Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Terimakasih Om
" Ayo Om " rengek Ayra .
Hans mengeluarkan satu kartu dari dompetnya lalu memberikan pada Ayra " pergilah beli, jangan ganggu Om sedang bekerja " ucap Hans .
" Mmmm, temenin Om " kata Ayra yang lebih senang jalan bersama Hans karena bakalan bisa beli lebih banyak barang .
" Ayra , seperti yang kamu lihat Om sedang bekerja" ucap Hans .
" Om siapkan aja pekerjaan dulu aku tunggu " kata Ayra dengan senyum menyebalkan nya seolah ancaman bagi Hans .
" Pekerjaan Om nggak bakalan ada selesainya Ay" ucap Hans menarik nafas berat .
" Nah karena itu, Ayo jalan-jalan biar Om nggak mumet " kata Ayra berdiri sambil bertepuk tangan dan berjalan mendekati Hans lalu membantu menyimpan data di laptop serta menutup nya .
" Ayo Om, pakai jas nya " kata Ayra dengan senyum cekikikan nya melihat tatapan sebelah mata Hans .
" Kamu selalu saja melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan" ucap Hans mengacak rambut gadis nakal itu.
" Ayo Om " rengek Ayra berjalan menyeret tangan Hans sampai beberapa staf tergelak melihatnya, Ayra adalah satu-satunya wanita yang tidak takut dan juga bisa memaksa pria dingin seperti Hans yang sangat tegas .
Sesampai di parkiran Ayra membuka Hard Top Lamborghini milik nya lalu mempersilahkan Hans masuk bahkan membuka pintu .
" Biar Om bisa nafas " senyum lebar Ayra yang akan menyetir mobil sementara Hans duduk di sebelahnya.
" Pake sabuk pengaman Om " Kata Ayra yang masih berdiri diluar memakaikan sabuk pengaman untuk Hans .
" Ayra bawa mobil dengan baik , jika tidak Om jual mobil kamu " ucap Hans ketika Ayra duduk di sebelahnya.
" Jual lah nanti aku minta mobil baru lagi sama Om, kalau nggak mobil Om yang aku bawa " kata Ayra memakai kaca mata hitamnya dan mulai mengendarai mobil nya .
Sesekali Hans melirik Ayra yang membawa mobil dengan rambut yang beterbangan karena angin membuat pesona nya semakin menyala saja , hingga beberapa orang menoleh melihatnya.
" Ayra tutup hard top nya kembali " kata Hans .
" Apa Om?" tanya Ayra seolah tidak mendengar sambil menahan tawa .
" 100 juta " ucap Hans dengan suara begitu pelan .
" 100 juta, Om mau ngasih aku" kata Ayra menatap Hans dengan mata berbinar .
" Alah, giliran uang aja pendengaran kamu lebih tajam dari pada monyet " ketus Hans bad mood .
Ayra menutup hard top mobilnya seperti permintaan Hans " Om kenapa sih hari-hari bad mood aja , coba full senyum sehari aja " komplen Ayra .
" Kek nya Om harus punya istri deh biar nggak bad mood tiap hari " pendapat Ayra mengingat Om Hans adalah pria dewasa .
" Besok pagi Om nikah " ucap Hans yang membuat Ayra langsung diam seribu bahasa .
" Kalau Om nikah berarti tinggal dirumah yang berbeda dong sama istri Om ?" tanya Ayra yang mendadak sedih karena cuek-cuek gitu Hans sangat perhatian dan sayang padanya sejak dulu .
" Iyalah, emang kamu mau ikut Om buat jadi pengusir lalat antara kami" Hans tertawa dengan spontan melihat ekspresi Ayra .
" Nggak, pokoknya kita harus sama-sama nikah nanti , Aku juga harus punya suami sebelum Om punya istri" pernyataan Ayra .
" Lahhh kenapa? selesaikan kuliah kamu dulu jangan mikirin nikah-nikah masih kecil " ucap Hans menjitak kepala Ayra yang masih kuliah udah kepikiran nikah .
" Masih kecil ? Om lupa kemarin aku ulang tahun ke berapa?" pertanyaan Ayra yang membuat Hans jadi teringat kalau umur Ayra sudah 21 tahun .
" Menurut Om umur kamu masih 12 tahun " ucap Hans yang rasanya belum lama merawat gadis manja yang setiap hari tidur dipangkuan nya dan suka merajuk .
" Atas dasar apa Om bilang gitu , udah gede nih boss " kata Ayra yang sejak berulang tahun kemarin jadi merasa sudah dewasa.
" Gede? Nggak nambah tinggi pun " pendapat Hans menatap Ayra dengan mendetail .
" Hwaaaa, mulut Om benar-benar kurang ngajar pantes nggak ada yang mau sama Om" teriak Ayra memukul lengan Hans setelah merem mendadak .
" Mulut kamu yang lebih kurang ngajar " ucap Hans memegang kedua tangan Ayra yang memukul nya .
" Wajarlah, kan hasil didikan Om jadi nurun kurang ngajar mulut nya " ucap Ayra yang membuat Hans terdiam .
" Om selalu mendidik kamu untuk kebaikan" tegas Hans .
" Sekali-kali bimbing napa Om " senyum menggoda Ayra mengedipkan mata centilnya , kadang Ayra juga heran mengapa orang setampan Om Hans tidak punya pacar.
" Kamu disabilitas?" pertanyaan Hans dengan begitu menyebalkan
" Om pikir yang butuh di bimbing cuma orang buntung atau cacat gitu , dibimbing kan tidak selalu berarti seperti itu " cemberut Ayra .
" Lah jadi apa?"
" Udahlah, capek jelasin sama Om " ketus Ayra mempelototi pria dewasa yang sok polos itu .
...........
Disepanjang Mall Ayra berjalan memeluk sebelah lengan Hans seperti kebiasaan nya , mau diomeli Hans berkali-kali sekalipun sejak kecil Ayra masih sama selalu saja menempel dilengan Hans .
" Hai Ayra " sapa beberapa orang teman kampus .
" Haiii" sapa Ayra balik pada teman-teman nya sambil melambaikan tangan.
" Ay kamu punya banyak teman namun kenapa tidak punya seorang pun sahabat?" tanya Hans yang tidak pernah melihat Ayra punya sahabat walaupun dia banyak teman .
" Loh Om nggak tau sahabat aku?" tanya Ayra terkejut membuat Hans jadi curiga karena dia memang tidak tau kalau Ayra punya seorang sahabat.
" Siapa?" tanya Hans ingin tau .
" Masa Om nggak tau, sahabat aku cowok, ganteng dan dia baik banget " cerita Ayra .
" Oooo, hebat ya kamu udah main rahasia-rahasia an dari Om " senyum kecut Hans yang selama ini selalu tau seluk beluk hidup Ayra karena gadis itu selalu bercerita padanya .
" Mana ada rahasia Om aja yang nggak tau " kata Ayra .
" Yaudah katakan , Om harus tau, Om nggak mau kamu dekat sama orang yang nantinya akan menjerumuskan kamu " ucap Hans yang sangat menjaga Ayra , karena merupakan amanah yang dititipkan padanya ..
" Katakan Ayra " tegas Hans berhenti berjalan .
" Ayo jalan Om toko tas nya disana " ucap Ayra .
" Nggak , Om nggak bakalan beliin kamu tas sebelum kamu bilang siapa sahabat kamu " kata Hans yang ingin tau .
Hans langsung menoleh kebelakang begitu Aura menunjuk ke arah nya barangkali orang itu ada dibelakang Hans .
" Mana,?" tanya Hans ketika dia tidak melihat seseorang pun yang seperti kenal dengan Ayra
" Om nggak perlu cari siapapun karena sahabat aku adalah Om, tempat cerita sekaligus tempat meminta bagi aku " pernyataan Ayra memeluk Hans .
" Walaupun Om ngeselin tapi terimakasih untuk selama ini Om udah jadi wali nya Ayra , bukan cuma itu Om juga membesarkan Ayra sekali lagi makasi ya Om" kata Ayra ketika Hans membalas pelukan nya .
" Ayra sayang Om , terimakasih udah selalu ada untuk Ayra" Ayra tidak bisa membayangkan hidup nya bagaimana jika tidak ada Hans sepeninggal kedua orangtuanya
wah ada baby Zoe, jangan bilang kecebong Hans itu 🤭🤭😆