desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Dua Dunia yang Berbeda
Jakarta punya cara sendiri untuk membagi warganya. Bukan dengan tembok, bukan dengan pagar. Tapi dengan jarak. Jarak antara yang punya dan yang tak punya. Jarak antara kemewahan dan kesederhanaan. Jarak antara apartemen mewah di kawasan selatan dan kost-kostan sempit di Tanah Abang.
Aira sedang menjahit ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia simpan dengan nama "Raka".
"Selamat pagi, Nona Aira. Maaf mengganggu. Arka bertanya terus tentang Nona. Apa Nona ada waktu sore ini? Mungkin bisa main sebentar dengan Arka. Saya paham jika Nona sibuk. Terima kasih."
Aira membaca pesan itu dua kali. Bukan karena isinya aneh. Tapi karena cara penulisannya. Formal. Sopan. Seperti surat lamaran pekerjaan. Bukan seperti pesan dari seorang pria ke seorang wanita.
Mungkin memang begitu cara orang kaya bicara, pikir Aira.
Ia membalas:
"Selamat pagi, Pak. Saya bisa sore ini. Jam 4? Saya sekalian mau antar pola bajunya untuk dicoba ke Arka."
Balasan masuk cepat:
"Terima kasih, Nona. Saya tunggu."
Aira tersenyum. Lalu kembali menjahit.
Maya yang sejak tadi mengamati dari belakang, langsung mendekat.
"Mba, sms-an sama siapa? Senyum-senyum sendiri."
"Ini klien. Bapaknya Arka."
"Oalah. Kirain gebetan."
"Maya, sini bantu aku obras pinggiran."
Maya cemberut. Tapi tetap mendekat. Membantu Aira memegang kain.
"Mba, serius deh. Bapaknya Arka itu ganteng, kaya, single parent pula. Kayaknya tipe Mba banget. Kenapa enggak?"
Aira menghela nafas. Ia berhenti menjahit. Menatap Maya.
"May, lihat aku. Aku ini desainer biasa. Tinggal di kost sempit. Tiap bulan kirim uang ke kampung. Dia itu CEO. Punya apartemen mewah. Hidupnya di dunia yang berbeda. Jangan aneh-aneh."
"Mba Aira itu cantik, baik, pinter. Apa hubungannya dengan uang?"
Aira tertawa. Tawanya getir.
"May, kamu masih muda. Masih romantis. Nanti juga paham. Dunia itu enggak adil. Orang kaya nikah sama orang kaya. Orang biasa nikah sama orang biasa. Begitu saja."
Maya menggeleng. "Aku enggak percaya itu."
"Percayalah. Sekarang bantu aku obras."
Maya mendengus. Tapi tangannya tetap membantu. Dalam hati, ia berdoa semoga Mba Aira salah. Semoga cinta bisa mengalahkan segalanya. Tapi ia tak bilang. Cuma diam.
---
Sore itu, Aira tiba di apartemen The Rosewood tepat pukul empat. Kali ia datang sendiri. Maya sengaja tak ia ajak. Bukan apa-apa. Hanya saja, ia ingin fokus pada Arka.
Pintu lift terbuka. Asisten rumah tangga yang sama, seorang wanita paruh baya bernama Bi Inah, sudah menunggu.
"Selamat sore, Nona. Silakan. Tuan Kecil sudah tidak sabar."
Aira masuk. Apartemen itu masih sama. Mewah. Rapi. Dingin. Tapi sore ini ada sedikit perbedaan. Di ruang tamu, di atas meja marmer, ada gambar-gambar berserak. Gambar Arka. Krayon. Pensil warna. Dan secangkir susu hangat yang masih mengepul.
"Dia tadi menggambar," kata Bi Inah. "Katanya mau kasih lihat Nona."
Dari lorong, suara langkah kecil terdengar. Arka muncul. Masih dengan baju tidur bergambar robot. Tapi kali ini rambutnya agak disisir rapi. Mungkin oleh Bi Inah.
"Aira!" teriaknya.
Anak itu berlari. Tapi tiba-tiba berhenti di depan Aira. Seperti malu. Tangannya memegang sesuatu di belakang punggung.
"Halo, Arka," Aira berjongkok. "Apa kabar?"
Arka diam. Lalu perlahan, ia mengeluarkan tangannya dari belakang punggung. Sebuah gambar. Kertas ukuran A4. Bergambar tiga orang. Satu besar, pakai jas. Satu sedang, pakai baju panjang. Dan satu kecil, pakai baju bergambar dinosaurus. Di atas gambar itu, ada tulisan cakar ayam: "Aira, Bapak, Arka"
Aira membaca tulisan itu. Matanya berkaca-kaca.
"Ini aku?" tanyanya lembut.
Arka mengangguk. Masih malu.
"Ini aku, ini Bapak, ini Arka. Kita bertiga."
Aira meraih tangan kecil Arka. "Bagus sekali gambarnya. Boleh Aira simpan?"
Arka mengangguk lagi. Tapi kali ia tersenyum. Senyum lebar. Gigi depannya ompong satu.
Di ambang pintu lorong, Raka berdiri. Ia baru pulang kerja. Jas masih melekat di badan. Rambutnya sedikit berantakan kena angin perjalanan. Ia menatap pemandangan di ruang tamu. Anaknya tersenyum. Wanita itu berjongkok. Dan di atas meja, ada gambar tiga orang yang entah bagaimana membuat dadanya hangat.
"Aira, lihat! Aku punya mainan baru!"
Arka menarik tangan Aira menuju ruang bermain. Aira menoleh sebentar ke arah lorong. Melihat Raka. Mereka bertukar pandang. Raka mengangguk pelan. Aira tersenyum. Lalu ia mengikuti Arka.
Raka tetap di tempat. Tangannya merogoh saku jas. Meraba selembar kertas—pesan dari Lita yang tak pernah berhenti masuk. Tapi sore ini, untuk pertama kalinya, ia merasa damai. Hanya dengan melihat Arka bahagia.
---
Di ruang bermain, Arka menunjukkan semua mainannya. Mobil-mobilan. Robot. Buku bergambar. Lego. Aira duduk di karpet, mendengarkan Arka bercerita tentang masing-masing mainan. Sesekali ia bertanya. Arka menjawab dengan semangat.
"Kalau ini, siapa yang beli?" tanya Aira sambil memegang boneka dinosaurus hijau.
"Bapak. Pas aku ulang tahun."
"Wah, Bapak baik ya?"
Arka mengangguk. Lalu tiba-tiba wajahnya berubah. Sedikit muram.
"Tapi Bapak sibuk. Jarang main sama Arka."
Aira diam. Ia meraih tangan Arka.
"Bapak kerja buat Arka. Biar Arka bisa beli mainan."
"Iya, Arka tahu. Tapi Arka kangen main sama Bapak."
Kalimat itu sederhana. Tapi menusuk.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Raka mendengar percakapan itu. Ia bersandar di dinding lorong. Matanya terpejam. Dadanya sesak. Selama ini ia pikir memberikan materi cukup. Memberikan mainan mahal, apartemen mewah, sekolah terbaik. Tapi anaknya hanya butuh satu hal: waktu.
---
Satu jam berlalu. Aira membantu Arka merapikan mainan. Mereka tertawa bersama saat Arka salah meletakkan lego. Aira mengajarinya cara menyusun berdasarkan warna. Arka senang sekali.
"Arka, Aira harus pulang sekarang. Sudah sore."
Wajah Arka langsung berubah. Sedih.
"Jangan pulang. Tidur sini aja."
Aira tersenyum. "Besok Aira datang lagi. Janji."
"Janji?" Arka mengangkat jari kelingkingnya.
Aira mengaitkan jari kelingkingnya. "Janji."
Arka tersenyum lagi. Tapi senyumnya dipaksakan.
Di ruang tamu, Raka sudah menunggu. Jasnya sudah dilepas. Kemeja putihnya masih rapi. Ia berdiri di dekat jendela besar, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai redup.
"Sudah selesai?" tanyanya saat Aira keluar.
"Sudah, Pak. Arka anak yang pintar."
Raka tersenyum tipis. "Terima kasih sudah mau meluangkan waktu."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya senang."
Bi Inah membawakan tas Aira. Aira menerima. Bersiap pamit.
"Nona Aira, tunggu sebentar."
Raka masuk ke ruang lain. Beberapa saat kemudian keluar membawa sebuah amplop coklat.
"Ini untuk Nona."
Aira mengernyit. "Apa ini, Pak?"
"Honor. Untuk waktu Nona sore ini."
Aira menggeleng. "Pak, saya bilang kemarin, ini bukan pekerjaan. Saya senang main dengan Arka. Tidak perlu dibayar."
"Tapi Nona—"
"Pak Raka," potong Aira tegas tapi lembut. "Dengar. Saya tahu Bapak terbiasa membayar semuanya. Tapi percayalah, kebahagiaan Arka sore ini tidak bisa dibayar dengan uang. Saya senang bisa membuatnya tersenyum. Itu sudah cukup."
Raka terdiam. Amplop itu masih di tangannya. Ia tak tahu harus berkata apa.
"Selamat sore, Pak. Sampaikan pada Arka, Aira akan datang lagi."
Aira berbalik. Melangkah menuju lift. Pintu lift terbuka. Ia masuk. Saat pintu tertutup, ia melihat Raka masih berdiri di tempat yang sama. Amplop masih di tangan. Wajahnya campuran antara bingung, kagum, dan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
---
Di dalam lift, Aira menghela nafas panjang. Ia memejamkan mata. Memikirkan Arka. Memikirkan gambar tiga orang itu. Memikirkan tulisan "Aira, Bapak, Arka" dengan ejaan yang salah.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Maya.
"Mba, gimana? Udah ketemu si ganteng?"
Aira tertawa sendiri. Membalas:
"Udah. Sekarang lagi di lift."
"Naik lift sama dia? Wih!"
"Sendirian, May. Dasar."
"Ah, Mba mah gitu. Aku tunggu ceritanya ya!"
Aira menyimpan ponsel. Lift terus turun. Lantai 25. 24. 23.
Ia ingat kata-kata Maya. "Mba Aira itu cantik, baik, pinter. Apa hubungannya dengan uang?"
Mungkin Maya benar. Mungkin cinta tak memandang status. Tapi Aira sudah terlalu sering melihat teman-temannya patah hati karena perbedaan kasta. Ia tak mau jadi salah satunya.
Lift berhenti di lantai dasar. Pintu terbuka. Aira melangkah keluar. Menyatu lagi dengan Jakarta yang tak pernah tidur. Kembali ke dunianya. Dunia kost sempit, mesin jahit, dan kiriman uang bulanan.
Tapi di hatinya, ada secercah hangat. Hangat dari senyum Arka. Hangat dari gambar tiga orang itu.
Ia tak tahu, di lantai 29, seorang anak kecil sedang memeluk gulingnya sambil tersenyum. Dan seorang pria berdiri di jendela, menatap lampu-lampu kota, memikirkan wanita yang baru saja pergi.
Dua dunia yang berbeda. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, mereka merasa terhubung. Entah bagaimana. Entah mengapa.
Mungkin Jakarta memang tak pernah belajar dari kesalahan. Tapi kadang, di tengah hiruk pikuknya, kota ini menyimpan keajaiban kecil. Keajaiban yang datang lewat senyum anak kecil. Keajaiban yang datang lewat hati yang tulus.
---