NovelToon NovelToon
Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Satu Rumah Dua Asing: Pernikahan Tanpa Suara

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Pernikahan rahasia / Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Di kantor, dia adalah Arash, CEO dingin yang tak tersentuh. Aku hanyalah Raisa, staf administrasi yang bahkan tak berani menatap matanya. Namun di balik pintu apartemen mewah itu, kami adalah suami istri yang terikat sumpah di atas kertas.

Kami berbagi atap, tapi tidak berbagi rasa. Kami berbagi meja makan, tapi hanya keheningan yang tersaji. Aturannya sederhana: Jangan ada yang tahu, jangan ada yang jatuh cinta, dan jangan pernah melewati batas kamar masing-masing.

Tapi bagaimana jika rahasia ini mulai mencekikku? Saat dia menatapku dengan kebencian di depan orang lain, namun memelukku dengan keraguan saat malam tiba. Apakah ini pernikahan untuk menyelamatkan masa depan, atau sekadar penjara yang kubangun sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Investigasi Mendadak

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membasahi lantai marmer kamar dengan warna perak yang lembut. Raisa mengerjapkan matanya, merasakan permukaan kain yang jauh lebih empuk daripada meja kayu mahoni yang keras. Ia menarik napas dalam, dan aroma sandalwood yang maskulin kembali menyapa indra penciumannya.

Raisa tersentak bangun, terduduk tegak dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menatap sekeliling. "Kamar?" gumamnya tidak percaya.

Ingatannya samar-samar kembali pada malam tadi—ruang kerja yang terkunci, tumpukan dokumen yang seolah tak ada habisnya, dan rasa kantuk yang luar biasa berat hingga ia menyerah di atas meja. Namun, sekarang ia berada di tempat tidur, terbungkus selimut tebal hingga ke dada.

"Bangun juga akhirnya," sebuah suara dingin menyentak lamunannya.

Arash sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan dasi sutranya dengan gerakan yang sangat presisi. Ia sudah mengenakan kemeja putih bersih yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya kembali kaku, matanya tidak menunjukkan sisa-sisa kelembutan saat ia mengangkat tubuh Raisa semalam.

"Bagaimana aku bisa sampai di sini?" tanya Raisa, suaranya serak. "Arash, apakah kau yang—"

"Jangan terlalu percaya diri," potong Arash cepat tanpa menoleh. Ia merapikan kerah jasnya di cermin. "Kau berjalan sambil tidur semalam. Mungkin karena otakmu terlalu terbebani oleh angka-angka audit. Kau mengetuk pintu kamar dengan linglung, jadi aku membiarkanmu masuk daripada kau pingsan di lorong dan merusak estetika apartemenku."

Raisa mengernyitkan dahi. Berjalan sambil tidur? Ia tidak pernah memiliki riwayat seperti itu. "Tapi ruang kerjanya terkunci ...."

"Aku membukanya untuk mengecek apakah kau sudah mati karena kelelahan atau belum," Arash berbalik, menatap Raisa dengan pandangan menghina yang sudah menjadi ciri khasnya. "Dan ternyata kau hanya sedang bermimpi indah di atas dokumen-dokumen pentingku. Air liurmu mungkin sudah merusak laporan tahun 2021."

Raisa baru saja hendak membalas hinaan itu ketika suara bel pintu apartemen berbunyi—bukan sekadar sekali, tapi berkali-kali dengan nada yang tidak sabar.

Arash mengerutkan kening. "Siapa yang datang sepagi ini?"

Ia melangkah keluar kamar menuju ruang tamu, sementara Raisa segera menyambar bathrobe untuk menutupi piyamanya. Belum sempat Arash sampai ke pintu, terdengar suara kunci elektronik yang terbuka.

"Arash! Kau masih tidur di jam produktif seperti ini?"

Seorang pria tua dengan setelan jas wol yang elegan namun wajah yang sangat berwibawa melangkah masuk. Itu adalah Kakek Arash, sang patriarki keluarga Dirgantara. Di belakangnya, dua pengawal berdiri diam di depan pintu.

Arash tertegun sejenak, namun segera menguasai diri. "Kakek? Kenapa datang tanpa memberi tahu?"

"Jika aku memberi tahu, aku tidak akan bisa melihat kehidupan aslimu dengan cucu menantuku," ujar sang Kakek, matanya yang tajam langsung mengedar ke seluruh ruangan. Ia kemudian menatap Arash yang sedang memegang cangkir kopi kosong. "Mana Raisa? Apakah dia sudah bangun?"

Tepat saat itu, Raisa muncul dari koridor kamar dengan rambut yang sedikit berantakan dan wajah yang masih menunjukkan sisa kantuk. Matanya membelalak melihat sang Kakek. "Kakek? Selamat pagi."

Sang Kakek tersenyum lebar—sebuah senyum yang jarang terlihat namun penuh tuntutan. "Ah, Raisa! Kemarilah, Nak. Maaf Kakek mengganggu waktu pagi kalian yang ... romantis."

Arash segera bergerak. Sebelum Raisa bisa bereaksi, Arash sudah berada di sampingnya, melingkarkan lengannya di pinggang Raisa dengan sangat erat, menarik tubuh wanita itu hingga menempel pada sisinya.

"Kami baru saja akan menyiapkan sarapan bersama, Kek," ujar Arash, suaranya berubah drastis menjadi hangat dan lembut, sangat kontras dengan nada dinginnya satu menit yang lalu. Sambil mengambil secangkir kopi yang ia buat, Arash menunduk, menatap Raisa dengan pandangan yang dibuat-buat penuh cinta, namun jemarinya meremas pinggang Raisa sebagai kode keras agar ia ikut bermain peran. "Benar kan, Sayang? Kau baru saja mengeluh lapar tadi."

Raisa merasa tubuhnya kaku, namun ia segera tersenyum manis meski terasa dipaksakan. "I-iya, Kek. Arash baru saja akan membuatkan kopi untukku. Dia selalu ingin memanjakanku di pagi hari."

Raisa mengambil kopi yang Arash pegang, lalu meminumnya spontan. Hal itu membuat Arash sedikit kesal tetapi harus tetap berpura-pura terlihat bahagia di hadapan Kakek.

Kakek tertawa puas, ia duduk di sofa ruang tamu yang mewah. "Bagus, bagus. Kakek datang karena ingin memastikan kalian tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai lupa membuatkan Kakek seorang cicit. Ingat Arash, paman-pamanmu sedang mengintai. Posisi CEO itu tidak akan selamanya aman jika kau tidak menunjukkan stabilitas keluarga."

Arash mencium pelipis Raisa—sebuah gerakan mendadak yang membuat Raisa menahan napas. "Jangan khawatir, Kek. Kami sedang 'mengusahakannya' dengan sangat intens. Itulah sebabnya kami sering lembur di rumah, bukan?"

Raisa merasa wajahnya memanas bukan karena malu, tapi karena ngeri melihat betapa lihainya Arash berbohong. Di bawah meja yang tidak terlihat oleh Kakek, Raisa mencubit kecil pinggang Arash sebagai balasan atas ciuman tiba-tiba itu.

Arash meringis sangat tipis, hampir tak terlihat, lalu ia menatap Raisa dengan tatapan yang seolah berkata, 'Ikuti saja atau kita berdua hancur.'

"Kakek ingin kopi?" tanya Raisa berusaha mencairkan suasana. "Biar saya siapkan."

"Tidak, biar Arash saja," cegat Kakek dengan lambaian tangan. "Seorang suami harus tahu cara melayani istrinya yang sudah bekerja keras. Benar kan, Arash?"

Arash mengangguk patuh, meski hatinya menggerutu. "Tentu, Kek. Raisa, duduklah di sini bersama Kakek. Aku akan membuatkan kopi spesial untuk kalian berdua."

Arash melangkah ke dapur, meninggalkan Raisa yang harus menghadapi rentetan pertanyaan Kakek tentang kehidupan pernikahan mereka, sementara ia tahu bahwa di balik dinding dapur, Arash mungkin sedang mengumpat karena harus berakting menjadi suami idaman di pagi yang kacau ini.

Kakek duduk bersandar di sofa kulit Italia yang mewah, namun tatapannya tetap setajam elang yang sedang mengintai mangsa. Ia memperhatikan Raisa yang duduk di kursi tunggal di hadapannya. Meskipun Raisa sudah berusaha menutupi kantung matanya dengan senyum manis, lingkaran hitam tipis dan wajahnya yang pucat tidak bisa menipu indra penglihatan sang patriark Dirgantara yang sudah makan asam garam kehidupan.

"Raisa, Nak," suara Kakek terdengar berat dan penuh selidik. "Kakek perhatikan wajahmu sangat kuyu pagi ini. Kau tampak seperti orang yang tidak tidur selama empat puluh delapan jam. Apa Arash memaksamu bekerja terlalu keras di kantor? Atau ada hal lain yang mengganggumu?"

Raisa tersentak, jemarinya yang saling bertaut di pangkuan mendadak mendingin. Ia melirik ke arah dapur, berharap Arash segera muncul menyelamatkannya. Namun, Arash masih sibuk dengan mesin espresso, meski telinganya jelas-jelas terpasang tajam ke arah ruang tamu.

"Ah, itu ... saya hanya sedikit kurang enak badan, Kek," jawab Raisa terbata-bata. "Banyak laporan yang harus disinkronkan, jadi ...."

"Laporan?" Kakek memotong dengan alis bertaut. "Arash, kemari kau!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!