Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Tujuh Hari dan Tujuh Tahun(fix)
Di lereng Gunung Awan, waktu seolah berhenti bagi Bai Lie.
Selama tujuh hari terakhir, ia tidak beranjak dari lubang hangus tempat Mutiara Petir menghilang.
Rambutnya sedikit berantakan, dan amarahnya telah berubah menjadi obsesi yang dingin.
"Dasar tikus kecil sialan!" umpat Bai Lie, meludah ke tanah. "Berani-beraninya kau menyeret hartaku ke dalam dimensi itu. Jika kau mati di sana, aku akan menggali kuburan dimensi itu dengan tangan kosong! Tapi jika kau keluar ... aku pastikan kau memohon untuk mati."
Tiba-tiba, udara di atas lubang itu bergetar. Suara denging rendah yang memekakkan telinga muncul, diikuti oleh retakan hitam yang merayap di udara seperti kaca yang pecah.
KREK!
Sesosok pria melangkah keluar dari kegelapan abadi tersebut.
Bai Lie tersentak mundur, tangannya otomatis menghunus pedang hijaunya. Matanya membelalak.
Orang di depannya adalah bocah yang sama, namun auranya telah berubah total.
Rambutnya lebih panjang, wajahnya lebih tajam, dan yang paling mengerikan adalah tatapannya—sebuah kekosongan yang seolah bisa menelan cahaya matahari.
"K-kenapa kekuatannya ..." Bai Lie bergumam tak percaya. "Hanya tujuh hari ... bagaimana mungkin seorang sampah Kondensasi Qi bisa mencapai Pendirian Fondasi dalam tujuh hari?!"
Fang Yuan menginjakkan kaki di tanah Gunung Awan yang becek. Baginya, aroma hujan ini adalah sesuatu yang sudah ia rindukan selama tujuh tahun kesunyian bintang.
"Bai Lie ..." Suara Fang Yuan terdengar berat, seperti gesekan batu. "Siapa sebenarnya yang menciptakan mutiara petir ini? Aku yakin, orang bernama Guo Xingyun yang menulis catatan itu hanyalah seorang pencuri yang tidak beruntung."
"Cih, jadi kau sudah tahu nama pemilik aslinya?" Bai Lie menggeram, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kesombongan. "Kau jadi sombong setelah bersembunyi di dalam sana, ya? Jangan pikir kenaikan ranah instanmu bisa menandingi pondasiku yang sudah puluhan tahun!"
Fang Yuan hanya diam. Ia melambaikan tangan dengan santai.
Mutiara Petir yang legendaris itu melayang keluar dari dadanya, berputar pelan dengan percikan listrik ungu yang jinak.
"Bangsat! Bagaimana kau bisa mengendalikannya?!" Bai Lie berteriak murka. "Bahkan Guo Xingyun yang menemukannya saja tidak bisa menggunakan artefak itu sepenuhnya! Berikan padaku!"
Bai Lie menerjang. Kecepatannya sebagai Kultivator Ranah ke-2 awal menciptakan ledakan suara.
Ia melakukan tebasan vertikal dengan kekuatan penuh, bermaksud membelah Fang Yuan menjadi dua.
SLASH!
Fang Yuan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat telapak tangannya. Sebuah perisai transparan yang bergetar dengan frekuensi tinggi muncul seketika.
TANG!
Pedang Bai Lie terpental seolah menghantam dinding baja abadi.
"Apa?!" Bai Lie melompat mundur, tangannya mati rasa karena getaran balik yang sangat kuat. "Kekuatan macam apa ini?"
Bai Lie menyadari bahwa ia tidak bisa meremehkan lawan di depannya. Ia mulai melakukan gerakan tangan yang rumit, menggambar lingkaran sihir hijau di udara.
"Jangan pikir kau satu-satunya yang punya trik, bocah!" raung Bai Lie. "Bangkitlah, Binatang Roh! Keluarlah, Pedang Pengejar Jiwa!"
Dari lingkaran sihir itu, muncul tiga ekor serigala bayangan (Binatang Roh Tingkat 2) dan lima bilah pedang terbang yang bersinar merah. Semuanya melesat ke arah Fang Yuan dengan niat membunuh yang pekat.
Fang Yuan terus berjalan tenang, seolah serangan itu hanyalah debu yang tertiup angin.
Ia sedikit membungkuk, memusatkan pusaran Yin dan Yang yang kini menyatu di Altar Dantiannya.
"Tinju Penghancur Batu ... Tahap 3: Getaran Penghancur Jiwa."
Fang Yuan tidak memukul udara secara sembarangan. Ia menunggu sampai semua serangan itu hanya berjarak satu jengkal dari wajahnya. Kemudian, ia menghantamkan tinjunya ke depan.
DRRTT! DUARRR!!
Bukan sekadar ledakan, melainkan gelombang kejut yang memutar ruang.
Serigala bayangan itu hancur menjadi asap sebelum sempat menggigit, dan pedang-pedang terbang milik Bai Lie patah menjadi serpihan kecil.
Benturan itu menciptakan awan debu dan asap yang sangat pekat. Bai Lie terdorong mundur oleh tekanan udara, matanya menyipit mencoba melihat hasil serangannya.
Saat asap menipis, terlihat Fang Yuan terlempar ke belakang, menghantam sebuah batu besar hingga batu itu retak seribu. Tubuh Fang Yuan merosot ke tanah, tidak bergerak.
"Hah ... Hahaha!" Bai Lie tertawa terbahak-bahak, meskipun napasnya tersengal. "Aku kira kau benar-benar menjadi dewa di dalam sana. Ternyata itu hanya gertakan! Pondasi instanmu tidak akan pernah bisa mengalahkan teknik sekteku yang murni!"
Bai Lie berjalan mendekat dengan pedang terhunus, tidak menyadari bahwa di balik retakan batu itu, mata Fang Yuan yang kosong sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit.
Bai Lie merasa di atas angin.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.