Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.
Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.
Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.
Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.
Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Satu
Tatapan itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi Hanin, rasanya seperti waktu berhenti terlalu lama.
Ia langsung membuang muka dengan cepat. Seolah takut kalau satu detik lebih lama saja, semua orang bisa melihat isi hatinya yang tiba-tiba berantakan.
Napasnya tertahan. Hanin lalu menunduk. Kelopak matanya mengerjap cepat, menahan air yang mulai menggenang.
"Ya Allah … cobaan apa lagi ini. Baru saja aku berdamai dengan keadaan, kenapa aku harus diuji lagi," ucap Hanin dalam hatinya.
Suara pembawa acara terdengar kembali, memecah ketegangan yang hanya ia rasakan sendiri.
“Acara utama akan segera dimulai.”
Hanin menggenggam ujung bajunya di pangkuan. Tangannya dingin.
“Prosesi pertunangan antara saudari Ghania dan saudara Fahmi akan ditandai dengan pemasangan cincin.”
Ruangan terasa semakin sempit baginya. Hanin tidak berani mengangkat kepala lagi. Tidak berani melihat ke arah Fahmi. Ia hanya mendengar.
Terdengar langkah pelan. Suara kain bergesek.
Mama Fahmi maju ke depan dengan senyum hangat. Dengan penuh kelembutan, beliau mengambil cincin dan menyematkannya ke jari manis Ghania.
Tepuk tangan pelan terdengar. Hanin ikut bertepuk tangan. Walau jantungnya seperti tertarik ke arah yang berlawanan.
Lalu giliran Ustaz Hamid. Beliau mengambil cincin untuk Fahmi. Dengan tangan yang tenang, beliau memasangkannya ke jari Fahmi.
Hanin akhirnya tak sengaja melirik. Fahmi tampak lebih pendiam. Lebih matang. Namun sorot matanya masih sama.
Dan Hanin menyadari jika Fahmi sedang menatap ke arahnya. Cepat ia kembali menunduk.
Fahmi masih mencuri pandang. Melihat sosok yang dulu pernah sangat dekat dengannya kini duduk dengan hijab lebar, wajah yang lebih tenang, dan aura yang jauh lebih dewasa.
Dalam hati Fahmi bergemuruh. "Ya Allah. Apakah aku sedang bermimpi? Hanin-ku ada di depan mataku. Ia terlihat semakin cantik. Semakin dewasa. Dan semakin jauh untuk kuraih," gumamnya dalam hati.
"Tuhan … Apa aku berdosa bertunangan dengan Ghania tapi pikiranku justru tertuju pada Hanin?" tanya Fahmi pada dirinya sendiri.
Ia menarik napas dalam. Namun, hatinya tidak juga tenang. Suara pembawa acara kembali terdengar.
“Kami juga ingin mengumumkan bahwa insyaAllah pernikahan akan dilaksanakan dua bulan dari sekarang.”
Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan. Hanin tersenyum. Ia harus tersenyum. Sebagai sahabat Ghania, ia harus bahagia.
Setelah prosesi selesai, sesi foto keluarga dimulai. Satu per satu anggota keluarga maju.
Lalu Ghania menoleh ke arah Hanin. “Ayo, kamu juga ikut foto.”
Hanin langsung menggeleng halus. “Tidak usah, ini kan keluarga.”
“Justru kamu keluarga,” kata Ghania sambil tersenyum.
Hanin masih menolak. Namun Ghania tiba-tiba melihat ke arah pintu. Matanya berbinar. “Eh! Itu Arsenio!”
Hanin menoleh refleks. Dan benar Arsenio baru saja masuk. Dengan kemeja rapi dan sikap tenang seperti biasa.
Ghania langsung semakin bersemangat. “Ayo Hanin! Kita foto berempat!”
Hanin terdiam. Berempat? Jantungnya kembali berdebar.
Ghania sudah melambaikan tangan. “Arsenio! Sini!”
Arsenio mendekat dengan langkah santai.
Ia tersenyum kecil saat melihat Hanin. “Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Hanin pelan.
“Foto dulu ya,” kata Ghania ceria.
Tanpa memberi kesempatan Hanin untuk menolak lagi, ia menarik mereka semua ke depan. Dan akhirnya mereka berdiri berempat.
Ghania di samping Fahmi. Hanin di samping Arsenio. Momen itu terasa aneh. Seperti dua dunia yang seharusnya tidak bertemu, kini berdiri dalam satu bingkai.
Setelah sesi foto, tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan. Suasana menjadi lebih santai.
Percakapan terdengar di berbagai sudut ruangan. Ghania kembali menarik tangan Hanin.
“Ayo, ikut duduk di meja keluarga Fahmi.”
Hanin sempat ragu. Namun ia tidak ingin terlihat aneh. Mereka berjalan menuju meja.
Di sana sudah duduk beberapa anggota keluarga Fahmi dan juga Ustaz Hamid. Arsenio ikut duduk.
Akhirnya mereka berada di satu meja. Hanin duduk dengan tenang. Berusaha terlihat biasa.
Ghania tersenyum dan mulai mengenalkan. “Ini Hanin, sahabatku di pesantren.”
Semua mata beralih padanya. Fahmi juga.
Hanin hanya menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Assalamu’alaikum,” ucapnya pelan.
“Wa’alaikumussalam,” jawab beberapa orang.
Fahmi tidak berkata apa-apa. Namun tatapannya sempat kembali jatuh padanya. Hanin tidak berani melihat.
Percakapan di meja berjalan ringan. Tentang acara dan rencana pernikahan.bHanin hanya sesekali menjawab jika ditanya.
Arsenio duduk tenang di sampingnya. Seperti menjadi penyangga yang tidak terlihat.
Makan malam berlangsung tanpa insiden. Namun bagi Hanin, setiap detik terasa berat.
Setiap suara terasa jauh. Dan setiap tawa terasa seperti gema.
Setelah selesai makan, ia menarik napas pelan. “Aku ke belakang sebentar,” ucapnya pelan pada Ghania.
Ghania mengangguk. Hanin langsung berdiri. Langkahnya tetap tenang. Ia berjalan melewati lorong. Naik tangga.
Masuk ke kamar yang tadi ia tempati bersama Ghania. Pintu lalu ditutup.
Dan begitu terkunci, semua runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tak terbendung. Tangisnya pecah.
Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar tidak bersuara. Tubuhnya bergetar.
Kenapa harus dia? Kenapa harus Fahmi? Kenapa harus sahabatku sendiri …?
Ia duduk di tepi ranjang dengan menunduk. Air mata terus mengalir. Perasaan yang ia kira sudah selesai, ternyata hanya tertidur.
Dan malam ini, semua kembali hidup. Ia memejamkan mata.
"Ya Allah … Aku sudah mencoba ikhlas. Aku sudah mencoba melupakan. Kenapa harus dipertemukan lagi seperti ini?"
Ia menarik napas panjang. Namun, dadanya tetap terasa sesak. Tangisnya terus mengalir.
Di kamar itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Hanin kembali menangisi masa lalu.
Dia seorang anak perempuan yang sedang menyembunyikan rasa sakit yang sedang dirasakan dalam dirinya. Dia yang setiap malam menangis tanpa suara. Seorang anak yang berusaha menguatkan diri sendiri tanpa ada yang tahu keadaannya. Anak perempuan yang berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja, padahal dia sendiri ingin melarikan diri dari hidupnya sendiri. Dia yang berusaha terlihat baik-baik saja di depan semua orang padahal dia dalam keadaan down. Begitu kerasnya hantaman yang menabrak pikiran dan hatinya sehingga dia sendiri kehilangan arah. Kemana dia harus berlindung? Siapa yang dapat memberikan rasa aman? Anak perempuan yang selalu memeluk lukanya sendiri. Anak perempuan yang selalu menopang dirinya sendiri. Dia yang selalu berusaha untuk kuat sendiri.
💪💪 Hanin
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??