Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08 Retakan yang Tidak Terlihat
Pagi datang dengan tenang yang menipu.
Elena duduk di meja sarapan, secangkir kopi mendingin di depannya. Ia tidak menyentuhnya. Pendengarannya menangkap ritme rumah yang berubah. Marcus berjalan lebih cepat dari biasanya. Langkahnya tidak lagi santai. Ada jeda pendek sebelum pintu ruang kerja tertutup. Jeda yang sama sekali tidak ia sadari sebagai tanda.
Kesalahan pertama selalu bekerja diam-diam.
“Elena,” panggil Marcus dari balik pintu. “Aku mungkin pulang larut malam ini.”
Elena mengangguk ke arah suara. “Aku mengerti.”
Nada Marcus terdengar lega. Ia mengira kebutaannya membuatnya tidak perlu menjelaskan apa pun. Itu kesalahan berikutnya.
Ketika rumah kembali sunyi, Elena bergerak. Tongkat ditinggalkan. Langkahnya pelan, terukur. Ia membuka laci tersembunyi di kabinet dapur—tempat ia dulu menyimpan cadangan dokumen. Map itu masih ada. Tidak tersentuh. Marcus lupa satu hal: Elena adalah orang yang merancang sistem penyimpanan ini.
Ia membuka map, membaca cepat, lalu menutupnya kembali. Tidak ada yang diambil. Belum. Ia hanya memastikan posisinya tetap unggul.
Ponselnya bergetar. Nomor yang sama dari malam sebelumnya.
Sudah bergerak. Satu nama mulai panik.
Elena membalas singkat. Lanjutkan. Jangan terlihat.
Ia kembali ke sofa tepat saat Selene datang tanpa mengetuk. Wajahnya cerah, terlalu cerah.
“Kau sendirian?” tanya Selene.
“Marcus lembur,” jawab Elena.
“Bagus.” Selene tersenyum, lalu tersadar. “Maksudku—aku bisa menemanimu.”
Elena tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Selene berbicara panjang tentang acara, tentang investor, tentang rencana baru. Kata-katanya mengalir, lebih bebas dari biasanya. Ia menyebut satu nama—direktur lama yang seharusnya sudah tidak terlibat.
Kesalahan ketiga.
Elena menghafalnya.
Sore menjelang malam. Marcus pulang dengan wajah tegang. Ia menghindari ruang tamu, langsung ke kamar mandi. Air mengalir lama. Terlalu lama. Elena mendengar ponselnya bergetar berkali-kali di meja.
Ia tidak bergerak.
Beberapa menit kemudian, Marcus keluar. “Ada perubahan kecil,” katanya. “Tidak penting.”
Elena menoleh. “Perubahan apa?”
“Administrasi.”
Elena mengangguk. “Baik.”
Marcus menatapnya, seolah menunggu reaksi yang tidak datang. Ia menghela napas dan pergi. Elena mendengar pintu kamar kerja terkunci.
Malam itu, Elena berdiri di balkon, menatap kota. Lampu-lampu menyala seperti saksi bisu. Ia tahu satu nama sudah bergerak, satu tanda tangan mulai dipertanyakan, satu jalur uang menyimpang telah terendus.
Belum cukup untuk menjatuhkan siapa pun.
Tapi cukup untuk membuat mereka gelisah.
Elena merasakan ketenangan yang dingin. Retakan pertama tidak selalu terlihat. Namun ia selalu terasa oleh mereka yang berdiri di atasnya.
Dan Marcus—tanpa menyadarinya—sudah berdiri tepat di sana.
Ia kembali masuk ke dalam, menutup pintu balkon tanpa suara. Di meja, ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini berbeda.
Mereka mulai saling menyalahkan.
Elena membaca pesan itu perlahan. Sudut bibirnya terangkat tipis, nyaris tak terlihat. Kepanikan selalu mencari kambing hitam terlebih dahulu sebelum mencari jalan keluar.
Ia membalas singkat. Tahan. Biarkan mereka saling curiga.
Di kamar, Marcus duduk membelakangi pintu, bahunya tegang. Elena melewatinya tanpa disentuh kecurigaan. Ia mendengar desahan napas yang tertahan, suara kertas diremas, langkah mondar-mandir.
Retakan itu melebar.
Dan Elena tahu—
malam-malam tenang seperti ini tidak akan bertahan lama lagi.
Di dalam dadanya, Elena tidak merayakan apa pun. Ia hanya memastikan arah. Permainan ini bukan soal menang cepat, melainkan memastikan saat kejatuhan tiba, tidak ada jalan kembali. Dan mereka—satu per satu—sedang melangkah ke tepi tanpa sadar.