Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KULTIVASI DI ATAS KEPUTUSASAAN
Benteng Kuali Raksasa itu bergetar hebat, bukan karena gempa, melainkan karena tekanan gravitasi Arkan yang mulai menghancurkan molekul udara di dalamnya. Di pusat aula, Vaelen Sang Alkemis Gila meraung, tubuhnya yang sudah bermutasi menjadi monster tentakel mencoba menerjang Arkan dengan ribuan botol racun yang meledak serempak.
"MATILAH KAU, SAMPAH KEHAMPAAN!" teriak Vaelen, suaranya pecah seperti gesekan logam karatan.
Arkan tidak bergeming. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, menciptakan sebuah kubah transparan yang menelan seluruh ledakan racun tersebut tanpa sisa.
"Vaelen," ucap Arkan, suaranya bergema di dalam jiwa sang Alkemis. "Kau bangga dengan ramuanmu? Aku akan menunjukkan padamu apa itu 'Ramuan' yang sesungguhnya."
[Teknik Kosmik: Ekstraksi Origin]
Arkan mengepalkan tangannya di udara. Seketika, tubuh mutasi Vaelen membeku. Cairan-cairan alkimia, esensi jiwa yang ia curi, hingga sumsum tulang sucinya dipaksa keluar secara brutal dari pori-porinya. Vaelen menjerit tanpa suara saat seluruh eksistensinya "diperas" oleh gravitasi Arkan.
Hanya dalam hitungan detik, Senopati 2 itu menguap menjadi abu kelabu, menyisakan sebuah bola energi raksasa berwarna pelangi gelap yang berdenyut di tengah ruangan. Itulah Esensi Murni Nirvana Puncak milik Vaelen, yang kini telah dibersihkan dari racun oleh kehampaan Arkan.
[Momen Reuni & Kenaikan Tingkat: Dua Murid Terbuang]
Arkan berbalik. Matanya menatap Cici yang berdiri gemetar di belakangnya. Ada kilatan memori di mata Arkan—memori tentang seorang gadis kecil yang dulu berbagi akar pohon beracun bersamanya di dasar jurang setelah mereka diusir dari Sekte Awan Langit.
"Cici," panggil Arkan lembut namun berat. "Dulu kita tidak punya apa-apa untuk dimakan selain tanah dan dendam. Hari ini... aku membawakanmu perjamuan yang layak."
Cici jatuh berlutut, air mata darah mengalir di pipinya. "Tuan... Kak Arkan... kau benar-benar melakukannya. Kau meratakan tempat yang dulu menyiksa kita."
Arkan menggerakkan tangannya. Bola energi pelangi itu terbelah. Bagian terbesarnya meluncur deras masuk ke dalam dada Cici, sementara sisanya dibagi kepada Liem-Banyu dan Srikandi-Tan.
"SERAP!" perintah Arkan.
BOOOOOOOM!
Aula itu meledak dalam cahaya hitam dan emas.
Cici: Tubuhnya terangkat ke udara. Sayap hitam-emasnya rontok dan berganti dengan kristal abadi yang memancarkan api ungu.
STATUS: TEROBOSAN KE NIRVANA AWAL! Cici bukan lagi sekadar pelayan; ia sekarang memiliki aura seorang Ratu Perang.
Liem-Banyu: Petir biru di sekelilingnya menjadi gelap total. Pedangnya berdengung dalam frekuensi yang bisa memotong ruang.
STATUS: NIRVANA TAHAP 5!
Srikandi-Tan: Zirah perunggunya menyatu dengan kulitnya, menciptakan pertahanan yang disebut Indestructible Void Body.
STATUS: SOVEREIGN FISIK - PUNCAK!
[Tatapan Menuju Langit]
Arkan melihat ketiga pilarnya bersinar dengan kekuatan baru. Namun, ia tidak berhenti di situ. Ia berjalan menuju sisa-sisa kuali Vaelen dan menghancurkannya dengan satu injakan kaki, membebaskan ribuan arwah yang selama ini dipenjara.
"Pergilah," bisik Arkan.
Cici mendarat di samping Arkan, auranya kini begitu kuat hingga lantai marmer di bawah kakinya retak. "Kak... Gerbang ke-1. Si pengkhianat itu... Leluhur Yun-Tian. Dia pasti sudah merasakan getaran ini."
"Liem, Srikandi, Cici," Arkan berbalik, jubah hitamnya berkibar meski tidak ada angin. "Siapkan senjata kalian. Gerbang terakhir bukan tentang menaklukkan wilayah... tapi tentang menghapus masa lalu."
Cici," Arkan berbisik, suaranya parau namun penuh otoritas. "Dunia membuang kita ke dalam kegelapan, tetapi mereka lupa bahwa di dalam kegelapanlah bintang-bintang paling terang dilahirkan. Energi Vaelen hanyalah kerikil kecil. Di depan sana, aku akan memberikanmu seluruh langit Sekte Awan Langit sebagai singgasanamu."
Cici mendongak, matanya yang kini menyala ungu-emas menatap punggung Arkan yang lebar. Ia mengepalkan tangannya, merasakan aliran tenaga Nirvana yang meledak-ledak di nadinya. "Dulu aku hanyalah bayanganmu yang ketakutan, Kak. Tapi hari ini, aku adalah pedangmu yang akan membelah setiap hukum yang berani menghalangi langkahmu menuju takhta."
Arkan tidak menjawab, namun aura hitam di sekelilingnya berdenyut—sebuah tanda persetujuan yang mutlak. Dengan satu lambaian tangan, seluruh reruntuhan Benteng Kuali itu lenyap ditelan dimensi kehampaan, menyisakan padang pasir yang sunyi. Langkah mereka kini terarah lurus ke cakrawala, di mana puncak gunung Sekte Awan Langit mulai terlihat angkuh di balik awan—sebuah keangkuhan yang sebentar lagi akan rata dengan tanah.