Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Interupsi di Tengah Kehangatan
Malam di penthouse itu terasa begitu tenang, hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Airin baru saja menutup laptopnya setelah menyelesaikan draf laporan audit, namun Jordan sepertinya belum ingin mengakhiri sesi "belajar bersama" mereka.
Pria itu menarik Airin ke dalam pangkuannya di sofa. "Sudah selesai, kan? Sekarang waktunya untukku," bisik Jordan dengan nada yang rendah dan serak.
Jordan mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil di leher jenjang Airin, lalu naik ke rahang, dan berakhir di pipi kanan gadis itu, tepat di atas lesung pipinya yang dalam. Airin hanya bisa memejamkan mata, merasakan jemari besar Jordan yang mengusap pinggangnya dengan posesif. Jordan sedang dalam mode sangat manja malam ini, ia menciumi wajah Airin berkali-kali seolah tidak ingin memberikan ruang bagi gadis itu untuk bernapas.
Tepat saat Jordan hendak mencium bibir Airin, suara dering ponsel yang nyaring memecah suasana.
Drrrtt... Drrrtt...
Airin tersentak dan mencoba meraih ponselnya di meja kopi. "Jordan, tunggu... ada telepon."
"Abaikan saja," gumam Jordan, berusaha meraih kembali dagu Airin.
"Tidak bisa, ini dari Thea! Dia sudah meneleponku tiga kali sejak tadi sore," Airin melihat layar ponselnya. Itu adalah panggilan video. Dengan panik, Airin mendorong dada Jordan. "Cepat menjauh! Dia melakukan video call!"
"Biarkan saja dia tahu," sahut Jordan cuek, namun ia akhirnya bergeser sedikit meski tangannya tetap melingkar di pinggang Airin, tersembunyi dari jangkauan kamera.
Airin menarik napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan menekan tombol hijau. Wajah Thea yang tampak heboh langsung memenuhi layar.
"AIRIN! Akhirnya diangkat juga!" teriak Thea di seberang sana. "Lo di mana sih? Kok akhir-akhir ini setiap kelas bubar lo langsung hilang kayak ditelan bumi? Biasanya kan kita nongkrong dulu di kantin atau bahas tugas di kafe!"
Airin memaksakan senyum lembutnya. "Maaf ya, The. Aku... aku sedang banyak urusan di apartemen. Ada beberapa hal yang harus kukerjakan sendiri."
"Urusan apa sampai sesibuk itu? Lo nggak lagi disekap sama cowok ganteng, kan?" canda Thea tanpa tahu betapa dekatnya dia dengan kenyataan.
Saat itu, Jordan yang merasa terabaikan mulai bertingkah jahil. Ia sengaja meniup telinga Airin dan memberikan kecupan kecil di bahu Airin yang tidak tertutup rambut. Airin tersentak, tubuhnya menegang.
"Rin? Lo kenapa? Kok mukanya aneh gitu?" selidik Thea, mendekatkan wajahnya ke kamera. "Dan bentar... itu latar belakang lo kok kayak bukan di apartemen lama lo ya? Bagus banget, ada lampu kristal segala. Lo pindah?"
"Aah, ini... ini aku lagi di... di perpustakaan umum yang baru buka itu loh, The. Fasilitasnya memang mewah," jawab Airin berbohong, suaranya tetap tenang dan lembut meski jantungnya berdegup kencang karena Jordan sekarang mulai menggigit kecil bahunya.
"Perpustakaan umum jam segini masih buka? Dan lo pakai piyama?" Thea memicingkan mata. "Rin, lo menyembunyikan sesuatu ya? Jujur deh, lo lagi sama siapa?"
Jordan yang mulai pusing mendengar suara cempreng Thea dan rentetan pertanyaannya yang seperti interogasi polisi, akhirnya kehilangan kesabaran. Ia berbisik cukup keras di dekat ponsel Airin, "Matikan teleponnya, Airin. Aku lapar."
Mata Thea membelalak di layar. "Suara siapa itu?! Rin! Itu suara cowok! Kedengarannya berat banget kayak suara Pak"
Sebelum Thea menyelesaikan kalimatnya, Airin dengan cepat menekan tombol merah. Sambungan terputus.
Airin berbalik dan menatap Jordan dengan wajah kesal sekaligus malu. "Jordan! Kamu hampir membuatku ketahuan! Bagaimana kalau dia sadar itu suaramu?"
Jordan hanya mengangkat bahu dengan santai, lalu menarik Airin kembali ke dalam pelukannya. "Bagus kalau dia sadar. Lagipula, dia terlalu banyak tanya. Kepalaku pusing mendengar suaranya yang melengking itu lewat ponselmu."
"Tapi dia sahabatku!"
"Dan aku pacarmu. Pangkatku lebih tinggi," jawab Jordan narsis sambil kembali mengunci bibir Airin, menghentikan segala protes yang hendak keluar dari mulut manis gadis itu.
Di tempat lain, Thea menatap layar ponselnya yang gelap dengan mulut terbuka. Ia segera mengetik pesan di grup rahasianya bersama Dion dan Kriss.
THEA
GUYS! AIRIN LAGI SAMA COWOK! DAN SUARANYA MIRIP BANGET SAMA DOSEN KITA YANG SANGAR ITU! GUE SERIUS!