NovelToon NovelToon
Pengantin Genderuwo

Pengantin Genderuwo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Dunia Lain / Suami Hantu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goyahnya Mirasih

​Sinar matahari sore yang berwarna jingga pucat menembus ventilasi kamar Mirasih, menciptakan garis-garis cahaya yang penuh debu di atas lantai keramik yang dingin. Mirasih masih terduduk di posisi yang sama sejak ia membaca surat itu. Matanya merah dan sembab, tatapannya kosong menghadap dinding. Surat palsu itu tergeletak begitu saja di samping kakinya, seperti selembar daun kering yang tidak lagi memiliki arti.

​Tok! Tok! Tok!

​Pintu kamar diketuk dengan pelan, disusul suara Bibi Sumi yang sengaja dibuat selembut mungkin, sebuah nada suara yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan karakter aslinya.

​"Mirasih... Nduk, Bibi bawakan makanan," ucap Sumi sambil membuka pintu pelan.

​Bibi Sumi masuk membawa nampan kayu yang berat. Di atasnya tersedia semangkuk nasi putih hangat, sayur bening bayam, ayam goreng, dan beberapa buah jeruk serta pisang yang masih segar. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur.

​"Makan ya, Nduk. Lihat, sayurnya segar sekali, Bibi buatkan khusus untukmu. Buahnya juga manis, tadi Pamanmu yang pilihkan di pasar," ujar Sumi sambil duduk di pinggir tempat tidur, mencoba mengelus bahu Mirasih.

​Mirasih hanya diam. Ia tidak menjauh, tapi ia juga tidak merespons. Tubuhnya terasa seperti patung lilin yang dingin. Kehangatan palsu yang ditunjukkan bibinya sama sekali tidak menyentuh hatinya yang sudah membeku sejak membaca surat tadi siang.

​Bibi Sumi merasa kikuk. Diamnya Mirasih yang biasanya penuh ketakutan kini berubah menjadi diam yang gelap dan berat. Suasana di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Sumi. Ia tidak betah berlama-lama di sana; rasa bersalah yang sedikit tersisa di lubuk hatinya yang paling dalam mulai bergesekan dengan rasa risih melihat keponakannya yang seperti mayat hidup.

​"Ehm... Nduk," Sumi berdehem, mencoba mencairkan suasana. "Bibi lihat kamu sudah beberapa hari ini tidak keluar rumah. Bagaimana kalau sore ini kamu jalan-jalan keluar sebentar? Cari udara segar di depan desa atau ke sawah. Pamanmu sudah izinkan kok. Asal jangan pulang terlalu malam, ya?"

​Mendengar kata "izinkan keluar", mata Mirasih sedikit bergerak. Sebuah ide mendadak melintasi pikirannya yang sedang kalut. Ia butuh kepastian. Ia butuh jawaban yang bukan berasal dari selembar kertas yang bisa saja salah ia tafsirkan.

​"Boleh... Mirasih keluar?" tanya Mirasih dengan suara parau yang hampir hilang.

​Bibi Sumi tersenyum lega, senang karena akhirnya Mirasih bicara dan ia punya alasan untuk segera keluar dari kamar itu. "Tentu saja boleh! Pakai baju yang bagus, sisir rambutmu. Jangan sedih terus, ya. Bibi keluar dulu."

​Begitu pintu ditutup, Mirasih segera bangkit dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Rasa lemas di tubuhnya seolah kalah oleh desakan rasa penasaran yang membakar dadanya. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menyisir rambutnya yang berantakan, dan mengenakan baju sederhana yang paling bersih. Ia menyembunyikan surat itu di dalam lipatan bajunya.

​Ia harus ke rumah Aditya. Ia harus bertanya pada ibunya Aditya. Hanya keluarga Aditya yang bisa membuktikan apakah surat itu benar-benar dari tangan anaknya atau bukan.

​Mirasih berjalan menyusuri jalanan desa dengan langkah yang goyah. Penduduk desa yang berpapasan dengannya menatap dengan pandangan aneh. Mereka melihat Mirasih yang dulunya segar kini tampak kurus kering, dengan tulang pipi yang menonjol dan tatapan mata yang layu. Mereka berbisik-bisik tentang "penyakit" yang mungkin diderita Mirasih sejak pamannya kaya mendadak, namun Mirasih tidak peduli.

​Tujuannya hanya satu: gubuk kecil di ujung desa tempat mak Inah tinggal.

​Sesampainya di halaman rumah Aditya, Mirasih berhenti sejenak. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia melihat Siti sedang mencuci piring di samping sumur. Melihat kedatangan Mirasih, Siti langsung berdiri dengan wajah gembira.

​"Mbak Mirasih!" seru Siti.

​Suara Siti memancing Mak Inah keluar dari dalam rumah. Saat Mak Inah melihat sosok gadis yang berdiri di halaman, ia hampir saja menjatuhkan kain lap yang dipegangnya.

​"Gusti... Mirasih? Ini kamu, Nduk?" Mak Inah berlari menghampiri Mirasih.

​Dia langsung memeluk Mirasih erat-erat. Ia bisa merasakan betapa kurusnya tubuh gadis itu sekarang. Tulang-tulang rusuknya terasa jelas saat dipeluk. Mak Inah yang sudah menganggap Mirasih seperti anak kandungnya sendiri, tidak bisa menahan air mata.

​"Kenapa kamu jadi begini, Nduk? Kamu sakit? Apa mereka tidak memberimu makan?" tanya nya sambil menangis sesenggukan, mengelus rambut Mirasih dengan penuh kasih sayang.

​Mirasih tidak menjawab pertanyaan itu. Ia melepaskan pelukan Mak Inah perlahan, matanya menatap langsung ke dalam mata wanita tua itu.

​"Mak... Mirasih mau tanya sesuatu," ucap Mirasih, suaranya gemetar. "Apa benar... Mas Aditya mengirim surat kemarin?"

​Mak Inah mengusap air matanya, ia mencoba tersenyum meskipun hatinya perih melihat keadaan Mirasih. "Iya, Nduk. Benar sekali. Kemarin ada teman Aditya yang pulang dari Jakarta, dia mampir kemari mengantarkan surat. Aditya mengirim dua surat. Satu untuk kami di sini, dan satu lagi khusus buat kamu. Si Siti yang mengantarkannya ke rumahmu kemarin siang, kan? Apa kamu sudah membacanya?"

​Mirasih merasa seolah ada petir yang menyambar tepat di atas kepalanya. Dunianya seketika menjadi gelap. Harapan terakhirnya bahwa surat itu mungkin hanya lelucon atau salah alamat, kini musnah total.

​"Jadi... benar itu surat dari Mas Aditya?" tanya Mirasih lagi, memastikan sekali lagi dengan sisa kewarasannya.

​"Benar, Nduk. Siti sendiri yang terima dari teman Aditya. Isinya pasti menyenangkan ya? Pasti Aditya bilang dia rindu padamu," sahut nya polos, sama sekali tidak tahu isi surat palsu yang telah diganti oleh Paman Broto.

​Mirasih merasakan kakinya lemas seperti tidak bertulang. Ia terduduk di tanah yang berdebu, tidak lagi peduli pada kebayanya yang kotor. Seluruh pertahanannya runtuh.

​"A-aditya... kenapa..." Mirasih menangis sejadi-jadinya. Tangisannya bukan lagi isakan pelan, melainkan raungan keputusasaan yang sangat memilukan. Ia memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak, seolah ada bongkahan batu besar yang menghimpit jantungnya.

​Bapaknya Aditya yang baru muncul dari dalam rumah menjadi panik. Dia bingung melihat reaksi Mirasih yang sehebat itu.

​"Nduk! Ada apa? Kenapa kamu menangis seperti ini?" Mak Inah ikut bersimpuh di tanah, mencoba menenangkan Mirasih. "Apa isi suratnya menyakitkan? Apa Aditya bicara yang tidak-tidak? Tidak mungkin, Nduk... Aditya itu sangat mencintaimu. Dia kerja keras di sana cuma buat kamu."

​"Dia membuangku, ! Dia menyuruhku tidak menunggunya lagi! Dia bilang dia tidak akan kembali!" teriak Mirasih di sela tangisannya yang hebat.

​Bapak Aditya mengerutkan dahi, bingung. "Masa iya? Di surat yang kami terima, dia bilang dia sangat rindu dan minta didoakan supaya cepat bisa menjemputmu. Tidak mungkin dia menulis hal yang berbeda padamu, Mir."

​Namun, di telinga Mirasih, penjelasan itu sudah tidak masuk lagi. Logikanya sudah tertutup oleh rasa sakit hati yang luar biasa. Ia merasa dunia sudah benar-benar kiamat baginya. Jika ibu Aditya saja membenarkan bahwa memang ada surat dari anaknya, maka bagi Mirasih, itu sudah cukup menjadi bukti sah bahwa ia telah dibuang.

​Ia tidak tahu—dan tidak terpikirkan olehnya—bahwa surat itu telah ditukar. Ia terlalu hancur untuk berpikir jernih. Di kepalanya hanya ada satu kenyataan pahit: ia sudah ternoda oleh Genderuwo, dan sekarang Aditya pun meninggalkannya.

​Mirasih terus menangis, menelungkupkan wajahnya ke tanah. Rasa sakitnya kini mencapai puncaknya. Ia merasa seperti dikuliti hidup-hidup. Wak Inah yang melihat itu hanya bisa memeluknya sambil ikut menangis, mencoba memberikan kekuatan yang ia sendiri pun tidak tahu harus dari mana asalnya.

​"Sabar, Nduk... Sabar... Pasti ada salah paham," bisik Mak Inah.

​Tapi bagi Mirasih, tidak ada lagi kata sabar. Yang ada hanyalah kegelapan yang kian pekat. Ia merasa tidak ada lagi tempat untuk pulang, tidak ada lagi alasan untuk tetap menjadi Mirasih yang baik. Di hatinya, perlahan muncul sebuah perasaan dingin yang mengerikan—rasa benci yang mulai tumbuh terhadap takdir, terhadap janji, dan terhadap cinta yang ia rasa telah mengkhianatinya.

​Siti dan bapaknya hanya bisa berdiri diam, menatap Mirasih dengan perasaan iba yang mendalam, tanpa tahu bahwa di balik dinding rumah mewah Paman Broto, sebuah rencana jahat telah berhasil menghancurkan jiwa seorang gadis yatim piatu dengan sangat sempurna.

1
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
kelamaan kamu mnjadi bodoh Mirasih ,
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
Halwah 4g: ashiapppppppppp kaa...lagi pasang kuda-kuda dia..masih bucin akut dulu 🤭
total 1 replies
☠ 🍒⃞⃟🦅 SULLY
hukuman yang seperti apa akan di terima Broto dan Sumi
manusia busukk
Asphia fia
mampir
Halwah 4g: trimksih kaa 😍
total 1 replies
Evi Anjani
mampir🥰
Halwah 4g: terima ksih kka cantikkkkkk 😍
total 1 replies
Amiera Syaqilla
pengantinnya seram tapi kok juga cantik banget sih😅
Halwah 4g: iya ka🤭 biar gek jlek2 bnget
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis amat thor sama gendruwo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!