Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Rumah Tangga yang Aneh
Pagi itu Arga terbangun dengan aroma kopi yang harum memenuhi rumah. Matanya masih setengah terpejam, tubuhnya masih malas bergerak dari ranjang yang hangat. Tapi aroma itu membuatnya penasaran.
Safira tidak bisa memasak. Dia bahkan tidak bisa memegang pisau terlalu lama karena tangannya yang dingin membuat gagang pisau selalu berembun. Lalu siapa yang buat kopi?
Arga bangkit dengan rambut acak-acakan, berjalan keluar kamar dengan kaki terseret malas. Saat sampai di dapur, pemandangan yang ia lihat membuat dadanya terasa aneh. Hangat. Tapi juga... sedih.
Safira berdiri di depan kompor dengan celemek pink yang kemarin mereka beli di pasar. Rambutnya diikat asal, beberapa helai jatuh menutupi wajahnya. Tangannya yang pucat memegang spatula, mengaduk sesuatu di wajan dengan gerakan yang... canggung. Sangat canggung.
"Safira?"
Safira terlonjak kaget. Spatula nyaris terjatuh dari tangannya. Ia berbalik dengan wajah yang panik dan... lucu. Ada noda hitam di pipinya, mungkin dari asap kompor.
"Arga! Kamu... kamu sudah bangun? Aku... aku belum selesai nih. Aku mau buat sarapan buat kamu tapi... tapi kok susah ya?" suaranya terdengar frustasi, hampir seperti mau menangis.
Arga mendekati dengan senyum yang tidak bisa ia tahan. Di wajan ada sesuatu yang... Arga tidak yakin itu telur orak-arik atau... sesuatu yang lain. Hitam, kering, lengket di wajan.
"Ini... apa?" tanya Arga pelan, berusaha tidak tertawa.
"Telur orak-arik," jawab Safira dengan nada memelas. "Tapi... tapi aku tidak tahu kenapa jadi begini. Aku sudah ikuti tutorial yang kamu tunjukkan kemarin. Tapi... tapi kenapa jadi gosong?"
Arga tidak tahan lagi. Ia tertawa. Tertawa sampai perutnya sakit. Safira menatapnya dengan tatapan ngambek yang membuat Arga tertawa lebih keras lagi.
"Jangan ketawa!" Safira memukul lengan Arga pelan dengan spatula. "Aku serius lho! Aku mau jadi istri yang baik! Istri yang bisa masak buat suami!"
"Maaf, maaf," Arga masih tertawa sambil mengusap air mata di ujung matanya. "Tapi... Safira, kamu tidak perlu memaksa diri. Aku yang masak juga tidak apa-apa."
"Tapi aku mau!" Safira bersikeras. Matanya mulai berkaca-kaca sekarang. "Aku... aku mau jadi istri yang berguna. Bukan... bukan istri yang cuma duduk cantik tidak bisa apa-apa."
Senyum Arga perlahan memudar. Ia melihat kesungguhan di mata Safira. Kesedihan yang tersembunyi di balik keinginannya untuk menjadi istri yang normal.
Dengan lembut, Arga memeluk Safira dari belakang. Dagunya bersandar di bahu istrinya yang mungil. "Kamu sudah berguna. Sangat berguna. Kamu membuat aku bahagia. Itu sudah lebih dari cukup."
"Tapi..."
"Tidak ada tapi-tapian," Arga memotong sambil mengecup pipi Safira yang dingin. "Ayo. Kita masak bareng. Aku ajarin pelan-pelan. Tidak usah buru-buru."
Safira menoleh dengan mata yang masih berkaca-kaca tapi sudah tersenyum. "Janji tidak akan ketawa lagi?"
"Janji," Arga mengangkat kelingking. "Sumpah kelingking."
Safira mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Arga. Dan mereka berdua tertawa. Pagi itu, mereka habiskan waktu di dapur dengan berantakan. Tepung dimana-mana. Susu tumpah di meja. Telur pecah ke lantai karena Safira yang kaget saat telur di tangannya yang dingin tiba-tiba retak sendiri.
Tapi mereka tertawa. Bahagia. Seperti pasangan pengantin baru yang sedang belajar hidup bersama.
***
Siang itu Bagas datang dengan membawa tas besar berisi makanan.
"Gue bawain nasi uduk, ayam goreng, tempe, tahu, sama sambal! Eh ada kerupuk juga!" teriaknya begitu masuk tanpa ketuk pintu dulu.
Arga yang sedang merapikan buku di rak langsung menoleh. "Lo ini main ke rumah orang kok kayak main ke kandang sendiri sih, Gas?"
"Lah, emang gue anggap rumah lo rumah gue juga," Bagas nyengir lebar sambil menaruh tas makanan di meja. "Mana Safira? Istri lo kemana?"
"Di kamar. Lagi... entahlah. Dia bilang mau beresin lemari tapi gue rasa dia cuma pengen ngatur-ngatur baju gue yang katanya berantakan."
Bagas tertawa. "Dasar. Baru seminggu nikah udah dikontrol ya lo?"
"Bukan dikontrol. Dia cuma... perhatian," Arga membela dengan senyum tipis.
Saat mereka sedang ngobrol, tiba-tiba Safira muncul. Bukan dari pintu kamar. Tapi... muncul begitu saja di samping Bagas yang sedang duduk di sofa.
"Halo, Bagas," sapa Safira dengan senyum lembut.
"ANJIR!" Bagas langsung melompat dari sofa, hampir jatuh ke belakang. Tangannya memegang dada dengan napas terengah-engah. "SAFIRA! Jangan... jangan muncul tiba-tiba gitu dong! Jantung gue copot tau!"
Safira menutup mulutnya dengan tangan, tertawa kecil. "Maaf, maaf. Aku lupa kamu masih belum terbiasa."
"Ya iyalah belum terbiasa!" Bagas masih memegangi dadanya dengan dramatis. "Gue ini manusia biasa, Fir! Jantung gue cuma satu! Kalau rusak gimana?!"
Arga tertawa melihat reaksi Bagas yang selalu berlebihan kalau ketemu Safira. Sudah seminggu, tapi Bagas masih saja kaget setiap kali Safira muncul tiba-tiba.
"Udah, udah. Ayo makan bareng," ajak Arga sambil membuka bungkusan makanan yang Bagas bawa.
Mereka bertiga duduk di meja makan. Arga dan Bagas makan dengan lahap. Sementara Safira... hanya duduk. Menatap mereka dengan senyum lembut. Tangannya terlipat rapi di pangkuan.
"Lo... lo nggak makan, Fir?" tanya Bagas sambil mengunyah ayam.
"Aku tidak perlu makan," jawab Safira dengan nada biasa. Seolah itu hal yang wajar.
"Oh iya ya. Gue lupa," Bagas menggaruk kepala yang tidak gatal. "Tapi... lo nggak lapar? Nggak pengen nyoba makan?"
Safira tersenyum. Senyum yang terlihat sedikit sedih kalau diperhatikan lebih dalam. "Aku... aku sudah mencoba beberapa kali. Tapi setiap kali makan, makanan itu rasanya seperti tanah di mulutku. Tidak ada rasa. Tidak ada yang menarik. Jadi... ya sudah. Aku tidak makan saja."
Bagas terdiam. Ia melirik Arga yang juga terdiam, tangannya berhenti menyuap nasi. Ada kesedihan yang tiba-tiba menyelimuti meja makan itu.
"Tapi aku senang menemani kalian makan," Safira melanjutkan dengan ceria, berusaha mengusir suasana sedih yang mulai muncul. "Aku suka melihat Arga makan dengan lahap. Rasanya... hangat. Seperti aku juga ikut merasakan kehangatan makanan itu."
Arga menatap Safira dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Campur aduk antara cinta, kasihan, dan kesedihan. Istrinya ini... dia mencoba sangat keras untuk menjadi normal. Untuk menjadi istri yang biasa. Tapi bagaimana bisa? Dia bahkan tidak bisa merasakan makanan.
"Arga? Kenapa berhenti makan?" Safira bertanya dengan khawatir. "Makanannya tidak enak?"
"Enak," jawab Arga cepat. "Enak kok. Cuma... tadi keselek."
Bohong. Tapi Arga tidak mau membuat Safira sedih dengan menunjukkan kesedihannya sendiri.
Bagas yang mengerti suasana langsung berusaha mencairkan dengan guyonannya. "Eh, ngomong-ngomong, lo berdua udah... udah gitu belum?"
"Gitu apaan?" Arga menatap Bagas dengan tatapan polos.
"Ya... gitu lah!" Bagas mengedipkan mata dengan genit. "Suami istri kan... pasti ada... lo tau lah maksud gue!"
Wajah Arga langsung merah. "Lo ngapain nanya-nanya gitu sih?!"
"Ya penasaran aja! Kan biasanya pasangan baru nikah pasti... ya gitulah!" Bagas nyengir.
Safira yang mengerti apa yang Bagas maksud juga ikut merona. Wajahnya yang pucat kini sedikit berwarna pink di pipinya. "Bagas... itu... itu privasi kami..."
"Wah, ternyata udah ya?!" Bagas tertawa girang.
"BELUM!" Arga dan Safira menjawab bersamaan dengan wajah merah padam.
Bagas tertawa lebih keras. "Oalah, berarti belum. Kirain udah. Lah, kenapa belum? Lo udah sah lho!"
Arga menghela napas panjang. "Karena... karena kami tidak mau buru-buru. Dan lagipula..." ia melirik Safira yang sedang menunduk dengan wajah merah, "...kami masih belajar jadi suami istri dengan cara kami sendiri."
"Ahh, romantis banget sih lo," Bagas mengejek sambil tertawa. Tapi dalam hatinya, ia sebenarnya kagum. Kagum dengan kesabaran Arga dan Safira yang tidak terburu-buru seperti pasangan pada umumnya.
Setelah makan selesai, Bagas pamit pulang. Tapi sebelum keluar, ia menarik Arga ke teras. Wajahnya yang tadi ceria berubah serius.
"Ga, gue mau tanya serius nih."
"Apa?"
"Lo... lo bahagia kan sama Safira?"
Arga terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum. Senyum yang tulus. "Sangat bahagia, Gas. Ini kehidupan paling bahagia yang pernah gue jalani."
"Meski... meski dia bukan manusia normal? Meski lo harus ngadepin hal-hal aneh kayak tadi? Safira yang nggak bisa makan, nggak bisa tidur, tiba-tiba muncul ilang?"
"Justru itu yang bikin gue sayang sama dia," jawab Arga dengan nada lembut. "Dia mencoba sangat keras untuk jadi istri yang baik. Dia mencoba masak meski gagal terus. Dia menemani gue makan meski dia tidak bisa merasakan makanan. Dia tidur di samping gue meski dia tidak butuh tidur. Semua yang dia lakukan... semua itu karena dia mencintai gue. Tulus. Tanpa pamrih. Dan itu... itu lebih berharga dari apapun."
Bagas menatap Arga dengan tatapan berkaca-kaca. "Lo... lo bener-bener udah jatuh cinta total ya sama dia."
"Udah dari awal, Gas," Arga tersenyum. "Dari malam pertama dia muncul, gue udah tau... dia istimewa."
Bagas memeluk Arga tiba-tiba. Pelukan yang erat. "Gue seneng lo bahagia, Ga. Serius. Meski gue masih takut sama... sama hal-hal yang mungkin terjadi ke depannya. Tapi... tapi gue seneng lo akhirnya nemuin kebahagiaan lo."
Arga membalas pelukan dengan erat. "Makasih, Gas. Makasih udah selalu ada."
"Ya iyalah. Lo sodara gue. Gue pasti selalu ada buat lo."
Setelah Bagas pulang, Arga kembali masuk ke rumah. Safira sedang duduk di sofa dengan buku di tangannya. Tapi matanya tidak fokus membaca. Tatapannya kosong.
"Safira?"
Safira tersentak, langsung menutup buku dan menatap Arga dengan senyum yang dipaksakan. "Iya? Ada apa?"
Arga duduk di sampingnya, meraih tangan Safira yang dingin. "Kamu... kamu sedih?"
"Tidak," jawab Safira cepat. "Aku tidak sedih."
"Jangan bohong," Arga mengeratkan genggamannya. "Aku suamimu. Aku bisa merasakan kalau kamu sedih."
Safira terdiam. Bibirnya bergetar. Lalu air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku cemburu, Arga."
"Cemburu? Sama siapa?"
"Sama... sama kehidupan normal," Safira menjawab dengan suara yang sangat pelan. "Aku cemburu melihat pasangan lain yang bisa makan bersama. Yang bisa tidur bersama. Yang bisa... yang bisa melakukan hal-hal normal yang aku tidak bisa lakukan. Aku... aku ingin bisa memasak makanan enak buat kamu. Aku ingin bisa merasakan makanan yang sama seperti yang kamu rasakan. Aku ingin bisa tidur nyenyak di sampingmu, bukan hanya pura-pura tidur. Aku ingin... aku ingin jadi istri yang normal. Bukan istri yang aneh seperti ini."
Air matanya jatuh. Mengalir deras di pipi pucatnya.
Arga merasakan dadanya sesak mendengar pengakuan Safira. Ia memeluk istrinya dengan erat, sangat erat sampai tubuh Safira yang dingin menempel sempurna di dadanya.
"Kamu tidak aneh," bisik Arga dengan suara yang bergetar. "Kamu istimewa. Kamu berbeda. Dan aku... aku mencintaimu karena perbedaan itu. Aku tidak butuh istri yang normal, Safira. Aku butuh kamu. Apa adanya."
"Tapi aku tidak bisa memberikan apa yang istri normal bisa berikan..."
"Kamu memberikan aku cinta yang tulus," Arga memotong sambil melepaskan pelukan, menatap mata Safira yang basah. "Kamu memberikan aku kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Kamu memberikan aku alasan untuk bangun setiap pagi dengan senyum. Itu... itu lebih dari cukup, Safira. Lebih dari apapun yang bisa istri normal berikan."
Safira menangis lebih keras. Tangannya menutup wajahnya, isak tangis pecah tak tertahankan. "Kenapa... kenapa kamu selalu bisa bilang hal yang tepat untuk membuat aku menangis..."
Arga tersenyum meski air matanya sendiri mulai mengalir. "Karena aku mencintaimu. Dan cinta membuat aku selalu ingin membuat kamu bahagia."
Mereka berpelukan lama di sofa itu. Menangis bersama. Safira karena rasa tidak layak yang selalu menghantuinya. Arga karena tidak sanggup melihat istrinya merasa rendah diri seperti ini.
"Safira," Arga berbisik di telinga istrinya. "Besok kita jalan-jalan yuk. Ke pasar. Ke taman. Kemana pun kamu mau. Aku mau kita buat kenangan. Kenangan yang indah. Kenangan yang akan kita ingat selamanya."
Safira mengangkat wajahnya yang basah, menatap Arga dengan tatapan penuh harap. "Boleh?"
"Tentu saja boleh. Kamu istriku. Kamu berhak bahagia."
Safira tersenyum. Senyum yang sangat indah meski air matanya masih mengalir. "Terima kasih... terima kasih sudah mencintaiku."
"Terima kasih sudah menjadi istriku."
Mereka saling menatap dengan cinta yang sangat besar. Cinta yang tidak peduli dengan perbedaan. Cinta yang tidak peduli dengan kesulitan.
Dan malam itu, saat mereka berbaring di ranjang dengan tangan saling menggenggam, Arga merasakan sesuatu yang aneh di dadanya.
Hangat.
Sangat hangat.
Tapi juga... sakit.
Sakit yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia mencoba mengabaikannya. Mencoba fokus pada Safira yang sedang pura-pura tidur di sampingnya, matanya terpejam dengan napas yang diatur pelan meski Arga tahu dia tidak benar-benar tidur.
Tapi rasa sakit itu tidak hilang.
Justru semakin kuat.
Seperti ada sesuatu yang perlahan... perlahan menggerogoti nyawanya.
"Tidak apa-apa," gumam Arga pada dirinya sendiri. "Ini hanya perasaan saja. Tidak apa-apa."
Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu.
Ini bukan hanya perasaan.
Ini awal dari sesuatu yang buruk.
Sesuatu yang sudah Ustadz Hasyim peringatkan sejak lama.
Ikatan mereka... mulai menguras nyawanya.
Perlahan.
Tapi pasti.