David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.
Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 8) Satu pesan singkat untuk pria malang
Waktu terus berlanjut. Sehingga tak terasa, satu hari berganti menjadi seminggu.
Sudah seminggu Laila bersemayam di kediaman Mendoza. Ia mulai bisa menyesuaikan diri. Baik soal makanan, lingkungan, tata krama maupun bersosialisasi dengan orang sekitar.
Dibalik kemegahan rumah yang bak istana tersebut, ia merasa bahwa segalanya tampak hampa dan sunyi. Terlalu tenang, tidak seperti di Jakarta yang ramai, berisik dan selalu ada kehebohan setiap harinya.
Rumah itu bagaikan museum yang tutup di hari libur. Karena itulah, taman adalah tempat favorit Laila.
Disana ia dapat berteduh dibawah pohon rindang, seraya membaca buku dengan angin sepoi-sepoi yang mengipasinya.
Bunyi kicau burung dan suara angin yang menderu, seolah menjadi teman dikala kesepian.
"Huhh, akhir cerita yang menyedihkan." Lenguh Laila, menutup buku novel yang baru saja selesai ia baca.
Ia lantas menyenderkan bahunya di batang pohon besar itu, menatap langit-langit biru yang terang-benderang sembari mengatakan, "membosankan."
"Nyonya," tiba-tiba kedatangan seorang pelayan menyentakkan Laila.
"Eh, kau..." Laila menoleh. Mencoba mengingat nama pelayan pribadinya, yang baru ditugaskan kemarin itu.
"Mia, nyonya." Ujar sang pelayan, mengingatkan.
"Benar. Mia. Hahah, maaf aku lupa..." ucap Laila cengengesan.
"Tidak apa-apa, nyonya." Mia meletakkan nampan yang ia bawa. Ada teh manis dan cemilan.
"Silahkan dinikmati," lanjut Mia membungkukkan badan hendak berbalik pergi.
"Eh. Tunggu," namun Laila menahan pelayan pribadinya itu.
"Iya, nyonya? Ada lagi yang perlu saya bawakan?" tanya Mia bingung.
"Aku bosan. Boleh kita mengobrol sebentar?" ajak Laila, canggung.
Mia terperangah, "ngobrol?" tidak lama, ia pun melebarkan senyum sopan lalu terduduk. "Tentu saja, nyonya. Apa yang ingin anda tanyakan?"
Laila menengadahkan kepala. Mengepit dagunya sambil menutup mata, memikirkan kira-kira pertanyaan apa yang dapat ia lontarkan agar menjadi sebuah cerita panjang.
"Hah!" hingga akhirnya Laila memunculkan sebuah pertanyaan yang telah lama ia pendam. "Apa tuan Mendoza masih ada keluarga? Kenapa sejak aku datang, tidak ada keluarganya yang menyambutku? Apalagi, aku bahkan tidak melihat satupun foto keluarganya terpampang di dinding-dinding rumah ini. Sehingga membuatku bertanya-tanya mengenai keluarganya, dan bagaimana hubungan tuan David dengan mereka?"
Mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi itu, Mia mendadak tertunduk. Sorot matanya menjadi sayu dan ekspresi wajahnya muram.
"Mia?" Laila memiringkan kepala, menilik muka Mia.
Dengan raut yang masih sedih Mia mengutarakan, "tuan muda adalah anak sebatang kara. Tidak ada kenangan kekeluargaan dalam kehidupannya. Tuan tidak pernah bertemu dengan kedua orangtuanya. Karena mereka meninggal ketika dia masih bayi."
Laila terenyuh. Sementara Mia meneruskan ceritanya. "Sejak kecil, tuan muda diasuh oleh pamannya. Olav Mendoza. Pendiri ODM Company yang kini sudah sukses. Tuan Olav adalah adik kandung ibunya dan dia belum menikah. Ketika tuan muda menginjak usia yang ke dua puluh tahun, pamannya meninggal. Sampai sekarang, penyebabnya masih menjadi misteri. Itulah mengapa ada banyak tudingan yang menuduh kalau tuan membunuh pamannya sendiri."
"Namun, semenjak kematian pamannya tuan jadi lebih banyak diam. Hampir tiga tahun tuan memakai baju berwarna hitam. Seakan ia mengalami duka yang amat dalam dan tidak lekas sirna."
"Semakin hari, tuan pun kian berubah dingin, ketus, kejam dan tidak kenal ampun. Terlebih setelah kematian kekasihnya itu. Pokoknya, tuan muda benar-benar hancur."
"Meski begitu, tuan muda adalah orang yang telah memberi kami pekerjaan. Dialah yang menggaji kami. Dari uang pemberiannya lah, kami para pelayan rendahan ini dapat membantu perekonomian keluarga. Makanya, kami semua sangat berharap kebahagiaan untuk tuan muda," tutur Mia.
"Memang, gaji kalian sebagai pelayan berapa?" tanya Laila, asal.
Tapi, jawaban Mia langsung mencengangkannya. "3000 dollar per bulan."
Duing.
Jumlah yang sangat fantastis. Kalau dirupiahkan berkisar 45 juta. Nilai uang yang bahkan berkali-kali lipat melebihi gaji Laila, ketika masih bekerja dibawah naungan Bella.
"Pantas saja dia berharap tuannya bahagia," batin Laila, membatu.
Tappp.
Mendadak Mia menggenggam kedua tangannya. Dengan wajah yang penuh harap, pelayan itu mengatakan, "biarpun anda cuman istri kontrak tuan muda, tolong berikan kenangan yang indah untuknya. Agar luka masa lalu tuan muda, pelan-pelan terkikis dari ingatannya."
Harapan yang cukup sederhana namun memberatkan.
"Maaf Mia," Laila menghempas tangan Mia. "Aku tidak bisa janji. Karena aku tidak mencintainya."
Deggg.
Sesaat, Mia tercengang. Ia hampir meneteskan air mata.
"Tapi, aku akan mengusahakan yang terbaik." Namun ucapan Laila tersebut, kembali meneduhkan hati Mia.
"Terima kasih, nyonya." Seru Mia, memeluk Laila dengan spontan.
"Sama-sama," bisik Laila menepak-nepak punggung Mia.
"Sebagai balasan atas kebaikan anda, besok saya mau mengajak anda berkeliling Sao Paulo, nyonya." Pinta Mia melepaskan pelukan.
"Benarkah? Wah... Ide yang bagus, Mia." Laila sontak kegirangan, dengan harapan semoga esok menjadi hari yang indah dan penuh kenangan.
**********
Malam harinya sekitar pukul sembilan, Laila nampak bergolak-golek ke kiri dan kanan. Ia tidak bisa tidur. Matanya susah terpejam.
"Duh, kenapa rasanya susah sekali untuk menutup mata." Keluh Laila lalu meraih ponsel pemberian David.
Biasanya kalau tidak bisa tidur, ada Dio yang menidurkannya. Kalau sedang berjauhan, suara teduh suaminya itu langsung menenangkan dia.
Namun kini, semuanya berbeda.
"Apa aku ngedrakor saja kah?" gumamnya membuka aplikasi Yutup. Tapi tangannya tiba-tiba berhenti. "Ah, ga seru. Sudah seminggu, kegiatan gabutku itu-itu mulu."
Laila menghembus nafasnya panjang. Ia merentangkan kedua tangan, memandangi lampu kamar. Mendadak, wajah David muncul dibenaknya.
"Ah, kenapa malah dia yang nongol?" Laila merenung.
Mengingat tentang cerita Mia tadi siang, timbul perasaan iba di hatinya.
"Pria yang malang..." lirihnya mengambil ponsel.
Tanpa berpikir panjang, Laila membuka kontak yang jumlahnya tidak seberapa. Ia lalu mengklik nama David dan mengirimkannya sebuah pesan yang nantinya akan membombardir perasaan pria itu.
Sebelum pesan tersebut melaju, Laila berpikir-pikir terlebih dahulu. "Dia marah enggak ya, kalau aku kirimkan pesan?"
"Masa bodo ah," Laila menggeleng cepat. "Daripada gabutku tidak terlampiaskan, aku kirim saja. Mana mungkin dia membunuhku cuma gara-gara pesan biasa."
Sat-set, satu pesan itu pun mendarat dengan sempurna ke notifikasi David Mendoza yang berada di Belanda.
Ting.
Bunyi notifikasi mengalihkan perhatian David yang tengah asyik mengobrol bersama kliennya, di restoran.
David menilik ponselnya itu. Awalnya ia tidak peduli. Dugaannya, kalau bukan Leo ya klien. Atau enggak, si Adam.
Tetapi matanya langsung membulat lebar, saat mendapati jikalau Laila lah yang mengirimkannya pesan.
Cepat-cepat, David memegang sempurna ponselnya dan membuka pesan singkat Laila yang cuma mengatakan: Hi, lagi apa?
David menutup mulutnya karena shock. Hati kecilnya tergelitik. Sehingga tiada terasa, membuatnya tersenyum malu karena pesan itu tampak sangat menggemaskan di matanya. Apalagi yang mengirim adalah Laila.
David sigap membalas, namun dengan mempertahankan sikapnya yang dingin seperti biasa. Sebab dihadapannya ada klien. Dia mesti menjaga wibawa gagah perkasanya. Katanya: Suamimu sedang bekerja, sayang. Kenapa? Apa kau rindu? Perlukah aku pulang malam ini juga?
Laila membalas: Tidak usah. Aku kan cuma bertanya.
David meneruskan: Cuman bertanya rupanya. Apa disana baik-baik saja sayangku?
Laila: Tentu saja. Para pelayan sangat ramah. Leo juga mengurus semua kebutuhanku dengan sangat baik.
David mengerutkan keningnya. Tangannya dengan cepat mengetikkan: Leo sudah seperti suamimu saja. Aku cemburu sayangku.
"Idih," hardik Laila di atas ranjangnya. Kemudian ia melanjutkan percakapan itu dengan mengirimkan stiker.
David yang mulai kaku harus bilang apa, mencoba berpikir keras. Hingga yang terlintas dipikirannya adalah menelepon Laila.
David pun beranjak dari kursinya. Sang klien yang nampak bingung karena David sedari tadi senyam-senyum lantas bertanya, "tuan David. Anda mau kemana?"
Dengan bangga David berkata, "istriku lagi rewel. Aku mau menghiburnya sebentar."
Klien itu mengangguk-anggukkan kepala, "oh begitu. Silahkan, saya akan menunggu. Anda sungguh suami yang penyayang."
David mencurahkan senyumnya. Kemudian, ia langsung menuju ke arah lain untuk menelpon istrinya, Laila.
Laila langsung terduduk, kepalanya hampir kejedot kala David menelepon. Ia tidak menduga jika pria itu bakal menghubunginya.
Laila sebenarnya tidak ingin menjawab panggilan tersebut. Namun agar tidak menyinggung David, ia terpaksa meladeni pria itu. Lagi-lagi, semua karena tindakannya yang semula cuma iseng menganggu seorang David Mendoza.
"Ha--halo?" lirih Laila menyapa.
"Laila... Istriku..." suara berat David yang penuh kehangatan, mengalun dengan begitu syahdu.
"Eh, i.. Iya... Apa anda sudah makan?" tanya Laila spontan.
"Sudah. Bagaimana denganmu?"
"Sudah juga."
Hening sejenak. Tetapi David tidak ingin mati kamus.
"Laila..."
"Iya? Ada apa?"
"Ngomong-ngomong, kenapa kau belum tidur? Sudah mau jam sepuluh loh, sayangku."
"Aku tidak bisa tidur. Mendadak mataku keras seperti batu."
"Pfffft," David menahan tawanya. "Apa perlu aku nyanyikan lagu pengantar tidur?"
"Memang anda bisa bernyanyi?"
"Kau meremehkanku ya?"
"Ahahah," Laila mencoba menyelamatkan dirinya yang ketar-ketir. "Ti... Tidak kok. Saya hanya penasaran dengan suara indah anda."
David menarik nafasnya dalam-dalam. Setelahnya, sebuah lagu yang tentunya menggunakan bahasa Portugis, menggema dari mulutnya.
Lagu tersebut begitu asing di telinga Laila. Namun, suara merdu David membuatnya paham kalau itu adalah lagu pengantar tidur.
Pelan tapi pasti, Laila pun menguap. Tubuhnya kembali merebah di kasur lalu kedua matanya tiba-tiba tertutup.
Laila tertidur. Bahkan sudah mendengkur.
David yang memastikan itu, tidak bisa mengelakkan senyum.
"Selamat tidur, istriku." Lirih David mengecup telepon.
Sungguh malam yang begitu indah.