Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15
Pagi itu, dunia masih berselimut kegelapan saat jarum jam baru saja menyentuh angka empat. Bradley sudah terjaga, tubuhnya yang tegap terbalut kaos hitam tipis saat ia melangkah turun menuju dapur. Suasana mansion di Surrey masih sangat sunyi.
"Bibi sudah bangun?" tanya Bradley saat sampai di dapur dan mendapati Marta sedang menyiapkan peralatan minum.
Marta tersentak. "Baru saja, Tuan. Ada apa sepagi ini ke dapur?"
"Bi, tolong sampaikan pada koki... hari ini aku ingin makan Rawon. Jika dia tidak paham, suruh dia mencari tahu resepnya. Itu masakan Indonesia," perintah Bradley, ada nada kerinduan yang terselip di sana. Ia ingin aroma masa kecilnya memenuhi rumah ini sebelum mereka berangkat ke Virginia.
Marta tersenyum, ia paham betul jika saat ini Bradley sedang merindukan Ibunya. "Baik, Tuan. Akan segera saya sampaikan."
Bradley kembali ke kamar. Ia melihat Megan masih meringkuk di balik selimut, tampak begitu cantik di balik rambutnya yang berantakan. Perlahan, ia naik ke atas ranjang dan memeluk Megan dari belakang, melingkarkan lengannya yang kokoh di perut Megan yang masih rata, lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
Aroma tubuh Megan campuran antara sabun mandi dan sesuatu yang manis selalu berhasil menjadi candu yang melumpuhkan logikanya.
"Kau membuatku sesak napas, sialan," gumam Megan serak, terbangun karena tekanan tubuh Bradley yang berat.
Bradley tak menjawab. Ia justru membalikkan tubuh Megan dengan paksa agar menghadapnya. "Kita berangkat ke Virginia jam sepuluh nanti," bisiknya tepat di depan bibir Megan.
Mata Megan seketika melebar. Binar antusias yang jarang terlihat kini muncul. "Kau serius?"
"Ya. Aku selalu menepati janjiku."
"Kenapa kau lakukan itu, Brad? Kau tahu itu berisiko karena harus melalui pemeriksaan biometrik," tanya Megan, menatap lekat mata kelam di depannya.
"Hanya agar kau tetap di sampingku, Meg. Menjadi ibu dari anakku," Bradley mengusap pipi Megan dengan ibu jarinya, sebuah gerakan yang terlalu lembut untuk seorang pria yang ia sebut monster.
Megan mendengus. Rasa bahagia yang baru sedetik lalu ia rasakan menguap seketika, digantikan oleh kenyataan pahit bahwa ia tetaplah seorang tawanan. "Kau jahat, Brad. Kau tahu... jika sampai aku mati pun, aku akan tetap membawa kebencian ini terkubur bersamaku."
"Aku tidak peduli. Aku tidak butuh cintamu, aku hanya butuh kau ada di sini," jawab Bradley acuh.
Tanpa menunggu persetujuan, Bradley mengikis jarak yang tersisa. Ia mencium bibir Megan, bukan dengan kekasaran seperti malam ONS itu, melainkan dengan klaim kepemilikan yang lebih dalam dan menuntut.
Megan yang awalnya ingin melawan, perlahan merasa tenaganya habis. Di bawah temaram lampu tidur, Megan memejamkan mata, membiarkan tubuhnya merespons sentuhan Bradley yang mulai menjelajahi setiap inci kulitnya dengan penuh gairah.
Suara napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu liar memenuhi ruangan itu, menciptakan sebuah ironi yang manis. Megan tidak menolak, bukan karena ia mulai mencintai pria itu, melainkan karena ia menyadari bahwa di dalam pelukan Bradley, ia menemukan sebuah perlindungan yang sangat ia butuhkan di tengah badai takdirnya.
Pagi itu, di bawah selimut sutra, Bradley kembali menegaskan kekuasaannya, sementara Megan sekali lagi mengkhianati lencananya dalam diam.
***
Megan menatap horor pada masakan yang tersaji di meja makan yang terlalu luas untuk hanya diisi oleh mereka berdua. Cairan pekat berwarna hitam dengan potongan daging di dalamnya itu tampak seperti ramuan aneh di mata agen CIA sepertinya.
"Kau yakin ini bukan racun?" tanya Megan sangsi.
Bradley tertawa pelan, matanya menatap Megan yang tampak segar dan luar biasa cantik pagi itu. "Aku sudah sering memakannya sejak kecil, Meg. Dan seperti yang kau lihat, aku masih hidup sehat di depanmu."
"Peter!" panggil Megan saat melihat Peter baru saja melintas.
"Ya, Nona?" Peter mendekat dengan ekspresi bingung.
"Kemari!" perintah Megan.
Peter yang tidak tahu apa-apa segera mendekat. "Ada apa, Nona? Kalau mau tanya mangga, Tuan Bradley sudah menghabiskannya semalam."
Megan seketika menoleh, menatap Bradley dengan tatapan tak percaya. "Kau memakan manggaku?"
"Manggamu?" Bradley menaikkan sebelah alisnya, merasa lucu dengan klaim sepihak itu. "Kau yang menolaknya, ingat?"
"Tetap saja kau belum selesai denganku, Brad! Aku masih mau mangga, tapi bukan mangga Thailand semalam!" Megan bersungut-sungut, membuat Bradley hanya bisa mengelus dada dalam hati.
"Gila... lama-lama aku bisa gila hidup bersama wanita ini," batin Bradley sambil terus menyuap Rawon-nya.
"Duduk, Peter!" perintah Megan lagi. Ia kemudian mengambilkan semangkuk Rawon dan menyodorkannya pada Peter. "Kau, cobalah ini."
"Saya?" Peter menunjuk dirinya sendiri, bingung.
"Ya. Makanan ini bentuknya ngeri sekali, hitam dan tidak menarik. Aku takut dia berniat meracuniku," Megan melirik Bradley dengan curiga.
Bradley hanya bisa membatin, "Drama apalagi ini, Tuhan..."
Peter mulai menyendok kuah hitam itu dan memakannya dengan lahap. "Ini namanya Rawon, Nona. Ini daging sapi dan ini masakan dari Indonesia."
"Indonesia?" Megan tersentak. Kepalanya seolah dihantam kenyataan berulang kali. "Kenapa sejak aku mengenal Bradley, semuanya harus selalu berbau Indonesia?"
Bradley menyadari Megan yang mendadak melamun. "Kau kenapa, Meg? Kau lihat Peter masih bernapas, kan?"
"Tapi aku tetap tidak mau." tolak Megan, berusaha mempertahankan harga dirinya.
Bradley tidak banyak bicara. Ia menyendok Rawon dari piringnya sendiri, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Megan. "Suatu hari, masakan ini akan sangat kau rindukan, Meg. Percayalah."
Megan tertegun. Ada sesuatu yang tulus dalam nada bicara Bradley. Perlahan, ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Rasa gurih yang kaya akan rempah langsung meledak di lidahnya.
Megan tidak berkomentar apa-apa untuk menjaga gengsinya, namun anehnya, ia terus membuka mulut setiap kali Bradley menyuapinya. Piring di depan Bradley benar-benar tandas oleh Megan.
Peter yang duduk di sana hanya bisa menatap hampa. "Astaga... apa-apaan ini? Aku disuruh duduk hanya untuk jadi saksi mereka makan sepiring berdua?" batin Peter meratapi nasibnya sebagai obat nyamuk.
***
Usai sarapan yang penuh sandiwara itu, Peter mendekat dengan wajah kaku. "Tuan, semuanya sudah diatur. Jet pribadi sudah siap di landasan. Kita akan berangkat satu jam lagi."
"Oke. Aku akan menjemput Megan," jawab Bradley singkat. Ia kemudian melangkah menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu yang sedikit terbuka.
Di sana, ia melihat Megan sedang duduk di depan meja rias. Untuk pertama kalinya selama dua bulan wanita itu menjadi tawanannya, Bradley melihat sebuah lengkungan tipis di bibir Megan. Sebuah senyuman.
"Aku bahkan belum pernah melihat senyum itu sebelumnya," batin Bradley pedih. "Hanya karena Virginia, dia bisa sebahagia ini? Apa aku benar-benar sudah bertindak terlalu kejam padanya?"
Bradley mengusir keraguannya, lalu berjalan mendekat. Ia berdiri di belakang Megan, menatap pantulan wajah cantik istrinya melalui cermin besar. "Kau tampak bahagia, Meg?"
"Tidak ada yang lebih membahagiakan selain bisa kembali menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku, Brad," ujar Megan dengan suara yang sangat lembut. Kelembutan yang justru terasa seperti sembilu yang merobek hati Bradley.
"Kau... sama sekali tidak bahagia bersamaku?" tanya Bradley, suaranya sedikit parau.
"Apa yang bisa kubanggakan dari seorang mafia sepertimu, Brad? Tidak ada, kan?" Megan menatap pantulan mata Bradley di cermin dengan tatapan hampa.
"Kau yakin... pria ini tidak akan pernah kau rindukan seandainya kau berhasil lari dariku?"
Megan memutar tubuhnya, menghadap Bradley sepenuhnya. "Hari ini kau membawaku mengunjungi makam Bibi Sarah. Satu-satunya hal yang akan kuingat sebagai kebaikanmu hanya itu, Brad. Selebihnya? Hanya luka."
Bradley mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi yang ingin meledak.
"Jika aku tidak bisa kembali pada Ayahku atau Sean..." Megan menjeda kalimatnya, menatap Bradley dengan binar harapan yang menyakitkan. "Aku berharap Tuhan mempertemukanku dengan putra Bibi Sarah suatu hari nanti. Aku percaya, putra dari wanita sebaik dia pasti akan menolongku. Aku berharap dialah yang akan membebaskanku darimu, Brad."
Bradley terpaku. Setiap kata yang keluar dari bibir Megan barusan terasa seperti peluru yang bersarang tepat di jantungnya. Megan yang biasanya berteriak penuh amarah kini berbicara begitu tenang, ia benar-benar merasa jika dirinya tidak berarti apapun di mata Megan, selain hanya seorang penjahat yang menculik dan merusak harga diri serta masa depannya.
Bradley mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan gejolak emosi yang ingin meledak. Ia mendongak, menatap mata Megan yang memancarkan harapan pada "putra Bibi Sarah".
Senyum sinis, dingin, dan penuh ancaman merekah di bibir Bradley. Ia menarik diri, tatapan matanya yang kelam mengunci mata Megan. "Ayo berangkat," ucap Bradley dingin, menyembunyikan kehancuran yang kini berganti dengan tekad di wajahnya. "Pesawat sudah menunggu.”
***
Megan melangkah di samping Bradley dengan jantung yang berdegup kencang. Di tengah hiruk-pikuk bandara internasional yang dijaga ketat, Megan diam-diam merapalkan doa. Ia berharap sistem keamanan biometrik tercanggih mampu mengenali wajah aslinya di balik riasan tipis dan lensa kontaknya.
Namun, saat mereka sampai di depan gerbang pemeriksaan, Bradley melangkah tenang seolah ia mampu mengubah apa yang dia inginkan hanya dengan membalikkan telapak tangan.
Megan menahan napas saat sinar laser biru memindai retinanya. Ia memejamkan mata sedetik, merapal doa dalam hati. Kumohon, sekali saja... berpihaklah padaku.
BIP. BIP. BIP.
Layar di hadapan petugas imigrasi berkedip merah terang. Bunyi peringatan itu terdengar sangat jelas, membuat suasana seketika membeku.
"Ada masalah?" suara Bradley terdengar sangat tenang, namun tangannya yang melingkar di pinggang Megan meremas kulit wanita itu dengan tekanan yang menyakitkan. Sebuah peringatan agar Megan tetap diam.
Petugas itu mengernyit, menatap layar lalu beralih pada paspor di tangannya. "Sistem kami mendeteksi ketidaksinkronan data yang serius, Tuan Brown.
“Lalu masalahnya di mana?”
"Sistem kami tidak mungkin salah," tegas petugas bandara itu sambil menatap layar monitor yang berkedip merah. "Di paspor Anda tertulis Nora Alexander, tapi biometrik Anda menunjukkan Anda adalah Megan Laurencia Ford. Agen aktif CIA."
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭