang melihat itu langsung melayang mundur beberapa langkah.

“Wah…” katanya pelan.

“Ini level boss final.”

Aditya menelan ludah.

“Selamat malam, Tante…” katanya pelan, mencoba tersenyum.

Bu Rina tidak menjawab. Hanya menatap. Lama. Sangat lama.

Kiara menelan ludah pelan.

“Aku lebih takut ini daripada Bara,” gumamnya pelan.

Sky mengangguk setuju. “Relatable.”

Akhirnya-

“Jam berapa ini?” tanya Bu Rina dingin.

Sunyi.

Aditya melihat jam di tangannya.

“Jam… Sebelas lewat… Sedikit,” jawabnya pelan.

“Sementara kalian bilang pulang jam delapan.”

“Iya...”

“Berarti tiga jam itu kalian ke mana?”

Sunyi lagi.

Aditya menatap Kiara. Kiara menatap tangga. Sky menatap drama.

“Main…” jawab Aditya akhirnya.

“Main apa?”

“Main… Kehidupan.”

Kiara menoleh cepat.

“Kak, itu bukan jawaban.”

Sky langsung ngakak.

“Main kehidupan apaan sih?!”

Bu Rina menyipitkan mata.

“Kehidupan?”

Aditya langsung panik.

“Maksudnya… Main biasa… Nongkrong… Ngobrol…”

“Di mana?”

“Di…”

Aditya terdiam. Kiara menghela napas pelan.

“Di rumah teman,” katanya datar.

Bu Rina menatap Kiara sekarang.

“Teman siapa?”

Kiara terdiam.

Sky menepuk jidat. “Waduh… Ini interogasi.”

Aditya langsung menyela.

“Teman aku, Tante!”

“Siapa?”

“Teman…”

“Namanya?”

“…”

Aditya menutup mata.

“Budi...”

Sunyi.

Kiara langsung memalingkan wajah, menahan ekspresi. Sky tertawa tanpa suara.

“Budi siapa?” tanya Bu Rina.

Aditya membuka mata pelan.

“Budi… Santoso?”

Kiara menutup wajahnya.

“Ya Tuhan…” gumamnya pelan.

Bu Rina menghela napas panjang.

“Kalian pikir Ibu ini bodoh?”

“Enggak, Tante!”

“Terus kenapa jawabannya makin aneh?”

Aditya langsung menunjuk Kiara.

“Ini semua ide Kiara!”

“Eh?!”

Kiara langsung menoleh tajam.

“Kakak yang ngomong ‘main kehidupan’!”

“Ya kan kamu yang lanjutin tadi!”

“Karena kakak gak jelas!”

“Kamu juga gak bantu!”

“Lah?”

Bu Rina menatap keduanya dengan ekspresi yang semakin datar. Sangat datar.

Sky sampai mundur lagi.

“Wah… Ini mau meledak.”

Dan benar saja.

“CUKUP.”

Keduanya langsung diam. Suasana langsung sunyi.

Tak berapa lama, pintu kamar terbuka. Pak Rahmat keluar dengan wajah setengah mengantuk, menguap pelan. Ia berjalan ke arah dapur, mungkin ingin minum.

Namun begitu melihat pemandangan di ruang tamu-

Ia berhenti. Menatap. Menilai situasi. Lalu tanpa berkata apa-apa... Ia berbalik. Dan masuk lagi ke dalam kamar. Menutup pintu perlahan.

Kiara berkedip.

Aditya melongo.

Sky tertawa keras.

“Wah! Itu namanya survival instinct!”

Bu Rina menarik napas panjang.

“Kalian berdua…”

Suara beliau kini lebih pelan. Namun justru itu yang lebih menakutkan.

“ Duduk.”

Aditya dan Kiara langsung duduk di sofa seperti siswa yang akan diadili.

Sky ikut duduk di sandaran sofa, menonton dengan santai.

“Ayo… Mulai,” katanya seperti penonton drama.

Bu Rina duduk di depan mereka. Tatapannya tajam.

“Sekarang… jujur.”

Sunyi.

Kiara menatap lantai. Aditya menatap langit-langit.

“Kalau kalian bohong lagi…” lanjut Bu Rina pelan, “Kalian gak keluar rumah satu bulan.”

Aditya langsung menoleh.

“Sebulan?!”

Kiara langsung menatapnya.

“Jujur aja.”

Aditya menelan ludah. Ia menatap Kiara. Kiara menatap balik. Keduanya terdiam. Sky memperhatikan mereka, kali ini tanpa senyum.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka pulang…

Suasana berubah sedikit serius.

Karena untuk menjelaskan semuanya…

Mereka harus memilih.

Bohong…

Atau mengatakan kebenaran yang mungkin…

Tidak akan dipercaya sama sekali.

1
kikyoooo
wah semangat! yuk saling support kak🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!