bekerja di sebuah perusahaan besar tentunya sebuah keinginan setiap orang. bekerja dengan nyaman, lingkungan kerja yang baik dan mempunyai atasan yang baik juga.
tapi siapa sangka, salah satu sorangan karyawan malah jadi incaran Atasannya sendiri.
apakah karyawan tersebut akan menghindar dari atasan nya tersebut atau malah merasa senang karena di dekati dan disukai oleh Atasannya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Dua Puluh
***
Ternyata Maxim baru sampai di Kantornya saat orang-orang sedang Makan siang, saat Maxim keluar lift. Ia tidak melihat keberadaan Laudya, mungkin sedang ikut Makan siang di kantin.
Maxim sengaja berangkat siang karena ingin menghabiskan waktunya bersama Bu Arumi sebelum kembali sibuk bekerja.
Maxim masuk ke dalam ruangannya, sebenarnya hari ini ia tidak begitu sibuk. Hanya akan membahas soal kerjasama dengan perusahaan yang di Jepang kemarin dengan Nanda.
Maxim sebenarnya merasa bersalah kepada Laudya, semalam ia sudah janji akan menjemputnya. Tapi ia malah ingkar janji.
Yang di takutkan Maxim itu adalah Laudya tidak mempercayai dirinya lagi, dan kemungkinan kalau ia membuat Janji lagi pasti Laudya tidak terlalu percaya.
.
Di kantin, Laudya satu meja dengan Safa dan Dea. Oleh-oleh untuk Mereka berdua tidak ia bawa dan katanya nanti Sore pulang kerja Mereka akan mengambil nya langsung ke rumah Laudya.
Kalau dibawa sekarang, takutnya yang lainnya juga malah ingin. Bukan tidak mau berbagi, hanya saja yang di beli Laudya hanya pas-pasan.
“Pas di Jepang kemarin, Lo satu kamar atau pisah?” Tanya Dea dengan pelan, takut ada yang mendengar.
“Ya pisah lah, masa satu kamar.” Jawab Laudya.
“Ya siapa tahu gitu Pak Maxim pengennya satu kamar sama lo.” Kekeh Dea.
“Sempat jalan-jalan gak?” Tanya Safa.
Laudya menganggukan kepalanya, “Ke tempat wisata nya cuma sekali, sisanya paling kalau keluar selain urusan kerjaan itu cuma pergi ke minimarket, beli oleh-oleh, sama Makan di Restoran dekat Hotel. Disana kan lagi musim dingin, jadi lebih memilih di kamar aja.” Jawab Laudya.
“Gue pernah lihat story Lo, itu yang foto Pak Maxim atau minta bantuan orang lain?” Tanya Dea.
“Pak Maxim, padahal Gue gak bilang mau di foto, eh malah beliau yang menawarkan diri.” Jawab Laudya.
Dea dan Safa saling tatap. “Terus apa lagi yang di lakukan pak Maxim selama di sana?” Tanya Safa.
“Banyak sih, tapi Gue lupa.” Bohong Laudya.
Tidak mungkin ia mengatakan soal Maxim yang meminta Izin untuk mendekati dirinya, mungkin nanti kalau sudah yakin baru Laudya akan menceritakan Semuanya.
Untuk sekarang tidak dulu, lebih baik ia memberitahu Ibu dulu saja.
Waktu Istirahat Sebentar lagi habis, Laudya pamitan duluan. Dengan alasan masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai.
Sengaja lebih dulu pergi, karena takut Dea dan Safa terus bertanya soal dijepang beberapa hari Kemarin.
Laudya berjalan agak Santai, Karena baru selesai Makan jadi jangan Buru-buru yang ada nanti Perutnya Akan terasa sakit.
Di saat ia baru masuk ke dalam Lift, Terdengar ada pesan masuk. Sekarang Hp nya sudah tidak di silent lagi, dan itu perintah dari Maxim. karena takut ada yang penting.
Maxim : “Kalau sudah selesai langsung ke ruangan Mas.”
Laudya mengerjapkan Matanya, membaca kembali isi pesan tersebut. ternyata Matanya tidak salah baca, memang benar itu pesan dari Maxim.
“Jadi sekarang sudah datang?” Gumam Laudya.
Keluar dari lift, Laudya melangkahkan kakinya agak cepat untuk segera masuk ke dalam ruangan Maxim.
Sebelum masuk, Laudya mengatur nafasnya dulu dan merapikan rambutnya.
“Lah kenapa Gue malah begini? Biasanya juga gak pernah ngerapihin rambut kalau mau masuk.” Gumam Laudya.
Tok tok tok
ckelk
Tanpa menunggu perintah di dalam, Laudya langsung masuk begitu saja. Ia bisa melihat Maxim sedang berdiri menghadap Kaca besar yang menghadap langsung keluar.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” Tanya Laudya.
Maxim membalikan tubuhnya menghadap Laudya, ia berjalan mendekat. Setelah itu langsung memeluk nya dan menyembunyikan wajahnya pada leher Laudya.
Gerakan tiba-tiba tersebut membuat Laudya terkejut dan tubuhnya menegang, ini bukan pertama kali nya ia di peluk Oleh Maxim. Tapi tetap saja tubuhnya selalu menegang saat di peluk Maxim. Dan jangan lupa dengan debaran jantungnya.
“Pak.”
“Ssstt, jangan bicara dulu. Biarkan begini beberapa menit.” Bisik Maxim tepat pada telinga Laudya.
Entah keberanian dari mana, Laudya membalas pelukan Maxim sehingga membuat Maxim malah mengeratkan pelukannya.
Nyaman, itu lah yang di rasakan keduanya. Apalagi mereka juga baru merasakan berpelukan dengan orang lain selain keluarganya sendiri.
Ckelk
Mendengar pintu terbuka, Laudya mendorong tubuh Maxim agar pelukan nya terlepas. Tapi Maxim malah menahan nya.
Sehingga orang yang membuka pintu ruangan tersebut bisa melihat kalau Maxim dan Laudya sedang saling berpelukan.
Si palaku yang membuka pintu malah tetap berdiri disana, dengan matanya yang melebar karena terkejut.
“Eh Maaf, silahkan di lanjut.” Ucap Nanda, ia kembali menutup pintu ruangan tersebut.
Maxim menggeram kesal, sementara Laudya berusaha untuk menenangkan Hatinya. Ia benar-benar sangat malu dan kemungkinan tidak akan berani bertemu dengan Nanda.
Laudya berusaha untuk melepaskan pelukannya, dan akhirnya Maxim mengalah dan melepaskan nya.
“Jadi Ada Apa Bapak manggil saya?” Tanya Laudya.
Maxim menatap lekat Laudya. “Kalau lagi berdua biasakan janga panggil Pak, Panggil Mas aja. Kan udah di kasih tahu dari kemari-kemarin” Ucap Maxim.
“Ya gak enak lah Pak, kan Bapak atasan saya. Masa manggil nya Mas. kita masih di area kantor, kecuali kalau sudah bukan di jam kerja.” Balas Laudya.
“Ya gak apa-apa, pokonya harus manggil Mas. gak boleh nolak.” Ucap Maxim. Laudya hanya bisa mengiyakan.
“Jadi Mas mau apa manggil aku kesini?” tanya laudya.
“Gak ada apa-apa, cuma butuh Energi aja.” Jawab Maxim. Ia berjalan ke arah kursi kerjanya dan duduk disana.
Sementara Laudya, ia masih berdiri di tempat semula. Hanya memutar tubuhnya saja menjadi menghadap ke arah Maxim.
“Kalau gitu aku keluar aja ya, seperti nya tadi Pak Nanda lagi ada perlu sama Mas.” Ucap Laudya.
“Tunggu dulu, kerjaan kamu gak lagi banyak kan?” tanya Maxim.
“Enggak, kenapa memangnya?” tanya balik Laudya.
“Temenin Mas disini aja.” Pinta Maxim.
Laudya menggelengkan kepalanya, kalau ia tetap disana nanti pasti Nanda akan datang lagi.
“Gak bisa mas, aku keluar dulu ya.” Pamit Laudya. tanpa menunggu balasan dari Maxim.
Laudya berjalan keluar dari ruangan tersebut, ia sebenarnya sudah dari tadi ingin pergi dari sana.
Dan sekarang ia juga memungkinkan akan berusaha untuk menghindar dari Nanda, ia sangat malu dengan kejadian tadi.
Laudya duduk di kursi kerjanya, “Kenapa jadi nyaman banget pas di peluk Mas Maxim?” Gumam nya.
Laudya mengusap wajah nya, seperti ia harus pergi ke toilet untuk memenangkan hati dan pikiran nya.
Laudya menatap pintu ruangan Nanda, ia takut Nanda keluar. dengan cepat Laudya pergi ke toilet.
Apalagi saat ia baru berdiri, sudah terlihat pintu bergerak akan terbuka.