Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nikung?
"Aku rasa kapten itu tau kamu ngincar pacarnya," kompor Abiyan menahan tawa. Dia sempat melihat sikap tegang Cakra ketika melihat kehadiran Jetro di ruangannya tadi.
"Langsung lega setelah kita pergi." Erland tersenyum miring.
"Polwan itu ngga kelihatan bahagia," analisa Eldar.
"Mungkin terpaksa menerima perjodohan," sambung Baim antusias.
Jetro masih menatap punggung Febi hingga gadis itu menghilang di bagian kafe yang lebih dalam. Mungkin ke ruang privat
"Aku yakin dia pasti lebih milih kamu," sahut Erland tenang.
"Kalo bisa jangan sampai lepas, Jet. Biarkan Baim dan Dave aja yang tetap jomblo," kekeh Abiyan mengejek.
Baim terkekeh mendengarnya.
"Pacarnya kayaknya sudah tau kamu saingannya," sambung Eldar yakin.
"Terang terangan aja depan muka dia, Jet, kamu nikungnya. Aku rasa kapten itu punya wil," duga Eldar.
"Kita dukung sejuta persen. Ngga apalah dapat istri hasil nikung," ejek Baim.
"Ya ngga apa apa. Dari pada ngga dapat dapat," bela Abiyan membuat yang lainnya tergelak.
Jetro hanya tersenyum miring.
Oke, jawabnya dalam hati.
*
*
*
"Kenapa kamu kasar sekali dengan Fiola," vonis Cakra tanpa kalimat pembuka. Rahangnya masih mengeras, tatapnya menyimpan bara.
Febi yang sedang membaca daftar menu yang akan dia makan mendongak dengan tatap lelah.
Tuduhan yang ngga valid.
"Keningnya sampai dijahit begitu. Kamu tau dia, kan, Fiola pramugari. Penampilan penting buatnya."
"Kamu salah paham." Febi tetap tenang walau dalam hati merasa kasian dengan pahlawan kesiangan ini.
Cakra mendengus.
"Walaupun kita sudah menikah, Fio tetap prioritasku."
Habis saja Febi menyemburkan tawanya. Tambah kasian mendengarnya.
Cakra mengepalkan tangannya dengan kuat menahan kesal melihat ekspresi meremehkan Febi.
Selain membahas tentang Fiola, dia juga membawa pesan dari mamanya. Ini yang memberatkan pikirannya.
"Mama minta kita bertemu malam ini di rumah."
Febi menahan nafas. Hal yang dihindarinya, sia sia saja.
Belum habis kekesalannya akibat tuduhan sembarangan Cakra tadi, sekarang ditambah masalah perjodohan mereka.
Cakra memanggil pelayan untuk mengurangi ketegangan. Begitu pelayan kafe datang, Cakra dan Febi menyerahkan pesanan mereka.
"Aku akan jemput jam setengah tujuh malam ini," ucapnya lagi.
Febi masih diam aja. Perasaan ngga suka memenuhi rongga dadanya.
"Mungkin malam ini pembicaraannya akan lebih serius. Mungkin akan membahas kapan pernikahan kita akan dilangsungkan," jelas Cakra sambil menatap Febi. Wajahnya tampak frustasi.
Padahal selama ini dia merahasiakan pertunangannya dengan Febi. Rekan rekannya, juga orang orang yang mengenalnya pasti akan terkejut kalo kenyataan ini terbuka. Mereka taunya dia bertunangan dengan Fiola, kakaknya Febi. Cakra tidak bisa membayangkan akan seheboh apa nantinya
"Aku belum yakin untuk nikah dalam waktu dekat," keluhnya. Tangannya menggusar kasar rambutnya.
"Kenapa kamu tidak menolaknya terus terang? Aku bukan yang kamu inginkan," desak Febi.
Cakra menatap adik dari perempuan yang dia sukai dengan tajam.
"Memangnya kamu bisa menolak?"
Febi terdiam. Bukan dia ngga mau mengatakannya pada papanya. Tapi dia takut papanya shock dan jatuh sakit. Yang lebih takut lagi kalo papanya sampai meninggal. Dia trauma, takut dianggap penyebab meninggal papanya. Seperti mamanya dulu.
"Mamaku sangat menginginkanmu, sementara aku menginginkan kakakmu," tandasnya tajam.
Febi tau. Sikap mamanya Cakra berbeda saat menghadapinya dan kakaknya.
Mamanya Cakra sangat lembut dan penuh perhatian padanya. Sedangkan pada kakaknya, beliau tidak terlalu peduli.
"Kalo kita jadi menikah, kita ngga akan bahagia," keluh Cakra lagi.
"Sudah tau ngga bahagia tapi masih mau tetap dijalani."
Cakra menatapnya tajam. Febi balas menatapnya.
Saat laki laki itu mau menyemburkan makiannya seperti biasa saat Febi mendebatnya, perhatiannya teralihkan pada dering pelan telponnya.
Febi yakin telpon itu dari kakaknya.
Untuk mengurangi perasaan kesalnya, Febi melihat status teman temanya hingga mendadak jantungnya berdebar keras ketika melihat pesan dari Jetro yang baru masuk.
Apa kabar?
Sudut bibir Febi berkedut samar.
Telat nanyanya, batinnya menjawab. Tapi dia mengetik balasan yang berlawanan dari suara hatinya.
Baik.
Ngga lama kemudian balasan Jetro datang lagi.
Ya, kamu sepertinya ngga bohong.
Febi tersenyum lagi, tipis dan samar.
Sok tau, batinnya geli.
Dia kemudian mengetikkan lagi pesan buat Jetro.
Kamu juga tampak baik baik saja.
Sebenarnya pesan itu isi unek uneknya karena Jetro dalam beberapa hari ini hilang kabar. Lengkung tipis masih tergurat di bibirnya.
Kamu memperhatikan, ya.
Lengkung tipis itu makin terlihat jelas di bibir Febi saat membaca pesan balasan dari Jetro. Jantungnya makin cepat berdetak
"Kamu dapat pesan dari siapa?" Cakra yang baru saja mengakhiri komunikasinya dengan Fiola menatap Febi penuh selidik.
Spontan Febi menutup aplikasi pesannya.
"Dari teman."
Untung saja saat Cakra mau mendesaknya lagi dengan pertanyaan yang penuh curiga, pelayan kafe datang membawakan pesanan mereka.
Cakra menatap tajam sambil menikmati makannya. Instingnya yakin kalo Febi tadi berbalas pesan dengan Jetro.
Dia mulai memperhatikan Febi yang selama ini selalu dianggapnya adik dengan seksama.
Masa Jetro benar benar tertarik dengan Febi?
Ngga mungkin dia serius.
Febi memang cantik, tampak lebih alami dengan sapuan make up tipisnya.
"Kamu jangan terlalu polos, Febi."
"Maksudnya apa?" Febi menatap bingung bosnya yang memberikan pernyataan aneh untuknya.
"Jetro. Jangan terlalu percaya dengan dia." Cakra menatapnya dalam.
"Dia baik."
Cakra tersenyum sinis.
"Kamu belum tau aja siapa dia."
Febi balas menatap Cakra setelah meneguk minumannya. Tatapannya meremehkan.
"Kak Fio juga tertarik dengan Jetro."
DEG
Cakra langsung berdiri. Marah yang dia tahan dan mulai mereda kini berkobar lagi.
"Kamu bilang apa?" Suaranya bergetar.
Febi agak terkejut dengan reaksi spontan Cakra. Dia menenangkan diri dengan mengambil nafas dalam dalam. Cakra masih menunggu jawabannya dengan tatapan melototnya.
"Kemarin itu Kak Fiola terluka, memang karena aku yang dorong," jelas Febi tanpa takut melihat tatapan itu makin melotot akibat penjelasannya. Untungnya mereka berada di ruang privat.
"Dia mau menginjak bunga yang Jetro berikan untukku. Pak Cakra bisa tanya langsung dengan Kak Fio."
Bibir Cakra menyeringai sinis.
"Jangan putar balikkan fakta, Febi. Fio marah karena mengira bunga itu dari aku, kan. Kamu berbohong pada Fio dengan kasih tau dia kalo aku yang ngirim bunga ke kamu," geram Cakra.
Febi sampai melongo mendengarnya.
Dia benar benar sudah tidak tertolong, batinnya jerih.
"Kamu habiskan saja makanan kamu. Selera makanku sudah hilang." Setelah mengatakannya, Cakra menggeser kursinya dengan kasar dan melangkah cepat meninggalkan Febi yang masih bengong.
Beberapa jenak kemudian, Febi baru bisa menghembuskan nafas perlahan.
"Terserahlah!" gumamnya sambil melanjutkan makannya. Perutnya harus tetap terisi walaupun hatinya dongkol setengah m@ti.
"Ditinggal, ya?"
Hampir saja Febi tersedak. Saat ini Jetro sudah berdiri di depannya.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,