Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum Cerah
Dua jam Shahinaz berpura-pura tidur. Hingga ketika Dreven merasa tidak terusik dengan pergerakannya lagi, dia secara diam-diam pergi dari kamar Dreven. Shahinaz berlari tanpa suara, tapakan kakinya dia buat sepelan mungkin agar tidak membangunkan siapapun.
Masuk menuju lift, kemudian turun menuju lantai dasar, ternyata banyak penjaga yang mondar mandir seolah sedang berjaga di sana. Dia menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, berapa banyak uang yang dikeluarkan keluarga Dreven untuk membayar mereka semua? Dan berapa gaji mereka dalam sebulan, Shahinaz ingin tau sekarang.
"Nona Muda, ada yang perlu saya bantu?" kata seorang pria yang dikenali sedikit oleh Shahinaz. Itu adalah pria yang sama, ketika mereka berdebat di toko bunganya.
"Jangan panggil saya Nona Muda, saya cuma tamu saja di sini. Oh ya, anda yang waktu itu berada di toko bunga kan?" tanya Shahinaz memastikan sekali lagi, takutnya itu hanya ilusi semata darinya.
"Benar Nona Muda, itu saya. Maaf saya memaksa anda untuk berdebat, karena kondisinya saat itu memang sangat genting untuk Tuan Muda." balas pria itu lagi.
Shahinaz mengangguk paham, mungkin dia bisa mempercayai pria itu untuk sementara. Yang terpenting, dia bisa pergi dari sini kemudian menyendiri sampai dirinya kembali stabil. Uang tunai yang dia bawa kemarin, sepertinya sudah cukup untuk dia bawa berjaga-jaga.
"Oh ya, saya mau tanya soal motor vespa berwarna biru muda. Apa anda pernah melihatnya di sini?" tanya Shahinaz melanjutkan.
"Motor berwarna biru? Itu kemarin saya yang membawanya Nona, kenapa?" tanya pria itu selanjutnya.
Shahinaz menatap pria itu dengan antusias, "Dimana motor itu? Boleh saya melihatnya?"
"Emmm, apa Tuan Muda Dreven sudah mengizinkan? Saya belum mendapatkan titah sedikitpun dari Tuan Muda." balas pria itu.
Shahinaz memandang pria itu dengan penuh harap, "Ini kondisi genting, saya ada urusan yang tidak bisa saya tinggalkan."
Pria itu tampak ragu sejenak, menilai situasi di depan matanya. Namun, setelah melihat keseriusan dan urgensi di wajah Shahinaz, dia akhirnya mengangguk, "Baiklah, Nona. Saya akan membawa anda ke motor yang dimaksud. Tapi ingat, ini di luar kendali saya dan anda hanya dibolehkan untuk melihat saja, jadi mohon untuk tidak melanggar aturan yang ada."
Shahinaz menganggukkan kepalanya dan mengikuti pria itu ke arah garasi bawah tanah. Di sana, dia melihat beberapa puluhan mobil mewah yang terparkir rapi, termasuk Vespa biru muda yang dia cari sekarang. Pasti harga satu mobil mewah itu setara dengan tabungan 10 Milyar yang dia punya. Jadi bukankah itu sudah menjelaskan kalau perbedaan mereka terlalu kentara? Apa yang sebenarnya laki-laki itu lihat darinya?
Pria itu memberi isyarat untuk Shahinaz mendekat, "Apakah ini? Vespa biru seperti yang anda sebutkan tadi."
Shahinaz mengangguk cepat, "Dimana kuncinya? Katanya anda yang membawa motor ini kemarin."
Pria yang menjadi bawahan Dreven Veir Kingsley itu menggelengkan kepalanya tanda menolak, "Maaf, saya harus mengikuti perintah, dan perintahnya adalah memastikan Nona tidak keluar dari sini tanpa izin dari Tuan Muda."
Shahinaz tersenyum kecil, tapi percayalah tangannya sudah mengepalkan erat. Alibi apa yang harus dia lakukan untuk mengelabui semua bawahan Dreven itu?
Shahinaz menghela napas, berpikir sejenak. "Jadi, saya boleh pergi kalau sudah seizin Tuanmu gitu?"
Pria itu mengangguk, "Ya, Nona. Kalau Tuan Muda Dreven mengizinkan, saya akan memastikan anda bisa pergi. Tapi, selama tidak ada izin dari Tuan Muda, saya tidak bisa memberikan kunci."
Shahinaz menggertakkan giginya kesal. Kalau hasilnya nihil, untuk apa dia berkata sopan sejak tadi. Shahinaz hanya ingin sendiri, dan tidak ingin terjerat lebih lama lagi dengan laki-laki itu. Jadi apapun caranya, Shahinaz harus keluar dari tempat ini sekarang juga!
"Gue mau coba ngehidupin motor doang. Lo tau kan kalau tampilan motor ini masih kelihatan baru? Gue baru beli kemarin, takutnya ada yang rusak sama mesinnya karena bukan gue yang ngepakai." ujar Shahinaz menjelaskan, hilang sudah norma-norma kesopanan yang tadi Shahinaz pegang baik-baik.
Pria itu menatap Shahinaz dengan penuh keraguan, jelas merasa tidak nyaman dengan perubahan sikapnya. "Maaf, Nona. Saya tidak bisa memberikan kunci tanpa izin dari Tuan Muda."
Shahinaz merasa frustasi, tetapi dia tahu dia harus tetap tenang dan berpikir cepat. Jika dia tidak bisa mendapatkan kunci dari pria itu, dia harus mencari cara lain. Shahinaz mencoba berpikir cerdik.
Shahinaz mengambil napas dalam-dalam, "Cuma ngehidupin motor doang, please. Lo nggak lihat gue udah sefrustasi ini? Gue udah stress parah, butuh udara segar sekarang. Muter-muter di Mansion juga nggak masalah."
Pria itu menatap Shahinaz dengan hati-hati. Dia tampak semakin cemas melihat betapa frustasinya Shahinaz. Meskipun dia tidak ingin melanggar aturan, dia juga merasa tidak nyaman melihat Shahinaz dalam keadaan seperti itu.
"Apa saya bisa bantu untuk menghubungi Tuan Muda Dreven dan mendapatkan izin langsung dari beliau?" tanya pria itu, berusaha mencari solusi tanpa melanggar aturan yang ada.
"Lo mau gangguin dia tidur? Habis entar lo kena amuk dan damprat Tuan lo sendiri." jawab Shahinaz semakin medramatisir.
Pria itu nampak bimbang, tapi setelah berbagai pertimbangan, dia menyerahkan kunci yang Shahinaz mau. Sedangkan Shahinaz tersenyum mengembang, akhirnya udara kebebasan sebentar lagi menerpanya.
"Thanks, harusnya dari tadi lo ngalah kayak gini, jadi kan kita sama-sama enak." lanjut Shahinaz dengan senyum cerah diwajahnya.
Shahinaz bergegas menuju motor impiannya, lalu dengan cepat, dia memutar kunci kontak berniat menghidupkan, suara mesin Vespa mulai menggelegar lembut, menandakan bahwa motornya masih dalam kondisi baik.
"Nona sudah memastikan motornya baik-baik saja kan? Bisakah Nona mematikan dan memberikan kunci motor itu kepada saya?" balas pria itu yang entah merasa hawanya tidak enak sekarang.
"Motornya belum di tes jalan, gue tes dulu sebentar." jawab Shahinaz yang kemudian melajukan motornya dengan cepat keluar dari garasi, mengikuti firasatnya untuk berjalan ke arah yang sekiranya menuju jalan keluar.
Hingga akhirnya dia melihat gerbang utama Mansion, yang kebetulan sedang dibuka lantaran ada mobil yang hendak keluar dari Mansion megah ini. Dengan kecepatan penuh Shahinaz menggas motornya, tidak peduli dengan teriakan para penjaga yang menyuruhnya untuk berhenti.
"Yeayyyy, akhirnya bebas juga!" teriak Shahinaz dengan wajah penuh semangat. Meski tidak tau jalan yang sedang dia lalui, setidaknya Shahinaz bisa bernapas lega karena dia diberi waktu untuk sendirian sekarang.
Di jalan raya, Shahinaz terus menghafal jalan yang sedang dilalui. Karena dari awal Shahinaz pergi tidak membawa ponsel, tentu saja Shahinaz buta arah dan hanya mengikuti feeling-nya saja. Sambil mengatur napas dan fokus pada arah yang harus diambil, Shahinaz terus mengambil jalan sepi. Dia berharap bisa pergi ke pinggiran kota, dan menemukan danau besar di sana.
Setelah beberapa waktu, Shahinaz akhirnya menemukan sebuah plang penunjuk arah ke sebuah danau yang besar. Ia mengikuti rute yang ditunjukkan dan merasa sedikit lebih lega saat melihat tanda-tanda bahwa dia semakin mendekati tujuannya. Dia juga cukup bersyukur, karena ketika sampai di sana, matahari terbit juga mulai terbit. Rencananya Shahinaz akan merenung seharian disana sendirian.
"Akhirnya bisa bebas sendirian juga." kata Shahinaz sambil menyilangkan kakinya dan bersandar di pohon besar, memejamkan matanya sambil menikmati matahari yang dalam proses terbit itu.
Terkadang sendirian itu menyenangkan, tapi terkadang sendirian juga begitu menyeramkan. Shahinaz sering mengutuk dirinya disaat kesepian melanda, dia juga merasa hidup tidak adil karena dia harus berdiri dikaki sendiri. Lalu ketika terdampar di dunia aneh ini, Shahinaz merasa jika sendirian cukup bagus. Dia tidak suka dipaksa, tidak suka juga ketika ada orang yang berhasil membuatnya tidak berdaya.
"Menyayat dirinya sendiri, konsumsi obat anti-depresan, serangan panik berlebih, bukannya itu semua harus terjadi dengan alasan yang jelas?" tanya Shahinaz sambil menopangkan dagu dengan tangan kanannya. Semua teka-teki ini harus dia dapat jawabannya secepatnya, "Apa ada cara, bagaimana mengembalikan ingatan yang hilang dengan cepat? Gue perlu jawaban kenapa Shahinaz dalam novel pernah nekat mengakhiri dirinya sendiri."
Diam mematung bak orang yang sedang memiliki banyak pikiran. Matahari semakin meninggi, menyoroti danau dengan cahaya lembut yang menyebar di atas air, memberi Shahinaz rasa tenang yang jarang ia rasakan. Namun, pikirannya terus bergelut dengan berbagai pertanyaan yang tidak terjawab.
Shahinaz merasa bahwa hidupnya telah penuh dengan kejutan tak terduga, bahkan kehidupan keduanya ini cukup di luar nalar manusia. Tapi entah ini dunia paralel, atau dunia lain yang baru saja Shahinaz jelajahi, mulai saat ini Shahinaz akan menganggap dunia ini persis sama seperti dunia sebelumnya.
"Bapak lihat-lihat kayaknya si Neng dari tadi diem mulu. Mending ikut mancing sama saya aja, saya bawa alat pancing dua." kata pria paruh baya yang tiba-tiba duduk di sampingnya.
Shahinaz sebenarnya tersentak kaget, namun akhirnya dia bisa menguasai kesadaran dirinya juga, "Bapak kalau tau mau mancing sendiri, kenapa bawa alat pancing dua?"
"Istri saya tadi katanya mau ikut mancing, tapi sekarang katanya mau nonton aja. Takut dapet ikan piranha katanya." kata pria paruh baya itu lagi.
Shahinaz mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan raut keheranan, "Terus istrinya kemana Pak?"
"Masih beres-beres di mobil, sebentar lagi juga nyusul ke sini bareng anak-anak. Mereka mau piknik katanya, jadi saya ambil cuti kerja hari ini."
Shahinaz menatap pancing itu dengan tatapan antusias. Selama dia hidup, dia belum pernah memancing, hidupnya mendadak penuh dengan rutinitas dan tekanan yang tidak pernah memberinya ruang untuk mengeksplorasi hal-hal sederhana dan menyenangkan. Mungkin ini adalah kesempatan yang baik untuk mendapatkan pengalaman baru dan mengalihkan pikirannya dari masalah yang membebani.
"Saya beli pancingnya aja Pak, mau memancing terpisah saja. Kalian kan niatnya mau piknik keluarga, masa ada orang asing di tengah-tengah keluarga Bapak. Boleh ya Pak, saya beli pancingnya?" harap Shahinaz selanjutnya.
"Ambil aja Neng, di rumah masih ada alar pancing banyak kok, lagian belinya juga murah." balas pria paruh baya itu dan memberikan salah satu alat pancingnya kepada Shahinaz, beserta sebagian umpannya, "Itu istri saya, kayaknya mereka mau piknik di sekitar sana. Saya permisi dulu ya Neng."
Shahinaz mengangguk, akhirnya dia ditinggal sendirian lagi sekarang. Tapi tak masalah, ada alat pancing dan juga umpannya yang dia dapat secara gratis. Meski agak geli dengan umpannya, Shahinaz tetap akan belajar memancing dengan sebaik mungkin.
Menyiapkan alat pancing dengan hati-hati, memasang umpan pada kail, lalu melemparkannya ke dalam danau. Sambil menunggu ikan menggigit umpan, Shahinaz melamun panjang lagi. Dia kembali menyusun teka-teki di dalam kepalanya, sudah ada hipotesis sederhana yang untuk membuktikannya, dia harus mencari bukti lebih lanjut.
"Ekhmm... I got you darling." kata seseorang tepat di samping telinganya membuat Shahinaz langsung membelalakkan matanya tak percaya.
Dreven Veir Kingsley, duduk di sampingnya dengan senyuman miring. Shahinaz bahkan tak mampu berkata-kata, dia bingung bagaimana caranya Dreven bisa menemukannya di sini. Shahinaz bahkan merasa jika seluruh tubuhnya mendadak kaku, dan jantungnya berdetak cepat tak karuan saking takutnya detik ini juga.
"Dreven? Kok bisa? Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Shahinaz dengan suara yang sedikit bergetar. Sepertinya sejauh Shahinaz berusaha menyembunyikan diri dari laki-laki itu, Dreven tetap akan bisa menemukannya.
Dreven tersenyum santai, "Gelagatmu terlalu mudah untuk ditebak sayang. Aku tau kamu pasti akan mencari cara untuk keluar dari mansion. Jadi, aku memutuskan untuk melihat bagaimana caramu melarikan diri dari aku."
Shahinaz hendak membalas perkataan Dreven, namun perhatian dan konsentrasinya teralihkan ketika dia merasakan pancingnya bergerak, menandakan bahwa umpan yang dia pasang telah menarik perhatian ikan. Dengan cepat, Shahinaz tersenyum lebar dan menarik pancingnya dengan penuh semangat, berharap dia telah menangkap ikan besar sesuai imajinasinya.
"Yeayyyy, dapet ikan gede. Dreven, ini gimana cara ngelepasin ikannya?" tanya Shahinaz dengan penuh antusias, mengarahkan hasil tangkapannya itu langsung ke arah Dreven.
Sayangnya, Dreven langsung menghindar ketika Shahinaz memamerkan hasil tangkapannya tepat di depan laki-laki itu. Dia juga takut, bingung, tidak tau bagaimana caranya melepas ikan besar itu dari kail yang menjeratnya.
Namun jauh dari itu, Dreven turut ikut bahagia ketika Shahinaz memamerkan senyum cerahnya beberapa detik yang lalu.