Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Apa Dok? Tidak mungkin," bantah Sekar, hampir menjatuhkan dahinya ke dasboard mobil mendengar ucapan Rayyan jika Arka adalah anaknya. Walaupun di hati Sekar berharap Arka memang anaknya.
"Ini hanya dugaan aku Sekar, maaf, tapi aku perhatikan ada kemiripan antara kamu dengan Arka," Rayyan awalnya tidak berpikir seperti itu, tapi setelah tahu jika Sekar pernah menjadi istri Ilham, dugaannya semakin kuat.
Sekar tidak bisa berkata-kata, jika dipikir-pikir dugaan dokter Rayyan masuk akal, bila itu benar terjadi betapa kejamnya Ilham sudah membohonginya. Ada kemungkinan saat bayinya dikatakan meninggal hanya omong kosong.
"Sekar, kamu pernah berpikir tidak, jika bayi kamu sebenarnya bukan meninggal tapi..." Rayyan tidak melanjutkan kata-katanya. Jika yang ia pikirkan tidak benar maka akan menjadi fitnah yang kejam.
"Disembunyikan Ilham, begitu kan, Dok?" Sekar melanjutkan.
"Maaf, kalau saya salah," dokter Rayyan berpikir seperti itu karena mempunyai alasan. Kemiripan fisik, hubungan emosional yang kuat antara Sekar dan Arka, seperti ada ikatan yang kuat. Dia juga menyampaikan kecurigaan bahwa mungkin ada kesalahan atau bahkan hal yang disengaja oleh Dokter Ilham yang tidak Sekar ketahui.
"Dugaan saya jangan kamu telan mentah-mentah Sekar, tetapi saya rasa kita memiliki kewajiban untuk mencari tahu kebenarannya. Arka berhak mengetahui asal-usulnya, dan kamu juga berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anakmu," tambah Dokter Rayyan dengan nada penuh empati, menyadari betapa beratnya hal yang dia sampaikan untuk Sekar.
"Baik Dok, dan saya butuh bantuan Dokter Rayyan,"
"Saya?" Potong Rayyan.
"Bantu saya menyelidik rumah sakit Sayang Anak di mana saya dulu bekerja, Dok," Sekar bingung entah mau minta bantuan siapa.
"Berat Sekar, karena rumah sakit itu milik Dokter Ilham juga." jawab Rayyan tapi ia ingin menyuruh orang lain.
"Memang ada berapa rumah sakit milik Ilham, Dok?" Suster Sekar terkejut, sama sekali tidak tahu jika dulu pun ia sebenanrnya anak buah Ilham. Dia pikir Ilham dulu juga bekerja seperti dokter yang lain karena sama sekali tidak pernah cerita kepadanya.
"Saya tidak tahu, yang pasti rumah sakit Cinta Kasih juga miliknya."
Sekar menunduk menopang kening, kenapa di mana-mana ia secara tidak langsung bergantung kepada Ilham. "Dok, bagaimana kalau tes DNA," Sekar tiba-tiba ada rencana lain.
"Ide yang bagus," pungkas dokter Rayyan, lalu menghentikan mobil ketika tiba di depan pagar rumah mewah itu.
.
Sekar melangkah masuk ke rumah nenek Arka, langkahnya sedikit goyah namun penuh tekad. Udara dalam rumah terasa hangat dengan aroma ruangan dari beberapa penjuru yang khas. Di sudut ruang tamu, seorang anak laki-laki kecil dengan rambut hitam sedang duduk di lantai, bermain dengan balok kayu berwarna-warni.
Mata Sekar tiba-tiba meneteskan air, saat pandangannya terpaku pada wajah anak itu. Bentuk alisnya, mata yang sedikit melengkung, bahkan cara ia mengerutkan dahi saat sedang fokus bermain semuanya terlalu mirip dengan sosok masa lalu yang selalu dia benci. Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri anak itu dengan langkah cepat, kemudian menjemputnya ke dalam pelukkan dan menggendongnya di dada. Menurut dokter Rayyan wajah Arka mirip dengannya tapi ia sendiri tidak menemukan.
Mama kecil sudah pulang, holeeee..." seru Arka senang walaupun terkejut tiba-tiba digendong. Arka mendongak ketika mendengar isak mama kecil. "Mama kecil kenapa menangis?" Mata bulat itu menatap Sekar dengan perasaan sedih takut mama kecilnya ada yang menyakiti.
"Tidak, mata Suster hanya kena debu," Sekar merapatkan wajah Arka ke pundaknya, menggigit bibir bawahnya agar isaknya tidak terdengar lagi. Ia berharap Arka memang anaknya dan tidak akan pisah selamanya.
"Kamu sudah pulang Sekar?" Tanya nenek yang datang dari arah dapur terdengar lembut. Sekar cepat-cepat mengusap air matanya. "Sudah Nyonya..." jawabnya serak. Bagusnya nenek hanya melintas saja tidak mendekati Sekar. Entah tahu atau tidak ketika Sekar sesedih itu.
Sekar tidak tahu jika di balik kaca jendela kamar di lantai atas, Ilham berdiri diam dengan tangan menggenggam rel jendela. Matanya terpaku pada kedua sosok di ruang tamu, ekspresinya bercampur antara terkejut, dan bertanya-tanya kenapa Sekar menangis. Dia juga mengawasi gerakan lembut Sekar apakah benar bahwa wanita itu adalah Sekar mantan istrinya? Tapi kenapa ia tidak bisa mengenali wajahnya. "Apa mungkin Sekar operasi plastik seperti yang sedanf tren saat ini?" Monolog Ilham. Sedangkan Luna yang memang benar-benar operasi plastik pun justru terlihat aneh di mata Ilham.
Arka tiba-tiba mengangkat kepala, matanya melihat ke arah jendela kamar Ilham. Ia mengangkat tangan kecil itu, kemudian melambaikannya perlahan. "Papa..." ucapnya kencang tepat di telinga Sekar, membuat Sekar terkejut dan segera menoleh ke arah yang ditunjuk Arka.
Sedetik kemudian wajah Sekar memerah menahan marah, ingat apa yang dikatakan Rayyan jika Ilham sengaja menyembunyikan Arka. Sekar segera merubah ekpresi, khawatir Ilham curiga akan kemarahannya. Sekar tidak ingin Ilham curiga jika ia sudah curiga, ingin tahu dulu kebenaran tentang semuanya.
Sekar kembali menatap Ilham, hingga mata mereka saling bertemu. Tatapan mata mereka sama-sama mengandung arti masing-masing, tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, namun banyak hal yang terucapkan melalui pandangan itu. Ilham perlahan menarik wajahnya dari jendela dan hilang dari pandangan Sekar.
Nenek Arka yang baru saja keluar dari dapur dengan mangkuk buah, melihat mata Sekar yang memerah terkejut. "Kamu kenapa Sekar?" Tanya nenek setelah meletakkan mangkuk di atas meja lalu mendekati Sekar.
Sekar belum sempat menjawab, suara sepatu yang terdengar nyaring masuk, membuat ketiganya menoleh ke arah suara.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....