Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
"Hanya itu kemampuanmu, Penjaga Kecil?" tawa mereka mengejek, perlahan mengepungku dalam lingkaran api yang panas. Aku bisa merasakan kulitku terasa terbakar karena hawa panas yang menyengat.
Di saat genting itu, benih perak di tanganku bergetar hebat. Benih itu seolah-olah memiliki denyut nadinya sendiri, berteriak meminta dilepaskan. Aku memejamkan mata, memohon pada alam, pada bunga-bunga, pada Kaelen... pada apa pun yang bisa menolongku.
Saat aku membuka mata, benih itu telah tumbuh. Bukan menjadi tumbuhan biasa, melainkan sebuah pedang anggun yang seluruhnya terbuat dari kristal perak berkilau, dengan gagang yang dihiasi jalinan akar dan kelopak bunga. Di ujung bilahnya, memancar cahaya biru samar. Ini adalah Pedang Bunga Perak, senjata legendaris para Penjaga Gerbang.
Tanpa ragu, aku menghantamkan pedang itu ke tanah. Gelombang energi dingin menyebar, memadamkan sebagian api yang mengelilingi. Para Prajurit Api mendesis marah.
"Senjata Penjaga! Itu curang!" geram mereka, namun ada nada gentar dalam suara mereka.
"Aku bukan curang," balasku, suaraku kini lebih tegas. "Aku melindungi apa yang harus dilindungi!"
Aku melompat, mengayunkan Pedang Bunga Perak. Bilahnya membelah udara dengan suara mendesing, dan anehnya, setiap kali pedang itu mengenai prajurit api, tubuh mereka tidak terbelah, melainkan berubah menjadi uap air yang dingin.
Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Meskipun Pedang Bunga Perakku ampuh, aku masih belum terlatih. Seorang prajurit api berhasil lolos dari seranganku dan melesat ke arahku. Aku terhuyung, nyaris terjatuh.
Tepat sebelum serangan itu mengenaku, sebuah bayangan hitam melesat di depanku. Bayangan itu bukan Kaelen secara fisik, melainkan energi bayangannya—mirip dengan Kaelen yang saat itu pertama kali menemuiku. Ia muncul dan menahan serangan prajurit api itu, mendorongnya mundur dengan kekuatan yang besar.
"Dia... membantuku dari jauh?" bisikku tak percaya.
Pippin terbang di atasku, "Pangeran Kaelen! Dia meminjamkan kekuatannya melalui ikatan batin kalian! Ikatan cintanya padamu terlalu kuat untuk dipatahkan oleh rantai apapun!"
Bayangan Kaelen tidak bisa bertarung secara langsung. Ia hanya bisa memanipulasi lingkungan, menciptakan celah, dan mengalihkan perhatian. Dengan bantuan bayangan Kaelen, aku merasa lebih percaya diri. Aku menyalurkan kekuatan bunga Han-ku ke Pedang Bunga Perak, membuatnya bersinar lebih terang.
"Mundur!" teriakku, mengayunkan pedang dalam lingkaran cahaya.
Para Prajurit Api yang tersisa akhirnya menyerah. Mereka menyadari bahwa kekuatan yang kami miliki, terutama dengan adanya ikatan tak kasat mata antara aku dan Kaelen, terlalu besar untuk mereka hadapi. Mereka melarikan diri, menghilang ke dalam kegelapan hutan.
Aku terengah-engah, tubuhku gemetar kelelahan. Pedang Bunga Perak memudar menjadi benih perak kecil kembali di tanganku.
"Kita berhasil, Kazumi!" seru Pippin gembira, berputar-putar di depanku.
Aku menatap ke arah Menara Sunyi, di mana Kaelen berada. Ikatan batin kami memang ada, aku bisa merasakannya. Dia melindungiku, bahkan dari kejauhan. Ini memberiku harapan baru dan tekad yang lebih kuat.
"Ini belum berakhir, Pippin," ucapku, menyeka keringat dari dahiku. "Ini baru permulaan. Kita harus cepat. Aku bisa merasakan dia semakin melemah."
Kami melanjutkan perjalanan, memasuki Lembah Bisikan. Suasana di sini terasa lebih mencekam daripada hutan sebelumnya. Pohon-pohon di sini tidak lagi hitam, melainkan transparan, seolah terbuat dari kabut tebal. Setiap langkah, aku mendengar bisikan-bisikan aneh yang berusaha menyelinap ke dalam pikiranku.
"Kau lemah... kau hanya gadis kecil..."
"Kaelen tidak akan pernah bebas... kau akan mati di sini..."
"Lembah Biru sudah hancur... Ayah dan Ibumu..."
Aku memejamkan mata, memegang benih perak itu erat. Aku mencoba fokus pada bayangan Kaelen, pada kekuatan bunga Han. Aku tidak akan membiarkan ketakutanku menjadi nyata.