Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ujung Peradaban
Fajar di Ashfall selalu datang bersama kabut.
Aku berdiri di halaman belakang rumah kayu kami, napas membentuk gumpalan putih tipis di udara yang menggigit. Embun meresap ke telapak kakiku yang telanjang, membasahi rumput di bawahnya. Kakek bilang ini cara terbaik untuk merasakan tanah—melatih keseimbangan tubuh tanpa gangguan alas kaki. Tanganku mencengkeram pedang kayu yang sudah usang, setua tahun-tahun Kakek di desa ini. Mungkin lebih tua.
"Kuda-kudamu terlalu lebar."
Suara Kakek datang dari belakang. Tenang, tapi tajam. Aku tidak mendengar langkah kakinya. Memang tidak pernah.
Aku memperbaiki posisi, merapatkan kedua kaki beberapa inci. Bilah kayu terangkat sejajar bahu, ujungnya menunjuk lurus ke depan. Kuda-kuda dasar. Untuk kesekian kalinya pagi ini.
"Lebih baik." Kakek mengelilingiku, tangan terlipat di balik punggung. Rambut putihnya yang diikat rendah di tengkuk berayun pelan. Garis-garis dalam membelah wajahnya—hasil tujuh puluh tahun kehidupan, katanya. Tapi matanya... mata itu terlalu tajam untuk seseorang seusianya. "Kepalamu masih berkeliaran, tapi. Sedang memikirkan apa?"
"Tidak ada."
"Pembohong."
Aku menarik napas panjang. Kabut merayap di antara pepohonan pinus di balik pagar. Wilderness Expanse dimulai hanya seratus meter dari sini. Tepian dunia yang aku kenal.
"Aku cuma penasaran kenapa Pak Aldren memandangku aneh kemarin," ucapku pelan. "Waktu aku bantu bawa karung gandum itu. Dia bilang, 'mata ungu itu pertanda buruk.' Lalu pergi begitu saja."
Kakek diam. Terlalu lama.
"Orang-orang takut pada apa yang tidak mereka mengerti," akhirnya ia bersuara. "Mata ungu itu langka. Mereka belum pernah melihatnya sebelumnya. Hanya itu."
Tapi nadanya—ada sesuatu yang tidak ia ceritakan. Seperti biasa.
Aku kembali fokus pada gerakan, mengayunkan pedang dalam tempo lambat. Diagonal dari atas, horizontal dari samping, tusukan lurus ke depan. Ingatan otot. Tubuhku sudah hafal urutannya. Tapi Kakek tidak pernah puas.
"Lebih cepat. Sekarang!"
Aku mempercepat. Ayunan berubah menjadi deru. Angin berdesis tipis setiap kali bilah kayu membelah udara. Satu, dua, tiga—
"BERHENTI!"
Aku membeku di tengah ayunan.
Kakek melangkah maju, tangannya menyentuh bahuku. "Kamu terlalu mengandalkan kecepatan. Apa gunanya cepat kalau musuhmu bisa membaca polamu?" Ia menggeser posisi kakiku sedikit, menekan bahuku ke bawah. "Pusat gravitasi lebih rendah. Ritme yang tak terduga. Lawanmu harus bingung, bukan kagum."
Aku mengangguk. Mengulang gerakan, kali ini lebih lambat tapi dengan tempo yang bervariasi. Cepat-lambat-cepat. Berhenti di momen yang paling tidak terduga.
"Lebih baik." Kakek mundur selangkah, lalu duduk di bangku kayu di bawah teritisan. Ia mengeluarkan pipanya tapi tidak menyalakannya. Hanya memutarnya di antara jari-jari. "Kael, tahukah kamu kenapa aku mengajarimu bertarung?"
Pertanyaan itu membuatku tergagap. Aku menurunkan pedang. "Karena dunia berbahaya?"
"Dunia selalu berbahaya," ia mengoreksi. "Tapi itu bukan alasan utamanya." Ia menatapku, dan untuk sesaat, aku melihat sesuatu di matanya. Kesedihan? Penyesalan?
"Aku mengajarimu bertarung karena suatu hari nanti, aku tidak akan ada untuk melindungimu."
Dadaku terasa sesak. "Kakek—"
"Dengarkan." Suaranya tegas tapi lembut. "Aku sudah tua, Kael. Tujuh puluh tiga tahun. Itu sudah cukup panjang untuk seseorang sepertiku." Senyum samar menyentuh bibirnya. "Tapi kamu, masih punya jalan panjang di depan. Dan jalan itu mungkin tidak mudah."
Aku tidak tahu harus berkata apa. Maka aku hanya berdiri di tengah halaman dengan pedang kayu di tangan dan embun yang menguap di bawah sinar matahari pagi.
Kakek menghela napas, lalu bangkit. "Cukup untuk pagi ini. Sarapan sudah menunggu di dalam. Pasti kamu lapar."
Rumah kami kecil. Satu ruang utama dengan dapur sederhana, meja makan bundar dari kayu, dan perapian batu di sudut ruangan. Kakek bilang ia membangunnya sendiri tiga puluh tahun lalu, ketika pertama kali tiba di Ashfall. Tidak pernah menjelaskan mengapa ia memilih desa terpencil di tepian peradaban ini, berbatasan langsung dengan Wilderness yang dihuni monster.
Aku tidak pernah bertanya. Bukan karena tidak ingin tahu, melainkan karena setiap kali aku menyinggung masa lalunya, Kakek hanya tersenyum dan berkata, "Cerita untuk lain waktu."
Sarapan kami sederhana. Roti gandum, telur rebus, dan sup kacang yang masih mengepul. Aku makan dalam diam, tapi pikiran sudah mengembara ke tempat lain.
Mata ungu.
Aku menatap bayangan samarku di permukaan sendok. Iris ungu tua, hampir violet. Berbeda dari siapa pun di desa ini. Bahkan di buku-buku milik Kakek, tidak ada penjelasan untuk mata seperti ini.
"Melamun lagi."
Aku mendongak. Kakek duduk di seberang meja, mengamatiku dengan sorot yang menyelidik.
"Aku cuma penasaran," kataku hati-hati. "Tentang orang tuaku. Apakah mereka juga punya mata seperti ini?"
Kakek meletakkan sendoknya perlahan. Terlalu perlahan.
"Mungkin," jawabnya singkat.
"Mungkin?" Aku mencondongkan badan ke depan. "Kakek, aku sudah tujuh belas tahun. Aku bahkan tidak tahu nama mereka. Tidak tahu wajah mereka. Tidak tahu—"
"Kael." Suaranya lembut tapi final. "Kamu akan tahu. Suatu hari nanti. Tapi bukan sekarang."
"Kenapa bukan sekarang?"
Ia menatapku lama. Lalu bangkit, berjalan menuju rak kayu di sudut ruangan. Tangannya meraih sesuatu—selembar peta tua yang terlipat rapi. Dan sebuah amplop tersegel dengan lilin merah.
Kakek meletakkan keduanya di atas meja, tepat di hadapanku.
"Jika sesuatu terjadi padaku," katanya pelan, "buka ini. Peta ini akan membawamu ke tempat yang aman. Surat ini akan menjelaskan banyak hal."
Jantungku berdegup keras. "Kenapa Kakek bilang ini? Kenapa sekarang?"
"Karena dunia sedang bergerak, Kael. Dan kadang-kadang, kita tidak bisa lari dari arusnya." Ia menyentuh bahuku. "Tapi ingat, apa pun yang terjadi, kamu lebih kuat dari yang kamu kira. Dan kamu tidak sendirian."
Sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut, suara keras menggelegar dari luar.
BOOM!
Tanah bergetar. Debu berjatuhan dari balok-balok kayu atap.
Kakek bergerak seketika. Mata tajam, tubuh siaga. Tangannya meraih pedang panjang yang bersandar di dekat pintu. Pedang sungguhan, bukan kayu.
"Tetap di dalam," perintahnya.
"Tapi—"
"TETAP DI DALAM!!"
Ia keluar, menutup pintu di belakangnya.
Aku berdiri membeku di tengah ruangan, jantung berdegup tak karuan. Dari luar terdengar teriakan-teriakan, suara para penduduk desa yang panik.
"MONSTER! DARI WILDERNESS!"
Aku berlari ke jendela, mengintip melalui celah di papan kayu.
Di ujung jalan desa, kabut masih menggantung tebal. Tapi dari dalamnya muncul siluet raksasa, lebih besar dari beruang. Tubuh hitam berotot, empat kaki, dengan tanduk melengkung ke belakang. Matanya menyala merah membara.
Razorhorn Bull. Aku mengenalinya dari buku bestiari Kakek. Monster Tier 2. Berbahaya dan agresif. Biasanya tidak mendekati permukiman.
Tapi sekarang, makhluk itu berdiri di tengah jalan, meraung. Suara rendah yang membuat tulang-tulangku bergetar.
Para penduduk berhamburan, anak-anak menangis. Pak Aldren mencoba mengusirnya dengan kapak, tapi monster itu bahkan tidak berkedip.
Kemudian, Kakek muncul.
Ia berjalan santai dari arah rumah kami, pedang masih tersarung di pinggangnya. Tidak berlari, tidak panik.
"Minggir," katanya datar kepada Aldren.
Aldren mundur, wajahnya pucat pasi.
Kakek berdiri dua puluh meter dari monster itu. Razorhorn meraung lagi. Sebuah ancaman.
Dan Kakek tersenyum.
"Sudah lama aku tidak melakukan ini," gumamnya. Tapi entah bagaimana, aku bisa mendengar suaranya dengan jelas. Seperti bisikannya menyusup langsung ke telingaku.
Ia mengangkat tangan kanan. Tidak menyentuh pedang.
Monster itu menyerbu. Berlari dengan kecepatan mengerikan, tanduk terarah lurus ke depan.
Kakek tidak bergerak.
Sepuluh meter.
Lima meter.
Dua meter—
Kakek melangkah ke samping. Satu langkah kecil, santai.
Monster itu melesak lewat begitu saja, meleset sepenuhnya.
Lalu, Kakek mengayunkan tangan kosongnya. Seperti menepis lalat.
CRACK!
Udara retak. Benar-benar retak. Aku melihat retakan transparan di ruang kosong, seperti kaca yang pecah.
Razorhorn Bull terlempar ke samping, menghantam dinding rumah kayu dengan yang memekakkan telinga. Dinding itu runtuh. Monster itu tidak bergerak lagi.
Mati seketika.
Hanya dari satu kibasan tangan kosong.
Desa hening total.
Kakek menggerakkan bahunya, lalu berjalan kembali ke arah rumah kami seolah tidak ada apa-apa.
Aku mundur dari jendela, napas tersengal.
Sebenarnya, siapa Kakek?